Thursday, August 23, 2018

Kerja Underground ala Wishnutama



Tidak terdengar huru hara sebelum perhelatan akbar dimulai, tetapi mampu memberikan sajian acara yang membuat hati dan jiwa bangsa Indonesia bergelora. Dialah Wishnutama, pria paruh baya yang mungkin namanya sering terdengar di udara namun sosoknya memang tak setenar bintang film lainnya. Belajar dari Wishnutama yang tidak banyak mengumpat sana sini terkait bidang kreatifitas pertelevisian yang dia lakoni, tetapi dengan kekuatan tim dibawahnya dia mampu membuka banyak mata sekaligus mengajaknya “jangan banyak bicara, ayo kerja!”.

Banyak sekali pribadi-pribadi yang bertolak belakang dengan Wishnutama, terlalu banyak bicara namun sedikit sekali hasilnya. Sebelum acara pembukaan Asian Games 2018 sukses digelar, mungkin publik belum banyak yang mengenalnya, dan bisa jadi hanya kalangan artis-artis saja yang akrab mendengar namanya. Tapi tidak dengan saat ini, pasca pembukaan kompetisi olahraga tingkat Asia tersebut digelar nama WIshnutama sebagai salah satu sosok penting dibalik layar bergema di mana-mana.

Kerja yang tidak terlalu banyak bicara di muka umum atau dalam Bahasa saya adalah underground, memang sangat elegan. Diam-diam menghasilkan sesuatu dibandingkan dengan yang banyak sekali promosi diri dam kemampuan namun karyanya belum banyak tercipta. Saat ini banyak sekali masyarakat yang tentu ingin mengenal lebih jauh siapa Wishnutama, sosok pria tenang penghasil karya seni berkebudayaan Indonesia kelas dunia.

Bagaimana jika dibandingkan dengan masyarakat yang kerap kali melontarkan kritikan terhadap pihak-pihak tertentu, mencemoohnya, menganggapnya tidak bisa kerja, bersuara di mana-mana baik di dunia maya maupun nyata, ada saja kesalahan seseorang di matanya, jika diberi pertanyaan apa yang sudah dia hasilkan untuk dirinya atau bahkan Indonesia? Mungkin saja belum ada, yang ada hanyalah kritikan terus menerus yang tak kunjung usai. Terlalu banyak bicara dan sangat gemar menilai orang lain, namun ia lupa menilai dirinya sendiri, apa yang sudah ia hasilnya untuk lingkungannya sendiri.

Meniru gaya kerja Wishnutama rasanya sah-sah saja, percaya diri, yakin pada kemampuan diri dan tim, serta bertekad mewujudkan apa yang menjadi mimpi tanpa harus banyak bicara ke sana sini. Hasilnya ada, bekerja dan berlelah-lelah setiap hari namun di suatu waktu dia mampu memberikan karya nyata yang banyak dicinta dan dipuja. Lantas bagaimana dengan kita? Sudahkah sedikit bicara tapi banyak bekerja? Banyak menghasilkan karya nyata dalam kesenyapan yang memang sengaja kita ciptakan?

Wishnutama hanyalah contoh nyata yang kini ada di depan mata. Seorang pekerja sunyi senyap namun mampu menghasilkan sebuah karya yang gegap gempitanya terasa seindonesia. Tidak kah kita ingin menjadi sepertinya? Sebelum menjadi lebih dari dirinya.

(dnu, ditulis sambil makan gado-gado, 23 Agustus 2018, 13.05 WIB)     

Friday, July 20, 2018

Skyworld Indonesia Diskusi Bareng Astronom Dunia dalam Seminar Internasional di Italia


Bertempat di Chianti, Italia pada Rabu - Jumat (11-13/7) lalu, penyedia wahana edukasi astronomi Skyworld Indonesia menjadi salah satu peserta workshop astronomi tingkat international yang bertajuk The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy, yang diselenggarakan oleh Observatorio Polifunzionale del Chianti (OPC), Italia. Dengan mengusung tema besar Astrotourism, di sebuah Observatorium yang berdiri di atas bukit perkebunan anggur dan zaitun sejumlah Astronom dan pegiat Astronomi dari berbagai negara berkumpul dan membahas tentang perkembangan serta prospek masa depan dunia astronomi. Salah satu proyeksi masa depan terkait dunia astronomi yang dibahas adalah tentang pengemasan astronomi secara popular dalam industri pariwisata, di mana hal ini dapat menjadi warna baru untuk sisi eduwisata.

Astrotourism atau Wisata Astronomi, yang lebih mudah dipahami sebagai Wisata Kelangitan merupakan salah satu bentuk diversifikasi bidang keastronomian untuk mengenalkan lebih luas lagi mengenai sains dan pengetahuan astronomi kepada publik melalui media yang rekreatif.

Pariwisata Astronomi saat ini berhasil tampil sebagai primadona baru dalam industri pariwisata, namun sangat disayangkan beberapa waktu terakhir bidang pariwisata ini mulai terpapar oleh lompatan budaya milenial yang berbasis sains dan teknologi. Hal ini mengakibatkan para pelaku industri wisata edukasi kelangitan perlu bekerja keras untuk menunjukkan bahwa astronomi juga merupakan bidang yang tidak kalah menarik dan justru memiliki kelebihan yang mendidik. Pandangan ini diungkapkan oleh senior auditor OECD (Badan kerjasama Ekonomi Internasional) Renzo Turatto, sebagai salah satu pembicara dalam workshop tersebut.

Salah satu astronom dari Armenia, Sona Farmanyan turut membagikan pengalamannya dalam mengelola Kompleks Observatorium Byurakan, Claudio Mallamaci, Argentina. Selain itu ia juga menyampaikan rencana acara yang akan digelarnya berkaitan dengan fenomena alam Gerhana Matahari Total di Argentina yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2019 mendatang.

Astronom lainnya yakni Olayinka Fagbemiro yang berasal dari Nigeria turut membagikan pengalamnnya saat menggelar acara wisata astronomi yang meretas permasalahan gender di negerinya. Selain itu, Amelia Ortiz-Gil dari Spanyol juga memaparkan pandanganya dalam hal pentingnya memberi kesempatan yang lebih luas lagi bagi para penyandang disabilitas untuk dapat turut menikmati keseruan wisata astronomi.

Astronom Indonesia Dr. Chatief Kunjaya selaku perwakilan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Ma Chung, Malang, Jawa Timur ini dalam kesempatan tersebut turut menyampaikan gambaran besarnya mengenai potensi yang ada di Indonesia untuk mengembangkan bidang wisata kelangitan. Ia juga memiliki pandangan bahwa wisata ini mampu berkembang di Indonesia hingga mencapai skala dunia, di mana salah satu modal yang telah dimiliki adalah adanya kompleks Observatorium baru di Gunung Timau, Nusa Tenggara Timur. Untuk lebih memperkuat pemaparan, secara visual grafis juga ditampilkan poster workshop yang berjudul “The Beauty and History of the Southern Hemisphere Sky”. Tampilan ini berbicara tentang keindahan alam, keragaman budaya dan bertebarannya situs-situs arkeologi di Indonesia yang semakin menarik bila diperkaya dengan benang merah astronomi.

Di beberapa negara Eropa terutama Italia yang dikatakan sebagai gudangnya sains astronomi, sejak abad pertengahan telah berkembang sebuah proto-industri astronomi yang melibatkan berbagai pelaku usaha. Hal ini diungkapkan oleh Tania Johston dari ESO Supernova Jerman, termasuk juga pelaku Industri Kreatif seperti dari Bas Bleu, Provider Komunikasi Visual, dan Stella Errante biro pengelola kunjungan wisata kelangitan ke berbagai penjuru dunia.

Seminar yang berlangsung selama kurang lebih tiga hari ini juga memberi kesempatan kepada peserta baik dari kalangan Astronom maupun praktisi industri wisata dan industri kreatif lainnya untuk berbagi pengalaman. Mulai dari bagaimana mengemas sebuah Star Party dengan pengamatan benda langit malam hari, menggagas wisata napak tilas perjalanan hidup tokoh astronomi dunia seperti Galileo atau Secchi dengan mengunjungi beberapa situs yang terkait, hingga menawarkan wisata arkeo-astronomi yang akan menambah wawasan baru, di mana umumnya wisata ini dikenal sebagai obyek wisata konvensional.

Selain itu, untuk memberikan suasana dan sensasi astro-tourism yang lebih kuat terasa, disela-sela padatnya kegiatan panitia mengajak para peserta menikmati paket liburan astronomi di Chianti dengan mengunjungi pabrik pengolahan anggur Docg, serta melakukan observasi bintang sambil menikmati makan malam di alam terbuka. Sebagai hiburan, dihadirkan pula seorang aktor yang berperan sebagai Galileo Galilei yang bermonolog tentang kisah hidupnya di hadapan para peserta workshop.

Skyworld Indonesia terbilang beruntung dapat mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti seminar internasional ini, karena hal ini sejalan dengan visi dan misi penyedia jasa eduwisata astronomi yang terletak di TMII Jakarta Timur ini, yang ingin menjadi salah satu lokasi eduwisata astronomi yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Indonesia tetapi juga bagi dunia. Demikian pula dengan adanya kesempatan berada di daerah perbukitan berhawa sejuk yang dikenal sebagai penghasil Anggur Merah Docg serta minyak zaitun terbaik di Eropa ini, merupakan pengalaman yang tidak hanya berkesan namun juga amat berharga.

Menurut Direktur OPC Prof. Emanuele Pace, hasil seminar ini akan dilanjutkan secara teknis keilmiahan dalam kelompok kerja internal di Asosiasi Astronomi Internasional, sementara setiap langkah terapannya harapannya dapat dilakukan oleh setiap pihak yang peduli. Seperti yang dilakukan oleh para astronom di Eropa bersama para pelaku industri wisata, yang begitu serius menggarap astrotourism demi memaksimalkan potensi wisata yang dimilikinya. Sayangnya kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang sebenarnya begitu memiliki potensi namun terlihat belum terlalu bersemangat melakukan upaya-upaya seperti tersebut.

“Sepertinya kita lebih senang mengurusi begitu banyak hal agar terlihat sibuk meskipun tidak ada yang serius, dari pada terlalu serius untuk mengurusi satu dua hal saja yang orang lain tidak lihat...” pungkas komisaris Skyworld Indonesia Sonny Teguh A. Atmosentono selaku perwakilan Skyworld Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah yang hadir dalam acara berskala internasional tersebut.

(dnu)





Wednesday, June 27, 2018

Para Pendukung Paslon, Harus Siap Menang dan Siap Kalah


Pada masa kampanye pemilihan Calon Gubernur dan wakilnya, Calon Bupati dan wakilnya ataupun calon Walikota dan wakilnya, para pendukung atau biasa disebut dengan tim sukses masing-masing Pasangan Calon (Paslon) menggebu-gebu menyebar kabar baik tentang paslon unggulannya ke seluruh penjuru wilayah pemilihan. Pada masa ini seakan tim sukses tidak sama sekali melihat adanya kekurangan dalam diri Paslon, di mana Paslon yang dibanggakannya adalah manusia biasa yang tentu memiliki kekurangan di sana sini.

Saat memutuskan untuk mengunggulkan salah satu Paslon yang tentu dengan alasannya sendiri-sendiri, setiap calon pemilih juga nyaris membabi buta untuk membenarkan segala hal yang dilakukan oleh idolanya. Termasuk dalam perbuatan salah atau pun menyimpang, para pengikut kebanyakan akan serta merta tetap membelanya.

Demikian pula saat memasuki masa-masa pemilihan, satu minggu sebelum hari pemilihan bahkan sejak satu bulan sebelumnya, para pendukung Paslon ramai adu keunggulan junjungannya baik di dunia nyata maupun dunia maya. Terlebih dunia maya yang kini dapat dikatakan sebagai salah satu senjata ampuh untuk berkampanye, jaringan yang dapat dibentuk bisa lebih luas dan penyebaran pesannya juga tergolong massif dan efektif. Setiap unggahan pesan yang dimunculkan di media sosial kerap kali isinya tidak jauh dari ajakan kepada orang lain untuk mencoblos yang menjadi pilihannya.

Terkait unggahan di media sosial, selain mempengaruhi orang lain untuk turut memilih apa yang menjadi pilihannya, para pendukung Paslon juga tidak jarang sambil menjatuhkan pasangan lain dengan berbagai padangan negatifnya. Perang asumsi antar pendukung Paslon yang bisa jadi karena kebanyakan Halusinasi juga sulit untuk dihindari. Tetapi inilah kenyataanya, pada masa sebelum pemilihan setiap pendukung akan bergerilya untuk bisa memenangkan pasangan idolanya.

Lantas bagaimana dengan hari ini, sebagai hari pemilihan pemimpin daerah yang serentak dilaksanakan di banyak wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, akankah usai pemilihan semuanya akan adem ayem menerima kemenangan maupun kekalahan? Bagi para Paslon biasanya demikian, menerima kemengan dengan senang hati tanpa jumawa, dan bagi yang mendapatkan suara terlampau sedikit akan menerima kekalahan dengan berbesar hati tanpa banyak berkata. Lalu siapa yang biasanya banyak berkata atas kekalahannya? Adalah para pendukung Paslon yang kurang dapat berbesar hati karena Paslon idamannya tidak jadi memenangkan kompetisi berbasis demokrasi ini.

Kerap terjadi Paslon yang kalah lebih legowo dan menerima kekalahan sebagai suatu pembelajaran, namun tidak demikian halnya dengan para pendukungnya. Perang unggahan pesan di media sosial berpotensi terjadi usai ketuk palu pemenangan Paslon diumumkan. Dalam bahasa sederhana dapat dikatakan “yang di atas adem ayem, tapi yang di bawah hiruk pikuk tiada akhir”.

Setiap pendukung Paslon sudah tentu harus pula memiliki hati yang besar seperti yang dimiliki oleh Paslon itu sendiri. Hati yang telah siap menerima kemenangan dan lebih siap lagi jika harus menerima kekalahan. Bukan serta merta mengungkap kekurangan dalam diri Paslon yang menang, atau bahkan menghujat habis-habisan bahwa terdapat kecurangan dalam proses pemilihan. Sah-sah saja jika pendapatnya tersebut dapat dibuktikan kebenarannya, namun bagaimana jika tidak terbukti melainkan hanya tuduhan semata? Semuanya akan berbalik kepada diri kita sendiri.

Hal lain yang perlu diingat oleh para pendukung Paslon adalah apa yang mereka lakukan adalah cerminan dari bagaimana sebenarnya perangai dari Paslon yang diusungnya, maka jadilah pendukung yang menjunjung tinggi fairness, santun dan memiliki hati yang besar.  Demikian pula sebaliknya, bagaimana mungkin Paslon yang digadang-gadang sebagai pasangan terbaik memiliki pendukung yang tindak tanduknya sama sekali tidak baik? Bagaimana orang lain dapat menaruh kepercayaan pada Paslon tersebut jika para pendukungnya tidak sedikitpun mengindahkan nilai-nilai positif dalam proses pemilihan umum?

Jadilah pendukung Paslon yang berada dalam batas normal, mendukung dengan hati dan juga karena memiliki visi misi yang sama dengan visi misi hidup yang Anda jalani. Jika yang diunggulkan menang, maka teruskanlah dukungan sambil menyebar nilai-nilai kebaikan untuk kemajuan wilayah tempat tinggal. Namun jika yang digadang-gadang ternyata tidak menang, maka berbesar hatilah menerima kenyataan, tidak perlu bergegas mencari kesalahan Paslon yang meraih kemenangan, atau menyiapkan amunisi negatif untuk menyerang pendukung Paslon pemenang di dunia nyata maupun maya.

Menyikapi kekalahan adalah bukan dengan terus membela diri dan membela Paslon sambil tutup mata, tutup hati dan telinga, tetapi justru dengan membuka hati dan pikiran untuk bersedia maju bersama mengembangkan wilayah tempat tinggal. Karena yang terus membela diri tanpa mencoba memahami situasi hanyalah seorang pecundang sejati.

Selamat menanti hasil pesta demokrasi!

(dnu, ditulis sambil nonton quick count di salah satu TV swasta, 27 Juni 2018, 14.21 WIB)

Wednesday, May 30, 2018

Ramadhan #12 - Menyambut UAS dalam Gelimang Berkahnya Ramadhan

Wajah-wajah sumringah terpampang nyata kala dinyatakan pertemuan kelas ini telah hampir mencapai ujungnya. Tidak lupa, wajah-wajah grogi nan was-was juga terpampang jelas kala disampaikan Ujian Akhir Semester (UAS) akan segera dijelang. Selain dua wajah tersebut ada juga wajah-wajah cuek cenderung happy karena perkuliahan semester genap ini sudah hampir selesai.
Apapun wajah yang mereka tampakan, semoga tidak menjadi pertanda lainnya, selain pertanda optimisme yang begitu tinggi meraih nilai UAS terbaik. Seharusnya, di bulan yang penuh berkah ini dimanfaatkan oleh setiap umat islam untuk memanjatkan doa dan harapannya seraya melakukan banyak amal kebaikan. Termasuk juga yang akan menghadapi ujian di sekolah, panjatkan doa sebanyak yang kau mau, kelak InsyaAllah Allah SWT akan mendengar dan mengabulkan apa yang kamu butuhkan.
Bahagia berpuasa, bahagia pula menyambut masa-masa ujian yang akan segera tiba. Semoga di bulan Ramadhan ini jerih payah proses belajar yang telah ditempuh oleh setiap umat manusia, diganjar oleh Allah SWT dalam bentuknya yang terbaik, hasil ujian yang amat memuaskan misalnya. Baik bagi para pelajar Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, maupun tingkat Perguruan Tinggi.
Semoga semuanya semakin semangat belajar walau dalam keadaan haus dan menahan lapar. Semoga dalam sibuknya belajar semuanya tetap ingat kewajiban beribadah, semata-mata hanya untuk mengutamakan akhirat demi menjamin baiknya kehidupan di dunia.
Tetap semangat, karena proses tidak akan pernah menghianati hasil.
Happy fasting and be happy to face the sweet thing, UAS!
Welcoming UAS and succes for you guys!
(dnu, ditulis sambil pake masker - coba tebaakkk... masker bengkoang apa masker gojek??? hahaha...., 28 Mei 2018, 20.54 WIB



Ramadhan #11 - Ngabuburit di Anjungan DI Aceh, TMII

Hari ini (27/5), penantian terhadap adzan maghrib saya isi dengan bercerita bersama Aan, si Boneka Topi Berbaju Merah, tentang Semangat Menghafal Al Quran. Dengan mengambil tempat di Anjungan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, sebanyak 250 orang Hamba Allah yatim & piatu yang dikoordinir oleh kakak-kakak panitia dari Komunitas We Share We Care, sukses berkumpul dalam kegembiraan di bulan Ramadhan.
.
Bahagia, terharu dan terasa amat beruntung hari ini bisa berkumpul dengan mereka. Anak-anak yang fasih membacakan ayat-ayat suci Al Quran, anak-anak yang piawai tampil dalam kelompok hadroh, serta anak-anak yang tak lagi mempertanyakan mengapa kita harus berpuasa di Bulan Ramadhan. Anak-anak yang sungguh pemahamam ilmu agamanya jauh di atas saya, berhasil memberikan pajaran berharga sore tadi.
.
Di tengah derai hujan yang turun jelang maghrib, suasana berbagi keceriaan kian terasa hangat. Baru bertemu sore itu, namun rasa persaudaraannya begitu hebat.
.
Aan, Si Boneka Topi Berbaju Merah, menceritakan kisahnya yang tidak percaya diri saat akan mengikuti lomba menghafal Al Quran di sekolahnya. Ia terus mengurung diri karena merasa hafalannya tidak lebih banyak bila dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Aan lantas bertanya pada Tita, temannya di kelas, apa rahasia Tita sehingga ia mampu menghafal begitu banyak surat dalam Al Quran. Tita mengatakan, kita hanya perlu terus berusaha dekat dengan Al Quran agar semakin hari semakin bertambah hafalan kita.
.
Dekat dengan Al Quran dimaksudkan dengan senantiasa membaca Al Quran setiap hari, selalu menyempatkan diri untuk membaca Al Quran, dan selalu menyempatkan diri untuk mengaji. Aan lantas bergembira, ia akan mengikuti saran dari Tita untuk selalu berusaha dekat dengan Al Quran.
.
Cerita pendek yang juga menjadi pesan pribadi bagi saya, bukan hanya Aan, atau anak-anak lainnya yang ada di dalam acara. Semoga suatu hari nanti kita dapat menjadi hafidz/hafidzah, dan mampu menjadi penolong orang tua kita di akhirat kelak.
.
Aamiin...
.
(dnu, ditulis sambil selonjoran - inhale exhale - mahasiswa yang mau ujian tapi gw yang deg-degan hahaha..., 27 Mei 2018, 21.59 WIB)








Ramadhan #10 - High Quality Saturday at Campus with Old Friends ❤

Hari ini, Sabtu (26/5), kurang lebih seperenam dari 24 jam saya habiskan di kampus tercinta untuk menghadiri acara Expert Sharing. Pembicaranya adalah teman saya sendiri, seorang Best Graduate di kelas MM angkatan 2017, @yudidwiharjo .
.
Karena menuntut ilmu harus dilakukan kapan saja, pun hari ini yang masih hangat di 10 hari pertama puasa Ramadhan, salah satu aktifitas yang saya pilih adalah ke kampus. Walaupun dalam keadaan berpuasa, termasuk pembicaranya, namun acara ini tetap berlangsung dengan menyenangkan.
.
Mengangkat tema Analisis Balance Score Card Melalui Pendekatan 7S McKinsey, teman saya ini lancar sekali memaparkan banyak hal yang terkait dengan tema tersebut. Keren lah... Seneng punya teman pintar, berharap dapat tertular pintarnya hahaha... Aamiin...
.
Seperti yang kaum muslimin ketahui, ada ungkapan yang mengatakan agar kita berkumpul dengan orang-orang sholeh. Salah satu tujuannya adalah agar kita termasuk di dalamnya, dapat menjadi sepertinya, atau kita mampu mempelajari tauladan-tauladan baik darinya.
.
Jika kita berkumpul dengan suatu kaum maka kita termasuk darinya. Jadi jika kita berkumpul dengan orang-orang keren seperti yang ada di kanan kiri saya, maka yang termasuk di dalam gambarnya semoga tertular kerennya hahaha... Aamiin....
.
(dnu, ditulis sambil mikir napa harga kacang mede mahal bener yak wkwkwkw..., 26 Mei 2018, 21.49 WIB)



Ramadhan #9 - Pedagang Asongan Lemper Ayam yang Istiqomah


Ini adalah pemandangan lalu lintas yang hampir terjadi setiap malam di wilayah selatan Jakarta. Panorama kemacetan yang tiap armada mobilnya memancarkan cahaya keindahan, turut dilengkapi pula dengan adanya pedagang asongan Lemper Ayam yang dijual Rp 5.000 per buah.

Pedagang asongan makanan berat namun ringan ini tidak seorang diri. Bersama rekannya dua atau tiga orang lainnya, konsisten berjualan setiap hari. Demikian pula dengan bulan Ramadhan ini.

Tidak peduli waktu telah menunjukkan malam hari, ia tetap berjualan. Tidak peduli apakah orang-orang yang terkena macet ini bisa jadi sudah membatalkan puasanya atau sudah makan malam, ia tetap berjualan. Ia cukup istiqomah berjualan, bahkan terkadang di bawah rintik hujan ia tetap menjajakan dagangannya.

Ia tentu sangat percaya pada rejeki yang telah diatur oleh-Nya, sehingga ia tetap saja berjualan, walau apapun keadaan dan kemungkinan-kemungkinannya.

Saya coba ambil pelajarannya, jika ingin menjadi manusia yang maju maka mutlak harus berusaha, istiqomah atau konsisten mewujudkan keinginannya. Menjauhkan fikiran negatif yang hanya akan membuat diri terus mundur ke urutan yang paling belakang, alias tidak ada kemajuan.

Allah SWT menyukai orang-orang yang sabar, yang senantiasa berusaha dalam setiap keadaan.

Teruslah berproses untuk menuju kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat. Karena proses tidak akan menghianati hasil.

(dnu, ditulis sambil dipijitin sama tukang pijit, 25 Mei 2018, 21.05 WIB)