Wednesday, June 27, 2018

Para Pendukung Paslon, Harus Siap Menang dan Siap Kalah


Pada masa kampanye pemilihan Calon Gubernur dan wakilnya, Calon Bupati dan wakilnya ataupun calon Walikota dan wakilnya, para pendukung atau biasa disebut dengan tim sukses masing-masing Pasangan Calon (Paslon) menggebu-gebu menyebar kabar baik tentang paslon unggulannya ke seluruh penjuru wilayah pemilihan. Pada masa ini seakan tim sukses tidak sama sekali melihat adanya kekurangan dalam diri Paslon, di mana Paslon yang dibanggakannya adalah manusia biasa yang tentu memiliki kekurangan di sana sini.

Saat memutuskan untuk mengunggulkan salah satu Paslon yang tentu dengan alasannya sendiri-sendiri, setiap calon pemilih juga nyaris membabi buta untuk membenarkan segala hal yang dilakukan oleh idolanya. Termasuk dalam perbuatan salah atau pun menyimpang, para pengikut kebanyakan akan serta merta tetap membelanya.

Demikian pula saat memasuki masa-masa pemilihan, satu minggu sebelum hari pemilihan bahkan sejak satu bulan sebelumnya, para pendukung Paslon ramai adu keunggulan junjungannya baik di dunia nyata maupun dunia maya. Terlebih dunia maya yang kini dapat dikatakan sebagai salah satu senjata ampuh untuk berkampanye, jaringan yang dapat dibentuk bisa lebih luas dan penyebaran pesannya juga tergolong massif dan efektif. Setiap unggahan pesan yang dimunculkan di media sosial kerap kali isinya tidak jauh dari ajakan kepada orang lain untuk mencoblos yang menjadi pilihannya.

Terkait unggahan di media sosial, selain mempengaruhi orang lain untuk turut memilih apa yang menjadi pilihannya, para pendukung Paslon juga tidak jarang sambil menjatuhkan pasangan lain dengan berbagai padangan negatifnya. Perang asumsi antar pendukung Paslon yang bisa jadi karena kebanyakan Halusinasi juga sulit untuk dihindari. Tetapi inilah kenyataanya, pada masa sebelum pemilihan setiap pendukung akan bergerilya untuk bisa memenangkan pasangan idolanya.

Lantas bagaimana dengan hari ini, sebagai hari pemilihan pemimpin daerah yang serentak dilaksanakan di banyak wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, akankah usai pemilihan semuanya akan adem ayem menerima kemenangan maupun kekalahan? Bagi para Paslon biasanya demikian, menerima kemengan dengan senang hati tanpa jumawa, dan bagi yang mendapatkan suara terlampau sedikit akan menerima kekalahan dengan berbesar hati tanpa banyak berkata. Lalu siapa yang biasanya banyak berkata atas kekalahannya? Adalah para pendukung Paslon yang kurang dapat berbesar hati karena Paslon idamannya tidak jadi memenangkan kompetisi berbasis demokrasi ini.

Kerap terjadi Paslon yang kalah lebih legowo dan menerima kekalahan sebagai suatu pembelajaran, namun tidak demikian halnya dengan para pendukungnya. Perang unggahan pesan di media sosial berpotensi terjadi usai ketuk palu pemenangan Paslon diumumkan. Dalam bahasa sederhana dapat dikatakan “yang di atas adem ayem, tapi yang di bawah hiruk pikuk tiada akhir”.

Setiap pendukung Paslon sudah tentu harus pula memiliki hati yang besar seperti yang dimiliki oleh Paslon itu sendiri. Hati yang telah siap menerima kemenangan dan lebih siap lagi jika harus menerima kekalahan. Bukan serta merta mengungkap kekurangan dalam diri Paslon yang menang, atau bahkan menghujat habis-habisan bahwa terdapat kecurangan dalam proses pemilihan. Sah-sah saja jika pendapatnya tersebut dapat dibuktikan kebenarannya, namun bagaimana jika tidak terbukti melainkan hanya tuduhan semata? Semuanya akan berbalik kepada diri kita sendiri.

Hal lain yang perlu diingat oleh para pendukung Paslon adalah apa yang mereka lakukan adalah cerminan dari bagaimana sebenarnya perangai dari Paslon yang diusungnya, maka jadilah pendukung yang menjunjung tinggi fairness, santun dan memiliki hati yang besar.  Demikian pula sebaliknya, bagaimana mungkin Paslon yang digadang-gadang sebagai pasangan terbaik memiliki pendukung yang tindak tanduknya sama sekali tidak baik? Bagaimana orang lain dapat menaruh kepercayaan pada Paslon tersebut jika para pendukungnya tidak sedikitpun mengindahkan nilai-nilai positif dalam proses pemilihan umum?

Jadilah pendukung Paslon yang berada dalam batas normal, mendukung dengan hati dan juga karena memiliki visi misi yang sama dengan visi misi hidup yang Anda jalani. Jika yang diunggulkan menang, maka teruskanlah dukungan sambil menyebar nilai-nilai kebaikan untuk kemajuan wilayah tempat tinggal. Namun jika yang digadang-gadang ternyata tidak menang, maka berbesar hatilah menerima kenyataan, tidak perlu bergegas mencari kesalahan Paslon yang meraih kemenangan, atau menyiapkan amunisi negatif untuk menyerang pendukung Paslon pemenang di dunia nyata maupun maya.

Menyikapi kekalahan adalah bukan dengan terus membela diri dan membela Paslon sambil tutup mata, tutup hati dan telinga, tetapi justru dengan membuka hati dan pikiran untuk bersedia maju bersama mengembangkan wilayah tempat tinggal. Karena yang terus membela diri tanpa mencoba memahami situasi hanyalah seorang pecundang sejati.

Selamat menanti hasil pesta demokrasi!

(dnu, ditulis sambil nonton quick count di salah satu TV swasta, 27 Juni 2018, 14.21 WIB)

Wednesday, May 30, 2018

Ramadhan #12 - Menyambut UAS dalam Gelimang Berkahnya Ramadhan

Wajah-wajah sumringah terpampang nyata kala dinyatakan pertemuan kelas ini telah hampir mencapai ujungnya. Tidak lupa, wajah-wajah grogi nan was-was juga terpampang jelas kala disampaikan Ujian Akhir Semester (UAS) akan segera dijelang. Selain dua wajah tersebut ada juga wajah-wajah cuek cenderung happy karena perkuliahan semester genap ini sudah hampir selesai.
Apapun wajah yang mereka tampakan, semoga tidak menjadi pertanda lainnya, selain pertanda optimisme yang begitu tinggi meraih nilai UAS terbaik. Seharusnya, di bulan yang penuh berkah ini dimanfaatkan oleh setiap umat islam untuk memanjatkan doa dan harapannya seraya melakukan banyak amal kebaikan. Termasuk juga yang akan menghadapi ujian di sekolah, panjatkan doa sebanyak yang kau mau, kelak InsyaAllah Allah SWT akan mendengar dan mengabulkan apa yang kamu butuhkan.
Bahagia berpuasa, bahagia pula menyambut masa-masa ujian yang akan segera tiba. Semoga di bulan Ramadhan ini jerih payah proses belajar yang telah ditempuh oleh setiap umat manusia, diganjar oleh Allah SWT dalam bentuknya yang terbaik, hasil ujian yang amat memuaskan misalnya. Baik bagi para pelajar Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, maupun tingkat Perguruan Tinggi.
Semoga semuanya semakin semangat belajar walau dalam keadaan haus dan menahan lapar. Semoga dalam sibuknya belajar semuanya tetap ingat kewajiban beribadah, semata-mata hanya untuk mengutamakan akhirat demi menjamin baiknya kehidupan di dunia.
Tetap semangat, karena proses tidak akan pernah menghianati hasil.
Happy fasting and be happy to face the sweet thing, UAS!
Welcoming UAS and succes for you guys!
(dnu, ditulis sambil pake masker - coba tebaakkk... masker bengkoang apa masker gojek??? hahaha...., 28 Mei 2018, 20.54 WIB



Ramadhan #11 - Ngabuburit di Anjungan DI Aceh, TMII

Hari ini (27/5), penantian terhadap adzan maghrib saya isi dengan bercerita bersama Aan, si Boneka Topi Berbaju Merah, tentang Semangat Menghafal Al Quran. Dengan mengambil tempat di Anjungan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, sebanyak 250 orang Hamba Allah yatim & piatu yang dikoordinir oleh kakak-kakak panitia dari Komunitas We Share We Care, sukses berkumpul dalam kegembiraan di bulan Ramadhan.
.
Bahagia, terharu dan terasa amat beruntung hari ini bisa berkumpul dengan mereka. Anak-anak yang fasih membacakan ayat-ayat suci Al Quran, anak-anak yang piawai tampil dalam kelompok hadroh, serta anak-anak yang tak lagi mempertanyakan mengapa kita harus berpuasa di Bulan Ramadhan. Anak-anak yang sungguh pemahamam ilmu agamanya jauh di atas saya, berhasil memberikan pajaran berharga sore tadi.
.
Di tengah derai hujan yang turun jelang maghrib, suasana berbagi keceriaan kian terasa hangat. Baru bertemu sore itu, namun rasa persaudaraannya begitu hebat.
.
Aan, Si Boneka Topi Berbaju Merah, menceritakan kisahnya yang tidak percaya diri saat akan mengikuti lomba menghafal Al Quran di sekolahnya. Ia terus mengurung diri karena merasa hafalannya tidak lebih banyak bila dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Aan lantas bertanya pada Tita, temannya di kelas, apa rahasia Tita sehingga ia mampu menghafal begitu banyak surat dalam Al Quran. Tita mengatakan, kita hanya perlu terus berusaha dekat dengan Al Quran agar semakin hari semakin bertambah hafalan kita.
.
Dekat dengan Al Quran dimaksudkan dengan senantiasa membaca Al Quran setiap hari, selalu menyempatkan diri untuk membaca Al Quran, dan selalu menyempatkan diri untuk mengaji. Aan lantas bergembira, ia akan mengikuti saran dari Tita untuk selalu berusaha dekat dengan Al Quran.
.
Cerita pendek yang juga menjadi pesan pribadi bagi saya, bukan hanya Aan, atau anak-anak lainnya yang ada di dalam acara. Semoga suatu hari nanti kita dapat menjadi hafidz/hafidzah, dan mampu menjadi penolong orang tua kita di akhirat kelak.
.
Aamiin...
.
(dnu, ditulis sambil selonjoran - inhale exhale - mahasiswa yang mau ujian tapi gw yang deg-degan hahaha..., 27 Mei 2018, 21.59 WIB)








Ramadhan #10 - High Quality Saturday at Campus with Old Friends ❤

Hari ini, Sabtu (26/5), kurang lebih seperenam dari 24 jam saya habiskan di kampus tercinta untuk menghadiri acara Expert Sharing. Pembicaranya adalah teman saya sendiri, seorang Best Graduate di kelas MM angkatan 2017, @yudidwiharjo .
.
Karena menuntut ilmu harus dilakukan kapan saja, pun hari ini yang masih hangat di 10 hari pertama puasa Ramadhan, salah satu aktifitas yang saya pilih adalah ke kampus. Walaupun dalam keadaan berpuasa, termasuk pembicaranya, namun acara ini tetap berlangsung dengan menyenangkan.
.
Mengangkat tema Analisis Balance Score Card Melalui Pendekatan 7S McKinsey, teman saya ini lancar sekali memaparkan banyak hal yang terkait dengan tema tersebut. Keren lah... Seneng punya teman pintar, berharap dapat tertular pintarnya hahaha... Aamiin...
.
Seperti yang kaum muslimin ketahui, ada ungkapan yang mengatakan agar kita berkumpul dengan orang-orang sholeh. Salah satu tujuannya adalah agar kita termasuk di dalamnya, dapat menjadi sepertinya, atau kita mampu mempelajari tauladan-tauladan baik darinya.
.
Jika kita berkumpul dengan suatu kaum maka kita termasuk darinya. Jadi jika kita berkumpul dengan orang-orang keren seperti yang ada di kanan kiri saya, maka yang termasuk di dalam gambarnya semoga tertular kerennya hahaha... Aamiin....
.
(dnu, ditulis sambil mikir napa harga kacang mede mahal bener yak wkwkwkw..., 26 Mei 2018, 21.49 WIB)



Ramadhan #9 - Pedagang Asongan Lemper Ayam yang Istiqomah


Ini adalah pemandangan lalu lintas yang hampir terjadi setiap malam di wilayah selatan Jakarta. Panorama kemacetan yang tiap armada mobilnya memancarkan cahaya keindahan, turut dilengkapi pula dengan adanya pedagang asongan Lemper Ayam yang dijual Rp 5.000 per buah.

Pedagang asongan makanan berat namun ringan ini tidak seorang diri. Bersama rekannya dua atau tiga orang lainnya, konsisten berjualan setiap hari. Demikian pula dengan bulan Ramadhan ini.

Tidak peduli waktu telah menunjukkan malam hari, ia tetap berjualan. Tidak peduli apakah orang-orang yang terkena macet ini bisa jadi sudah membatalkan puasanya atau sudah makan malam, ia tetap berjualan. Ia cukup istiqomah berjualan, bahkan terkadang di bawah rintik hujan ia tetap menjajakan dagangannya.

Ia tentu sangat percaya pada rejeki yang telah diatur oleh-Nya, sehingga ia tetap saja berjualan, walau apapun keadaan dan kemungkinan-kemungkinannya.

Saya coba ambil pelajarannya, jika ingin menjadi manusia yang maju maka mutlak harus berusaha, istiqomah atau konsisten mewujudkan keinginannya. Menjauhkan fikiran negatif yang hanya akan membuat diri terus mundur ke urutan yang paling belakang, alias tidak ada kemajuan.

Allah SWT menyukai orang-orang yang sabar, yang senantiasa berusaha dalam setiap keadaan.

Teruslah berproses untuk menuju kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat. Karena proses tidak akan menghianati hasil.

(dnu, ditulis sambil dipijitin sama tukang pijit, 25 Mei 2018, 21.05 WIB)


Ramdhan #8 - Ubah Lelah Menjadi Lillah


Insya Allah setiap langkah akan membawa berkah jika diniatkan untuk Ibadah.
Setiap inchi niat diri juga akan membawa rezeki jika selalu melibatkan Allah di dalam hati.
.
Ubahlah rasa lelah menjadi lillah, semata-mata hanya untuk menuai ridho Allah, mendapatkan sayangnya Allah dan meraih cintanya Allah.
.
Tetapi setiap langkah tidak akan menjadi lelah jika dilakukannya dengan selalu menyertakan Allah. Begitu juga sebaliknya, semuanya hanya akan menjadi lelah hanya jika tidak ada Allah di dalamnya.
.
Maafkanlah kesalahan-kesalahan orang lain setiap kali akan beranjak tidur. Bersihkan hati, lalu tidurlah dengan lapang tanpa ada kelelahan jiwa yang terasa sulit menjadi lillah.
.
Pun dalam tidur, bawalah Allah di dalamnya.
Semoga apa yang telah kita lakukan satu hari ini akan meraih keberkahan Allah, dunia dan akhirat.
.
Aamiin...
.
(dnu, ditulis sambil nahan mata kriyep-kriyep tapi adek bayi yang udah mau masuk SD belom bisa tidur, 24 Mei 2018, 22.39 WIB)


Thursday, May 24, 2018

Ramadhan #7 - Seru-seruan Sambil Menanti Adzan

Pengalaman menunggu adzan maghrib tiba di bulan ramadhan memang menjadi keasyikan tersendiri. Ada yang senang berjalan-jalan sore sambil membeli makanan ringan di sepanjang jalan, namun ada juga yang senang berkutat dengan pekerjaannya di kantor hingg suara bedug maghrib terdengar. Semua punya cara asyiknya sendiri, dengan anggapan yang sama yaitu perputaran waktu tidak akan terasa begitu lambat.
Sama halnya dengan saya, di hari Ramadhan ke 7 saya ngabuburit di sebuah tempat nan megah luar biasa, di kawasan Jakarta Selatan. Alhamdulillah ya bisa ngabuburit di ruangan yang amat sejuk tapi mampu membuat badan menggigil hahaha... Jarang-jarang nih... biasanya jelang maghrib di kantor atau maksa buka puasa di tengah kemacetan hehe...
Sambil menikmati acara bedah buku seorang Bapak hebat bernama Sofjan Wanandi, saya dan teman-teman nyaris lupa dengan kuatnya rasa lapar. Terlebih saat mendengarkan sambutan dari Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla, jelang maghrib itu menjadi amat sendu karena dapat mendengarkan secara live suara merdunya Pak Wakil Presiden. Alhamdulillah, pengalaman yang istimewa, walau saya dan teman-teman duduk di ujung belakang ruangan, dan Pak Jusuf Kalla berada di panggung sisi muka ruangan, yang jadinya saya dan beliau ujung-ujungan, tetap saja hangatnya aura kebapakan beliau sampai ke dalam hati .... ^.^
Bapak Sofjan Wanandi seorang pengusaha yang sempat memimpin Asosiasi Pengusaha Indonesia selama kurang lebih 12 tahun telah memberikan inspirasi bagi kaum muda. Di usia beliau yang sudah diatas kepala 5 tentu bukan hal yang mudah untuk terus berkarya. Tapi tidak dengan Pak Sofjan, ia tetap mengisi hari-harinya dengan sangat berkualitas, dan hingga moment sore kemarin itu entah moment peluncuran buku beliau yang ke berapa. Sepertinya sudah banyak hehe....
Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa, begitu juga dengan ngabuburit saya di acara launcing buku Pak Sofjan kemarin. Jadi membayangkan kira-kira di masa tua nanti apakah masih sanggup untuk berkarya dan bermanfaat untuk orang banyak, persis seperti Pak Sofjan.
Begitu juga tentang energi beliau yang masih prima, bicara pun mantap, gerak gerik masih segar, benar-benar menginspirasi. Keramahan beliau juga patut diacungi jempol. Siapalah saya yang tiba-tiba mengulurkan tangan kepada beliau, tapi beliau dengan senyumnya yang sungguh kebapakan ramah menyambut dan menjabat erat tangan saya yang mungil ini wkwkwkw..... Baik sekali Bapak ini.... Karena saya belajar dari pengalaman terdahulu, pernah ada seseorang yang tidak sehebat Pak Sofjan pura-pura tidak lihat saat saya mengajaknya bersalaman, hahaha....
Lagi-lagi sore itu menjadi pengalaman yang menarik bagi saya. Beberapa drama pun terjadi di antara saya dan teman-teman. Ada yang berhalusinasi "wah enak banget ya kalau jadi anaknya Pak Sofjan", ada juga drama tentang "bisik-bisik dalam pengaturan strategi untuk mengambil pangsit goreng sebelum diambil oleh orang lain" hahahha.... Tidak lupa terjadi juga drama perebutan butiran-butiran kurma wkwkwkw.... Apalagi drama tentang "kolak tanpa isi" alias cuma kuahnya saja, turut menjadi bagian dari keseruan menanti adzan.
Setiap orang tentu memiliki cerita serunya sendiri-sendiri di ramadhan kali ini. Semuanya pasti membawa manfaat, tetapi mungkin tidak akan kita sadari saat ini, melainkan di suatu hari nanti.
Begitu juga dengan cerita sore ini, perseteruan manja dengan Bude sang penjual takjil di kantor.
Bude : "Mbak Dewi, ini ada bubur ketan item, mau ndak..?"
Saya : "Saya maunya bubur sumsum Bude...."
Bude : "Ini enak juga lho Mbak... Mau ya...."
Saya : "Ngga ah bude, yang lain aja...."
Bude : "Lho... enak beneran... ya mau ya... santannya dicampur apa dipisah?"
Saya : "Ya udah, dipisah ya Bude..."
Bude : "Mbak Dewi, santan dicampur apa dipisah?"
Saya : "Dipisah mawon Budeeeeee......."
....... hening beberapa saat... Terlihat sang Bude sedang khusyuk membungkus bubur untuk saya.... Tapi beberapa saat kemudian, tampak wajah Bude di tengah-tengah etalase dagangannya sambil berkata agak kencang "Mbak... ini santannya dicampur opo dipisaaahh?"
Saya : "Pisaaaaahhh Budeeeee......"
MasyaAllah...
Hahaha.....
(dnu, ditulis sambil memandangi bubur ketan item bikinan Bude, 24 Mei 2018, 16.33 WIB)