Thursday, November 16, 2017

Bedakan Antara “Kesalahan” dengan “Proses Belajar” Pada Anak-anak


Dalam sebuah acara anak yang dikelola dengan sangat baik oleh panitia-panita yang profesional terdapat ungkapan dari salah seorang penanggung jawab acara yang menggelitik telinga saya dan membuat kening sedikit mengernyit. Diantara sekian banyak aktifitas yang dilakukan oleh anak-anak sebagai peserta, satu diantaranya adalah melukis dengan menggunakan cat air di sebuah bidang kertas berwarna putih. Pada aktifitas ini panitia memiliki ketentuan “panitian tidak mengganti kertas yang sobek karena kesalahan peserta, panitia mengakui bahwa kertas yang digunakan sangatlah tipis dan rentan rusak, maka peserta harus paham benar cara menggunakan cat air dengan baik”. Siapa yang dimaksud peserta di sini? Anak-anak rentang usia 4 sampai dengan 8 tahun.



Guys, tepatkah pernyataan tersebut untuk didengungkan? Jika seorang anak belajar menulis, menggambar atau mewarnai, lalu dalam aksinya tersebut ia terlalu kuat menekan pensil atau alat pewarnanya sehingga mengakibatkan kertas yang digunakannya sobek, maka hal ini dikatakan sebagai kesalahan anak? Bukankah rentang usia 4 sampai dengan 8 tahun adalah masa-masa bagi anak untuk belajar segala hal terkait dunia tulis menulis? Menulis saja mungkin bagi sebagian anak belum begitu pandai, pun terhadap ketentuan terbaik dalam menggunakan alat-alatnya. Anak-anak di usia tersebut tentu sedang gemar-gemarnya memegang pensil dan sejenisnya, sedang semangat-semangatnya menulis, bahkan saking semangatnya saat menulis mereka akan menekan pensil sekuat tenaga hingga membuat sisi belakang kertas berbekas atau bahkan nyaris sobek. Lalu tepatkah yang seperti ini dikatakan sebagai kesalahan?



Bukan, hal tersebut bukanlah kesalahan melainkan proses belajar. Tidak hanya anak-anak, yang sudah dewasa pun harus melewati tahapan gagal atau terjatuh saat mempelajari sesuatu hal. Maka terasa kurang tepat jika menganggap kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh seorang anak adalah sebuah kesalahan, karena hal tersebut adalah bagian dari proses pembelajaran.



#DNU

Wednesday, November 8, 2017

Dengan E-toll, Cenderung Memperhatikan Saldo Dari Pada Tarif Toll?


Entah perasaan ini hanya terjadi pada diri saya sendiri atau juga pada diri orang lain termasuk Anda para pembaca yang baik hatinya. Perasaan ketika bertransaksi di pintu toll otomatis menggunakan e-toll card di mana perhatian mata, otak dan hati sebagian besar tertuju pada jumlah saldo yang tertera di layar monitor pintu toll. Apakah ini reaksi yang normal? Bisa saja iya, di mana bagi pengguna jalan toll yang hampir setiap hari melalui jalan yang seharusnya bebas hambatan itu, jumlah saldo yang cukup adalah suatu keharusan. Dari pada palang pintu toll tidak terbuka, lalu santer mendengar klakson tak henti dari mobil-mobil dibelakang, belum lagi disertai umpatan dari pengendara lain karena ulah kita yang kehabisan saldo dalam sekeping kartu toll.



Coba diingat sekali lagi, bagi para pembaca yang kerap melalui jalan toll sebagai akses aktifitasnya, apakah memiliki kecenderungan yang sama dengan saya di mana perhatian utama adalah terhadap saldo kartu tol dibandingkan dengan memperhatikan berapa besar tarif jalan toll. Secara tidak langsung reaksi yang terjadi secara alami ini dapat mengalihkan kita terhadap besaran tarif toll, dan terkesan menjadi tidak terlalu bermasalah jika dibandingkan dengan tidak cukupnya saldo kartu di tengah perjalanan. Apakah ada pihak-pihak yang diuntungkan dengan fenomena ini? Sejujurnya saya tidak ingin menggiring pemikiran para pembaca ke arah tersebut, karena yang ingin saya sampaikan di sini hanyalah tentang kebiasaan baru yang kini terjadi dan mungkin dialami oleh banyak pengguna jalan toll lainnya.



Jika sebelumnya besaran tarif toll menjadi isu yang renyah sekali untuk dibahas bersama, pada zaman uang dalam kartu saat ini mungkin hal tersebut menjadi sedikit terabaikan, karena telah ada hal yang jauh lebih penting ketimbang melihat nilai tarif toll, terlebih lagi mengambil kertas bukti transaksi. Mungkin sebagian dari kita perlahan akan mulai sulit mengingat berapa tarif toll di pintu A, pintu B, pintu C, dan pintu-pintu lainnya. Hal ini disebabkan nominal tersebut tidak lebih penting dibandingkan dengan pertanyaan “saldonya cukup ngga ya? Wah kacau nih kalau kurang...”.



Pernah menyadari hal ini? Saya kerap kali menyadari mengapa usai mendekatkan kartu di mesin sentuh otomatis lantas mata langsung tertuju pada layar saldo? Pikiran pun demikian, selalu bertanya “tinggal berapa ya saldonya...”, karena otak telah memerintah dengan satu kata “saldo!”. Seketika berhasil melewati palang pintu toll yang telah terbuka kembali berputar di kepala “wah sudah waktunya top up nih....”.



Bagaimana? Apakah Anda mengalami reaksi alami yang sama dengan saya?



(dnu, ditulis sambil nonton dangdut academy asia, 8 November 2017, 21.15 WIB)

Thursday, November 2, 2017

Mama, Stop Sebut Anak "Tengil" atau Sejenisnya

Kadang terheran-heran dengan para orang tua khususnya Mama yang kerap kali mengungkapkan kegemasan pada sang buah hati menggunakan kata-kata yang tidak sebagaimana mestinya. Umumnya ungkapan ini ditujukan kepada anak-anak yang berusia lima tahun ke bawah, di mana rentang usia ini adalah masa pertumbuhan anak yang tampak sedang lucu-lucunya. Selain karena lucunya tingkah dan polah anak, ungkapan yang salah ini juga dilontarkan atas kepintaran anak.



Sebenarnya sah-sah saja orang tua memberikan pujian atau apresiasi atas rasa puas orang tua terhadap yang dilakukan oleh anaknya, namun tetap saja harus berada dalam koridor pujian yang benar terlebih penggunaan kata-katanya. Sebagaimana ungkapan yang sering kita dengar bahwa setiap ucapan adalah doa, di mana atas ucapan tersebut kita berharap anak menjadi seperti apa yang kita sampaikan. Tidak salah jika kita memang harus selalu berkata yang baik-baik, karena jika Tuhan berkehendak maka akan jadilah seperti apa yang kita inginkan melalui ucapan.



Berapa kali pembaca yang baik hati mendengar ungkapan kegemasan sang mama “aduh nih anak tengil banget gayanya...” atau, “ya ampun nih tuyul satu ngga ada diemnya dari tadi...”. Mungkin juga pernah dengar ungkapan sejenis “uuhh... burung beonya mama pinter banget ngomongnya...”, atau bahkan “nih anak kayak kalong aja siang maen eh malemnya tidur...”.



Guys, apakah anda turut bersedih membacanya? Bagaimana jika anda mendengarnya langsung yang terucap dari mulut manis sang mama? Yang dikagumi ini anak sendiri, anak yang dikandung di rahim sendiri, anak yang diharapkan kehadirannya, anak yang dinantikan kelahirannya, dan bahkan anak yang diberi nama begitu indah dan panjangnya bagai gerbong kereta. Lantas setelah ia lahir ke dunia, tumbuh besar, bertubuh bulat lucu, mulai pandai mengeluarkan suara sepatah dua patah kata, mulai rajin tersenyum, mulai senang bermain, mulai senang berlari... tanpa pikir panjang mama sebut dia si tengil, si tuyul atau si burung beo. Apa maksudnya mama?



Apakah mama lupa berapa lama mama bertapa untuk menemukan kata per kata yang amat baik artinya namun begitu rumit di telinga, namun begitu anak mama lahir justru sebutan-sebutan tak elok mama berikan. Adik bayi itu anak mama kan?



Ketika menyebut kata tengil mungkin maksud mama keren gayanya. Ketinya menyebut kata tuyul mungkin maksud mama lucu kepalanya, dan ketika menyebut kata burung beo, mungkin maksud mama ceriwis. Tapi coba sekali lagi diresapi sambil menyebutkannya, miris toh ma?



Bukankah lebih indah didengar dan diartikan jika menyebut anak kita dengan kata “aduh si tuan putri cantik amat nih habis mandii...”, atau “wah jagoan mama udah pinter nih merambatnya....”. Mungkin bisa juga menyebutnya seperti “pinter banget nih anak mama ngomongnya... ceriwis deh....”. Dan tentu masih banyak ungkapan-ungkapan lain yang nada dan artinya masih positif. Kita menginginkan anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri dan berbudi pekerti baik bukan? Dengan demikian maka ungkapan-ungkapan positiflah yang wajib selalu diperdengarkan di telinga mereka.



Anak akan merekam apa yang pernah dikatakan kepadanya, tidak pandang bulu ungkapan positif ataupun negatif. Tumbuh kembang mereka juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua mendidiknya. Oleh karena itu perdengarkanlah kalimat-kalimat yang baik, yang dapat memberikan energi positif bagi kelangsungan hidup mereka.



Mama menginginkan anak-anak yang percaya diri dan selalu melakukan hal-hal yang terpuji bukan?

Mulai sekarng yuk kita ubah ungkapan-ungkapan kegemasan dengan kata-kata yang lebih bijak dan indah didengar.



(dnu, ditulis sambil makan rengginang bantet karena digoreng ketika minyaknya belum panas haha..., 2 November 2017, 19.21 WIB)

Tuesday, October 3, 2017

Ingat Allah SWT Dalam Segala Masa


Kapan saja dan di mana saja, Allah SWT senantiasa bersama kita. Lantas mengapa kita yang bukan apa-apa hanya mengingatNya dalam waktu-waktu tertentu saja? Semoga tidak banyak hamba yang hanya mengingat Sang Pencipta Allah SWT hanya pada saat menderita saja, dan dia lupa saat bahagia tengah melanda. Semoga tidak banyak juga yang hanya mengingat Allah SWT kalau ada maunya saja, bahkan ia lupa jika segala keinginannya telah terpenuhi. Semoga tidak banyak yang hanya mau menengadahkan tangannya kehadirat Allah SWT hanya jika sedang memiliki hajat saja, hajat yang sangat diinginkannya atau hajat yang sangat berat baginya. Semoga tidak banyak yang menangis tersedu, sedih merintih sambil memohon agar Allah SWT beikan kemudahan, namun seketika lupa saat kesenangan telah hadir di tangan.

 

Allah Maha Pengasih, Tak Pernah Pilih Kasih

Allah Maha Penyayang, Sayangnya Tak Terbilang

Dan Allah Maha Tahu, Tanpa Harus Diberi Tahu

 

Semoga semakin banyak yang kerap mengucap syukur dalam keadaan apapun. Semoga semakin banyak yang memuji keagungan Allah SWT dalam keadaan apapun. Semoga semakin banyak yang selalu mengingat Allah SWT baik dalam suka maupun duka. Dan semoga semakin banyak yang mengingat Allah SWT dalam keadaan apapun kita.

 

(dnu, ditulis sambil mikirin saldo gopay tinggal berapa karena mau beli martabak tapi ga punya uang cash haha...., Selasa, 3 Oktober 2017, 19.17 WIB)

Sunday, October 1, 2017

Lenganmu Juga Aurat, Ukhti


Pagi ini dapat kiriman gambar dari rekan sesama muslimah tentang peringatan bahwa lengan perempuan adalah juga aurat yang wajib di jaga. Tapi siang harinya, dengan kedua telinga mendengar percakapan dua orang muslimah berhijab di belakang saya usai menunaikan sholat dzuhur. Kurang lebih seperti ini percakapannya :

 

Mba 1   : Buruan, lama amat sih!

Mba 2   : Tunggu sebentar gue pake manset dulu...

Mba 1   : Ah udah ga usah pake manset, baju lu kan tangannya udah 7  per 8... (yang dimaksud

  panjang lengan baju)...

Mba 2   : Ah ntar item gw kalo ga pake manset...

Mba 1   : Ngga, tarik coba, panjang kok, udah buruan...

Mba 2   : Terdiam... sambil terus mengenakan manset tangan.

Mba 1   : Ah yaudah deh terserah, buruan gw tunggu di depan!

Mba 2   : Iya....

 

Ukhtifillah yang cantik dan baik hatinya, setuju ya bahwa lengan juga merupakan aurat yang wajib dijaga, wajib ditutup dengan kain panjang hingga ke punggung tangan kita. Percakapan nyata diatas adalah bukti nyata bahwa masih banyak muslimah yang menganggap enteng lengan tangan. Dengan alasan apapun, Mba yang ke 2 sudah berusaha menutupi tangannya walau dengan alasan takut kulitnya hitam karena terpapar sinar matahari secara langsung, semoga di kemudian hari ia paham bahwa janganlah takut hitam melainkan takutlah pada azab Allah SWT.

 

Terkadang kaum hawa sengaja menggulung lengan bajunya hingga ke pergelangan tangan atau bahkan mendekati siku, hal ini dilakukannya agar lebih mudah beraktifitas karena tidak ada kain-kain yang mengganggu, atau mungkin karena panas, atau bisa jadi karena takut baju bagian lengannya kotor. Jika sedang berada sendirian di dalam rumah atau hanya dengan mahram kita hal ini dibenarkan, namun sangat tidak benar jika di tempat umum yang begitu banyak pasang mata lengan kita sengaja di buka.

 

Pakaian yang panjang lengannya hanya 7/8 jelas wajib pakai manset lagi untuk menutupi bagian tangan lainnya. Jangan kemakan mode dan mengorbankan aqidah, karena banyak juga yang modist tapi tetap sesuai syariah.

 

(dnu, ditulis sambil ngeliatin orang makan mie ayam, 2 Oktober 2017, 13.41 WIB)

Upacara, Salah Satu Cara Tanamkan Nilai Pancasila


Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia berlomba-lomba menunjukkan bahwa dirinya benar-benar “Pancasila” melalui berbagai cara, poster di dunia maya salah satunya. Dengan tujuan yang beragam berbagai upaya tersebut diusung oleh masing-masing orang yang kata kuncinya adalah “Saya Pancasila”, walaupun entah bagaimana keseharian dari mereka apakah telah benar-benar menanamkan nilai-nilai Pancasila. Hari ini tepat 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, hari di mana sebuah upacara besar digelar untuk memperingati kekuatan dasar negara kita tercinta Indonesia. Lantas bagaimana dengan mereka yang kerap mengelu-elukan dirinya “Pancasila” sekali, apakah telah sedikit saja ikut memaknainya minimal hari ini?



Pancasila yang merupakan dasar negara Republik Indonesia tidak hanya perlu dihayati tetapi juga dilakoni dalam kegiatan kita sehari-hari. Bagaimana dapat melakoni jika makna yang terkandung di dalamnya saja belum diresapi? Bagaimana dapat diresapi jika tidak ada aktifitas rutin yang secara terus menerus mengingatkan bahwa ada lima sila dalam pancasila yang perlu kita maknai? Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih maupun Upacara Penurunan Bendera Merah Putih yang biasanya dilaksanakan rutin oleh sekolah-sekolah kini tak lagi sama.



Kurang lebih 17 tahun yang lalu saya masih rutin melaksanakan upacara bendera di sekolah, satu minggu sekali. Dalam seremoni kenegaraan tingkat sekolah tersebut seluruh siswa siswi dibentuk pemikirannya agar menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap kegiatannya sehari-hari. Selalu mengucapkan sila-sila Pancasila bersama-sama seluruh peserta upacara, hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk mengiringi pengibaran atau penurunan Sang Saka Merah Putih. Sebuah seremoni rutin yang digelar dengan sederhana namun tujuannya ingin mengubah pribadi kita menjadi anak Indonesia yang cinta negaranya dan menghargai jasa para pahlawannya. Saat ini apakah sekolah-sekolah masih sama rutinnya melaksanakan upacara? Semoga saja iya, agar setiap anak telah ditanamkan sejak dini akan pentingnya mengamalkan Pancasila, serta alasan mengapa harus mengamalkannya.



Ketika membacakan sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, di sini ditanamkan pada diri siswa siswi untuk percaya kepada Tuhan, dan menganut suatu agama adalah sebuah hak asasi bagi setiap pribadi. Sila ke dua yakni Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, pengamalan yang paling sederhana yaitu jadilah anak yang cinta pada sesama, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, dan tentunya saling mengasihi. Sila ke tiga Persatuan Indonesia, kalimat yang singkat namun sarat makna, di mana dalam hati kecil setiap siswa diajak untuk menjaga kerukunan hidup bermasyarakat, bagaimanapun berbedanya agama dan suku tapi kita harus tetap bersatu untuk Indonesia. Sila ke empat yaitu Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan, sederhanananya segala pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari agar selalu bermusyawarah, hindari keributan, dan junjung tinggi azas mufakat. Contoh kecilnya adalah pemilihan ketua kelas yang selalu dilakukan secara musyawarah dan mufakat, di sini terlihat nilai-nilai Pancasila mulai ditanamkan minimal di sekolah. Dan sila ke lima adalah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sejak dini ditanamkan pemahaman bahwa negara tentu mengupayakan sebuah kehidupan yang adil dan makmur bagi setiap warga negaranya.



Lantas bagaimana jika upacara bendera kini tak lagi rutin adanya? Bagaimana penanaman nilai-nilai Pancasila akan secara mudah dilakukan terhadap anak-anak selaku generasi penerus bangsa? Bilamana ada seremoni yang menyerupai getir perjuangan para pahlawan negara? Apakah tak mengapa jika jutaan anak bangsa tak begitu kuat nasionalismenya karena telah berkurangnya aktifitas pengibaran bendera merah putih di udara. Memang bukan hanya upacara saja, tetapi ini adalah salah satunya yang begitu dekat di depan mata.



(dnu, ditulis sambil makan martabak keju yang rasanya cokelat banget, 1 Oktober 2017, 19.59 WIB)

Sunday, September 24, 2017

Potret Persaingan Bisnis Masakan ala Jepang, Head To Head


Hari itu (24/9) kurang lebih pukul 17.00 WIB saya bersama keluarga menikmati makan sore di sebuah restoran yang menyajikan masakan ala Jepang yaitu Ichiban Sushi, yang terletak di Plaza Pondok Gede. Suasana sore yang sempat diguyur hujan walau sesaat itu cukup sejuk, dan rasanya cocok sekali jika perut ini diisi dengan makanan yang hangat namun tetap sarat nutrisi. Tidak butuh waktu lama kami memutuskan untuk makan di resto yang belum lama berdiri di mall ini. Sambil menunggu pesanan datang mulailah pikiran saya melanglang buana yang tentu saja tetap seputar suasana di mana saat itu saya berada.

Sambil duduk, jari jemari tidak memainkan tuts telepon genggam, mata mulai berputar. Tengok kanan dan kiri ternyata persis di sebelah resto Ichiban Sushi ini terdapat resto ala Jepang lainnya yaitu Gokana Ramen dan Teppan, yang juga merupakan tempat biasa saya menikmati masakan ala Jepang. Inilah potret bisnis yang saat ini tidak lagi mengenal lokasi, distribusi, apalagi gengsi. Bagi resto Ichiban Sushi yang baru saja bergabung di mall tersebut mungkin tidak membutuhkan modal promosi yang tinggi untuk menarik banyak pelanggan, pasalnya resto ini telah memiliki nama besar yang cukup dikenal sebagai resto masakan Jepang yang tak lagi perlu diragukan.

Ichiban Sushi memang tergolong resto masakan Jepang papan atas yang mudah ditemui di pusat-pusat perbelanjaan. Sajian sushinya yang khas memang mampu mengingatkan akan negeri sakura bagi siapa saja yang menyantapnya Tidak hanya itu, resto ini juga menyajikan banyak varian masakan ikan yang juga menjadi makanan khasnya para penduduk asli Jepang. Keunikan jenis makanannya memang begitu terasa, nampaknya Ichiban Sushi ingin menarik konsumen yang memang menyukai masakan Jepang, mengagumi negara Jepang, atapun menyukai kebudayaan Jepang.

Nuansa area makan di resto ini juga dibuat sedemikian rupa agar menyerupai jajaran rumah makan yang asli Jepang, kekentalannya memang kurang terasa mungkin pengelola resto tetap ingin menyesuaikan dengan kebiasaan dan budaya masyarakat kota Jakarta. Sajian minum yang disediakan juga tetap mengusung unsur Jepang, yaitu dengan teh ocha-nya yang dibuat mirip seperti aslinya.

Hampir sama dengan resto ala Jepang yang ada di sebelah Ichiban Sushi yaitu Gokana Ramen dan Teppan. Dengan suara sapaan sang pelayan kepada setiap pengunjung mall yang lewat, resto ini berusaha melakukan teknik promosi yang berbeda. Menyapa setiap orang yang lewat adalah cara-cara yang cukup ampuh untuk membuat pengunjung mengetahui adanya resto ala Jepang ini dan harapan lebih jauhnya adalah keputusan pengunjung untuk makan siang, sore atau malamnya di sini. Sebuah strategi promosi yang berbeda, namun sah-sah saja untuk dilakukannya, karena setiap bentuk usaha bebas melakukan proses pemasaran produknya melalui cara-cara apa saja, dengan catatan tidak mengganggu para calon konsumennya.

Gokana Ramen dan Teppan yang mengusung makanan khas Jepang melalui Mi Ramen memang terlihat cukup berhasil menarik banyak pengunjung. Sebagai resto ala Jepang yang juga telah memiliki nama besar, tidak sulit bagi manajemen pengelola untuk menaikkan omsetnya. Telah terdapat kemiripian kesenangan masyarakat Jakarta dengan sajian khas resto Gokana, yaitu terletak pada masakan mi kuahnya. Di mana telah diketahui secara umum banyak sekali penikmat mi instan yang bagi sebagian orang dijadikan makanan utama saking candunya, namun bagi sebagian lainnya dijadikan makanan andalan saat hujan menyapa. Gokana Ramen dan Teppan telah berada pada posisi yang tepat dalam sajian masakan mi ramennya, walau dimasak ala-ala Jepang namun kesukaan pada produk mi sedikitnya telah mampu menarik minat para pengunjung.

Sebuah diferensiasi atau keunikan mutlak diperlukan dalam sebuah bisnis, bidang apapun itu, terlebih lagi dalam bidang makanan dan minuman. Rasa yang enak dan bentuk yang menarik saja saat ini tidak menjadi satu-satunya ukuran bagi konsumen agar memutuskan untuk membelinya, namun dibutuhkan juga keunikan-keunikan lain yang jarang dimiliki oleh pelaku bisnis sejenis. Dalam bisnis makanan dan minuman misalnya dibutuhkan inovasi baru, misalnya terdapat beragam rasa yang berbeda dalam satu jenis roti sehingga setiap kali menggigit akan ada sensasi yang tak sama, atau terdapat campuran buah-buahan yang segar dalam sebuah minuman kopi misalnya Kopi Nikmat dengan Potongan Mangga Segar, atau sajian bentuk donat yang tidak bolong apalagi bulat namun kotak menyerupai dadu. Mungkin terdengar aneh dan tidak biasa, tapi justru yang tidak biasa itulah yang semakin hari makin perlu dikembangkan oleh para pelaku bisnis di manapun berada.

Karakter manusia yang cepat bosan bisa dijadikan patokan yakni dalam melakukan suatu usaha tentu harus melahirkan sesuatu yang baru terus menerus dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Keinginan untuk mencoba hal-hal baru juga perlu diperhatikan, contoh bagi sebuah makanan mungkin rasanya sama saja, namun setiap pergantian bulan bisa saja disajikan dalam bentuk yang berbeda agar lebih menarik, dan semata-mata hanya sekadar untuk mengantisipasi rasa bosan para pelanggan.

Ichiban Sushi dan Gokana Ramen tentu telah memiliki keunikannya sendiri-sendiri, sehingga yang perlu dilakukan agar bisa terus menanjak pendapatannya adalah dengan melakukan inovasi-inovasi tiada henti, agar siapapun yang melintasi resto ini tidak hanya menoleh namun memutuskan untuk makan dan berakhir pekan di sini.

(dnu, ditulis sambil nonton ILC di TV One, 24 September 2017, 24.09 WIB)