Sunday, December 17, 2017

Belajar dari "Clear Delivery Information" Petugas RSUD Pasar Rebo


Pengalaman memuaskan ini terjadi pada Senin (4/12) lalu saat saya mengurus Surat Keterangan Sehat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Rebo yang terletak di timur Jakarta. Kejelasan informasi mengenai di mana lokasi pengurusan Surat Keterangan Sehat tersebut hingga bagaimana proses yang harus dijalani agar mendapatkan surat tersebut saya terima dengan sangat jelas dan memudahkan.



Rumah Sakit adalah salah satu instansi pelayanan jasa yang dalam setiap prosesnya tentu berkaitan dengan manusia. Adalah para pengunjung Rumah Sakit baik yang memang ingin berobat atau pun tidak yang menjadi objek layanan dari seluruh pegawai yang bertugas. Berbicara soal pelayanan, sudah tentu gerak tubuh, artikulasi, air muka, penampilan, hingga perangai keseluruhan dari diri petugas instansi tersebut yang akan menjadi penilaian tersendiri bagi pengguna jasanya. Seorang pemberi jasa memang dituntut untuk selalu berwajah ramah, menyenangkan, santun dan hal-hal baik lainnya saat melayani pengunjung, terlepas dari ada atau tidaknya masalah yang sedang dihadapi, seorang pelayan harus menunaikan nilai-nilai kebaikan tersebut.



Dari kondisi yang begitu ideal seperti paparan di atas, tidak dapat dipungkiri kerap kali ditemukan para pelayan jasa yang tindak tanduknya kurang menyenangkan bagi pengunjung, bukan hanya di pelayan Rumah Sakit tetapi juga di instansi pemberi jasa lainnya. Contoh kecil yang ingin saya angkat melalui artikel ini adalah terkait nilai positif dalam hal pemberian informasi yang jelas (clear delivery information) serta perangai ramah dari seorang pemberi jasa kepada konsumennya. Apa yang saya rasakan setelah menerima pelayanan yang baik itu? Puas. Bukanlah sebuah hal besar yang telah paramedis RSUD Pasar Rebo lakukan terhadap saya, tetapi kepuasan batin ini yang menjadikan pengalaman ini sesuatu yang bernilai besar.



Pertama kali datang ke RSUD Pasar Rebo pada Minggu (3/12) kurang lebih pukul 13.00 WIB, saya menghampiri seorang petugas keamanan yang tengah berjaga di depan meja resepsionis dan bertanya bagaimana prosedurnya jika ingin membuat Surat Keterangan Sehat. Petugas keamanan tersebut menjawab dengan sangat ramah, mengambilkan brosur, seraya menginformasikan dengan santun bahwa bagian pengurusan surat tersebut saat itu telah tutup jam 11.00 WIB. Petugas tersebut juga menginformasikan di mana lokasi loket yang menangani kebutuhan tersebut dan mempersilahkan saya membawa pulang brosur tersebut.



Pelayanan yang biasa? Bagi saya tidak, karena bagi saya ini adalah pengalaman pertama namun begitu baik ia menerima kedatangan saya. Lantas kira-kira sudah berapa banyak pengunjung RS yang menghampirinya dan melontarkan pertanyaan yang sama yakni “bagaimana cara mengurus Surat Keterangan Sehat”? Pasti banyak sekali, lalu apakah petugas tersebut merasa bosan dan malas-malasan menjawab pertanyan yang sama dari pengunjung yang berbeda? Tidak. Ini nilai lebihnya, bagi saya ini adalah pengalaman pertama dan baginya adalah pengalaman yang ke sekian, namun ia tetap bersikap sebagaimana mestinya hingga membuat saya tidak kecewa dan sangat bersedia untuk kembali lagi keesokan harinya.



Di hari berikutnya saya menghampiri bagian yang mengurus pembuatan Surat Keterangan Sehat, terdapat dua perempuan paruh baya yang begitu ramah menerima kehadiran setiap pengunjung dengan maksud yang sama seperti saya. Tiba giliran saya dipanggil untuk memulai pengurusan surat. Selain banyak sekali prosedur yang harus saya tempuh, banyak juga ruangan-ruangan yang harus saya hampiri untuk melakukan pembayaran dan berbagai pemeriksaan.



Ketika itu saya harus mengikuti dengan benar urutan-urutan proses pendaftaran, pembayaran dan berbagai pemeriksaan, mulai dari menempuh ruangan yang berbeda, lantai berbeda, hingga gedung yang berbeda. Tetapi seluruh rangkaian proses tersebut berjalan dengan amat baik dan lancar. Saya tidak kebingunan ke mana harus berbelok saat mencari ruang pendaftaran, ke lantai berapa saat harus melakukan pembayaran dan tidak kebingungan pula saat harus berpindah dari laboratorium, lalu ke ruang radiologi, lalu ke ruangan dokter untuk konsultasi, hingga harus ke gedung yang lainnya untuk melakukan tes sesi terakhir. Sangat lancar, walau harus disertai antrian yang panjang namun semua jelas adanya. Apa yang membuat semuanya begitu lancar? Salah satu hal penting yang sering terabaikan oleh para pemberi jasa adalah keramahan dan kejelasan dalam menyampaikan informasi. Petugas Medical Chek Up (MCU) yang sedianya menjadi bagian pemroses berbagai Surat Keterangan Sehat bekerja dengan sangat ramah dan jelas dalam memberikan informasi kepada saya.



Contoh, petugas MCU perempuan paruh baya yang saya lupa namanya menyampaikan kurang lebih seperti ini “Mba Dewi sekarang ke bagian pendaftaran dan kasir dulu ya. Pendaftaran dan kasir ada di lantai 2, saat ini kita sekarang ada di lantai satu, berarti nanti Mba naik satu tangga dan letak area pendaftaran serta kasir persis di depan setelah sampai di lantai dua. Posisi tangga ada di belakang arah ruangan ini, Mba nanti keluar ruangan lalu belok kanan, nanti di sisi kiri akan ada area yang sangat ramai dan itu adalah area pendaftaran BPJS Kesehatan, lalu posisi tangganya ada di kanan area tersebut.”



Contoh ke dua, setelah selesai proses pendaftaran dan pembayaran “Mba Dewi nanti tes yang harus dilakukan adalah ................. Pertama Mba tes ini dulu.... selanjutnya ini.... dan ini yang terakhir. Untuk pemeriksaan yang pertama Mba ke laboratorium, letak labnya ada di..... Berikan saja dokumen ini kepada petugas di dalam kaca lalu Mba mengantri bersama pasien umum lainnya.... dst....”



Contoh ke tiga, petugas di laboratorium bagian pengambilan darah juga tidak kalah jelasnya dalam memberikan informasi, yaitu “Mba pengambilan darahnya sudah selesai, selanjutnya tes urine. Nanti Mba ke toilet, posisi toilet ada di arah kiri pintu masuk lab ini, di dekat tukang donat”. Ya, sampai sejelas itu dia mengarahkannya. Bagaimana mungkin saya masih bingung atau bisa nyasar jika arahan yang disampaikan sebaik dan sejelas ini? Di ruang pemeriksaan lainnya pun demikian adanya, hingga di pemeriksaan terakhir sang petugas bertanya “Mba ini hasilnya Mba butuhkan kapan? Mau diambil kapan?” Wow, sampai seperti ini???



Para security yang saya temui dari satu ruangan ke ruangan lainnya dan dari satu gedung ke gedung lainnya pun tidak kalah baiknya dalam memberikan informasi. Pada saat saya harus ke sebuah gedung bernama Gedung C untuk melakukan suatu pemeriksaan, security yang posisi tugasnya cukup jauh dari gedung yang saya cari memberikan informasi “Mba sekarang ke arah depan, menyeberang gedung, belok kiri, ada jalanan kecil dengan jaring-jaring kecil di sebelah kanan, nah di situ ada security untuk gedung C, Mba bisa tanya lagi di sana...”.



Keren banget! Sungguh ini diluar ekspektasi saya. Beberapa hari sebelumnya ketika mendapat informasi saya harus mengurus surat tersebut di sebuah RS milik Pemerintah, bayangan saya tidak jauh-jauh dari kata “ribet”. Saya sudah membayangkan bahwa RS Pemerintah tentu memiliki pasien yang amat banyak yang datang dari berbagai penjuru kota Jakarta, atau minimal area Jakarta Timur. Bergumul di benak saya entah berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan pengurusan surat tersebut, karena di RS pasti ramai, pelayanan pasti riweh, petugasnya pasti tegang-tegang semua karena menghadapi pasien yang tidak sedikit dan bekerja di lingkungan yang hiruk pikuknya tidak perlu diragukan lagi. Bahkan saya juga berfikiran akan diping-pong ke sana ke mari saat mengurus surat. Tetapi apa yang terjadi? Pengurusan surat di mulai pukul 08.00 WIB dan telah berakhir seluruh rangkaian tes pada pukul 11.00 WIB. Adalah waktu yang cukup cepat untuk melakukan berbagai pemeriksaan. Tidak ada ping-pong sana sini, semuanya lancar.



Bekal pemikiran “ribet” yang telah saya bawa dari rumah seketika terpatahkan begitu saya tiba di ruang MCU. Menghadapi petugas yang friendly, santai namun tegas, ramah, penjelasannya baik dan mudah di pahami, maka suasana santai pun lantas terbentuk di dalam diri saya. Karena bukan tidak mungkin jika kita berhadapan dengan orang yang perangainya tegang nan galak, maka kita juga akan terpapar energi yang sama negatifnya. Nah, petugas RS ini telah berhasil menularkan energi positifnya kepada saya.



Dalam prosesnya saya memang harus ikut mengantri bersama pasien umum lainnya, namun suasana antrian yang memang puluhan tersebut tidak membuat saya risau. Hal ini tentu disebabkan oleh sistem ataupun manajemen pengelolaan pelayanan pasien tidak hanya diketahui oleh para petugas RS tetapi juga dijalani dan diamalkan, maka terciptalah ketertiban walau di tengah keramaian.



Pemberian informasi yang jelas dan akurat mutlak perlu dilakukan oleh seluruh pelaku industri yang bergerak di bidang jasa, terlebih lagi bagi para petugas yang bersinggungan langsung dengan konsumen. Hal ini tidak hanya akan menguntungkan pemakai jasa saja tetapi juga bagi instansi tersebut. Salah satu dampak positif dari kejelasan pemberian informasi selain kenyamanan konsumen, juga terbentuknya ketertiban proses di lingkungan instansi itu sendiri. Karena pengguna jasa telah memahami benar apa yang harus ia lakukan dan bagaimana cara melakukannya, maka tidak lagi terjadi kebingungan yang dapat menyebabkan kekacauan.



Kepuasan pengguna jasa memang sangat tergantung dari petugas pemberi jasa, apabila disampaikan informasi yang jelas dengan perangai yang menyenangkan maka kenyamanan dan kepuasan konsumen pun akan dirasakan. Kedua hal ini akan membentuk lingkaran sebab akibat yang akan terus berputar. Jika konsumen nyaman maka akan tercipta ketertiban, dan suasana yang tertib ini akan membuat para petugas tetap bekerja dengan nyaman. Jika petugas nyaman maka delivery informasi akan berjalan dengan baik, informasi yang baik akan membuat konsumen nyaman, lalu hubungan ini akan kembali lagi ke perputaran berikutnya.



(dnu, ditulis sambil makan nasi goreng buatan suami tercinta hahaha...., 17 Desember 2017, 20.36 WIB)

Sunday, December 3, 2017

Haruskah Bekerja Bersama hati?


Seperti lirik lagu yang dibawakan oleh Fourtwnty yang berjudul Zona Nyaman, yaitu “sembilu yang dulu biarlah berlalu, bekerja bersama hati kita ini insan bukan seekor sapi...”. Relevankah pernyataan ini dengan kondisi zaman now? Di mana pertumbuhan ekonomi semakin pesat yang menyebabkan kompetisi kehidupan antar keluarga juga semakin kuat? Ketika semakin banyak pelajar-pelajar yang telah menyelesaikan masa studinya baik dari sekolah menengah maupun perguruan tinggi, ini berarti muda mudi yang tergolong dalam usia produktif semakin banyak bermunculan, lalu apakah kenyataan ini seimbang dengan semakin banyaknya lapangan pekerjaan yang tersedia? Belum tentu.



Keadaan yang belum tentu ini menyebabkan orang-orang yang berada dalam usia produktif, yang juga tengah bersemangat untuk bekerja demi menghidupi diri dan keluarganya, terbagi menjadi dua golongan. Pertama golongan idealis yang menginginkan pekerjaan sesuai dengan passion atau gairahnya, dan juga terdapat golongan yang bekerja apa saja asal halal dan bisa menghasilkan uang. Kamu termasuk dalam golongan apa? Seseorang yang termasuk dalam golongan apapun tentu memiliki latar belakang alasan masing-masing, dan terkait alasan ini tidak seorang pun dapat menghakimi dan memberikan anggapan tepat atau tidak tepat.



Golongan pertama, seseorang yang idealis atau memilih untuk melakoni suatu pekerjaan hanya yang sesuai dengan passion atau kesenangannya saja. Golongan ini tidak hanya terdapat pada generasi yang lahir sekitar mulai tahun 1980 sampai dengan sekitar tahun 1995 atau biasa disebut dengan Generasi Y (Gen Y), serta generasi yang lahir mulai tahun 1995 sampai dengan sekitar tahun 2014 atau biasa disebut dengan generasi z (Gen Z), tetapi juga pada generasi terdahulu atau baby boomers.



Gen Y dan Gen Z memang lebih selektif dalam memilih pekerjaan selepas ia menyelesaikan masa studinya, mereka lebih tertarik dengan pekerjaan yang terlihat keren dan memiliki room for growth yang tinggi untuk mengaktualisasikan dirinya. Bahkan hampir terlihat Gen Z ini tidak menempatkan pendapatan bulanan sebagai prioritasnya, namun justru kenyamanan lingkungan dan kecocokan tipe pekerjaan yang akan dibelanya habis-habisan. Dapat dikatakan bahwa Gen Z adalah generasi idealis yang memilah dengan amat cermat pekerjaan apa yang akan ia lamar, jika tidak sesuai maka dengan mudah akan ditinggalkannya.



Generasi ini memang ingin benar-benar bekerja sesuai dengan yang diminatinya, dan jika sudah berada dalam organisasi yang tepat maka ia akan bekerja dengan sepenuh hati. Dengan menyertakan seluruh hatinya maka mereka bukan lagi bekerja melainkan berkarya, karena apa yang dilakukannya sehari-hari sangat ia sukai dan sangat ingin ia hasilkan sebuah karya terbaik atas kesukaannya tersebut.



Terlihat cukup idealis di tengah pergulatan hidup yang begitu keras terlebih di kota-kota besar di Indonesia. Bisa jadi banyak yang berpendapat di zaman sekarang ini sangat sulit mencari pekerjaan, maka apa yang ada di depan mata maka terimalah. Bagi sebagian orang petuah bijak ini tentu ada benarnya, tetapi bagi sebagian lainnya bisa jadi bekerja dengan hati adalah tidak hanya benar tetapi juga amat baik adanya.



Golongan ke dua yaitu sekelompok orang yang membuka seluruh hatinya untuk pekerjaan apapun asalkan halal dan dapat menghasilkan cukup uang. Berangkat dari kebutuhan hidup yang kian hari kian meningkat, seakan tak ada ampun bagi siapa saja yang bermalas-malasan dan cenderung pemilih terhadap pekerjaan. Sebenarnya golongan ini juga termasuk golongan orang-orang yang memiliki passion atau hobi tersendiri, namun dikarenakan beban hidup yang tidak bisa dipungkiri maka kelompok ini memilih jalur yang lain dan sementara mengesampingkan apa yang menjadi hobinya.



Dengan alasannya sendiri misalnya perlu menghasilkan uang dalam jumlah tertentu setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, support keluarga, ataupu menyelesaikan studi yang dilakoninya sambil bekerja, orang-orang yang berada dalam kondisi tersebut akan menjalankan pekerjaan apapun asalkan dapat dilakukannya, halal dan dapat memberinya pendapatan yang pasti setiap bulannya. Lantas apakah golongan seperti ini tetap dapat bekerja dengan hati karena apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya sehari-hari dapat dikatakan tidak sesuai dengan minatnya? Tentu saja iya, namun bisa jadi kadarnya tidak sebesar yang bekerja sesuai minatnya. Lalu apakah dapat dibina agar yang seperti ini menyukai apa yang dikerjakannya, hingga ia tak lagi bekerja melainkan berkarya untuk perusahaannya dengan hati? Tentu saja bisa. Dengan menjalankannya setiap hari, mengerti apa tujuan dari pekerjaannya tersebut, mengapa ia herus melakukannya, maka kelak akan tumbuh tanggung jawab yang lebih besar hingga ingin menyelesaikannya dengan hasil yang di atas standar, bahkan tidak hanya demi pendapatan yang diberikan setiap bulannya.



Terdapat dalam generasi apakah golongan ke dua ini? Apakah generasi baby bomers? Mungkin saja, mengingat orang-orang terdahulu, yang lahir sebelum tahun 1980, mereka memiliki pemikiran yang berbeda dengan generasi setelahnya. Diantaranya adalah pemikiran tentang bagaimana kita dapat bertahan hidup, atau apa yang harus kita lakukan agar dapat bertahan hidup? Dengan pemikiran seperti ini maka lazim adanya mereka akan mengerjakan apapun dengan proyeksi hasil yang baik sekalipun tidak sesuai dengan hobi atau kesukaannya, karena yang mendominasi pemikirannya adalah bagaimana kehidupan saya dan kelaurga dapat terus berlangsung dengan baik.



Perbedaan dari dua golongan ini adalah di mana generasi yang lahir setelah tahun 1990 memilih untuk bekerja sesuai dengan passionnya secara langsung usai dari masa studi, sedangkan generasi yang lahir sebelum tahun 1980 memilih untuk bekerja apa saja demi bertahan hidup dan setelah 20 atau 30 tahun kemudian baru akan menikmati hidupnya sesuai dengan hal yang diminatinya.



Lantas bagaimana hubungannya dengan bekerja bersama hati? Sama saja, dua-duanya sama-sama dapat bekerja dengan hati, namun hanya soal perbedaan waktu saja.



Pertanyaannya berikutnya, haruskah bekerja bersama hati? Menurut penulis tentu saja harus, pekerjaan apapun itu, karena jika hati tidak ikut serta di dalam aktifitas rutin sehari-hari maka apa yang sedang dan akan dicari?



Lalu, bagaimana menurut kamu?



(dnu, ditulis sambil nemenin anak belajar untuk UAS besok tapi kebanyakan mainnya dari pada bacanya haha...., 3 Desember 2017, 19.35 WIB)

Thursday, November 16, 2017

Bedakan Antara “Kesalahan” dengan “Proses Belajar” Pada Anak-anak


Dalam sebuah acara anak yang dikelola dengan sangat baik oleh panitia-panita yang profesional terdapat ungkapan dari salah seorang penanggung jawab acara yang menggelitik telinga saya dan membuat kening sedikit mengernyit. Diantara sekian banyak aktifitas yang dilakukan oleh anak-anak sebagai peserta, satu diantaranya adalah melukis dengan menggunakan cat air di sebuah bidang kertas berwarna putih. Pada aktifitas ini panitia memiliki ketentuan “panitian tidak mengganti kertas yang sobek karena kesalahan peserta, panitia mengakui bahwa kertas yang digunakan sangatlah tipis dan rentan rusak, maka peserta harus paham benar cara menggunakan cat air dengan baik”. Siapa yang dimaksud peserta di sini? Anak-anak rentang usia 4 sampai dengan 8 tahun.



Guys, tepatkah pernyataan tersebut untuk didengungkan? Jika seorang anak belajar menulis, menggambar atau mewarnai, lalu dalam aksinya tersebut ia terlalu kuat menekan pensil atau alat pewarnanya sehingga mengakibatkan kertas yang digunakannya sobek, maka hal ini dikatakan sebagai kesalahan anak? Bukankah rentang usia 4 sampai dengan 8 tahun adalah masa-masa bagi anak untuk belajar segala hal terkait dunia tulis menulis? Menulis saja mungkin bagi sebagian anak belum begitu pandai, pun terhadap ketentuan terbaik dalam menggunakan alat-alatnya. Anak-anak di usia tersebut tentu sedang gemar-gemarnya memegang pensil dan sejenisnya, sedang semangat-semangatnya menulis, bahkan saking semangatnya saat menulis mereka akan menekan pensil sekuat tenaga hingga membuat sisi belakang kertas berbekas atau bahkan nyaris sobek. Lalu tepatkah yang seperti ini dikatakan sebagai kesalahan?



Bukan, hal tersebut bukanlah kesalahan melainkan proses belajar. Tidak hanya anak-anak, yang sudah dewasa pun harus melewati tahapan gagal atau terjatuh saat mempelajari sesuatu hal. Maka terasa kurang tepat jika menganggap kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh seorang anak adalah sebuah kesalahan, karena hal tersebut adalah bagian dari proses pembelajaran.



#DNU

Wednesday, November 8, 2017

Dengan E-toll, Cenderung Memperhatikan Saldo Dari Pada Tarif Toll?


Entah perasaan ini hanya terjadi pada diri saya sendiri atau juga pada diri orang lain termasuk Anda para pembaca yang baik hatinya. Perasaan ketika bertransaksi di pintu toll otomatis menggunakan e-toll card di mana perhatian mata, otak dan hati sebagian besar tertuju pada jumlah saldo yang tertera di layar monitor pintu toll. Apakah ini reaksi yang normal? Bisa saja iya, di mana bagi pengguna jalan toll yang hampir setiap hari melalui jalan yang seharusnya bebas hambatan itu, jumlah saldo yang cukup adalah suatu keharusan. Dari pada palang pintu toll tidak terbuka, lalu santer mendengar klakson tak henti dari mobil-mobil dibelakang, belum lagi disertai umpatan dari pengendara lain karena ulah kita yang kehabisan saldo dalam sekeping kartu toll.



Coba diingat sekali lagi, bagi para pembaca yang kerap melalui jalan toll sebagai akses aktifitasnya, apakah memiliki kecenderungan yang sama dengan saya di mana perhatian utama adalah terhadap saldo kartu tol dibandingkan dengan memperhatikan berapa besar tarif jalan toll. Secara tidak langsung reaksi yang terjadi secara alami ini dapat mengalihkan kita terhadap besaran tarif toll, dan terkesan menjadi tidak terlalu bermasalah jika dibandingkan dengan tidak cukupnya saldo kartu di tengah perjalanan. Apakah ada pihak-pihak yang diuntungkan dengan fenomena ini? Sejujurnya saya tidak ingin menggiring pemikiran para pembaca ke arah tersebut, karena yang ingin saya sampaikan di sini hanyalah tentang kebiasaan baru yang kini terjadi dan mungkin dialami oleh banyak pengguna jalan toll lainnya.



Jika sebelumnya besaran tarif toll menjadi isu yang renyah sekali untuk dibahas bersama, pada zaman uang dalam kartu saat ini mungkin hal tersebut menjadi sedikit terabaikan, karena telah ada hal yang jauh lebih penting ketimbang melihat nilai tarif toll, terlebih lagi mengambil kertas bukti transaksi. Mungkin sebagian dari kita perlahan akan mulai sulit mengingat berapa tarif toll di pintu A, pintu B, pintu C, dan pintu-pintu lainnya. Hal ini disebabkan nominal tersebut tidak lebih penting dibandingkan dengan pertanyaan “saldonya cukup ngga ya? Wah kacau nih kalau kurang...”.



Pernah menyadari hal ini? Saya kerap kali menyadari mengapa usai mendekatkan kartu di mesin sentuh otomatis lantas mata langsung tertuju pada layar saldo? Pikiran pun demikian, selalu bertanya “tinggal berapa ya saldonya...”, karena otak telah memerintah dengan satu kata “saldo!”. Seketika berhasil melewati palang pintu toll yang telah terbuka kembali berputar di kepala “wah sudah waktunya top up nih....”.



Bagaimana? Apakah Anda mengalami reaksi alami yang sama dengan saya?



(dnu, ditulis sambil nonton dangdut academy asia, 8 November 2017, 21.15 WIB)

Thursday, November 2, 2017

Mama, Stop Sebut Anak "Tengil" atau Sejenisnya

Kadang terheran-heran dengan para orang tua khususnya Mama yang kerap kali mengungkapkan kegemasan pada sang buah hati menggunakan kata-kata yang tidak sebagaimana mestinya. Umumnya ungkapan ini ditujukan kepada anak-anak yang berusia lima tahun ke bawah, di mana rentang usia ini adalah masa pertumbuhan anak yang tampak sedang lucu-lucunya. Selain karena lucunya tingkah dan polah anak, ungkapan yang salah ini juga dilontarkan atas kepintaran anak.



Sebenarnya sah-sah saja orang tua memberikan pujian atau apresiasi atas rasa puas orang tua terhadap yang dilakukan oleh anaknya, namun tetap saja harus berada dalam koridor pujian yang benar terlebih penggunaan kata-katanya. Sebagaimana ungkapan yang sering kita dengar bahwa setiap ucapan adalah doa, di mana atas ucapan tersebut kita berharap anak menjadi seperti apa yang kita sampaikan. Tidak salah jika kita memang harus selalu berkata yang baik-baik, karena jika Tuhan berkehendak maka akan jadilah seperti apa yang kita inginkan melalui ucapan.



Berapa kali pembaca yang baik hati mendengar ungkapan kegemasan sang mama “aduh nih anak tengil banget gayanya...” atau, “ya ampun nih tuyul satu ngga ada diemnya dari tadi...”. Mungkin juga pernah dengar ungkapan sejenis “uuhh... burung beonya mama pinter banget ngomongnya...”, atau bahkan “nih anak kayak kalong aja siang maen eh malemnya tidur...”.



Guys, apakah anda turut bersedih membacanya? Bagaimana jika anda mendengarnya langsung yang terucap dari mulut manis sang mama? Yang dikagumi ini anak sendiri, anak yang dikandung di rahim sendiri, anak yang diharapkan kehadirannya, anak yang dinantikan kelahirannya, dan bahkan anak yang diberi nama begitu indah dan panjangnya bagai gerbong kereta. Lantas setelah ia lahir ke dunia, tumbuh besar, bertubuh bulat lucu, mulai pandai mengeluarkan suara sepatah dua patah kata, mulai rajin tersenyum, mulai senang bermain, mulai senang berlari... tanpa pikir panjang mama sebut dia si tengil, si tuyul atau si burung beo. Apa maksudnya mama?



Apakah mama lupa berapa lama mama bertapa untuk menemukan kata per kata yang amat baik artinya namun begitu rumit di telinga, namun begitu anak mama lahir justru sebutan-sebutan tak elok mama berikan. Adik bayi itu anak mama kan?



Ketika menyebut kata tengil mungkin maksud mama keren gayanya. Ketinya menyebut kata tuyul mungkin maksud mama lucu kepalanya, dan ketika menyebut kata burung beo, mungkin maksud mama ceriwis. Tapi coba sekali lagi diresapi sambil menyebutkannya, miris toh ma?



Bukankah lebih indah didengar dan diartikan jika menyebut anak kita dengan kata “aduh si tuan putri cantik amat nih habis mandii...”, atau “wah jagoan mama udah pinter nih merambatnya....”. Mungkin bisa juga menyebutnya seperti “pinter banget nih anak mama ngomongnya... ceriwis deh....”. Dan tentu masih banyak ungkapan-ungkapan lain yang nada dan artinya masih positif. Kita menginginkan anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri dan berbudi pekerti baik bukan? Dengan demikian maka ungkapan-ungkapan positiflah yang wajib selalu diperdengarkan di telinga mereka.



Anak akan merekam apa yang pernah dikatakan kepadanya, tidak pandang bulu ungkapan positif ataupun negatif. Tumbuh kembang mereka juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua mendidiknya. Oleh karena itu perdengarkanlah kalimat-kalimat yang baik, yang dapat memberikan energi positif bagi kelangsungan hidup mereka.



Mama menginginkan anak-anak yang percaya diri dan selalu melakukan hal-hal yang terpuji bukan?

Mulai sekarng yuk kita ubah ungkapan-ungkapan kegemasan dengan kata-kata yang lebih bijak dan indah didengar.



(dnu, ditulis sambil makan rengginang bantet karena digoreng ketika minyaknya belum panas haha..., 2 November 2017, 19.21 WIB)

Tuesday, October 3, 2017

Ingat Allah SWT Dalam Segala Masa


Kapan saja dan di mana saja, Allah SWT senantiasa bersama kita. Lantas mengapa kita yang bukan apa-apa hanya mengingatNya dalam waktu-waktu tertentu saja? Semoga tidak banyak hamba yang hanya mengingat Sang Pencipta Allah SWT hanya pada saat menderita saja, dan dia lupa saat bahagia tengah melanda. Semoga tidak banyak juga yang hanya mengingat Allah SWT kalau ada maunya saja, bahkan ia lupa jika segala keinginannya telah terpenuhi. Semoga tidak banyak yang hanya mau menengadahkan tangannya kehadirat Allah SWT hanya jika sedang memiliki hajat saja, hajat yang sangat diinginkannya atau hajat yang sangat berat baginya. Semoga tidak banyak yang menangis tersedu, sedih merintih sambil memohon agar Allah SWT beikan kemudahan, namun seketika lupa saat kesenangan telah hadir di tangan.

 

Allah Maha Pengasih, Tak Pernah Pilih Kasih

Allah Maha Penyayang, Sayangnya Tak Terbilang

Dan Allah Maha Tahu, Tanpa Harus Diberi Tahu

 

Semoga semakin banyak yang kerap mengucap syukur dalam keadaan apapun. Semoga semakin banyak yang memuji keagungan Allah SWT dalam keadaan apapun. Semoga semakin banyak yang selalu mengingat Allah SWT baik dalam suka maupun duka. Dan semoga semakin banyak yang mengingat Allah SWT dalam keadaan apapun kita.

 

(dnu, ditulis sambil mikirin saldo gopay tinggal berapa karena mau beli martabak tapi ga punya uang cash haha...., Selasa, 3 Oktober 2017, 19.17 WIB)

Sunday, October 1, 2017

Lenganmu Juga Aurat, Ukhti


Pagi ini dapat kiriman gambar dari rekan sesama muslimah tentang peringatan bahwa lengan perempuan adalah juga aurat yang wajib di jaga. Tapi siang harinya, dengan kedua telinga mendengar percakapan dua orang muslimah berhijab di belakang saya usai menunaikan sholat dzuhur. Kurang lebih seperti ini percakapannya :

 

Mba 1   : Buruan, lama amat sih!

Mba 2   : Tunggu sebentar gue pake manset dulu...

Mba 1   : Ah udah ga usah pake manset, baju lu kan tangannya udah 7  per 8... (yang dimaksud

  panjang lengan baju)...

Mba 2   : Ah ntar item gw kalo ga pake manset...

Mba 1   : Ngga, tarik coba, panjang kok, udah buruan...

Mba 2   : Terdiam... sambil terus mengenakan manset tangan.

Mba 1   : Ah yaudah deh terserah, buruan gw tunggu di depan!

Mba 2   : Iya....

 

Ukhtifillah yang cantik dan baik hatinya, setuju ya bahwa lengan juga merupakan aurat yang wajib dijaga, wajib ditutup dengan kain panjang hingga ke punggung tangan kita. Percakapan nyata diatas adalah bukti nyata bahwa masih banyak muslimah yang menganggap enteng lengan tangan. Dengan alasan apapun, Mba yang ke 2 sudah berusaha menutupi tangannya walau dengan alasan takut kulitnya hitam karena terpapar sinar matahari secara langsung, semoga di kemudian hari ia paham bahwa janganlah takut hitam melainkan takutlah pada azab Allah SWT.

 

Terkadang kaum hawa sengaja menggulung lengan bajunya hingga ke pergelangan tangan atau bahkan mendekati siku, hal ini dilakukannya agar lebih mudah beraktifitas karena tidak ada kain-kain yang mengganggu, atau mungkin karena panas, atau bisa jadi karena takut baju bagian lengannya kotor. Jika sedang berada sendirian di dalam rumah atau hanya dengan mahram kita hal ini dibenarkan, namun sangat tidak benar jika di tempat umum yang begitu banyak pasang mata lengan kita sengaja di buka.

 

Pakaian yang panjang lengannya hanya 7/8 jelas wajib pakai manset lagi untuk menutupi bagian tangan lainnya. Jangan kemakan mode dan mengorbankan aqidah, karena banyak juga yang modist tapi tetap sesuai syariah.

 

(dnu, ditulis sambil ngeliatin orang makan mie ayam, 2 Oktober 2017, 13.41 WIB)