Tuesday, October 3, 2017

Ingat Allah SWT Dalam Segala Masa


Kapan saja dan di mana saja, Allah SWT senantiasa bersama kita. Lantas mengapa kita yang bukan apa-apa hanya mengingatNya dalam waktu-waktu tertentu saja? Semoga tidak banyak hamba yang hanya mengingat Sang Pencipta Allah SWT hanya pada saat menderita saja, dan dia lupa saat bahagia tengah melanda. Semoga tidak banyak juga yang hanya mengingat Allah SWT kalau ada maunya saja, bahkan ia lupa jika segala keinginannya telah terpenuhi. Semoga tidak banyak yang hanya mau menengadahkan tangannya kehadirat Allah SWT hanya jika sedang memiliki hajat saja, hajat yang sangat diinginkannya atau hajat yang sangat berat baginya. Semoga tidak banyak yang menangis tersedu, sedih merintih sambil memohon agar Allah SWT beikan kemudahan, namun seketika lupa saat kesenangan telah hadir di tangan.

 

Allah Maha Pengasih, Tak Pernah Pilih Kasih

Allah Maha Penyayang, Sayangnya Tak Terbilang

Dan Allah Maha Tahu, Tanpa Harus Diberi Tahu

 

Semoga semakin banyak yang kerap mengucap syukur dalam keadaan apapun. Semoga semakin banyak yang memuji keagungan Allah SWT dalam keadaan apapun. Semoga semakin banyak yang selalu mengingat Allah SWT baik dalam suka maupun duka. Dan semoga semakin banyak yang mengingat Allah SWT dalam keadaan apapun kita.

 

(dnu, ditulis sambil mikirin saldo gopay tinggal berapa karena mau beli martabak tapi ga punya uang cash haha...., Selasa, 3 Oktober 2017, 19.17 WIB)

Sunday, October 1, 2017

Lenganmu Juga Aurat, Ukhti


Pagi ini dapat kiriman gambar dari rekan sesama muslimah tentang peringatan bahwa lengan perempuan adalah juga aurat yang wajib di jaga. Tapi siang harinya, dengan kedua telinga mendengar percakapan dua orang muslimah berhijab di belakang saya usai menunaikan sholat dzuhur. Kurang lebih seperti ini percakapannya :

 

Mba 1   : Buruan, lama amat sih!

Mba 2   : Tunggu sebentar gue pake manset dulu...

Mba 1   : Ah udah ga usah pake manset, baju lu kan tangannya udah 7  per 8... (yang dimaksud

  panjang lengan baju)...

Mba 2   : Ah ntar item gw kalo ga pake manset...

Mba 1   : Ngga, tarik coba, panjang kok, udah buruan...

Mba 2   : Terdiam... sambil terus mengenakan manset tangan.

Mba 1   : Ah yaudah deh terserah, buruan gw tunggu di depan!

Mba 2   : Iya....

 

Ukhtifillah yang cantik dan baik hatinya, setuju ya bahwa lengan juga merupakan aurat yang wajib dijaga, wajib ditutup dengan kain panjang hingga ke punggung tangan kita. Percakapan nyata diatas adalah bukti nyata bahwa masih banyak muslimah yang menganggap enteng lengan tangan. Dengan alasan apapun, Mba yang ke 2 sudah berusaha menutupi tangannya walau dengan alasan takut kulitnya hitam karena terpapar sinar matahari secara langsung, semoga di kemudian hari ia paham bahwa janganlah takut hitam melainkan takutlah pada azab Allah SWT.

 

Terkadang kaum hawa sengaja menggulung lengan bajunya hingga ke pergelangan tangan atau bahkan mendekati siku, hal ini dilakukannya agar lebih mudah beraktifitas karena tidak ada kain-kain yang mengganggu, atau mungkin karena panas, atau bisa jadi karena takut baju bagian lengannya kotor. Jika sedang berada sendirian di dalam rumah atau hanya dengan mahram kita hal ini dibenarkan, namun sangat tidak benar jika di tempat umum yang begitu banyak pasang mata lengan kita sengaja di buka.

 

Pakaian yang panjang lengannya hanya 7/8 jelas wajib pakai manset lagi untuk menutupi bagian tangan lainnya. Jangan kemakan mode dan mengorbankan aqidah, karena banyak juga yang modist tapi tetap sesuai syariah.

 

(dnu, ditulis sambil ngeliatin orang makan mie ayam, 2 Oktober 2017, 13.41 WIB)

Upacara, Salah Satu Cara Tanamkan Nilai Pancasila


Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia berlomba-lomba menunjukkan bahwa dirinya benar-benar “Pancasila” melalui berbagai cara, poster di dunia maya salah satunya. Dengan tujuan yang beragam berbagai upaya tersebut diusung oleh masing-masing orang yang kata kuncinya adalah “Saya Pancasila”, walaupun entah bagaimana keseharian dari mereka apakah telah benar-benar menanamkan nilai-nilai Pancasila. Hari ini tepat 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, hari di mana sebuah upacara besar digelar untuk memperingati kekuatan dasar negara kita tercinta Indonesia. Lantas bagaimana dengan mereka yang kerap mengelu-elukan dirinya “Pancasila” sekali, apakah telah sedikit saja ikut memaknainya minimal hari ini?



Pancasila yang merupakan dasar negara Republik Indonesia tidak hanya perlu dihayati tetapi juga dilakoni dalam kegiatan kita sehari-hari. Bagaimana dapat melakoni jika makna yang terkandung di dalamnya saja belum diresapi? Bagaimana dapat diresapi jika tidak ada aktifitas rutin yang secara terus menerus mengingatkan bahwa ada lima sila dalam pancasila yang perlu kita maknai? Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih maupun Upacara Penurunan Bendera Merah Putih yang biasanya dilaksanakan rutin oleh sekolah-sekolah kini tak lagi sama.



Kurang lebih 17 tahun yang lalu saya masih rutin melaksanakan upacara bendera di sekolah, satu minggu sekali. Dalam seremoni kenegaraan tingkat sekolah tersebut seluruh siswa siswi dibentuk pemikirannya agar menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap kegiatannya sehari-hari. Selalu mengucapkan sila-sila Pancasila bersama-sama seluruh peserta upacara, hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk mengiringi pengibaran atau penurunan Sang Saka Merah Putih. Sebuah seremoni rutin yang digelar dengan sederhana namun tujuannya ingin mengubah pribadi kita menjadi anak Indonesia yang cinta negaranya dan menghargai jasa para pahlawannya. Saat ini apakah sekolah-sekolah masih sama rutinnya melaksanakan upacara? Semoga saja iya, agar setiap anak telah ditanamkan sejak dini akan pentingnya mengamalkan Pancasila, serta alasan mengapa harus mengamalkannya.



Ketika membacakan sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, di sini ditanamkan pada diri siswa siswi untuk percaya kepada Tuhan, dan menganut suatu agama adalah sebuah hak asasi bagi setiap pribadi. Sila ke dua yakni Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, pengamalan yang paling sederhana yaitu jadilah anak yang cinta pada sesama, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, dan tentunya saling mengasihi. Sila ke tiga Persatuan Indonesia, kalimat yang singkat namun sarat makna, di mana dalam hati kecil setiap siswa diajak untuk menjaga kerukunan hidup bermasyarakat, bagaimanapun berbedanya agama dan suku tapi kita harus tetap bersatu untuk Indonesia. Sila ke empat yaitu Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan, sederhanananya segala pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari agar selalu bermusyawarah, hindari keributan, dan junjung tinggi azas mufakat. Contoh kecilnya adalah pemilihan ketua kelas yang selalu dilakukan secara musyawarah dan mufakat, di sini terlihat nilai-nilai Pancasila mulai ditanamkan minimal di sekolah. Dan sila ke lima adalah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sejak dini ditanamkan pemahaman bahwa negara tentu mengupayakan sebuah kehidupan yang adil dan makmur bagi setiap warga negaranya.



Lantas bagaimana jika upacara bendera kini tak lagi rutin adanya? Bagaimana penanaman nilai-nilai Pancasila akan secara mudah dilakukan terhadap anak-anak selaku generasi penerus bangsa? Bilamana ada seremoni yang menyerupai getir perjuangan para pahlawan negara? Apakah tak mengapa jika jutaan anak bangsa tak begitu kuat nasionalismenya karena telah berkurangnya aktifitas pengibaran bendera merah putih di udara. Memang bukan hanya upacara saja, tetapi ini adalah salah satunya yang begitu dekat di depan mata.



(dnu, ditulis sambil makan martabak keju yang rasanya cokelat banget, 1 Oktober 2017, 19.59 WIB)

Sunday, September 24, 2017

Potret Persaingan Bisnis Masakan ala Jepang, Head To Head


Hari itu (24/9) kurang lebih pukul 17.00 WIB saya bersama keluarga menikmati makan sore di sebuah restoran yang menyajikan masakan ala Jepang yaitu Ichiban Sushi, yang terletak di Plaza Pondok Gede. Suasana sore yang sempat diguyur hujan walau sesaat itu cukup sejuk, dan rasanya cocok sekali jika perut ini diisi dengan makanan yang hangat namun tetap sarat nutrisi. Tidak butuh waktu lama kami memutuskan untuk makan di resto yang belum lama berdiri di mall ini. Sambil menunggu pesanan datang mulailah pikiran saya melanglang buana yang tentu saja tetap seputar suasana di mana saat itu saya berada.

Sambil duduk, jari jemari tidak memainkan tuts telepon genggam, mata mulai berputar. Tengok kanan dan kiri ternyata persis di sebelah resto Ichiban Sushi ini terdapat resto ala Jepang lainnya yaitu Gokana Ramen dan Teppan, yang juga merupakan tempat biasa saya menikmati masakan ala Jepang. Inilah potret bisnis yang saat ini tidak lagi mengenal lokasi, distribusi, apalagi gengsi. Bagi resto Ichiban Sushi yang baru saja bergabung di mall tersebut mungkin tidak membutuhkan modal promosi yang tinggi untuk menarik banyak pelanggan, pasalnya resto ini telah memiliki nama besar yang cukup dikenal sebagai resto masakan Jepang yang tak lagi perlu diragukan.

Ichiban Sushi memang tergolong resto masakan Jepang papan atas yang mudah ditemui di pusat-pusat perbelanjaan. Sajian sushinya yang khas memang mampu mengingatkan akan negeri sakura bagi siapa saja yang menyantapnya Tidak hanya itu, resto ini juga menyajikan banyak varian masakan ikan yang juga menjadi makanan khasnya para penduduk asli Jepang. Keunikan jenis makanannya memang begitu terasa, nampaknya Ichiban Sushi ingin menarik konsumen yang memang menyukai masakan Jepang, mengagumi negara Jepang, atapun menyukai kebudayaan Jepang.

Nuansa area makan di resto ini juga dibuat sedemikian rupa agar menyerupai jajaran rumah makan yang asli Jepang, kekentalannya memang kurang terasa mungkin pengelola resto tetap ingin menyesuaikan dengan kebiasaan dan budaya masyarakat kota Jakarta. Sajian minum yang disediakan juga tetap mengusung unsur Jepang, yaitu dengan teh ocha-nya yang dibuat mirip seperti aslinya.

Hampir sama dengan resto ala Jepang yang ada di sebelah Ichiban Sushi yaitu Gokana Ramen dan Teppan. Dengan suara sapaan sang pelayan kepada setiap pengunjung mall yang lewat, resto ini berusaha melakukan teknik promosi yang berbeda. Menyapa setiap orang yang lewat adalah cara-cara yang cukup ampuh untuk membuat pengunjung mengetahui adanya resto ala Jepang ini dan harapan lebih jauhnya adalah keputusan pengunjung untuk makan siang, sore atau malamnya di sini. Sebuah strategi promosi yang berbeda, namun sah-sah saja untuk dilakukannya, karena setiap bentuk usaha bebas melakukan proses pemasaran produknya melalui cara-cara apa saja, dengan catatan tidak mengganggu para calon konsumennya.

Gokana Ramen dan Teppan yang mengusung makanan khas Jepang melalui Mi Ramen memang terlihat cukup berhasil menarik banyak pengunjung. Sebagai resto ala Jepang yang juga telah memiliki nama besar, tidak sulit bagi manajemen pengelola untuk menaikkan omsetnya. Telah terdapat kemiripian kesenangan masyarakat Jakarta dengan sajian khas resto Gokana, yaitu terletak pada masakan mi kuahnya. Di mana telah diketahui secara umum banyak sekali penikmat mi instan yang bagi sebagian orang dijadikan makanan utama saking candunya, namun bagi sebagian lainnya dijadikan makanan andalan saat hujan menyapa. Gokana Ramen dan Teppan telah berada pada posisi yang tepat dalam sajian masakan mi ramennya, walau dimasak ala-ala Jepang namun kesukaan pada produk mi sedikitnya telah mampu menarik minat para pengunjung.

Sebuah diferensiasi atau keunikan mutlak diperlukan dalam sebuah bisnis, bidang apapun itu, terlebih lagi dalam bidang makanan dan minuman. Rasa yang enak dan bentuk yang menarik saja saat ini tidak menjadi satu-satunya ukuran bagi konsumen agar memutuskan untuk membelinya, namun dibutuhkan juga keunikan-keunikan lain yang jarang dimiliki oleh pelaku bisnis sejenis. Dalam bisnis makanan dan minuman misalnya dibutuhkan inovasi baru, misalnya terdapat beragam rasa yang berbeda dalam satu jenis roti sehingga setiap kali menggigit akan ada sensasi yang tak sama, atau terdapat campuran buah-buahan yang segar dalam sebuah minuman kopi misalnya Kopi Nikmat dengan Potongan Mangga Segar, atau sajian bentuk donat yang tidak bolong apalagi bulat namun kotak menyerupai dadu. Mungkin terdengar aneh dan tidak biasa, tapi justru yang tidak biasa itulah yang semakin hari makin perlu dikembangkan oleh para pelaku bisnis di manapun berada.

Karakter manusia yang cepat bosan bisa dijadikan patokan yakni dalam melakukan suatu usaha tentu harus melahirkan sesuatu yang baru terus menerus dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Keinginan untuk mencoba hal-hal baru juga perlu diperhatikan, contoh bagi sebuah makanan mungkin rasanya sama saja, namun setiap pergantian bulan bisa saja disajikan dalam bentuk yang berbeda agar lebih menarik, dan semata-mata hanya sekadar untuk mengantisipasi rasa bosan para pelanggan.

Ichiban Sushi dan Gokana Ramen tentu telah memiliki keunikannya sendiri-sendiri, sehingga yang perlu dilakukan agar bisa terus menanjak pendapatannya adalah dengan melakukan inovasi-inovasi tiada henti, agar siapapun yang melintasi resto ini tidak hanya menoleh namun memutuskan untuk makan dan berakhir pekan di sini.

(dnu, ditulis sambil nonton ILC di TV One, 24 September 2017, 24.09 WIB)

Setiap Gurauan Ada Aturannya


Sebagai manusia biasa tentu saya juga memiliki kebutuhan dasar sama seperti yang lainnya yaitu mendapatkan hiburan, selain kesehatan tentunya. Banyak cara bisa dilakukan agar bisa mendapatkan hiburan atau kesenangan, mulai dari aktifitas yang paling sederhana dengan menonton televisi (TV) ataupun pergi ke tempat-tempat rekreasi. Untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hiburan tersebut akhir-akhir ini saya menggantungkan diri pada salah satu tayangan TV di malam hari, yaitu Stand Up Comedy Academy (SUCA) 3. Hampir setiap malam saya kerap mengatur beberapa aktifitas yang dikelompokkan berdasarkan jam setertib mungkin agar tidak berbenturan dengan waktu penayangan SUCA 3.

Di awal penayangan hingga beberapa episode berikutnya saya masih sangat menikmati dan benar-benar terhibur, namun tidak dengan beberapa tayangan terakhir ini. Terdapat olok-olokan yang berlebihan di sana sehingga membuat saya gerah mata, entah apakah hanya saya atau juga bagi sebagian penonton lainnya. Olok-olokan yang saya maksud adalah gurauan yang ditujukan kepada salah satu juri yaitu Jarwo Kuwat, atau akrab disapa Pak Jarwo.

Pak Jarwo yang lucu memang seringkali menjadi objek gurauan, cara-cara beliau dalam menanggapi gurauan yang dilontarkan pengisi acara lainnya juga amat menyita perhatian. Gerak gerik beliau yang lucu, jawaban-jawaban spontan beliau yang terdengar seru juga menarik perhatian saya selaku penonton setianya. Namun seperti yang saya sampaikan di atas bahwa akhir-akhir ini gurauan terhadap beliau saya anggap telah berlebihan dan mengarah pada sikap yang tidak sopan. Boleh dikatakan tidak sopan karena beliau adalah orang yang lebih tua dari pengisi acara lain sang pelempar olokan, atau juga lebih tua dari para penonton yang ikut menertawakan. Tidak sopan juga dalam pembuatan isi bahan olokan yang berurusan pada takdir Tuhan. Ya, sering sekali Pak Jarwo diolok-olok tentang kematian.

Pembaca yang baik hatinya, apakah olok-olokan yang seperti ini dan digulirkan terus menerus sambil tertawa puas termasuk dalam sikap yang sopan? Apakah gurauan seperti ini layak untuk dipertontonkan? Apakah gurauan yang disaksikan ribuan pasang mata patut untuk kita ikut tertawakan? Apakah seorang tua layaknya Pak Jarwo pantas diolok-olok sedemikian rupa dalam hal kematian? Apakah lupa setiap ucapan adalah doa? Bagaimana dengan ucapan senda gurau yang dilontarkan untuk Pak Jarwo? Hati-hati, sekali lagi ucapan adalah doa. Pantaskah kita mendoakan agar orang lain segera menghadap Sang Pencipta lantas kita tertawa-tawa dalam tubuh yang sangat banayk dosa? Apakah sudah tidak ada lagi bahan bercanda yang lainnya hingga urusan liang lahat pun menjadi sajian yang tampak begitu niikmat.

Saya sih kasihan sama Pak Jarwo, lama-lama saya prihatin mengapa tayangan yang awalnya saya anggap sangat ciamik dalam memberikan suatu pelajaran dalam berkomedi yang baik, tapi justru diselipkan guyonan-guyonan yang amat menyedihkan. Saya tidak sedang ingin mengkampanyekan hastag Save Pak Jarwo, tapi saya hanya berharap banyak hati yang terbuka untuk segera menganalisan bahwa masalah kematian tidak pantas untuk dijadikan suatu gurauan. Bukan hanya karena Pak Jarwo telah memasuki usia paruh baya, namun juga karena dalam setiap tindakan yang namanya etika sangat perlu digunakan.

Tanpa gurauan tersebut sebenarnya tayangannya sangat menghibur, namun jika disisipkan gurauan kematian maka berubah menjadi hiburan yang memiriskan. Di mana pernah ada yang bergurau dengan membawakan sekantong bunga untuk Pak Jarwo yang umumnya bunga tersebut ditabur di pemakaman, hingga gurauan ini juga dijadikan sebagai materi andalan sang komedian. Miris. Apakah sudah tidak ada lagi materi menarik lainnya? Apakah sudah tidak ada lagi materi yang mampu membangkitkan tawa dan tepukan tangan penonton hingga salah kaprah dan lagi-lagi menyasar Pak Jarwo sebagai korban lawakan? Kasihan Pak Jarwo, kasihan keluarga Pak Jarwo yang menonton. Kasihan istrinya Pak Jarwo, kasihan anaknya Pak Jarwo, dan kasihan seluruh keluarga besarnya Pak Jarwo.

Mari bersama-sama kita bersikap lebih sopan dalam segala hal, dalam hubungan pertemanan maupun beraksi dalam sebuah tayangan. Karena setiap rasa ada batasnya, dan setiap bercanda tentu ada aturannya.

 

(dnu, ditulis sambil makan ikan gurame pake sambel terasi, 23 September 2017, 21.42 WIB).

Monday, August 21, 2017

Taat Beragama Di Mana Saja


Pemandangan yang menyejukkan saja jumpai di dalam kereta cepat yang melaju diatas rel berbaris rapi, di negeri matahari terbit, Jepang. Seorang wanita paruh baya nampak tenang dan dan khusyuk menunduk tiada angkat kepala dalam jangka waktu yang lama. Ia asyik membaca sebuah buku, dibaliknya dari satu halaman ke halaman lain, dan sesekali merapikan beberapa kuntum bunga yang dipangku manis dalam dekapan tangannya.

 

Sejak awal melihatny saya cukup penasaran buku apa yang sedang ibu tersebut baca, nampaknya serius sekali. Sangat berbeda dengan penumpang lainnya yang kerap sibuk dengan layar telepon pintarnya masing-masing, wanita yang mengenakan kimono, kaos kaki putih bersih, dan sandal jepit kayu khas negeri sakura ini benar-benar memiliki dunianya sendiri.

 

Sebelumnya di kereta ini saya berdiri dan persis di hadapan beliau, namun di sebuah stasiun saya mendapatkan kesempatan untuk duduk yang teramat istimewa karena bisa berada di sampingnya. Sebenarnya agak kurang sopan jika saya yang sudah berada pada posisi amat dekat dengannya ini berani mengintip dan mencari tahu buku apa yang sebenarnya sedang ia baca. Tapi dorongan rasa ingin tahu saya lebih besar dari pikiran-pikiran lainnya, maka tanpa berlama-lama saya beranikan diri sedikit menoleh ke kiri dan melihat sesuatu apa  dalam buku yang begitu menarik mata indahnya.

 

Ternyata, buku tersebut berisi banyak gambar dengan beberapa penjelasan dalam tulisan kanji. Gambar-gambar tersebut seperti gerakan-gerakan ibadah, karena nampak seseorang sedang membungkukkan badan hampir seperti sujud, seseorang yang sedang duduk diatas dua kaki yang dilipat, seseorang yang sedang memegang sebuah tangkai atau kayu kecil panjang, serta gambar orang-orang yang sedang melakukan gerakan-gerakan lainnya. Saya perkirakan buku ini adalah buku agama, atau bisa dikatakan sebagai buku panduan beribadah.

 

Wow, nice! Di tengah lingkungan kereta yang begitu modern dengan hiruk pikuk layar telepon pintar, ternyata terselip satu wanita yang mengenakan pakaian tradisional Jepang lengkap dari atas sampai bawah, pakaiannya bersih, rapi, dan ia duduk dengan tenang sambil membaca buku agamanya. Saya perhatikan sepanjang perjalanan, tidak sedikit pun ia tergoda menengok telepon pintarnya atau tergerak untuk mengutak atiknya. Ia konsisten dengan aktifitas rohaninya.

 

Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari pemandangan ini adalah tentang semangat meningkatkan kadar keimanan di mana pun dan kapan pun. Kadang dalam keadaan yang paling lapang saja kita lupa untuk mengingat sang pencipta, walau ada yang berpendapat jika dalam keadaan sempit kita maka manusia akan otomatis mengingatnya. Tapi, Ibu tersebut sepertinya adalah contoh yang baik, dalam keadaan nyamannya dia duduk di kereta yang sejuk, ia tidak terlena lalu hanya memikirkan dunia, tapi tetap membawa buku agama lantas dibacanya.

 

Kereta hanya sebagai wadah, utamanya adalah keadaan nyamannya seseorang yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup dan keimanan. Banyak keadaan nyaman yang lebih sering kita gunakan untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan dunia, lantas kapan urusan dengan Sang Pencipta kita tingkatkan? Yuk mulai dari sekarang kita bersama-sama menyempatkan walau sedikit saja disela-sela padatnya aktifitas untuk tetap berusaha dekat dengan Allah SWT. Mengaji sesaat di tengah jam istirahat kerja? InsyaAllah bisa. Sholat tepat waktu walaupun sibuk? Harus bisa!

 

#DNU
 
 

Wednesday, June 7, 2017

PEMENANG GIVE AWAY_BERBAGI BUKU

Pemenang GIVEAWAY program Berbagi Buku "BERBAGI CINTA DI 4 KOTA"
.
#1
.
Mbak Hardiani Ardin di Makassar, Sulawesi Selatan.... !!! 😘😍...
.
Tengkyu ya Mba udah ikutan giveaway ini.... semoga bukunya bermanfaat.... dan semoga cita-cita bersama suami tercinta dapat tercapai serta berjalan dalam lindungan cinta dan kasih dari Allah SWT 😇
.
Happy reading Mbak Cantiiiikkkk.... 😘😘😘
.
#DNU