Sunday, December 3, 2017

Haruskah Bekerja Bersama hati?


Seperti lirik lagu yang dibawakan oleh Fourtwnty yang berjudul Zona Nyaman, yaitu “sembilu yang dulu biarlah berlalu, bekerja bersama hati kita ini insan bukan seekor sapi...”. Relevankah pernyataan ini dengan kondisi zaman now? Di mana pertumbuhan ekonomi semakin pesat yang menyebabkan kompetisi kehidupan antar keluarga juga semakin kuat? Ketika semakin banyak pelajar-pelajar yang telah menyelesaikan masa studinya baik dari sekolah menengah maupun perguruan tinggi, ini berarti muda mudi yang tergolong dalam usia produktif semakin banyak bermunculan, lalu apakah kenyataan ini seimbang dengan semakin banyaknya lapangan pekerjaan yang tersedia? Belum tentu.



Keadaan yang belum tentu ini menyebabkan orang-orang yang berada dalam usia produktif, yang juga tengah bersemangat untuk bekerja demi menghidupi diri dan keluarganya, terbagi menjadi dua golongan. Pertama golongan idealis yang menginginkan pekerjaan sesuai dengan passion atau gairahnya, dan juga terdapat golongan yang bekerja apa saja asal halal dan bisa menghasilkan uang. Kamu termasuk dalam golongan apa? Seseorang yang termasuk dalam golongan apapun tentu memiliki latar belakang alasan masing-masing, dan terkait alasan ini tidak seorang pun dapat menghakimi dan memberikan anggapan tepat atau tidak tepat.



Golongan pertama, seseorang yang idealis atau memilih untuk melakoni suatu pekerjaan hanya yang sesuai dengan passion atau kesenangannya saja. Golongan ini tidak hanya terdapat pada generasi yang lahir sekitar mulai tahun 1980 sampai dengan sekitar tahun 1995 atau biasa disebut dengan Generasi Y (Gen Y), serta generasi yang lahir mulai tahun 1995 sampai dengan sekitar tahun 2014 atau biasa disebut dengan generasi z (Gen Z), tetapi juga pada generasi terdahulu atau baby boomers.



Gen Y dan Gen Z memang lebih selektif dalam memilih pekerjaan selepas ia menyelesaikan masa studinya, mereka lebih tertarik dengan pekerjaan yang terlihat keren dan memiliki room for growth yang tinggi untuk mengaktualisasikan dirinya. Bahkan hampir terlihat Gen Z ini tidak menempatkan pendapatan bulanan sebagai prioritasnya, namun justru kenyamanan lingkungan dan kecocokan tipe pekerjaan yang akan dibelanya habis-habisan. Dapat dikatakan bahwa Gen Z adalah generasi idealis yang memilah dengan amat cermat pekerjaan apa yang akan ia lamar, jika tidak sesuai maka dengan mudah akan ditinggalkannya.



Generasi ini memang ingin benar-benar bekerja sesuai dengan yang diminatinya, dan jika sudah berada dalam organisasi yang tepat maka ia akan bekerja dengan sepenuh hati. Dengan menyertakan seluruh hatinya maka mereka bukan lagi bekerja melainkan berkarya, karena apa yang dilakukannya sehari-hari sangat ia sukai dan sangat ingin ia hasilkan sebuah karya terbaik atas kesukaannya tersebut.



Terlihat cukup idealis di tengah pergulatan hidup yang begitu keras terlebih di kota-kota besar di Indonesia. Bisa jadi banyak yang berpendapat di zaman sekarang ini sangat sulit mencari pekerjaan, maka apa yang ada di depan mata maka terimalah. Bagi sebagian orang petuah bijak ini tentu ada benarnya, tetapi bagi sebagian lainnya bisa jadi bekerja dengan hati adalah tidak hanya benar tetapi juga amat baik adanya.



Golongan ke dua yaitu sekelompok orang yang membuka seluruh hatinya untuk pekerjaan apapun asalkan halal dan dapat menghasilkan cukup uang. Berangkat dari kebutuhan hidup yang kian hari kian meningkat, seakan tak ada ampun bagi siapa saja yang bermalas-malasan dan cenderung pemilih terhadap pekerjaan. Sebenarnya golongan ini juga termasuk golongan orang-orang yang memiliki passion atau hobi tersendiri, namun dikarenakan beban hidup yang tidak bisa dipungkiri maka kelompok ini memilih jalur yang lain dan sementara mengesampingkan apa yang menjadi hobinya.



Dengan alasannya sendiri misalnya perlu menghasilkan uang dalam jumlah tertentu setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, support keluarga, ataupu menyelesaikan studi yang dilakoninya sambil bekerja, orang-orang yang berada dalam kondisi tersebut akan menjalankan pekerjaan apapun asalkan dapat dilakukannya, halal dan dapat memberinya pendapatan yang pasti setiap bulannya. Lantas apakah golongan seperti ini tetap dapat bekerja dengan hati karena apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya sehari-hari dapat dikatakan tidak sesuai dengan minatnya? Tentu saja iya, namun bisa jadi kadarnya tidak sebesar yang bekerja sesuai minatnya. Lalu apakah dapat dibina agar yang seperti ini menyukai apa yang dikerjakannya, hingga ia tak lagi bekerja melainkan berkarya untuk perusahaannya dengan hati? Tentu saja bisa. Dengan menjalankannya setiap hari, mengerti apa tujuan dari pekerjaannya tersebut, mengapa ia herus melakukannya, maka kelak akan tumbuh tanggung jawab yang lebih besar hingga ingin menyelesaikannya dengan hasil yang di atas standar, bahkan tidak hanya demi pendapatan yang diberikan setiap bulannya.



Terdapat dalam generasi apakah golongan ke dua ini? Apakah generasi baby bomers? Mungkin saja, mengingat orang-orang terdahulu, yang lahir sebelum tahun 1980, mereka memiliki pemikiran yang berbeda dengan generasi setelahnya. Diantaranya adalah pemikiran tentang bagaimana kita dapat bertahan hidup, atau apa yang harus kita lakukan agar dapat bertahan hidup? Dengan pemikiran seperti ini maka lazim adanya mereka akan mengerjakan apapun dengan proyeksi hasil yang baik sekalipun tidak sesuai dengan hobi atau kesukaannya, karena yang mendominasi pemikirannya adalah bagaimana kehidupan saya dan kelaurga dapat terus berlangsung dengan baik.



Perbedaan dari dua golongan ini adalah di mana generasi yang lahir setelah tahun 1990 memilih untuk bekerja sesuai dengan passionnya secara langsung usai dari masa studi, sedangkan generasi yang lahir sebelum tahun 1980 memilih untuk bekerja apa saja demi bertahan hidup dan setelah 20 atau 30 tahun kemudian baru akan menikmati hidupnya sesuai dengan hal yang diminatinya.



Lantas bagaimana hubungannya dengan bekerja bersama hati? Sama saja, dua-duanya sama-sama dapat bekerja dengan hati, namun hanya soal perbedaan waktu saja.



Pertanyaannya berikutnya, haruskah bekerja bersama hati? Menurut penulis tentu saja harus, pekerjaan apapun itu, karena jika hati tidak ikut serta di dalam aktifitas rutin sehari-hari maka apa yang sedang dan akan dicari?



Lalu, bagaimana menurut kamu?



(dnu, ditulis sambil nemenin anak belajar untuk UAS besok tapi kebanyakan mainnya dari pada bacanya haha...., 3 Desember 2017, 19.35 WIB)

Thursday, November 16, 2017

Bedakan Antara “Kesalahan” dengan “Proses Belajar” Pada Anak-anak


Dalam sebuah acara anak yang dikelola dengan sangat baik oleh panitia-panita yang profesional terdapat ungkapan dari salah seorang penanggung jawab acara yang menggelitik telinga saya dan membuat kening sedikit mengernyit. Diantara sekian banyak aktifitas yang dilakukan oleh anak-anak sebagai peserta, satu diantaranya adalah melukis dengan menggunakan cat air di sebuah bidang kertas berwarna putih. Pada aktifitas ini panitia memiliki ketentuan “panitian tidak mengganti kertas yang sobek karena kesalahan peserta, panitia mengakui bahwa kertas yang digunakan sangatlah tipis dan rentan rusak, maka peserta harus paham benar cara menggunakan cat air dengan baik”. Siapa yang dimaksud peserta di sini? Anak-anak rentang usia 4 sampai dengan 8 tahun.



Guys, tepatkah pernyataan tersebut untuk didengungkan? Jika seorang anak belajar menulis, menggambar atau mewarnai, lalu dalam aksinya tersebut ia terlalu kuat menekan pensil atau alat pewarnanya sehingga mengakibatkan kertas yang digunakannya sobek, maka hal ini dikatakan sebagai kesalahan anak? Bukankah rentang usia 4 sampai dengan 8 tahun adalah masa-masa bagi anak untuk belajar segala hal terkait dunia tulis menulis? Menulis saja mungkin bagi sebagian anak belum begitu pandai, pun terhadap ketentuan terbaik dalam menggunakan alat-alatnya. Anak-anak di usia tersebut tentu sedang gemar-gemarnya memegang pensil dan sejenisnya, sedang semangat-semangatnya menulis, bahkan saking semangatnya saat menulis mereka akan menekan pensil sekuat tenaga hingga membuat sisi belakang kertas berbekas atau bahkan nyaris sobek. Lalu tepatkah yang seperti ini dikatakan sebagai kesalahan?



Bukan, hal tersebut bukanlah kesalahan melainkan proses belajar. Tidak hanya anak-anak, yang sudah dewasa pun harus melewati tahapan gagal atau terjatuh saat mempelajari sesuatu hal. Maka terasa kurang tepat jika menganggap kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh seorang anak adalah sebuah kesalahan, karena hal tersebut adalah bagian dari proses pembelajaran.



#DNU

Wednesday, November 8, 2017

Dengan E-toll, Cenderung Memperhatikan Saldo Dari Pada Tarif Toll?


Entah perasaan ini hanya terjadi pada diri saya sendiri atau juga pada diri orang lain termasuk Anda para pembaca yang baik hatinya. Perasaan ketika bertransaksi di pintu toll otomatis menggunakan e-toll card di mana perhatian mata, otak dan hati sebagian besar tertuju pada jumlah saldo yang tertera di layar monitor pintu toll. Apakah ini reaksi yang normal? Bisa saja iya, di mana bagi pengguna jalan toll yang hampir setiap hari melalui jalan yang seharusnya bebas hambatan itu, jumlah saldo yang cukup adalah suatu keharusan. Dari pada palang pintu toll tidak terbuka, lalu santer mendengar klakson tak henti dari mobil-mobil dibelakang, belum lagi disertai umpatan dari pengendara lain karena ulah kita yang kehabisan saldo dalam sekeping kartu toll.



Coba diingat sekali lagi, bagi para pembaca yang kerap melalui jalan toll sebagai akses aktifitasnya, apakah memiliki kecenderungan yang sama dengan saya di mana perhatian utama adalah terhadap saldo kartu tol dibandingkan dengan memperhatikan berapa besar tarif jalan toll. Secara tidak langsung reaksi yang terjadi secara alami ini dapat mengalihkan kita terhadap besaran tarif toll, dan terkesan menjadi tidak terlalu bermasalah jika dibandingkan dengan tidak cukupnya saldo kartu di tengah perjalanan. Apakah ada pihak-pihak yang diuntungkan dengan fenomena ini? Sejujurnya saya tidak ingin menggiring pemikiran para pembaca ke arah tersebut, karena yang ingin saya sampaikan di sini hanyalah tentang kebiasaan baru yang kini terjadi dan mungkin dialami oleh banyak pengguna jalan toll lainnya.



Jika sebelumnya besaran tarif toll menjadi isu yang renyah sekali untuk dibahas bersama, pada zaman uang dalam kartu saat ini mungkin hal tersebut menjadi sedikit terabaikan, karena telah ada hal yang jauh lebih penting ketimbang melihat nilai tarif toll, terlebih lagi mengambil kertas bukti transaksi. Mungkin sebagian dari kita perlahan akan mulai sulit mengingat berapa tarif toll di pintu A, pintu B, pintu C, dan pintu-pintu lainnya. Hal ini disebabkan nominal tersebut tidak lebih penting dibandingkan dengan pertanyaan “saldonya cukup ngga ya? Wah kacau nih kalau kurang...”.



Pernah menyadari hal ini? Saya kerap kali menyadari mengapa usai mendekatkan kartu di mesin sentuh otomatis lantas mata langsung tertuju pada layar saldo? Pikiran pun demikian, selalu bertanya “tinggal berapa ya saldonya...”, karena otak telah memerintah dengan satu kata “saldo!”. Seketika berhasil melewati palang pintu toll yang telah terbuka kembali berputar di kepala “wah sudah waktunya top up nih....”.



Bagaimana? Apakah Anda mengalami reaksi alami yang sama dengan saya?



(dnu, ditulis sambil nonton dangdut academy asia, 8 November 2017, 21.15 WIB)

Thursday, November 2, 2017

Mama, Stop Sebut Anak "Tengil" atau Sejenisnya

Kadang terheran-heran dengan para orang tua khususnya Mama yang kerap kali mengungkapkan kegemasan pada sang buah hati menggunakan kata-kata yang tidak sebagaimana mestinya. Umumnya ungkapan ini ditujukan kepada anak-anak yang berusia lima tahun ke bawah, di mana rentang usia ini adalah masa pertumbuhan anak yang tampak sedang lucu-lucunya. Selain karena lucunya tingkah dan polah anak, ungkapan yang salah ini juga dilontarkan atas kepintaran anak.



Sebenarnya sah-sah saja orang tua memberikan pujian atau apresiasi atas rasa puas orang tua terhadap yang dilakukan oleh anaknya, namun tetap saja harus berada dalam koridor pujian yang benar terlebih penggunaan kata-katanya. Sebagaimana ungkapan yang sering kita dengar bahwa setiap ucapan adalah doa, di mana atas ucapan tersebut kita berharap anak menjadi seperti apa yang kita sampaikan. Tidak salah jika kita memang harus selalu berkata yang baik-baik, karena jika Tuhan berkehendak maka akan jadilah seperti apa yang kita inginkan melalui ucapan.



Berapa kali pembaca yang baik hati mendengar ungkapan kegemasan sang mama “aduh nih anak tengil banget gayanya...” atau, “ya ampun nih tuyul satu ngga ada diemnya dari tadi...”. Mungkin juga pernah dengar ungkapan sejenis “uuhh... burung beonya mama pinter banget ngomongnya...”, atau bahkan “nih anak kayak kalong aja siang maen eh malemnya tidur...”.



Guys, apakah anda turut bersedih membacanya? Bagaimana jika anda mendengarnya langsung yang terucap dari mulut manis sang mama? Yang dikagumi ini anak sendiri, anak yang dikandung di rahim sendiri, anak yang diharapkan kehadirannya, anak yang dinantikan kelahirannya, dan bahkan anak yang diberi nama begitu indah dan panjangnya bagai gerbong kereta. Lantas setelah ia lahir ke dunia, tumbuh besar, bertubuh bulat lucu, mulai pandai mengeluarkan suara sepatah dua patah kata, mulai rajin tersenyum, mulai senang bermain, mulai senang berlari... tanpa pikir panjang mama sebut dia si tengil, si tuyul atau si burung beo. Apa maksudnya mama?



Apakah mama lupa berapa lama mama bertapa untuk menemukan kata per kata yang amat baik artinya namun begitu rumit di telinga, namun begitu anak mama lahir justru sebutan-sebutan tak elok mama berikan. Adik bayi itu anak mama kan?



Ketika menyebut kata tengil mungkin maksud mama keren gayanya. Ketinya menyebut kata tuyul mungkin maksud mama lucu kepalanya, dan ketika menyebut kata burung beo, mungkin maksud mama ceriwis. Tapi coba sekali lagi diresapi sambil menyebutkannya, miris toh ma?



Bukankah lebih indah didengar dan diartikan jika menyebut anak kita dengan kata “aduh si tuan putri cantik amat nih habis mandii...”, atau “wah jagoan mama udah pinter nih merambatnya....”. Mungkin bisa juga menyebutnya seperti “pinter banget nih anak mama ngomongnya... ceriwis deh....”. Dan tentu masih banyak ungkapan-ungkapan lain yang nada dan artinya masih positif. Kita menginginkan anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri dan berbudi pekerti baik bukan? Dengan demikian maka ungkapan-ungkapan positiflah yang wajib selalu diperdengarkan di telinga mereka.



Anak akan merekam apa yang pernah dikatakan kepadanya, tidak pandang bulu ungkapan positif ataupun negatif. Tumbuh kembang mereka juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua mendidiknya. Oleh karena itu perdengarkanlah kalimat-kalimat yang baik, yang dapat memberikan energi positif bagi kelangsungan hidup mereka.



Mama menginginkan anak-anak yang percaya diri dan selalu melakukan hal-hal yang terpuji bukan?

Mulai sekarng yuk kita ubah ungkapan-ungkapan kegemasan dengan kata-kata yang lebih bijak dan indah didengar.



(dnu, ditulis sambil makan rengginang bantet karena digoreng ketika minyaknya belum panas haha..., 2 November 2017, 19.21 WIB)

Tuesday, October 3, 2017

Ingat Allah SWT Dalam Segala Masa


Kapan saja dan di mana saja, Allah SWT senantiasa bersama kita. Lantas mengapa kita yang bukan apa-apa hanya mengingatNya dalam waktu-waktu tertentu saja? Semoga tidak banyak hamba yang hanya mengingat Sang Pencipta Allah SWT hanya pada saat menderita saja, dan dia lupa saat bahagia tengah melanda. Semoga tidak banyak juga yang hanya mengingat Allah SWT kalau ada maunya saja, bahkan ia lupa jika segala keinginannya telah terpenuhi. Semoga tidak banyak yang hanya mau menengadahkan tangannya kehadirat Allah SWT hanya jika sedang memiliki hajat saja, hajat yang sangat diinginkannya atau hajat yang sangat berat baginya. Semoga tidak banyak yang menangis tersedu, sedih merintih sambil memohon agar Allah SWT beikan kemudahan, namun seketika lupa saat kesenangan telah hadir di tangan.

 

Allah Maha Pengasih, Tak Pernah Pilih Kasih

Allah Maha Penyayang, Sayangnya Tak Terbilang

Dan Allah Maha Tahu, Tanpa Harus Diberi Tahu

 

Semoga semakin banyak yang kerap mengucap syukur dalam keadaan apapun. Semoga semakin banyak yang memuji keagungan Allah SWT dalam keadaan apapun. Semoga semakin banyak yang selalu mengingat Allah SWT baik dalam suka maupun duka. Dan semoga semakin banyak yang mengingat Allah SWT dalam keadaan apapun kita.

 

(dnu, ditulis sambil mikirin saldo gopay tinggal berapa karena mau beli martabak tapi ga punya uang cash haha...., Selasa, 3 Oktober 2017, 19.17 WIB)

Sunday, October 1, 2017

Lenganmu Juga Aurat, Ukhti


Pagi ini dapat kiriman gambar dari rekan sesama muslimah tentang peringatan bahwa lengan perempuan adalah juga aurat yang wajib di jaga. Tapi siang harinya, dengan kedua telinga mendengar percakapan dua orang muslimah berhijab di belakang saya usai menunaikan sholat dzuhur. Kurang lebih seperti ini percakapannya :

 

Mba 1   : Buruan, lama amat sih!

Mba 2   : Tunggu sebentar gue pake manset dulu...

Mba 1   : Ah udah ga usah pake manset, baju lu kan tangannya udah 7  per 8... (yang dimaksud

  panjang lengan baju)...

Mba 2   : Ah ntar item gw kalo ga pake manset...

Mba 1   : Ngga, tarik coba, panjang kok, udah buruan...

Mba 2   : Terdiam... sambil terus mengenakan manset tangan.

Mba 1   : Ah yaudah deh terserah, buruan gw tunggu di depan!

Mba 2   : Iya....

 

Ukhtifillah yang cantik dan baik hatinya, setuju ya bahwa lengan juga merupakan aurat yang wajib dijaga, wajib ditutup dengan kain panjang hingga ke punggung tangan kita. Percakapan nyata diatas adalah bukti nyata bahwa masih banyak muslimah yang menganggap enteng lengan tangan. Dengan alasan apapun, Mba yang ke 2 sudah berusaha menutupi tangannya walau dengan alasan takut kulitnya hitam karena terpapar sinar matahari secara langsung, semoga di kemudian hari ia paham bahwa janganlah takut hitam melainkan takutlah pada azab Allah SWT.

 

Terkadang kaum hawa sengaja menggulung lengan bajunya hingga ke pergelangan tangan atau bahkan mendekati siku, hal ini dilakukannya agar lebih mudah beraktifitas karena tidak ada kain-kain yang mengganggu, atau mungkin karena panas, atau bisa jadi karena takut baju bagian lengannya kotor. Jika sedang berada sendirian di dalam rumah atau hanya dengan mahram kita hal ini dibenarkan, namun sangat tidak benar jika di tempat umum yang begitu banyak pasang mata lengan kita sengaja di buka.

 

Pakaian yang panjang lengannya hanya 7/8 jelas wajib pakai manset lagi untuk menutupi bagian tangan lainnya. Jangan kemakan mode dan mengorbankan aqidah, karena banyak juga yang modist tapi tetap sesuai syariah.

 

(dnu, ditulis sambil ngeliatin orang makan mie ayam, 2 Oktober 2017, 13.41 WIB)

Upacara, Salah Satu Cara Tanamkan Nilai Pancasila


Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia berlomba-lomba menunjukkan bahwa dirinya benar-benar “Pancasila” melalui berbagai cara, poster di dunia maya salah satunya. Dengan tujuan yang beragam berbagai upaya tersebut diusung oleh masing-masing orang yang kata kuncinya adalah “Saya Pancasila”, walaupun entah bagaimana keseharian dari mereka apakah telah benar-benar menanamkan nilai-nilai Pancasila. Hari ini tepat 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, hari di mana sebuah upacara besar digelar untuk memperingati kekuatan dasar negara kita tercinta Indonesia. Lantas bagaimana dengan mereka yang kerap mengelu-elukan dirinya “Pancasila” sekali, apakah telah sedikit saja ikut memaknainya minimal hari ini?



Pancasila yang merupakan dasar negara Republik Indonesia tidak hanya perlu dihayati tetapi juga dilakoni dalam kegiatan kita sehari-hari. Bagaimana dapat melakoni jika makna yang terkandung di dalamnya saja belum diresapi? Bagaimana dapat diresapi jika tidak ada aktifitas rutin yang secara terus menerus mengingatkan bahwa ada lima sila dalam pancasila yang perlu kita maknai? Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih maupun Upacara Penurunan Bendera Merah Putih yang biasanya dilaksanakan rutin oleh sekolah-sekolah kini tak lagi sama.



Kurang lebih 17 tahun yang lalu saya masih rutin melaksanakan upacara bendera di sekolah, satu minggu sekali. Dalam seremoni kenegaraan tingkat sekolah tersebut seluruh siswa siswi dibentuk pemikirannya agar menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap kegiatannya sehari-hari. Selalu mengucapkan sila-sila Pancasila bersama-sama seluruh peserta upacara, hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk mengiringi pengibaran atau penurunan Sang Saka Merah Putih. Sebuah seremoni rutin yang digelar dengan sederhana namun tujuannya ingin mengubah pribadi kita menjadi anak Indonesia yang cinta negaranya dan menghargai jasa para pahlawannya. Saat ini apakah sekolah-sekolah masih sama rutinnya melaksanakan upacara? Semoga saja iya, agar setiap anak telah ditanamkan sejak dini akan pentingnya mengamalkan Pancasila, serta alasan mengapa harus mengamalkannya.



Ketika membacakan sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, di sini ditanamkan pada diri siswa siswi untuk percaya kepada Tuhan, dan menganut suatu agama adalah sebuah hak asasi bagi setiap pribadi. Sila ke dua yakni Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, pengamalan yang paling sederhana yaitu jadilah anak yang cinta pada sesama, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, dan tentunya saling mengasihi. Sila ke tiga Persatuan Indonesia, kalimat yang singkat namun sarat makna, di mana dalam hati kecil setiap siswa diajak untuk menjaga kerukunan hidup bermasyarakat, bagaimanapun berbedanya agama dan suku tapi kita harus tetap bersatu untuk Indonesia. Sila ke empat yaitu Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan, sederhanananya segala pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari agar selalu bermusyawarah, hindari keributan, dan junjung tinggi azas mufakat. Contoh kecilnya adalah pemilihan ketua kelas yang selalu dilakukan secara musyawarah dan mufakat, di sini terlihat nilai-nilai Pancasila mulai ditanamkan minimal di sekolah. Dan sila ke lima adalah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sejak dini ditanamkan pemahaman bahwa negara tentu mengupayakan sebuah kehidupan yang adil dan makmur bagi setiap warga negaranya.



Lantas bagaimana jika upacara bendera kini tak lagi rutin adanya? Bagaimana penanaman nilai-nilai Pancasila akan secara mudah dilakukan terhadap anak-anak selaku generasi penerus bangsa? Bilamana ada seremoni yang menyerupai getir perjuangan para pahlawan negara? Apakah tak mengapa jika jutaan anak bangsa tak begitu kuat nasionalismenya karena telah berkurangnya aktifitas pengibaran bendera merah putih di udara. Memang bukan hanya upacara saja, tetapi ini adalah salah satunya yang begitu dekat di depan mata.



(dnu, ditulis sambil makan martabak keju yang rasanya cokelat banget, 1 Oktober 2017, 19.59 WIB)