Monday, August 21, 2017

Taat Beragama Di Mana Saja


Pemandangan yang menyejukkan saja jumpai di dalam kereta cepat yang melaju diatas rel berbaris rapi, di negeri matahari terbit, Jepang. Seorang wanita paruh baya nampak tenang dan dan khusyuk menunduk tiada angkat kepala dalam jangka waktu yang lama. Ia asyik membaca sebuah buku, dibaliknya dari satu halaman ke halaman lain, dan sesekali merapikan beberapa kuntum bunga yang dipangku manis dalam dekapan tangannya.

 

Sejak awal melihatny saya cukup penasaran buku apa yang sedang ibu tersebut baca, nampaknya serius sekali. Sangat berbeda dengan penumpang lainnya yang kerap sibuk dengan layar telepon pintarnya masing-masing, wanita yang mengenakan kimono, kaos kaki putih bersih, dan sandal jepit kayu khas negeri sakura ini benar-benar memiliki dunianya sendiri.

 

Sebelumnya di kereta ini saya berdiri dan persis di hadapan beliau, namun di sebuah stasiun saya mendapatkan kesempatan untuk duduk yang teramat istimewa karena bisa berada di sampingnya. Sebenarnya agak kurang sopan jika saya yang sudah berada pada posisi amat dekat dengannya ini berani mengintip dan mencari tahu buku apa yang sebenarnya sedang ia baca. Tapi dorongan rasa ingin tahu saya lebih besar dari pikiran-pikiran lainnya, maka tanpa berlama-lama saya beranikan diri sedikit menoleh ke kiri dan melihat sesuatu apa  dalam buku yang begitu menarik mata indahnya.

 

Ternyata, buku tersebut berisi banyak gambar dengan beberapa penjelasan dalam tulisan kanji. Gambar-gambar tersebut seperti gerakan-gerakan ibadah, karena nampak seseorang sedang membungkukkan badan hampir seperti sujud, seseorang yang sedang duduk diatas dua kaki yang dilipat, seseorang yang sedang memegang sebuah tangkai atau kayu kecil panjang, serta gambar orang-orang yang sedang melakukan gerakan-gerakan lainnya. Saya perkirakan buku ini adalah buku agama, atau bisa dikatakan sebagai buku panduan beribadah.

 

Wow, nice! Di tengah lingkungan kereta yang begitu modern dengan hiruk pikuk layar telepon pintar, ternyata terselip satu wanita yang mengenakan pakaian tradisional Jepang lengkap dari atas sampai bawah, pakaiannya bersih, rapi, dan ia duduk dengan tenang sambil membaca buku agamanya. Saya perhatikan sepanjang perjalanan, tidak sedikit pun ia tergoda menengok telepon pintarnya atau tergerak untuk mengutak atiknya. Ia konsisten dengan aktifitas rohaninya.

 

Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari pemandangan ini adalah tentang semangat meningkatkan kadar keimanan di mana pun dan kapan pun. Kadang dalam keadaan yang paling lapang saja kita lupa untuk mengingat sang pencipta, walau ada yang berpendapat jika dalam keadaan sempit kita maka manusia akan otomatis mengingatnya. Tapi, Ibu tersebut sepertinya adalah contoh yang baik, dalam keadaan nyamannya dia duduk di kereta yang sejuk, ia tidak terlena lalu hanya memikirkan dunia, tapi tetap membawa buku agama lantas dibacanya.

 

Kereta hanya sebagai wadah, utamanya adalah keadaan nyamannya seseorang yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup dan keimanan. Banyak keadaan nyaman yang lebih sering kita gunakan untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan dunia, lantas kapan urusan dengan Sang Pencipta kita tingkatkan? Yuk mulai dari sekarang kita bersama-sama menyempatkan walau sedikit saja disela-sela padatnya aktifitas untuk tetap berusaha dekat dengan Allah SWT. Mengaji sesaat di tengah jam istirahat kerja? InsyaAllah bisa. Sholat tepat waktu walaupun sibuk? Harus bisa!

 

#DNU
 
 

Wednesday, June 7, 2017

PEMENANG GIVE AWAY_BERBAGI BUKU

Pemenang GIVEAWAY program Berbagi Buku "BERBAGI CINTA DI 4 KOTA"
.
#1
.
Mbak Hardiani Ardin di Makassar, Sulawesi Selatan.... !!! 😘😍...
.
Tengkyu ya Mba udah ikutan giveaway ini.... semoga bukunya bermanfaat.... dan semoga cita-cita bersama suami tercinta dapat tercapai serta berjalan dalam lindungan cinta dan kasih dari Allah SWT 😇
.
Happy reading Mbak Cantiiiikkkk.... 😘😘😘
.
#DNU




Pentingnya Bersyukur Setiap Waktu_#Ramadhan_10

Tubuh-tubuh mungil itu beradu cepat mengangkat jari telunjuknya jauh tinggi di atas kepala saat saya bertanya "siapa yang puasa hari ini...?". Sambil berteriak "sayaaaa......" jawab mereka seakan ingin unjuk kebolehan kekuatan ibadahnya hari itu (4/6).
....
Namanya Bagus, mengenakan baju muslim putih-putih, begitu semangat bercerita kepada temannya yakni ; "Kalo kamu haus mendingan mandi aja nanti adem deh....." dengan mimiknya yang lucu.
.
Mereka telah mengerti makna berpuasa yang paling dasar, minimal paham bahwa sebagai umat islam yang berbadan sehat wajib baginya berpuasa, juga telah paham bagaimana cara ala anak-anak untuk menghalau rasa haus dan lapar.
.
Pesan moral yang saya selipkan dalam dongeng di sore yang sendu itu adalah tentang pentingnya bersyukur. Walaupun mereka kini hidup dalam keluarga yang pas-pasan namun harus selalu diingat bahwa masih ada teman-teman lainnya yang jauh lebih susah lagi. Seorang anak yang harus jadi pemulung misalnya, di mana ia harus bekerja sepanjang hari demi mencari barang-barang bekas, lalu di jual untuk mendapatkan sejumlah rupiah. Dalam cerita pendek itu juga saya kisahkan, pemulung tersebut berpuasa setiap hari, tidak hanya di bulan Ramadhan, salah satu alasannya adalah karena ia tak mempunyai cukup makanan untuk disantapnya pada pagi, siang dan malam. Itulah mengapa kita harus senantiasa bersyukur masih bisa makan setiap hari, makan enak, minum enak dan bisa menikmati hari-hari tanpa harus bekerja sejak dini.
.
Bersyukurlah masih punya orang tua, masih bisa bermanja-manja sama mama atau papa, walau hidup seadanya. Bentuk syukurnya apa? Mentaati perintah Allah SWT dan tentu saja menjauhi larangan Allah SWT.
.
Ngabuburit kali ini begitu seru, karena bisa berkumpul bersama mereka, anak-anak luar biasa, putra putri dari orang tua yang bekerja seadanya, rata-rata di pasar Asemka, Kota Tua, Jakarta Barat.
.
(dnu, ditulis sambil ngabuburit sama Rindu dan Arjuna di tukang es kelapa yang begitu menggoda, 5 Juni 2017, 17.20 WIB)


Bersama Mereka di Kota Tua - #Ramadhan_9

Ruangan ini dilengkapi pendingin seadanya, hanya terdapat 2 kipas angin yang berputar sempurna demi memberikan efek sejuk di tengah panasnya Ibu Kota. Ini adalah aula Musium Bank Mandiri yang terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta. Sebuah ruang dalam bangunan lama yang dimanfaatkan oleh para relawan Sahabat Anak Kota Tua untuk mengajak anak-anak yang hidup dalam garis seadanya bermain sambil belajar, rutin setiap minggunya....

Me and my husband are here right now.

Panas, sedikit sirkulasi udara, cuaca di luar juga amat terik, namun di tengah kondisi yang begitu nikmat ini puluhan adik-adik binaan Sahabat Anak Kota Tua semangat belajar mengaji, mulai dari Iqra hingga Al Quran. Nampaknya mereka lupa dengan rasa panas, haus dan lapar, yang ada hanya gembira.

Semuanya semangat, tidak terdengar keluh kesah ataupun erangan ingin pulang. Padahal mereka belajar di tempat yang sangat seadanya ini. Mereka belajar di lantai, ada yang duduk sambil kipas-kipas, ada yang tengkurap dan ada juga yang sambil bersandar.

Bersyukurlah adik-adik lain yang memiliki kesempatan belajar di ruangan berpendingin (AC), bersyukurlah yang bisa belajar diatas kursi dan meja yang baik, dan bersyukurlah para orang tua yang mampu memberikan arena belajar yang begitu nyaman bagi anak-anaknya.

Semuanya semangat.

Mereka berlarian ke sana ke mari hingga telapak kaki menjadi hitam akibat lantai yang seadanya, bermain putar-putaran kursi rusak namun mereka begitu bahagia. Tapi apapun keadaannya saya yang saat ini ada di sini dan mereka yang saat ini juga ada di sini patut bersyukur, karena masih ada tempat untuk bermain sambil belajar, yang beratap hingga kita tak kehujanan. Juga bersyukur masih banyak kakak-kakak baik yang dengan suka rela penuh cinta mengajar adik-adiknya mengaji, juga pelajaran lainnya.

Siang ini saya belajar, bahwa hidup bukan tentang diri sendiri saja. Mari berbagi dan mari mensyukuri.

(dnu, ditulis sambil memandang keriuhan yang mengharukan, 4 Juni 2017, 15.12 WIB)




 

Saturday, June 3, 2017

Jadilah yang Menyejahterakan Masjid #Ramadhan_8

Sabtu (3/6) malam kita telah memasuki malam tarawih ke 9 di bulan Ramadhan 1438 H. Semoga tidak banyak ya masjid-masjid yang barisan shaf shalatnya sudah mulai mengalami kemajuan, alias shafnya hanya ada beberapa barisan saja di depan. Rumah Allah SWT begitu sepi pengunjung menjelang pertengahan Ramadhan. Hal ini mungkin disebabkan oleh para muslimin dan muslimat yang memiliki kesibukan sendiri-sendiri sehingga melaksanakan tarawihnya di rumah saja. Misalnya karena pulang bekerja yang sudah larut malam atau adanya kepentingan di rumah yang harus segera diselesaikan.

Selain alasan tersebut semoga tidak ada alasan karena sibuk menghadiri undangan buka puasa bersama ya, sehingga tidak sempat tarawih berjamaah di masjid. Jika saat berbuka puasa bersama lantas terdengar adzan isya kita berbondong-bondong bersama para sahabat bergerak ke masjid untuk shalat berjamaah terasa begitu indah. Namun jika memang tidak bisa dilakukan atau harus berjamaah di ruangan dekat lokasi buka puasa bersama ya dapat dimaklumkan, yang penting esensi ibadah Ramadhannya tetap dilaksanakan.

Masjid-masjid di lingkungan tempat tinggal kita tentu menunggu kehadiran masyarakatnya untuk bersama-sama beribadah. Dengan ibadah yang dilakukan berjamaah maka secara tidak langsung kita telah turut menyejahterakan rumah ibadah kita sekaligus mensyiarkan islam dalam balutan nuansa Ramadhan yang meriah dalam kedamaian.

Ramai-­ramai shalat ke masjid yuk!

(dnu, ditulis sambil pegel-pegel gitu lehernyaaa….., 3 Juni 2017, 22.14 WIB)

Friday, June 2, 2017

Ramadhan Kareem, Rejeki Tidak Akan Pernah Tertukar

Ramadhan Kareem, Rejeki Tidak Akan Pernah Tertukar
#Ramadhan_7

Geliat penjual berbagai macam makanan dan minuman kian terasa saat memasuki pertengahan bulan Ramadhan. Hampir di setiap daerah mulai jam 3 sore para pedagang mulai menggelar lapaknya masing-masing. Kebanyakan mereka menjual takjil yang murah meriah dan cukup menggugah selera untuk disantap saat waktu berbuka puasa.

Satu pelajaran berharga dari pemandangan biasa yang kerap terjadi di bulan suci ini adalah setiap pedagang telah memiliki pelanggan sendiri-sendiri. Coba saja perhatikan walaupun antar sebelah lapak sama-sama menjual es buah tapi para penjual tersebut memiliki rezekinya masing-masing, ada saja yang membeli. Bahkan bisa dikatakan, menjual makanan apa pun menjelang waktu berbuka bisa jadi para penjual tersebut akan pulang ke rumahnya dengan senyum yang sumringah, karena seluruh dagangannya habis terjual. Apakah antar penjual takjil pernah dilanda keributan karena menjual barang yang sama? Saya sih belum pernah mendengarnya ya, dan hal ini erat kaitannya dengan kepercayaan mereka yang begitu kuat pada rezeki.

Rejeki tidak akan tertukar, selama kita berusaha menjemputnya dengan cara yang halal InsyaAllah apa yang menjadi hak akan kembali kepada pemiliknya, dengan catatan si pemilik telah menunaikan kewajiban-kewajiban yang Allah SWT perintahkan. Bayangkan saja, apakah pantas kita memohon agar diberikan rezeki yang murah dan halal oleh Allah SWT namun tidak satu pun dari sekian banyak kewajiban kita tunaikan?

Lakukan apa yang menjadi kewajiban kita maka selanjutnya kita boleh bersuka hati menunggu apa yang menjadi hak kita, karena sesungguhnya rezeki tidak akan pernah tertukar. Lantas jika kita merasa masih kurang saja terhadap rezeki yang Allah SWT limpahkan, mungkin rasa bersyukurnya yang perlu ditingkatkan, serta mungkin ada kewajiban-kewajiban yang belum kita tunaikan.

(dnu, ditulis sambil mbayangin besok masuk kuliah pagi amaaatt yaakkk...., 2 Juni 2017, 21.23 WIB)

Monday, May 29, 2017

Ramdhan, yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Namanya juga bulan penuh keberkahan, siapa sih yang tidak ingin meraih berkah sebanyak-banyaknya? Umat muslim di banyak belahan dunia tentu tengah berlomba-lomba melakukan berbagai amalan di bulan baik ini, bahkan ibadah yang hukumnya sunah pun terasa menjadi hal wajib yang harus dilakukan. Alhamdulillah ya, terlepas dari hanya di bulan Ramadhan saja namun tetap menjadi amal kebaikan yang InsyaAllah berlanjut dilaksanakan hingga masa-masa seterusnya.

Artikel ini tidak akan membahas apa saja amalan-amalan yang hukumnya sunnah lalu terasa menjadi hal yang wajib dilakukan di bulan ramadhan. Hanya berdasar pada kebiasaan dan pandangan mata saja maka lahirnya tulisan sederhana ini. Terlihat para umat muslim yang begitu semangat melakukan hal-hal biasa namun dengan semangat kebaikan maka hal tersebut menjadi luar biasa.
 
Misalnya bagi para Ibu yang  mungkin sehari-hari menyiapkan menu makanan tidak terlalu muluk-muluk, namun di bulan baik ini semuanya seakan terasa istimewa dengan sajian makan yang sedikit berbeda dari biasanya. Contoh lainnya adalah jajaran penjaja gorengan dan cemilan takjil khas Ramadhan yang terlihat di setiap mata memandang. Begitu pula dengan makanan-makanan lainnya yang jarang kita temui di bulan-bulan biasa mendadak ramai di bulan suci ini, salah satunya adalah timun suri. Seru ya?!

Tidak hanya urusan perut, para muslimin dan muslimat juga banyak yang memasang target khatam Al Quran di bulan Ramdhan, entah itu satu, dua atau beberapa kali. Berlomba-lomba bersedekah karena mengharap ridho Allah SWT semata melalui aksi penyajian buka puasa maupun sahur gratis turut menjadi agenda amalan menyenangkan yang banyak dilakukan di bulan Ramadhan. Masih ada tradisi seru lainnya yang hanya terjadi di bulan puasa yakni buka puasa bersama. Kegiatan yang terlihat hanya sebagai ajang makan bareng ini juga menjadi ladang amal bagi mereka yang jeli melihatnya, yakni silaturahmi. Allah SWT begitu senang dengan orang-orang yang menjaga silaturahmi bukan? Berapa banyak undangan buka puasa bersama yang kerap dilakoni oleh para muda mudi? Buka bersama teman masa SMP, masa SMA, teman kerja, teman komunitas dan perkumpulan-perkumpulan lainnya yang sebenarnya sungguh ada saja ladang amal di sana jika kita mampu mengemasnya, yakni walaupun asik bercengkrama tetap tidak melupakan shalat maghrib dan tarawihnya. Kesimbangan yang seperti sungguh nyaris sempurnya adanya.

Begitu juga dengan ibadah shalat tarawih yang hukumnya sunnah tapi seluruh umat muslim berlomba-lomba menunaikannya dan sedapat mungkin dilakukan berjamaah di masjid bersama dengan saudara muslim lainnya. Inilah ukhuwah yang begitu indah jika kita selalu mampu menjaganya sepanjang masa. InsyaAllah mampu dan dimampukan.

Aktifitas seru lainnya yang kebanyakan umat lakukan di bulan Ramadhan adalah jalan-jalan pagi setelah shalat subuh berjamaah di masjid. Hanya sekedar menyusuri sekitar kampung untuk menghirup udara yang belum terkena polusi, menjadi kegiatan pilihan yang asik dilakukan sebelum matahari terbit. Sebenarnya hanya jalan-jalan biasa sih namun karena dilakukan beramai-ramai maka aktifitas yang biasa ini menjadi sungguh luar biasa. Manfaat positif yang didapat selain bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudara muslim yang lain, yakni tanpa sadar kita sedang berolahraga, sehingga tubuh menjadi lebih segar dan bugar.

Semoga tidak hanya di bulan ramadhan kita senang melakukan hal-hal luar biasa demi mendapatkan pahala yang InsyaAllah dilipatgandakan ya, namun juga di bulan-bulan lainnya. Mari bersama kita tunjukkan kepada dunia tentang betapa indahnya Islam, dengan cara tetap menjaga hati, lisan dan fikiran yang bersih mulai dari yang paling dekat yaitu diri kita sendiri.

(dnu, ditulis sambil nyanyi “lebaran sebentar lagiii....”, 29 Mei 2017, 21.43 WIB)