Sunday, February 18, 2018

4 Kisah yang Full of Faedah, Singapura - Indonesia


Pada masa liburan yang dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ini saya menemukan 4 tipe individu berbeda, yang perlu sekali untuk diambil pelajaran darinya. Mulai dari yang terjadi di negara tetangga, hingga di negara sendiri yang berfaedah sekali buat saya, dan semoga kamu juga.



Tipe yang pertama adalah seseorang yang tetap jujur walau dalam “kegelapan”.

Kejadian yang full of faedah ini terjadi di sebuah pasar yang terkenal dengan nama Bugis Street, kawasan Rochor, Singapura. Pusat perbelanjaan yang sangat ramai pengunjung ini memang menjadi salah satu titik tujuan para pelancong jika ingin membeli pernak pernik lucu khas negara yang juga termasuk dalam rumpun melayu ini.



Kurang lebih sudah pukul 6 sore saya mengunjungi pertokoan atau pasar Bugis Street, dan ketika itu pengunjungnya sangat padat. Di tengah keramaian pasar saya sempat membeli dua buah barang di sebuah toko yang sayang sekali saya lupa namanya, setelah deal membeli maka saya membayar total barang tersebut yakni senilai 25 dolar Singapura. Uang pembayaran saya serahkan kepada penjaga toko laki-laki yang nampaknya masih berusia muda, lalu barang saya terima, dan selanjutnya langkah kaki bergerak ke arah jalan keluar area pertokoan. Sesampainya di luar pertokoan tiba-tiba terfikir ada barang lain yang juga ingin dibeli namun di toko yang berbeda, maka jadilah kami memutuskan kembali masuk ke dalam pertokoan.



Kami sekeluarga berusaha menembus kepadatan pengunjung toko-toko yang hampir mirip pasar, dan terus berjalan semakin ke arah dalam area pusat perbelanjaan. Tanpa disadari, ternyata jalan yang kami pilih itu kembali melewati toko tempat saya membeli dua buah barang tadi. Sambil kami berjalan, tiba-tiba di depan toko tersebut anak muda yang merupakan penjaga toko menghampiri suami saya sambil menyerahkan uang 10 dollar Singapura seraya berkata “... it was over 10 dollars, it’s claps together...” Hm... sepertinya sih maksudnya tadi uang yang digunakan untuk membayar kelebihan 10 dollar karena ada dua lembar 10 dollar yang menempel.



Wah, ternyata saat kami berbelanja di toko mereka tadi uang yang kami serahkan kelebihan 10 dollar, dan mengejutkan sekali sang penjaga toko mengembalikannya!



Sambil mengucapkan terima kasih, uang yang kelebihan pun kami terima. Lalu kami melanjutkan perjalanan di dalam pertokoan, sambil tak henti-hentinya berfikir keras “Kok bisa ya... Qadarullah kita sekeluarga memutuskan masuk kembali ke dalam pertokoan, yang padahal tadi sudah berada di luar dan sempat ingin segera ke stasiun, naik kereta dan kembali ke hotel. Lalu, kok bisa ya kita melewati lorong pertokoan yang sama persis sehingga melewati toko itu lagi, dan kok bisa juga ya si penjaga toko ngelihat pas kita lewat, masih hafal dengan kita, padahal toko dia juga lagi ramai pengunjung dan mestinya sih dia sedang sibuk melayani para pembeli....”.



Suami bingung, saya juga bingung hehe...



Yah dari pada bertanya-tanya terus “kok bisa ya...?”, ya ini yang namanya kehendak Allah SWT Yang Maha Besar. Jika Allah SWT sudah berkendak maka tidak ada yang tidak mungkin bukan??



Lalu, yang saya katakan “jujur dalam kegelapan” maksudnya adalah sang panjaga toko terlihat sekali niatnya untuk mengembalikan uang yang kelebihan tersebut. Terbukti dari sigapnya ia menghampiri kami sekeluarga, sambil langsung menyerahkan selembar uang, dan berwajah ceria menginformasikan bahwa saya membayarnya kelebihan. Tidak tersirat aura berat untuk mengembalikan, terpaksa, ataupun sejenisnya.



Semoga saya dan siapapun yang membaca pengalaman ini dapat mengambil pelajaran tentang kejujuran ya, apapun, di manapun dan bagaimanapun hak orang lain tetaplah hak orang lain. Bukan hak kita dan jangan pernah coba-coba mengambilnya untuk menjadikan milik kita. Karena apa? Tuhan pasti punya caraNya sendiri untuk mengeluarkan apa yang sebenarnya tidak harus kita miliki.



Tipe ke dua adalah individu yang tidak sabar dan berusaha melanggar peraturan.

Di bandara Changi, Singapura, saat mengantri pemeriksaan dokumen imigrasi saya melihat seorang laki-laki paruh baya luar negara Indonesia yang sepertinya buru-buru sekali. Ia bolak balik dari antrian yang satu ke antrian yang lain sambil melihat-lihat antrian mana yang barisannya paling pendek. Padahal menurut saya semua antriannya pendek, hanya perlu menunggu 3 sampai 5 orang saja, tapi sepertinya ia ingin lebih cepat dari kondisi ini. Pria itu sempat berkata “Ooh... just 4....”, sepertinya yang ia maksud adalah petugas pemeriksaan dokumen yang buka hanya ada 4 konter.



Akhirnya ia berdiri di samping saya dan berkata “is he your husband?”, sambil menunjuk suami saya di konter cek dokumen yang saat itu tengah melakukan pemeriksaan bersama anak laki-laki saya yang masih berusia 6 tahun. Atas pertanyan tersebut saya jawab “Yess....”. Tak disangka pria tersebut lantas menyuruh saya segera melakukan pemeriksaan bersama suami saya agar antriannya lebih cepat selesai. Ia katakah “Go laaah....”. Hahaha.... saya tidak menuruti perintahnya, saya bergeming, eh terus dia kasih muka ngambek hahaha....



Bagaimana ya, di tempat tersebut kan sudah ada peraturan yang tulisannya terpampang nyata maksimal pemeriksaan 2 orang, itupun ditolerir hanya untuk orang tua dan anaknya yang masih kecil atau orang-orang yang memang membutuhkan pendampingan. Lho kok malah Bapak ganteng yang tampak berpendidikan itu meminta orang lain untuk melanggar peraturan demi percepatan proses atas dirinya sendiri.



Atas kejadian ini pesan saya untuk diri sendiri dan orang lain simpel saja, jangan ditiru, Itu saja hahaha....



Tipe ke tiga adalah individu yang sangat berusaha menaati peraturan walau kenyataanya berat.

Pengalaman ini terjadi di dalam pesawat saat kembali ke tanah air. Di depan saya duduk seorang Ibu dan putrinya yang masih kecil, mungkin sekitar usia 5 tahun. Anak tersebut memang kerap rewel dan menangis selama dalam penerbangan, terlebih lagi saat pesawat akan segera mendarat. Dalam masa itu pula sang Ibu terus menerus berusaha menenangkan anaknya dengan bebagai cara, mulai dari pelukan, kata-kata manis, hingga usapan di punggung mungilnya. Cukup sedih menyaksikan ini semua melalui celah kecil diantara dua kursi di depan saya.



Sesaat setelah pengumuman bergema bahwa pesawat akan segera mendarat, Mbak Pramugari cantik menghampiri Ibu di depan saya dan meminta agar anaknya duduk sendiri di kursi persis di samping Ibunya, dengan lengkap dipakaikan sabuk pengaman. Sang Ibu mengangguk lalu meminta anaknya turun dari pangkuan dan agar duduk sendiri di kursi yang telah disediakan. Bocah kecil yang mengenakan baju hangat itu seketika menangis lebih keras sambil berulang kali berkata “ngga mauuu....”. Air mata berurai dengan muka yang amat sedih karena harus turun dari pangkuan dan pelukan sang Ibu. Saya dengarkan sayup-sayup Ibunya berkata “Mama tau Kayla lagi ngga enak badan... tapi ini kata tante pramugarinya Kayla harus duduk sendiri, di sini ya, di sebeah Mama......” Jika tidak salah dengar ucapannya seperti itu.



Ah sedih, perempuan mungil itu terus saja menangis dan menolak permintaan Ibunya untuk duduk sendiri. Sang Ibu terlihat ingin sekali menaati peraturan awak pesawat karena tentu untuk keselamatan ia dan anaknya. Namun di belahan hati yang lain Sang Ibu juga terlihat begitu berat untuk membiarkan anaknya duduk sendiri, yang ternyata dalam keadaan sakit.



Mungkin melihat tak juga beres urusan antara Ibu dan anak mungilnya itu Mbak Cantik Sang Pramugari datang lagi dan berusaha membantu agar anaknya duduk sendiri, namun Ibu tersebut segera berkata “she has a fever...”. Setelah terdengar kalimat ini pramugari tersebut mengangguk lalu menyetujui agar si putri kecil tetap dipangkuan Ibunya. Kemudian ia berlalu dan ternyata mengambilkan satu buah sabuk pengaman tambahan untuk dikenakan di pinggang sang anak setelah dikaitkan dengan sabuk pengaman sang Ibu.



Case closed. Wajah putri kecil terlihat lebih tenang, tangisnya pun perlahan berhenti. Ia tetap duduk dipangkuan Ibu yang lengkap dengan pelukan hangatnya. Dari bahasa tubuhnya pun sang Ibu sepertinya lebih tenang. Ia telah berusaha menaati peraturan yang ada di dalam pesawat selama masa penerbangan. Tidak sedikitpun ia bersitegang dengan awak pesawat perihal anaknya yang ternyata sedang sakit namun diminta untuk duduk sendiri. Setelah dijelaskan, awak pesawat pun memahami dan menyelesaikan hal ini dengan sangat baik.



Ah saya yang duduk dibelakangnya turut merasa sedih karena melihat linangan air mata si putri kecil, namun juga takjub dengan usaha Sang Ibu. Tidak lupa salut juga dengan keputusan awak pesawat yang bijaksana.



Tipe yang ke empat adalah supir taksi Blue Bird yang saya tumpangi dari Bandara Soekarno Hatta menuju kediaman tercinta di Timur Jakarta. Pak Supir yang bernama Puguh Joko P. (NIP 00207227), sore itu terlihat seperti seseorang yang sangat sedikit bicara namun banyak bekerja. Benar-benar sedikit sekali kata-kata yang ia keluarkan selama dalam perjalanan. Saat kami masuk ke dalam mobil sedan biru tersebut ia bertanya “Ke mana Pak?”. Setelah itu ia diam, kami kikuk.... Hahaha....



Kalimat ke dua yang ia keluarkan berikutnya adalah saat mendekati pintu toll “Boleh masuk toll Pak?...” Suami saya menjawab “Boleh....”. Lalu sama seperti sebelumnya, setelah itu ia diam wkwkwkw....



Di tengah perjalanan suami berkata bisik-bisik kepada saya “baterenya habis....” sambil menunjukkan telepon genggamnya. Tak disangka dan tak di dugaa... Pak Supir yang sejak tadi hanya diam dalam konsentrasi membelok-belokkan kemudi mobil, tiba-tiba berkata “Ini pakai power bank...” sambil mengambilkan benda miliknya tersebut dan menyerahkan kepada suami saya. Lhooo.... baik amat.... hahaha.... diam-diam ternyata hatinya baik.... Agak kaget sih saya melihat adegan ini hahaha..... Benar-benar jangan judge the book by it’s cover ya... ^^



Walau diam, Pak Puguh ini cukup baik kerjanya, terbukti dari pola mengendarai mobil yang ia lakukan yakni manuvernya sangat canggih. Selip kanan, selip kiri, lurus... ke kanan lagi, kiri lagi.... di mana ada celah jalur lancar maka secepat kilat ia masuk ke jalur tersebut hahaha.... Apa yang saya lakukan di dalam mobil tersebut? Pegangan kuat-kuat haha....



Sebelumnya di jalur tengah namun tiba-tiba sudah ada di jalur kiri, seketika terdengar sirine dari arah belakang maka seketika itu pula kendaraan yang saya tumpangi masuk ke jalur tengah. Ternyata Pak Supir memberi jalan untuk kendaraan Basarnas yang sedang terburu-buru itu. Selanjutnya terdengar lagi iring-iringan pengawalan mobil pejabat, minggir lagi lah Pak Supir ini. Iring-iringan usai, selap selip lagi mobil burung biru ini hahaha... Nice trip lah. Pandai menempatkan diri dalam setiap kebutuhan pribadi maupun kebutuhan orang lain yang lebih penting.



Secepat kilat, sampai lah kami di depan rumah hehe...

Hebat, ingin cepat dalam perjalanan namun tetap memperhatikan kebutuhan-kebutuhan sosial dalam berlalu lintas. Termasuk memperhatikan kebutuhan penumpang juga lho!



Perlu ditiru nih, boleh tampak seperti apatis yang terlalu banyak diam namun tetap peka pada lingkungan sekitar.



Begitulah, empat cerita berfaedah yang tentu dapat kita ambil nilai-nilai positifnya ^^



(dnu, ditulis sambil terburu-buru udah ngantuk mau tidur tapi tetep pengen nulis tapi mata udah sepet tapi ya gitu deh haha...., 18 Februari 2018, 21.13 WIB)

Saturday, February 10, 2018

Ini Bukan Soal Rp 100,-, tapi Soal Itikad Baik

Politik dagang memang sudah seharusnya diterapkan oleh para penjual, selain bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari hasil penjualannya, juga bertujuan untuk bagaimana membuat bisnisnya bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Bagaimana cara berdagang yang dilakukan, dan ketentuan apa saja yang ditetapkan untuk dipenuhi oleh pembeli ditetapkan oleh pemilik usaha atau penjual. Namun demikian, tetap saja hal yang diusung menjadi ketentuan antara penjual dan pembeli bersifat baik dan tidak merugikan salah satu pihak. Penjual mendapatkan untung, dan pembeli mendapatkan keuntungan juga dengan memiliki atau menikmati barang yang telah dibelinya.

Lantas bagaimana “hukum sosialnya” jika salah satu pihak merasa dirugikan atas sebuah transaksi jual beli yang tidak transparan?

Contoh nyatanya seperti yang saya alami sore ini saat membeli sebuah makanan ringan di suatu pusat perbelanjaan. Makanan tersebut dibanderol seharga Rp 8.900,- (delapan ribu sembilan ratus rupiah). Usai memesan satu porsi saya lanjutkan dengan membayar ke kasir dengan menyerahkan uang Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah). Selesai melakukan input data harga di mesin kasir lalu pelayan tersebut memberikan uang kembalian kepada saya beserta struk transaksi jual beli.

Uang yang dikembalikan kepada saya hanya berupa satu keping uang logam senilai Rp 1000,- (seribu rupiah). Selain uang disertakan pula kertas struk penjualan tersebut. Saya lihat di kertas kecil tersebut tertera total belanja Rp 8.900,-, total uang yang dibayarkan Rp 10.000,- dan total kembalian Rp 1.100,-, tetapi uang kembalian yang saya terima hanya Rp 1.000,- saja. Lalu ke mana kekurangan Rp 100,- (seratus rupiah) yang seharusnya juga saya terima?.

Saat kasir menyerahkan dua benda tersebut yaitu uang Rp 1.000,- dan kertas struk ia hanya mengatakan “Terima kasih Bu...”, sambil tersenyum sekenanya. Merasa ada yang tidak adil, saya menanyakan kepadanya “Harusnya kembaliannya Rp 1.100,- kan ya?”, dan barulah kasir menjawab “Iya mohon maaf Ibu uang Rp 100,- tidak ada”. Saya jawab lagi “Lho kok gitu, kalo saya bayar kurang Rp 100,- boleh ga...???”. Sangat merasa tidak perlu menunggu jawaban, saya berlalu meninggalkan meja kasir yang menyebalkan.

Tidak adil.
Tidak benar.
Tidak baik.
Tidak jujur.
Tidak beritikad baik.
Dan sangat-sangat tidak patut ditiru oleh pedagang mana pun.

Transaksi jual beli haruslah berlandaskan kejujuran, karena berangkat dari keadaan yang sama-sama butuh. Penjual membutuhkan uang, pembeli membutuhkan suatu barang, maka sudah seharusnya terjadi hubungan yang saling menguntungkan untuk kedua belah pihak. Perkara berapa banyak keuntungan yang diambil oleh penjual itu sah-sah saja, tinggal pembelinya yang memutuskan sendiri tetap akan membeli atau tidak. Tetapi kalau soal tidak jujuran terhadap hak milik pembeli itu sangat tidak bisa dibenarkan.

Mungkin masih bisa diterima jika kasir mengatakan “Mohon maaf Ibu, apakah seratus rupiahnya boleh disumbangkan?” sambil kepala dimiringkan ke kanan, walaupun pembeli tidak tahu ke mana sebagian uang kembalian tersebut akan disumbangkan. Tetapi yang seperti ini menunjukkan masih ada itikad baik dari penjual yang menyampaikan tentang suatu hal terkait sebagian uang milik pembeli yang “tidak dapat ia berikan”. Atau tentu masih sangat bisa diterima jika kasir mengatakan “Mohon maaf Ibu kembaliannya kurang seratus rupiah...” sambil kepala miring ke kiri, sebelum pembeli menanyakan ke mana kekurangan kembaliannya. Kalau sudah begini tidak mungkin pembeli tidak mengiyakannya, dan tentu akan ikhlas melepas sebagian uang kembaliannya. Point ini sangat penting yaitu, ikhlas.

Bisnis itu bukan hanya masalah untung rugi saja, tetapi lebih luas lagi yaitu tentang bagaimana membuat hubungan yang saling menguntungkan antar dua pihak yang tidak saling kenal, lalu bagaimana membuat para pembeli kembali lagi membeli untuk ke sekian kalinya karena merasa sangat puas dengan produk maupun pelayanan yang diberikan. Bahkan untuk umat muslim urusan berdagang tanggung jawabnya lebih luas lagi yaitu mencakup urusan surga dan neraka. Bagaimana jadinya kalau cara-cara mengambil keuntungan seperti ini terus dilakukan oleh penjual? Halalkah??? Berapa banyak keuntungan dari sisa-sisa uang kembalian yang didapatkan dengan cara seperti ini? Seratus rupiah dikali berapa ratus orang dalam satu hari? Ah... sungguh cara berdagang yang tidak patut ditiru.

Selain itu, sudah sepatutnya pedagang dalam kelas besar misalnya mini market atau pusat perbelanjaan menyediakan uang kembalian sebagai tanggung jawab atas nominal harga yang telah dicantumkan. Jika memasang harga Rp 8.900,- sudah seharusnya menyediakan banyak uang logam seratus rupiah atau pecahannya untuk mengembalikan kepada konsumen, sehingga tidak ada alasan lagi tidak tersedia koin seratus rupiah. Jangan semata-mata ingin menunjukkan produk yang dijualnya tampak murah namun justru ini adalah jebakan untuk konsumen dengan tidak mendapatkan kembalian sepenuhnya.

Sebaliknya, di beberapa tempat justru ditemukan restoran yang menetapkan sistem pembulatan ke bawah sehingga resto atau pusat perbelanjaan tersebut yang ikhlas “menanggung kerugian”, namun walaupun “rugi” tetap saja akan untung karena tertutup dari hasil penjualan atau transaksi lainnya. Dalam konteks yang sama pembeli juga tentu akan ikhlas “menanggung kerugian” jika disampaikan di awal. Kembali lagi ini soal transparansi atau keterbukaan.

Gaess... Sungguh ini bukan masalah nilai uang seratus rupiah, tetapi lebih dari itu, ini tentang etika, tentang tidak adanya itikad baik pihak penjual. Mirip kejadiannya dengan kembalian uang yang digantikan dengan beberapa butir permen, jika dibalik apakah penjual bisa terima jika ada seseorang yang ingin membeli produknya menggunakan permen? Tentu saja tidak. Lalu mengapa penjual tega mengganti kembalian yang seharusnya berupa mata uang menjadi permen tanpa persetujuan pembeli?. Lalu jika ditanyakan lebih jauh lagi, apakah permen merupakan alat tukar jual beli??? Jelas bukan!

Buatlah hubungan jual beli yang halal, yang kedua belah pihak menjadi puas atas transaksinya, tidak meninggalkan kekesalan ataupun umpatan yang menyebalkan. Ini lebih dari sekadar nilai mata uang, tapi tentang itikad baik dan kejujuran.

(dnu, ditulis sambil nonton live report the royal fairytale wedding of angel and vicky hahaha...., 10 Februari 2018, 21.55 WIB).

Foto : dari berbagai sumber


Wednesday, February 7, 2018

Lantas Apa yang Kamu Rasakan Saat Melihat Gurumu Terkapar?


Lantas Apa yang Kamu Rasakan Saat Melihat Gurumu Terkapar?



Siswa tidak pantas jumawa karena memiliki tubuh yang lebih tinggi besar dibandingkan gurunya. Apalagi jumawa saat merasa kekayaan orang tuanya di rumah jauh lebih raya dibandingkan dengan milik gurunya di sekolah.



Karena hakikat bersekolah adalah meneguhkan diri sebagai pribadi yang terpuji, melalui penyerapan ilmu yang diberikan setiap hari, sambil merajut mimpi agar di suatu hari nanti dapat berdiri di atas kakinya sendiri, dengan tetap menjadi pribadi terpuji sejak kini hingga nanti.

Bukan menguatkan aksi bela diri yang digunakan kepada siapa saja yang dibenci, bahkan gurunya sendiri.



Ketika bersiap mengawali hari-hari di sekolah, kita senantiasa melafalkan janji siswa dengan suara lantang dan teguh jiwa. Tidak hanya orang tua, tetapi juga guru tentu berharap janji tersebut bukan sekadar deretan kalimat yang terucap secepat kilat.



Guru bersikap tertentu terhadap siswa pasti ada alasannya, diantaranya sangat ingin membuat siswanya bersinar suatu hari nanti, berkat budi baik siswa itu sendiri.

Tidak lebih yang diinginkan guru selain melihat anak didiknya memiliki hidup yang maju dengan tindak tanduk yang layak untuk ditiru.



Disapa saja guru sudah bahagia.

Diperhatikan paparan ilmunya guru akan sangat bahagia.

Ditiru sikap baiknya merupakan hal yang sangat istimewa.

Maka mengapa melakukan hal yang sederhana layaknya menyapa saja siswa kadang tak ada.



Berbahagialah para siswa, terdapat banyak orang yang bersedia menjadi guru bagimu. Membagikan ilmunya untukmu. Mengajarkan bagaimana caranya agar kamu menjadi pintar bahkan melebihi dirinya.



Sesederhana angin bertiup, hormatilah gurumu setiap waktu.



Tidak sedang memojokkan siapapun, tulisan pendek ini ditujukan untuk siapa saja yang merasa memiliki guru atau orang tua di sekolah.



(dnu, ditulis sambil mikir kenapa udah ngasih jalan masih aja mobil disenggol sampe goyang dengan menyisakan banyak baret-baret manis, 7 Februari 2018, 20.44 WIB)



Monday, January 22, 2018

Rapi

Sekelumit potret kehidupan sehari-hari yang rapi dan tertib di sebuah kota kecil di Negeri Sakura. Tidak terlihat sampah berserakan, cerminan bahwa mereka selalu membuang sampah pada tempatnya. Tata letak penanaman pohon, pembuatan jalan setapak dan pendirian bagian-bagian bangunan rumah yang begitu baik, tanda bahwa mereka memperhatikan kenyamanan hidup tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.

Lihat satu mobil yang parkir, lurus, rapi, tidak menutupi jalan ataupun pintu rumah. Tidak seperti yang banyak dikeluhkan orang Indonesia, parkir mobil tetangga menghalangi jalan, menghalangi depan rumah, hingga sulit untuk memasukkan atau mengeluarkan mobilnya sendiri karena jalanan terhalang mobil tetangga yang parkir tak beraturan.

Melucu Tidak Harus Mencemooh


Para pembaca yang budiman, rekan-rekan sebangsa dan setanah air Indonesia, sungguh apa yang terucap dari mulut kita akan menunjukkan seperti apa kualitas diri kita, dan sungguh apa-apa yang terucap dari mulut kita akan diminta suatu pertanggung jawaban oleh-Nya. Oleh karena itu hati-hatilah dalam berbicara, bersikap, bertindak, terlebih lagi jika ditampilkan di muka umum.



Artikel ini ditujukan secara gamblang atas perhatian kepada kasus dua orang komika atau pelawak yang kini dipermasalahkan oleh sebagian masyarakat akibat dari konten lawakannya. Ada apa dengan materinya? Apakah tidak berkualitas sehingga mengecewakan banyak orang? Ya, bagi sebagian orang dianggap sangat tidak berkualitas. Mengapa demikian? Karena mencemooh terhadap suatu agama telah dibawa di dalamnya.



Terlebih lagi yang membuat situasi semakin panas adalah yang melucu memiliki keyakinan yang berbeda dengan agama yang dijadikan materi lucu-lucuannya. Terang saja hal ini menimbulkan kemarahan agama lain yang merasa “bercanda bukan begitu caranya”. Semestinya sih masih banyak pengalaman-pengalaman hidup lainnya yang lebih baik untuk dijadikan materi lawakan.



Jika kita melecehkan suatu agama, membuat agama menjadi bahan bercandaan, melucu di sana-sini membawa-bawa agama dan bahkan Tuhan, merasa sukses begitu mendengar gemuruh tepuk tangan akibat candaannya, apakah kita lantas merasa tidak ada yang salah? Saya fikir agama apapun tidak ingin dijadikan bahan bercandaan.



Agama begitu sakral, agama adalah keyakinan yang merupakan urusan antara manusia dengan Tuhan. Lantas bagaimanakah cara berfikirnya jika hal yang amat sangat tinggi nilainya itu dijadikan bahan lucu-lucuan?



Apakah seseorang mendadak terlihat begitu pintar jika berhasil melucu dengan cara mempermainkan suatu keyakinan? Apakah seseorang menjadi terlihat begitu keren saat berhasil melucu dengan cara melecehkan kebesaran Tuhan?



Tentu siapa pun tidak ingin agamanya dijadikan bahan tertawaan. Dari hati yang paling dalam, tentu siapapun tidak ingin keyakinannya dijadikan bahan lucu-lucuan, dan apa pun yang terjadi di bumi ini tentu semuanya atas kehendak Tuhan. Kesenangan atau kesusahan adalah bentuk cobaan dari Tuhan. Termasuk juga terbentuknya alam semesta beserta jagat raya yang tiada batas ini adalah hasil ciptaan Tuhan.



(dnu, ditulis sambil nonton Dua Sisi di TV One, 17 Januari 2018, 21.55 WIB)

Apa yang Kita Jalani, Sulit Mereka Pahami...


Sebagai makhluk sosial tentu kita tidak hidup sendirian, ada teman, kerabat, saudara, sampai yang kekinian haters pun ada. Seluruh atau sebagian dari mereka terkadang ada yang memiliki sikap peduli namun berlebihan, serba ingin tahu tentang kita bahkan tentang seluruh hidup kita. Peduli pada sesama jika dilakukan dalam batasan yang wajar sesuai hubungan kita dengan orang lain tentu dapat dipahami. Misalnya kepedulian orang tua terhadap anaknya, kakak kepada adiknya, atau suami kepada istrinya dan sebaliknya, tentu wajar jika dilakukan dengan sangat berlebihan, namun bagaimana jadinya jika hanya ada hubungan pertemanan atau bahkan kenal pun tidak kita memberikan kepedulian yang begitu jauh? Apakah tidak melampaui batas namanya?



Rasa peduli yang melampaui batas dapat mengarah pada penerimaan yang negatif. Keingintahuan kita pada orang lain tentang mengapa ia mengambil suatu keputusan bagi hidupnya, yang menurut kita itu adalah keputusan yang salah, adalah tidak tepat. Mengapa kita memberikan penilaian terhadap keputusan orang lain? Buat apa kita menyayangkan keputusan yang diambil oleh orang lain? Apakah kita dapat dengan presisi memahami alasannya secara kita tidak menjalani hidupnya?



Pun sebaliknya, kita tentu tidak nyaman jika ada seseorang yang begitu “kepo” terhadap hidup kita, toh mereka tidak mengalami apa yang kita alami bukan? Lantas mengapa mereka begitu ingin tahu bahkan tidak sedikit yang menyayangkan terhadap suatu keputusan yang bukan urusannya? Ini yang namanya toleransi dalam pertemanan. Setiap individu butuh privasi, karena setiap orang dilahirkan dengan cerita hidupnya sendiri-sendiri.



Jaga hati, jaga fikiran. Jangan mudah menduga lalu menghakimi atau bahkan menyayangkan apa yang telah orang lain lakukan. Karena setiap yang seseorang lakukan tentu berangkat dari sebuah alasan, pun jika dijelaskan alasannya mungkin sulit bagi kita untuk memahaminya. Begitu juga sebaliknya, karena apa yang kita jalani terkadang sulit mereka pahami.



Note : Judul mengutip dari lirik lagu Melawan Dunia milik RAN feat Yura Yunita



(dnu, ditulis sambil si Uni Betawi kecewa karena indak ado sinetron Minang nan Rancak soal Amak Iyam dan Bujang haha...., 14 Januari 2018, 21.16 WIB)

Gemas! Belum Ada KUHP, Bolehkah Kaum Penolak Menindak Sendiri LGBT?


Dua kali dalam dua malam menyaksikan acara bincang-bincang tentang LGBT (Lesbian, Guy, Biseksual dan Transgender) di salah satu stasiun televisi akhirnya membuat saya gatal untuk turut beropini. LGBT adalah jargon yang dipakai untuk gerakan emansipasi di kalangan non-heteroseksual. Istilah itu berasal dari singkatan bagi lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual, untuk menunjukkan gabungan dari kalangan minoritas dalam hal seksualitas (Wikipedia).



Saat ini Mahkamah Konstitusi (MK) menolak mengadili gugatan soal LGBT dan kumpul kebo. MK menyerahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah untuk mengaturnya dalam sebuah Undang-undang.



Singkatnya, sampai dengan saat ini masih belum ada sebuah konsekuensi hukum pidana bagi para pelaku LGBT di Indonesia. Selanjutnya apa yang terjadi? Masyarakat cemas. Di satu pihak memandang pelaku LGBT tidak perlu dihukum pidana dengan alasan tertentu, dan di pihak lain merasa siapapun yang terbukti LGBT perlu ditindak tegas melalui hukum pidana yang sesegera mungkin harus ada dan berlaku di negeri ini.



Di tengah kondisi seperti ini, di mana semakin banyak remaja, dewasa maupun orang tua yang terjangkit penyakit penyimpangan seksual, namun belum ada hukum yang mumpuni untuk menindaknya, apa yang dapat kaum penolak LGBT lakukan? Sebagai rakyat biasa, bagi kaum yang memiliki pemahaman bahwa LGBT adalah penyakit penyimpangan seksual berbahaya yang sangat perlu dibinasakan, perlu turut ambil bagian untuk menyelamatkan keberlangsungan hidup bangsa Indonesia.



Bukan hanya telah melanggar norma agama, LGBT ini juga telah melanggar hak hidup orang lain yang menjadi korbannya. Salah satu hal berat yang berdampak adalah rasa trauma yang diidap oleh korban LGBT yang akan terbawa selama hidupnya. Dengan kenyataan yang seperti ini hukuman apa yang pantas diterima oleh para pengidap LGBT? Cukupkah hanya dengan penjara belasan tahun saja? Tentu saja tidak. Pun jika hukuman mati dijatuhkan, tetap saja rasa trauma para korban tidak akan dapat dihilangkan.



Berangkat dari hal tersebut di mana negera ini belum juga menetapkan sanksi hukum pidana bagi para pengidap LGBT, bolehkah jika masyarakat bertindak untuk memberikan sanksi lebih dari sekadar sanksi sosial? Mengapa masyarakat perlu bertindak? Karena hal ini merupakan bentuk penyelamatan diri, keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas pada umumnya. Perilaku LGBT yang sangat mengganggu kehidupan umat banyak sangat perlu ditindak tegas.



Mengapa dikatakan sanksi yang lebih dari sekadar sanksi sosial? Karena sanksi mengucilkan saja sangat tidak cukup. Mereka dengan sangat mudah dapat membentuk komunitasnya yang baru, di daerah yang baru dan menularkan kerusakan dirinya dengan sangat mudah.



Lantas jika boleh bertanya pada negara, bolehkah kaum penolak LGBT bertindak sendiri terhadap para pelaku LGBT dan kumpul kebo ini? Jika tidak segera di atasi maka bukan tidak mungkin bangsa Indonesia akan hancur oleh perilaku seksual yang menyimpang dari sebagian kecil rakyatnya yang dibiarkan begitu saja.



Gemas!



(dnu, ditulis sambil gemes-gemes gimana gituh!, 21 Desember 2017, 13.50 WIB)