Saturday, December 19, 2015

Resolusi Tak Harus Tinggi



Umum terjadi pada diri kebanyakan orang untuk menyusun sebuah target kehidupannya yang baru saat tahun baru dijelang. Ada yang menginginkan kelahiran seorang anak, memiliki rumah atau mobil baru dan lain sebagainya yang tak sedikit target-target tersebut terasa begitu tinggi nan muluk. Target-target tersebut biasa disebut dengan resolusi, yakni sebuah pengharapan hidup yang berlum terjadi di tahun berjalan lalu diharapkan bisa mencapainya agar terjadi di tahun depan.

Kekeliruan yang banyak terjadi adalah penyusunan resolusi tahun depan yang begitu tinggi, bahkan hampir-hampir mustahil bisa digapai. Hanya mengarapkan keajaiban ilahi resolusi tersebut bisa terjadi. Pada hakekatnya resolusi adalah sebuah pengharapan diri yang seyogyanya masuk akal dan mudah dicapai.

Masih masuk akal berarti sesuatu yang masih sangat mungkin untuk dilakukan. Bagaimana bisa seseorang memiliki resolusi “tahun depan saya harus bisa memiliki rumah kontrakan 5 pintu…”, sedangkan saat ini ia belum memiliki pekerjaan tetap yang mampu menghasilkan uang yang cukup untuk membangun sebuah rumah kontrakan.

Hal seperti tersebut diatas yang saya sebut dengan resolusi terlalu tinggi. Hampir tak masuk diakal, dan cukup membingungkan bagaimana cara menggapainya. Mungkin bisa lebih santai jika resolusinya diubah menjadi “tahun depan saya harus memiliki pekerjaan yang tetap…”, sehingga di tahun berikutnya bisa dibuat sebuah resolusi untuk memiliki deretan rumah kontrakan. Yang seperti ini menurut saya lebih masuk akal.

Selanjutnya resolusi sejatinya mudah dilakukan sehingga mudah untuk dicapai. Disini ditekankan resolusi eloknya adalah pengharapan yang cukup sederhana dan tidak memiliki peluang yang besar untuk tidak bisa kita lakukan.

Hal ini terkait dengan sebuah rantai kehidupan dimana setiap keberhasilan selalu memiliki proses pergerakan yang harus dilakukan. Maksudnya adalah, susunlah sebuah resolusi hidup yang sederhana namun memiliki efek yang luar biasa terhadap kehidupan kita.

Misalnya bagi seorang perempuan muslim, mungkin bisa disusun resolusi pertama adalah “tahun depan saya ingin bisa mengenakan hijab syar’i dalam setiap aktifitas saya….”. Lalu yang terjadi pada tahun yang diharapkan, wanita tersebut belum mampu mengenakan hijab syar’i dengan berbagai alasan yang mengkibatkan ia masih buka tutup dalam menunaikan kewajibannya itu. Nah yang seperti ini adalah contoh resolusi yang terlalu tinggi karena tidak sesuai dengan kemampuan diri.

Berkaca pada contoh kasus diatas, mungkin bisa resolusinya diturunkan kadarnya, misalnya berjanji untuk mengenakan hijab dengan baik di tahun depan. Seiring dengan berjalannya waktu, tanpa harusdijadikan resolusi maka santai saja para perempuan hendaknya bisa sambil belajar mengenakan hijab sayar’i. Hal inilah yang saya sebut diawal, susunlah sebuah resolusi yang sederhana namun memiliki efek luar biasa terhadap nilai-nilai kehidupan kita.

Resolusi tak harus tinggi. Karena resolusi adalah cita-cita jangka pendek yang kita susun sendiri dan kita harapkan mempu kita capai di tahun depan. Bagaimana jadinya bila seseorang keliru dalam menyusun sebuah resolusi? Terlalu tinggi dan nyaris tak masuk akal misalnya. Bisa jadi sepanjang hidupnya ia hanya melakukan apa yang ada di depan mata, tanpa memiliki mimpi, harapan maupun cita-cita sebagai penyemangat dan penyeimbang hidup.

Untuk itu patahkan saja pertanyaan ini “seberapa penting sih resolusi dalam kehidupan kita?”, karena jawabannya adalah sangat penting. Maka terhadap hal yang amat penting ini sebisa mungkin jangan sampai salah dalam menyusunnya.

Sebuah resolusi yang sederhana namun konsisten kita melakukannya maka akan lebih bermanfaat dan berdampak baik jika dibandingkan dengan resolusi yang kedengarannya begitu mewah, namun sesungguhnya kita sulit mencapainya apalagi jika harus konsisten melakukannya.

Rasanya resolusi “rutin berolahraga seminggu sekali” lebih mudah dan konsisten bisa dilaksanakan dibandingkan dengan “rutin berolahraga 15 menit setiap hari”. Karena pada kenyataannya janji 15 menit setiap hari terasa jauh lebih berat dibandingkan dengan janji satu seminggu sekali.

Memasuki tahun 2016 segeralah susun resolusi terbaikmu dengan tetap menjunjung tinggi komitmen untuk bisa mencapainya. Jangan biarkan resolusi tinggal resolusi. Karena resolusi adalah janji, maka jangan biarkan janji tinggal janji.

(dnu, ditulis sambil makan mangga Indramayu di Jakartaku, 19 Desember 2015, 22.49 WIB)

Monday, December 14, 2015

Demi Rupiah Ibu Rela Korbankan Anaknya

Minggu (13/12) saya melintasi jalur Jakarta Selatan yang saat itu cukup macet karena adanya proyek pembangunan MRT.

Sore hari tersebut juga tangah diguyur gerimis dengan intensitas sedang. Saat asyik menikmati pemandangan deretan mobil di kanan kiri, tiba-tiba saya melihat seorang Ibu yang sedang mengamen sambil menggendong anak balita dengan menggunakan selembar kain.

Sekali lagi, kondisinya tengah gerimis yang tak hanya mampu membasahi tubuh, namun juga bisa menyebabkan kesehatan terganggu jika bermain-main dibawah guyurannya.

Ibu tersebut menghampiri tiap mobil yang ada di dekatnya. Sambil bernyanyi seadanya ia meminta uang sekedarnya kepada siapa saja yang ada di dalam kendaraan.

Tangan kanannya membunyikan alat musik jadi-jadian yang terbuat dari kayu dan tutup botol. Sedangkan tangan kirinya menyangga leher balita yang ia gendong sambil menikmati tetes demi tetes air gerimis.

Kondisi seperti ini bisa disebut dengan eksploitasi anak dibawah umur. Bukan saja dilarang meminta-minta di jalan dengan upaya apapun, tapi juga tidak bisa dibenarkan memperalat anak dibawah umur sebagai alat belas kasihan.

Mungkin Ibu tersebut hanya memikirkan bagaimana caranya bisa mendapatkan uang, namun lupa bagaimana dengan kondisi balita yang digendongnya tersebut.

Ini masalah kelalaian orang tua dan hilangnya kemerdekaan anak.

Jika balita tersebit memang benar anaknya maka perlu diluruskan pemikirannya tidak hanya bagi dia tapi juga bagi para Ibu lainnya.

Upaya-upaya pemenuhan kebutuhan hidup memang menjadi tanggung jawab orang tua, namun upaya pemenuhannya tidak bisa dilakukan dengan segala cara.

Tidak dapat dibenarkan suatu ekeploitasi anak untuk kebutuhan dan alasan apapun. Dalam kasus ini apakah hal ini suatu bukti rasa sayang Ibu terhadap anaknya, yang sekuat tenaga mencari biaya hidup namun dengan mengorbankan anaknya sendiri?

Apakah ia memikirkan kesehatan anaknya yang diguyur gerimis tersebut?

Lalu bagaimana jika anak yang digendongnya adalah bukan darah dagingnya? Alias anak orang lain yang dititipkan padanya untuk dijaga namun diperlakukan demikian? Entah perlakuan macama apa yang layak disebutkan.

Saya sebagai seorang Ibu dari dua anak, melihat kejadian yang demikian teganya tentu tidak bisa tinggal diam.

Banyak pertanyaan muncul dibenak saya kala siaran langsung tersebut terjadi di depan mata. Dia perempuan, dewasa, seperti seorang Ibu, kok tega berbuat demikian? Mengamen dijalanan, sambil menggendong anak balita tanpa payung atau penghalau air gerimis apapun.

Kok bisa ya?
Kok tega ya?

Dapat uangnya berapa sih sampai tega menghujan-hujankan anaknya seperti itu? Dibandingkan dengan kesehatan anak yang menjadi taruhannya apakan pendapatannya tersebut sebanding?

Sedianya masih banyak cara yang bisa dilakukan para orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa harus mengorbankan sang buah hati.

Tidak harus mengamen.
Seorang Ibu bisa menjadi buruh cuci.
Tidak harus mengamen.
Seorang Ibu bisa menjadi pembantu rumah tangga.

Dan masih banyak cara lainnya yang bisa dilakukan untuk kesejahteraan keluarga. Biarkan anak-anak tetap pada dunianya yang penuh dengan kegiatan berputar, berlari dan menari.

(dnu, ditulis sambil nahan laper, 14 Desember 2015, 10.45 WIB)

Sunday, December 13, 2015

Berbagi Cinta Hingga Ke Istana Negara


Makan Siang Bersama Pak Jokowi

Alhamdulillah...

Berkat hobi menulis yang disalurkan ke Kompasiana, siang ini (12/12) 100 orang blogger dari web peranakan Kompas.com tersebut menerima undangan makan siang bersama dengan Presiden Joko Widodo, yang bertempat di Istana Negara.

Dan saya termasuk dalam yang 100 orang tersebut. Subhanallah ya :)
Makan siang bersama, lalu berdialog dengan Pak Presiden benar-benar menjadi pengalaman yang amat berbeda sepanjang masa.

Ditambah lagi suasana sendunya Istana Negara, lemah lembut protokolernya, senyum ramah Sang Presiden, hingga merasakan benar kikuknya menikmati hidangan yang khusus disajikan untuk level kenegaraan, sukses kuat nan membulat sebagai pengalaman yang tak ternilai harganya.

Menunaikan segenap hobi atau kesukaan, lalu dirawat hingga tumbuh dan berkembang ternyata mampu membawa dampak-dampak positif yang tak terduga.

Seperti yang baru saja saya alami. Tiba-tiba pada suatu siang, ditengah kemacetan Jakarta, dering telepon itu telah mampu membuat saya tersenyum tiada henti.

"Mbak Dewi, kami memilih 100 orang Kompasianer aktif untuk menghadiri undangan dari Presiden Jokowi, makan siang bersama beliau di Istana Negara, Sabtu besok tanggal 12 Desember... dan Mbak Dewi adalah salah satunya yang terpilih. Bisa hadirkah Mbak?...."

Wooowwww...!!!!!!!

InsyaAllah.
Bisa!!!
Kalaupun tak bisa, pasti akan dibisakan!!!

Kontan saja lalu lintas yang tadinya macet menjadi terasa lancar selancar-lancarnya! Jalanan terasa kosong! Bahagia! Senang! Tak percaya! Yang padahal kecepatan kendaraan masih tetap 20KM/Jam.

Dan hari ini sudah terlewati.
Sudah menikmati santap siang dengan RI 1.
Sudah berdialog dengan RI 1.
Dan sudah sukses menikmati es buah segar ala Istana Negara.

Selain cerita, ada satu hal yang masih tersisa, yakni aroma harum pekarangan Istana masih tercium kuat di hidung saya.

Terima kasih Pak Presiden ^^

(dnu, ditulis sambil makan mangga harum manis yang tak terlalu harum dan tak terlalu manis, 12 Desember 2015, 20.01 WIB)

Thursday, December 10, 2015

Sulitnya Menjadi Teman Terbaik ala Supir Taksi


Pak supir taksi yang namanya saya rahasiakan ini telah sukses mengantar perjalanan siang saya (10/12) dari Jakarta Utara menuju Jakarta Selatan, dan kembali ke Jakarta Utara.

Seperti biasa, saya tertarik untuk berbincang tentang hal apa saja kepada supir yang mengantar saya pergi. Supir apapun itu. Kecuali ojek, karena agak susah ngajak ngobrolnya dan bedanya pandangan antara saya dengan dia. Dimana kalau naik ojek saya menatap ke depan, kadang ke kanan dan ke kiri, namun sang supir hanya menatap ke depan saja, tak pernah mencoba menatap saya yang setia duduk di belakangnya hahaha...

Seperti biasa saya menumpang taksi berwarna biru. Duduk di samping pak supir yang sedang bekerja, dan saya tertarik untuk bertanya tentang pekerjaannya sebelum ia bergabung dengan armada taksi ini.

Berdasarkan pengakuannya, ia bergabung dengan grup perusahaan sedan biru ini baru dua tahun. Sebelumnya ia lebih banyak menjadi supir pribadi sebuah keluarga, baik pejabat maupun pengusaha.

Baginya menjadi supir taksi lebih menyenangkan dan menenangkan dibandingkan menjadi supir pribadi. Karena jika menjadi supir pribadi menurutnya terlalu banyak hal-hal antar personal yang harus ia kompromikan.

Misalnya banyak peraturan yang dibuat sepihak oleh sang keluarga tanpa memikirkan hak sang supir, hingga sulitnya memahami karakter para majikan tempatnya bekerja.

Konflik pribadi justru sering terjadi kala menjadi supir pribadi. Ia harus banyak menahan perasaan, harus bisa menerima bagaimana pola pelampiasan kemarahan sang majikan, dan lain-lain.

Sebenarnya ia mengidamkan bisa menjadi seorang supir di sebuah perusahaan. Karena baginya suatu perusahaan memiliki aturan yang jelas dalam memperlakukan karyawannya, termasuk supir.

Namun apa daya, rezekinya malah berada di sebuah armada taksi berlogo burung biru ini. Jadilah sudah dua tahun ia amat menikmati profesinya sebagai supir taksi.

Membawa penumpang dengan berbagai tujuan telah membuatnya bahagia, karena ia merasa telah bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain dengan cara yang tidak terlalu sulit.

"Apalagi kalau saya berhasil cari jalan tikus mbak, dan bikin perjalanan tamu yang saya bawa jadi lancar, dia seneng, ga kena macet, cepet nyampenya dan dia puas... saya seneng banget tuh mbak..."

Ternyata banyak hal sederhana yang bisa kita tempuh untuk membahagiakan orang lain. Namun tetap saja saya sepakat bahwa ;

~ Menjadi teman terbaik itu tidak mudah, karena memahami perasaan orang lain juga tidak mudah ~

Sekuat tenaga kita berusaha mengerti akan kondisi orang lain, tapi belum tentu upaya kita tersebut diakuinya sebagai cara untuk menyenangkan hatinya.

Untuk itu, buatlah orang lain bahagia melalui cara-cara yang paling sederhana, dengan tanpa mengorbankan kebahagiaanmu juga ^^

(dnu, ditulis sambil nungguin pesenan pecel lele dan martabak keju, 10 Desember 2015, 18.47 WIB)



Guru Kecil Tersayang


Yang mengenakan hijab merah dan menatap kamera adalah anak sulung saya. Atau dalam bahasa Jawa disebut dengan "mbarep", atau bahasa sederhananya adalah anak yang paling gede :)

Dia adalah guru kecil saya yang pikirannya tak sekecil tubuhnya. Banyak pelajaran yang saya dapat darinya, yang mampu membuat saya bangga sekaligus terharu.

Inilah beberapa diantaranya ;

» Mami kok minumnya sambil berdiri?
- Oke, buru-buru cari tempat duduk atau bablas duduk di lantai.

» Mami, nanti beliin kakak permen Yupi ya yang bungkus besar, karena besok mau kakak bawa ke sekolah, trus bagi-bagi sama temen-temen...
- Wow! Luar biasa! Kecil-kecil sudah punya hati yang mulia, ingin berbagi walau hanya membagikan sebuah permen.

» Mami kok pulang kerja ngga beliin kakak es krim? Mami lupa ya...?
- Wohooo... dia ngga pernah marah sodara-sodaraaa... Justru dia menghakimi saya dengan anggapan saya lupa! Positif sekali fikirannya... bukannya marah seperti yang kadang dilakukan anak seusianya jika orang tuanya lalai tak memenuhi janjinya.

» Mami, jilbabnya benerin, rambutnya kelihatan tuh...
- Hmm.... kadang jilbab saya memang suka miring-miring, bukan otak saya saja, tapi jilbabnya juga haha...

» Adek, lagi adzan... ga boleh nakal!
- Kalimat tersebut biasa terdengar darinya saat suara adzan berkumandang. Maksudnya adalah dia meminta agar adiknya duduk dulu sebentar, tidak gaduh, tidak lompat sana sini maupun teriak-teriak... karena kita harus menghormati adzan...

Dan masih banyak lagi pelajaran-pelajaran sederhana yang kadang sayapun lupa untuk menerapkannya...

Dia guru saya. Yang lagi duduk bersama teman-temannya. Yang menatap kamera. Yang berhijab merah.

Rindu, nama gadis kecil itu.

Anaknya Pak Edwin Sholeh ^^

(dnu, ditulis sambil dipijitin kaki, tangan dan punggungnya sama seseorang di sebuah tempat haha..., 9 Desember 2015, 17.22 WIB)



Berlayarlah

Berlayarlah ke ujung laut yang paling jauh dan paling dalam, sekalipun itu sangat mengerikan.

Karena dalam perjalanan itulah kamu akan ditempa menjadi pribadi yang lebih kuat, dan mampu hidup dalam berbagai keadaan.

#DNU




Happy reader, happy writer ^^

Namanya Pak Tanadi Santoso, namun saya memanggilnya Oom San. Beliau adalah seorang enterpreneur ternama di Indonesia, yang tidak pernah bekerja di perusahaan manapun. Usai menyelesaikan pendidikannya di luar negeri, ia kembali ke Indonesia dan memulai bisnis hebatnya.

Kekaguman saya bertambah, diantara bisnis-bisnisnya yang mencakup bidang properti dan lain-lain, terdapat diantaranya 5 sekolah miliknya.

Hebat! Tidak semata-mata mencari uang, tetapi juga ingat dengan pendidikan anak bangsa.



#DNU



Dongeng Ikan Sakit Gigi untuk Anak Jendela Mimpi

Siang hingga sore di Sabtu ini (5/12) saya membagi kasih bagi anak-anak Jendela Mimpi. Melalui dongeng anak tentang Bebek yang Malas Mandi dan Ikan Piranha yang Sakit Gigi, saya bawa mereka sejenak ke alam mimpi.

Mereka adalah anak-anak usia SD dan SMP yang tinggal di sebuah Gang padat penduduk, di kawasan Palmerah, Jakarta Pusat.

Melalui seorang teman yang menjadi penggerak komunitas anak yang diberi nama Jendela Mimpi, saya dan suami bergabung hari ini hanya sekedar untuk menyampaikan sedikit cerita dan pelajaran Matematika.

Ya, cerita pendek dari saya dan bantuan mengerjakan soal-soal matematika dari suami tercinta :p

Tidak lupa, dua anak kesayangan Rindu & Arjuna ikut serta. Sekaligus mengajarkan pada mereka, bahwa masih banyak teman-teman yang berkekurangan, tapi semangatnya belajar dan meraih cita-cita sungguh tak terkalahkan.

Mereka anak-anak hebat. Setiap hari Sabtu belajar bersama di Mushola yang letaknya tidak jauh dari pemukiman mereka. Ba'da Dzuhur mereka memulai kegiatan, usai menunaikan ibadah sholat, dan ditutup jam 3 sore, persis sebelum adzan ashar berkumandang.

Kehebatannya yang saya tak habis fikir adalah, mereka tak tergoda untuk main di jalanan, di luar gang, sambil panas-panasan ataupun hujan-hujanan. Kurang lebih 20 anak tersebut lebih memilih menghabiskan waktu siang mereka di Mushola itu, sambil bermain dan belajar bersama.

Proud of you kids...

Missed, love and hugs just for you :)

(dnu, ditulis sambil jalan menuju toilet di sebuah mall dan sambil kembali dari toilet yang masih di sebuah mall hahah..., 5 Desember 2015, 16.47 WIB)


Belajar Dari Supir Taksi

Dia supir taksi yang sudah dua kali berhaji.
Dia supir taksi yang dalam setiap injakan gas kendaraannya selalu mengucap asma Allah.
Dia supir taksi yang tak sekalipun saya dapati mengumpat kala jalanan mulai tersendat. Melainkan selalu mengucap ungkapan kesyukuran dan keikhlasan.

Dia supir taksi yang membuat saya nyaman sepanjang perjalanan.
Dia supir taksi yang katanya bekerja hanya untuk menyenangkan keluarganya, sekalipun dirinya mengaku amat lelah bertarung dengan kemacetan di jalanan setiap waktu.

Dan dia supir taksi yang amat berserah, keluarganya harus bahagia, dan kebahagiaan dirinya hanya dipasrahkan kepada Allah SWT.

Dan kata Pak Supir taksi ini ;
"Kalau kita sudah berbuat baik Neng, jangan diinget-inget... lupain aja, yang penting kita udah bikin orang seneng... selebihnya biar Allah SWT yang bales..."

Ini pelajaran yang tidak ada habisnya dimakan waktu.
Pelajaran bisa didapat dari siapa saja, supir taksi sekalipun. Jangan dilihat siapa dia, tapi lihatlah apa yang dia katakan.

(dnu, ditulis sambil nungguin seseorang pesen Cha Time, 4 Desember 2015, 12. 45 WIB)


Thursday, December 3, 2015

Tentang Piknik Seorang Ibu


Ibu rumah tangga butuh piknik 10x lipat dibandingkan ibu yang bekerja?
» Apakah ini berdasarkan penelitian? Jika tidak, angka 10 dapat dari mana?

Ibu rumah tangga setiap hari menghadapi kekacauan dan cobaan dari anak kecil yang diam hanya pada saat tidur.
» Kekacauan? Ulah anak sendiri dikatakan sebagai kekacauan? Anak yang dikandung diperut sendiri? Dilahirkan dengan taruhan nyawa sendiri?? Berantakannya rumah karena dunia bermain dan belajar anak dikatakan sebagai kekacauan?? Omaygot!!! Saya belum menemukan bagaimana logika berfikirnya. Sedih.

Kewarasan pasti tinggal beberapa persen saja.
» Menjadi istri yang menuruti perintah suami untuk mengurus rumah tangga itu menimbulkan ketidakwarasan ya?? Menjadi wanita mulia, diam di rumah, mengurus anak dan semuanya menyebabkan seseorang tidak waras??? Benar begitu???

Ibu bekerja masih bertemu dengan teman.
» Ibu yang di rumah tidak bisa kah?? Terkungkung berjam-jam sepenuh hari di dalam rumah kah?? Omaygot! Mestinya bisa dong... saat mengantar anak ke sekolah mislanya...

Ibu bekerja masih bisa menghirup udara bebas.
» Ibu yang di rumah tidak bisa kah?? Yang bener??

Jangan terlalu mendramatisir keadaan. Yang tidak rumit jangan terlalu dibuat tampak amat sangat rumit. Dan harus selalu diingat bahwa, apapun itu tentu memiliki resiko masing-masing. Semua ada tanggung jawab yang harus ditempuh dan dipenuhi.

(dnu, ditulis sambil tiup-tiup tangan kiri yang terluka hahay..., 3 Desember 2015, 20.10 WIB)

Tuesday, December 1, 2015

Tentang krisisnya budi pekerti

Tentang krisisnya budi pekerti para pemburu selfie di taman bunga Amarillys, Yogyakarta, sampai dengan malam ini (1/12) telah di-share sebanyak 340 kali dari Kompasiana ke FB.

Ini berarti akan semakin banyak yang memahami tentang pentingnya penanaman nilai-nilai sosial, menghargai orang lain, menghargai sesama makhluk hidup dan perlunya menyayangi tumbuh-tumbuhan.

Salah satu komentar yang masuk dalam artikel tersebut, yang saya unggah di anak situs berita online Kompas, kurang lebih berbunyi seperti ini :

"Suruh ke tanaman kaktus aja, suruh tiduran diatasnya, lalu selfieee...!!!"

Hohoho... kejamnya dunia...

Hal ini juga berarti, semakin banyak tulisan ini di-share maka akan semakin banyak pula sumpah serapah berdatangan dari berbagai sumber.

Kasihan sih sama orang-orang yang dihujat itu,... tapiii... gimana ya.... ini memang pertanda krisis budi pekerti siih.....

‪#‎DNU‬

Do What You Love, and Love What You Do

Adalah buku seru yang baru saja saya babat habis Minggu kemarin (29/11) sambil menemani anak-anak bermain di sebuah pusat perbelanjaan.

Banyak point menarik yang nampaknya baik jika saya bagikan kepada teman-teman sekalian. Berikut ini sedikit yang mampu saya sarikan, dan semoga nilai-nilai postifnya bisa diadopsi oleh siapa saja yang membacanya.

- Seorang pendidik sejati memahami bahwa tugas "mendidik" bukan saja untuk untuk menyentuh logika, tapi juga menyentuh hati seseorang. Karena hati yang tersentuh pengaruhnya akan bertahan abadi.

- Choose to be happy. Bahagia itu sudah ada di dalam dirimu jika saja kamu mau menghargai setiap hal kecil dalam perjalanan hidupmu.

- Impian itu penting untuk hidup, tapi jangan jadikan impian sebagai tujuan hidup. Yang paling penting nikmati saja perjalanannya.

- Life is simple. If you're happy, then keep going. If not, then change it.

- Jangan kerja setengah mati untuk mengejar uang. Kalaupun uang sudah menumpuk, mungkin bahagia tak kamu dapatkan. Kejarlah apa yang membuatmu bahagia, maka uang pasti akan mengikuti.

- Love your life, and it will love you back, and even more.

- The best job in the world is that when you're doing it, you feel happy and always want to share your happiness to people around you.

- Bahagia itu pilihan, dan bahagia itu butuh keberanian. Hidup ini cuma sekali, make it worth! Don't live your life in someone else's dream.

- Life is always a choice. Doesn't matter where you come from, as long as you know where you're going.

- Orang yang "menghidupi" kata hatinya tidak akan menyia-nyiakan bakat yang dimilikinya. Mereka memaksimalkan potensi terbaik yang diberikan Tuhan kepadanya, karena itu hidup yang mereka jalani penuh dengan kegairahan dan kegembiraan.

Renungan...

Bayangkan, kapan terakhir kali kita meluangkan waktu dengan sengaja berkirim surat dibanding e-mail? Atau lebih memilih bepergian menggunakan kapal laut dibandingkan terbang dengan pesawat?

Saya berfikir mengapa ada orang yang mau repot-repot melakukan semua hal diatas, jawabannya adalah "hanya karena mereka tidak merasa harus berkejaran dengan waktu".

Hmmm... benar juga, perkembangan zaman mungkin menjadikan kita manusia yang selalu terburu-buru, ingin serba cepat dalam segala hal, lupa beromantisme dengan hal-hal sederhana tanpa harus berkejaran dengan waktu.


(dnu, ditulis sambil makan makanan mahal haha..., 1 Desember 2015, 16.15 WIB)

This blog is mirroring to www.kompasiana.com/dewinurbaiti

 

Sunday, November 29, 2015

Berfoto Merusak Taman, Tanda Krisis Budi Pekerti

Informasi yang tengah marak diberitakan saat ini yakni tentang ulah para muda mudi yang berfoto bersama di sebuah taman bunga, namun tanpa mengindahkan kelangsungan hidup tanaman yang ada disekitarnya telah mampu membangkitkan emosi masyarakat luas.

Taman yang menjadi korban adalah Taman Bunga Amaryllis yang terletak di D.I. Yogyakarta.

Dalam foto yang beredar, terlihat sejumlah muda mudi sedang asyik berfoto di tengah taman bunga. Dengan suka cita mereka menduduki bunga,berdiri sambil menginjak tanaman bunga, bahkan ada yang sengaja merebahkan badan.

Mungkin hal ini lucu dan menarik bagi mereka, namun sayangnya mereka lupa ada bunga cantik yang menjadi korban kesengajaannya. Karena saya yakin hal tersebut dilakukannya dalam keadaan sadar dengan mata dan fikiran yang terbuka.

Yang membuat pemberitaan ini semakin parah dan masyarakat semakin marah adalah, muda mudi tersebut mengunggah foto-foto mereka lengkap dengan keterangan yang tidak mau mengalah. Kurang lebih seperti ini ;

"Gw foto disini, suka-suka gw, masalah buat lo?!"

Yes! Jelas bermasalah! Karena kamu telah merusak taman bungan yang telah dengan susah payah ditanam, dirawat dan ditata sedemikian cantik agar tumbuh dan berkembang. Lalu kamu datang dengan sesuka hatimu dan merusak semuanya tanpa merasa bersalah! Ini jelas masalah!

Pembaca yang budiman, apakah ini pertanda banyak muda mudi Indonesia yang usianya kekinian tengah berkekurangan dalam hal budi pekerti? Sehingga mereka tidak mengerti tentang pentingnya merawat lingkungan? Mereka tidak diminta menanam, hanya merawat saja!

Apakah ini pertanda bahwa muda mudi masa kini ada yang tak paham benar tentang falsafah budi pekerti? Sehingga mereka tak paham tentang ilmu saling menghargai atas jerih payah orang lain? Jerih payah menanam bibit bunga hingga berkembang dan indah untuk dinikmati bersama.

Dan apakah ini pertanda bahwa muda mudi tersebut sungguh tak paham benar bahwa tumbuh-tumbuhan juga memiliki hak hidup yang sama seperti mereka?!

Keterangan foto yang diunggah dalam akun instagram ybs sungguh sangat menantang. Terkesan tidak mau tahu dengan apa yang sudah dirusaknya dan tak mau ambil pusing dengan tanggapan orang lain.

Apakah benar ini sebuah krisis budi pekerti dalam diri generasi penerus bangsa??

Tanaman adalah alat penopang kehidupan. Tempat menyimpan air. Penyerap karbondioksida. Dan masih banyak manfaat tanaman lainnya khususnya tanaman bunga, yang tentunya sangat mampu menambah keindahan lingkungan sekitar.

Bagi para orang tua, sebaiknya lebih diperhatikan lagi tentang penanaman ilmu sosial dalam diri anak-anaknya. Termasuk didalamnya ilmu tentang menghargai jerih payah orang lain, dan tentang menghargai lingkungan sekitar.

Tapi tentunya pendidikan ini sudah secara baik disampaikan mulai dari level keluarga hingga tingkat sekolah. Dan jika masih belum sepenuhnya tertanam dalam diri anak bangsa, siapa yang bisa disalahkan?

Apakah ini faktor suka cita remaja saja yang merasa dirinya free bahkan totally free? Atau memang jelas tak ada yang mengajarkan?

Bagi yang membaca artikel ini, sederhananya saya hanya ingin mengajak untuk bersama-sama saling menanam ingatan dalam diri masing-masing, bahwa selain kita ada makhluk lain yang juga memiliki hak hidup yang sama dengan kita. Kita makhluk Tuhan, maka sama dengan mereka.

(dnu, ditulis di time zone yang rame pisan, 29 November 2015, 18.36 WIB)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dewinurbaiti

Wednesday, November 25, 2015

Sebentuk Cinta untuk Sang Pelita

Selepas bekerja hari ini (25/11) saya menyempatkan diri berkunjung ke sekolah yang telah saya tinggalkan sejak 14 tahun lalu. Sekolah Menengah Kejuruan 51 Jakarta Timur lebih tepatnya. Tempat saya menuntut ilmu di zaman yang masih lucu dahulu.

Hari ini memang telah menjadi incaran saya sejak lama, terkait untuk melunasi janji dalam hati, bahwa setelah buku pertama lahir maka sekolah ini harus menjadi salah satu lokasi yang saya sambangi.

Mengapa hari ini? Jelas karena hari ini diperingati sebagai Hari Guru, dimana sebagai siswa yang pernah belajar di sana saya ingin memberikan hadiah berupa sebentuk cinta untuk sang pelita.

Pelita itu adalah Bapak/Ibu guru saya yang telah membimbing dan mengajarkan banyak hal saat di bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Atas kala itu.

Dengan memberikan sedikit buku hasil tulisan tangan sendiri yang berjudul "Berbagi Cinta Di 4 Kota", bermaksud agar teman-teman yang masih bersekolah di sana dan juga Bapak/Ibu guru yang ada, dapat menikmati sebuah kisah cerita cinta anak Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri buku tersebut lahir juga berkat didikan Bapak/Ibu guru yang telah mengajarkan budi pekerti, termasuk didalamnya tentang kehidupan sosial. Dimana kini saya aktualisasikan melalui kegiatan berbagi cinta di 4 kota.

Menyumbang sedikit buku untuk perpustakaan sekolah. Bertemu dengan Bapak/Ibu guru yang dulu mendidik saya. Kembali memasuki gedung sekolah yang sudah 14 tahun saya tinggalkan. Kembali mencium tangan para pendidik tercinta. Seketika itu pula saya merasa kembali menjadi murid di sana.

Berkat mereka sang pelita, terbentuklah pribadi saya yang sekarang ini yang selalu ingin belajar untuk menjadi manusia yang lebih berarti. Semakin mengerti bahwa berangkat dari sebuah hobi bisa melahirkan suatu karya yang mampu membuat senyum diri sendiri. Dan bisa mengerti tentang indahnya hidup ini jika selalu diisi dengan hal-hal berbagi yang penuh dengan empati.

Ini adalah hadiah kecil dari saya sebagai mantan anak murid di SMK 51 tempat saya menuntut ilmu dulu. Tepat saya serahkan pada momen hari Guru, dan ternyata mereka pun merasa ini adalah kado yang mengejutkan sekaligus membahagiakan.

Tiba-tiba air mata menetes tanpa bisa dicegah saat mata kami bertemu, saling tatap dan saling mengingat. Antara anak murid dengan Ibu guru yang sekian lama terpisah jarak, ruang dan waktu.

Mencium tangan sambil menangis. Dilanjutkan dengan berpelukan, masih sambil menangis. Melepas pelukan sambil mengusap air mata. Tak kuasa menahan haru, karuan saja adegan berpelukan itu kembali terulang.

Terima kasih pelitaku.
Terima kasih yang sungguh tak terhingga. Terima kasih telah melahirkan saya hingga bisa begini, seperti sekarang ini.

(dnu, ditulis di jalan tol yang macetnye ga ada matinye, 25 November 2015, 19.13 WIB)


 

Friday, November 20, 2015

Hati Terbelah Di Langit Malam

Menerbangkanmu ke langit luas dan membiarkan semuanya pergi.
Aku berharap suatu saat nanti kamu terjatuh, namun tanpa rasa sakit, karena jatuhmu diantara bintang-bintang.
Dan aku kembali berharap, akulah bintang itu, akulah bintangmu.

Melangkah di kegelapan malam. Menanti sapaan tangan yang menggenggam, tangan kananku digenggam oleh tangan kirimu.
Tanpa saling menatap, tapi ku tahu itu kamu, dan kamu pun tahu, ini aku.

Tak berani saling melihat, tak kuasa saling melepas genggaman erat. Karena rasanya pasti akan terus melekat. Biarkan hanya dua bayangan yang kita lihat, dan benar bahwa ada aku dan kamu disitu.

Tapi ternyata malamku tanpa bintang.
Aku tak akan pernah bisa menjadi bintang.
Tapi kamu akan tetap terjatuh, and maybe you hit a star...
Tapi bintang itu bukan aku.

Karena hatiku telah terbelah di langit malam.
Dan kembali ku terbangkan kamu, lalu ku biarkan kamu terjatuh.

Hatiku, telah terbelah di langit malam.
Karena kamu.

Note : Tulisan ini hasil keisengan otak dan tangan belaka. Hanya terinspirasi dari calon film fenomenal Bulan Terbelah Di Langit Amerika.

(dnu, ditulis sambil nunggu yang dijemput hadir dan membawa minuman pake sedotan haha..., 20 November 2015, 17.18 WIB)


Jadilah Kamu Apa Adanya

Jika kamu tidak suka membaca buku, maka jangan dipaksakan.
Jika kamu tidak suka menonton film, maka jangan dipaksakan.

Pengetahuan bisa datang dari mana saja, dengan memanfaatkan kemampuan panca inderamu yang lainnya.

Masih bisa dengan mendengarkan radio atau mengutak atik dunia maya yang kini sarat dengan informasi.

Jika kamu tidak menyukai sesuatu maka bertindaklah sewajarnya. Jangan memaksakan diri hanya agar terlihat kekinian.

Tidak perlu latah dengan gaya hidup orang lain, berlakulah seperti apa adanya kamu. Karena Tuhan telah menciptakan setiap makhluknya dengan keunikan dan kemampuan yang berbeda-beda.

Mereka memasang bendera Perancis, kamu latah mengikutinya.
Ada yang berujar "kemana saja saat asap melanda Indonesia", kamu lantas turut menyebarkan informasinya.
Ada yang memasang bendera Palestina, kamu gegabah mengikutinya.
Yang entah sebenarnya semua keinginan itu apakah lahir dari lubuk hatimu yang paling dalam.
Apakah empati tersebut benar-benar kamu rasakan atau hanya sekedar ikut-ikutan.

Sekali lagi, bertingkahlah sewajarnya.
Lain ceritanya jika memang itu adalah datang dari dalam hatimu sendiri.

Lalu bagaimana jika trendsetter tak jua hadir ditengah-tengah pergulatan suatu kasus? Bisa jadi tak ada satu hal pun turut kamu lakukan. Karena apa? Tak ada poros utama yang perlu kamu tiru.

Jadilah dirimu sendiri.
Apa adanya kamu.
Berdirilah diatas kaki sendiri yang kokoh namun baik hati.
Tidak mudah terombang-ambing keadaan yang hanya mampu membuatmu layu sebelum berkembang.

Bagaimana jika tidak ada yang menyebar doa untuk Lebanon? Bisa jadi kamu pun tak turut mendoakannya.

Jangan berbuat lucu dengan selalu mengikuti yang sebenarnya tak sesuai dengan kata hatimu.

Jangan pura-pura berempati, karena belas kasih tak sesederhana itu.

(dnu, ditulis sambil menunggu hidangan makan siang datang yaitu nasi putih, sate kambing, pisang bakar coklat keju - es cincau dan es teh manis - subhanallah ya haha..., 20 November 2015, 12.17 WIB)


Thursday, November 19, 2015

Pada Akhirnya Aku Belajar

Pada akhirnya aku belajar,
bahwa hidup bukan untuk sendiri,
hidup bukan untuk bahagia sendiri,
dan hidup bukan untuk kemenangan diri sendiri.

Tapi hidup adalah untuk berbagi.

Pada akhirnya aku belajar,
bahwa hidup memang hanya tinggal menunggu mati,
bahwa semua yang hidup pasti akan mati,
maka apa yang bisa ku beri sebelum aku mati maka harus ku beri.

Karena hidup adalah untuk berbagi.

Pada akhirnya aku belajar,
bahwa hidup adalah untuk memberi jalan terang,
bahwa hidup untuk saling berbagi kasih dan sayang,

Karena hidup adalah tak melulu soal harta dan uang.

Pada akhirnya aku belajar,
Mengingat-ingat apa yang telah ku beri bagi negeri ini,
Apa yang telah ku bagi pada bangsa ini,
Dan apa yang telah kulakukan bagi orang lain yang selama ini ku anggap mereka sebagai saudara satu negeri.

Pada akhirnya aku belajar,
Tidak elok jika aku hanya terus berujar, ingin berbagi... berbagi dan berbagi. Tapi seiring bergantinya hari tak jua satu hal pun usai ku bagi.

Pada akhirnya aku belajar,
Bahwa membakar diri demi membuka jalan terang bagi orang lain adalah kebahagiaan yang tak tertuliskan.
Bahwa hanya berbuat seujung kuku namun diterima dan terus dikenang, bahkan dianggap sebagai pembuka jalan terang adalah kebahagiaan yang tak terbayarkan.

Pada akhirnya aku belajar,
Walau hanya menjadi setitik cahaya dalam kegelapan, namun jika itu berguna bagi banyak orang, maka tetap menjadi terang adalah pilihan yang indah untuk terus dilakukan.

Pada akhirnya aku belajar,
Bahwa menjadi kilatan cahaya sesaat dan begitu cepat, tapi siapa kira dari yang sesaat justru terasa bermanfaat dan juga melekat.

*Mendapat kartu sederhana dengan goresan yang luar biasa dari Panitia Pameran Kelas Inspirasi Jakarta dan Indonesia Mengajar :

"Thank you for being the light of the children's dreams"

Dan pada akhirnya aku belajar, bahwa sesungguhnya kami telah saling memberi terang.

(dnu, ditulis sambil menikmati indahnya sakit gigi, 18 November 2015, 20.57 WIB)


Cinta Dalam Diam

Aku mencintaimu dalam diam, sampai kapanpun.
Aku akan tetap menyayangimu, walau dalam diam.
Aku selalu merindumu, namun hanya diam.

Aku senantiasa menyelipkan namamu dalam setiap doaku, dalam keheningan.
Aku berserah pada semesta semoga kita kembali dipertemukan, walau serahku hanya dalam diam.

Biar debu yang mengantarkan,
Biar angin yang menyampaikan,
Dan biar taburan bintang yang mengisahkan,

Semua rasa yang selama ini hanya ku simpan diam-diam, ku jaga dalam diam.

(dnu, ditulis sambil beres-beres abis training, 18 November 2015, 16.20 WIB)


Selamat Ulang Tahun Ke 86 Mickey Mouse !!!!

Tikus paling populer di seluruh dunia, Mickey Mouse hari ini merayakan ulang tahunnya yang ke-86. Tak terasa, usia tikus ini sudah tua. Jika Mickey adalah manusia, maka pasti ia sudah berubah menjadi kakek tua. Namun, sosok Mickey masih sama seperti dulu: kecil, pendek, dan awet muda pastinya.

Lahir pada 18 November 1928, Mickey dikenal sebagai tikus paling terkenal dari Walt Disney. Meski sudah lanjut usia, namun masih banyak hal yang belum diketahui tentangnya. Dilansir dari ibtimes, yuk kenal lebih dekat kekasih si Minnie Mouse ini.

Dimulai pada 1928, sebagai film animasi hitam putih. Film ini berjudul Steamboat Willie. Maka 18 November 1928 pun ditetapkan sebagai tanggal lahirnya. Sosoknya yang lucu dan imut menjadi sosok familiar di studio Walt Disney.

Sampai saat ini, binatang pengerat yang ikonik dengan sarung tangan putih dan celana pendek merah ini sudah membintangi ribuan film kartun Disney sampai saat ini.

Berat Badan Mickey
Mickey Mouse diperkirakan memiliki tinggi badan dua kaki dan tiga inci atau sekitar 69 cm. Berat badannya diperkirakan hanya sekitar 10 kg.

Simbol Walt Disney
Selama 86 tahun, karakter tikus fiksi ini menjadi simbol ikonik dari The Walt Disney Company. Karakter sahabat Donald bebek ini ternyata juga mencerminkan karakter dari Walt Disney sendiri.
Istri Walt Disney, Lilian Disney sempat mengatakan bahwa Walt dan Mickey tumbuh bersama dan menjadi cermin kepribadian satu sama lainnya.

Hollywood Walk of Fame
Pada 18 November 1978, di ulang tahunnya yang ke-50, Mickey mendapatkan penghargaan lagi. Ia dinobatkan sebagai salah satu "artis" populer di Hollywood Walk of Fame. Ia menjadi kartun karakter pertama yang diabadikan di tempat ini.

Tikus yang Selalu Bermasalah
Mickey Mouse tak hanya dikenal lewat celana pendek merah, sarung tangan putih, dan kedua telinga bulatnya. Namun tikus ini rupanya juga terkenal karena selalu terlibat masalah karena kenakalannya. Hanya saja, semuanya berakhir dengan kelucuan yang mengundang gelak tawa anak-anak yang menontonnya.

Menyenangkan dan Penuh Petualangan
Dalam beberapa film pendeknya, Mickey sering memilih petualangan dan kehidupan yang menyenangkan dibanding bekerja. Ini adalah hal yang tidak disukai oleh kekasihnya, Minnie.
Petualangan dan kehidupan menyenangkan banyak dialami Mickey bersama dua sahabat karibnya, Donald dan Goofy. Meskipun mereka sering kali mujur, namun petualangan mereka sering berakhir dengan kegagalan.

KalimatTerkenal Mickey Mouse
Sama seperti tokoh terkenal lainnya, Mickey yang memiliki anjing peliharaan, Pluto juga dikenal karena kalimat-kalimat ikoniknya.

Beberapa kalimatnya yang terkenal antara lain:
1. To laugh at yourself is to love yourself (Menertawakan diri sendiri adalah cara untuk mencintai diri sendiri).

2. Live every moment as not to regret what you are about to do. (Nikmati setiap saat yang kamu alami saat ini sehingga tak ada penyesalan tentang apa yang harus dilakukan).

3. Arithmetic is being able to count up to twenty without taking off your shoes. (Aritmatika mudah dilakukan sampai hitungan ke-20 dengan jemari tangan, tanpa perlu jemari kaki).

4. Don't stress over anything you can't change (Jangan stres karena ada hal yang tidak bisa diubah).

(dnu, disarikan dari cnn indonesia, 18 November 2015, 13.02 WIB)


Di sini tidak boleh ada air mata, karena kita bahagia...

Sebaris kalimat yang mengalir saat sharing volunteer Indonesia Mengajar - Kelas Inspirasi berlangsung (14/11). Hal yang sama-sama kami rasakan adalah saat perpisahan dengan adik-adik terkasih yang kami inspirasi selama satu hari, dimana rasa haru mulai menghantui.

Air mata tak bisa ditahan, tapi sungguh harus ditahan. Karena perpisahan ini bukan arti yang sebenarnya. Suatu saat, semoga Tuhan kembali mempertemukan.

Tangan saling menggenggam erat, mata saling menatap, saling membisikkan sebaris kalimat "Kita memang berpisah, tapi di sini tidak boleh ada air mata, karena kita bahagia...."

*seketika air mata berjatuhan setelah semuanya balik badan.

(dnu, ditulis pagi-pagi di pinggir kali, 18 November 2015, 07.10 WIB)


Berbagi Pengalaman Di Pameran Kelas Inspirasi Jakarta

Jumat - Minggu (13-15/11) diselenggarakan sebuah acara yang bertajuk "Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 4", yang mengambil tempat di Mall Fx Sudirman, Jakarta.

Kegiatan yang digelar selama tiga hari ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada khalayak ramai tentang Kelas Inspirasi yang merupakan salah satu gerakan dari Indonesia Mengajar. Selain itu dimaksudkan juga untuk memperlihatkan dokumentasi-dokumentasi kegiatan Kelas Inspirasi di berbagai daerah.

Setelah masyarakat mengetahui apa itu Kelas Inspirasi maka diharapkan akan lebih banyak lagi pribadi-pribadi terpanggil yang bisa bergabung dan memberikan aksi nyata bagi kemajuan pendidikan anak Indonesia melalui langkah yang paling sederhana yakni menginspirasi anak Sekolah Dasar tentang sebuah cita-cita.

Dalam pergelaran ini saya berkesempatan menjadi salah satu relawan inspirator yang diminta untuk berbagi cerita tentang pengalaman menginspirasi di beberapa daerah di luar Jakarta. Kesempatan itu terjadi pada Sabtu (14/11) Pk. 17.00 - 18.00 WIB).

Bersama relawan lainnya yakni seorang Diplomat; Wisber, Pengajar Muda - Indonesia Mengajar yang baru saja selesai masa tugas mengajarnya di Pulau Rote; Virly dan juga aktris yang aktif dalam kegiatan Kelas Inspirasi; Dinda Kanya Dewi, kami berbagi cerita dan pengalaman tentang kisah kasih sebagai volunteer pendidikan yang pernah kami lakukan.

Banyak pertanyaan yang datang dari audience sore itu, diantaranya yang paling menarik adalah "hal apa saja yang perlu disiapkan untuk pergi menginspirasi ke suatu daerah dimana pasti banyak perbedaan yang terjadi di sana, mulai dari bahasa hingga kebudayaan?"

Jawabannya singkat "Saya hanya menyiapkan diri saya seutuhnya, lalu pergi dengan membawa segenap cinta dari Jakarta, dan setibanya di sana perbedaan-perbedaan itulah yang justru mampu mendekatkan diantara kita (inspirator dengan anak-anak yang diinspirasi)"

Tidak lupa dalam kesempatan kali ini disediakan buku Berbagi Cinta Di 4 Kota dan dibagikan gratis kepada audience yang memberikan pertanyaan sepanjang acara.

Berbagi pengalaman dan mengajak siapa saja untuk turut ambil bagian dalam memajukan pendidikan anak bangsa memang tidak mudah. Banyak pertimbangan bagi setiap individu yang tentu tidak bisa disamakan dengan individu lainnya.

Mungkin seseorang bisa dengan mudah turun tangan dan memberikan aksi nyata, namun bagi yang lainnya belum tentu mereka memiliki kesempatan dan kemudahan yang sama.

Untuk itu Pameran Kelas Inspirasi ini ada dan mengundang beberapa inspirator didalamnya untuk bercerita dan memberikan gambaran hal-hal apa saja yang bisa kita lakukan untuk bangsa dan negara.
Saya bersama tiga narasumber lainnya di sore itu telah bercerita tentang pengalaman yang kami punya. Semoga lebih banyak lagi yang tergerak dan menyadari bahwa kita turut bertanggungjawab atas keberlangsungan pendidikan adik-adik kita.

Sore itu saya duduk di sana dengan penuh cinta. Ya, ini cinta, bukan yang lainnya.

(dnu, ditulis sambil sarapan pagi, 15 November 2015, 06.35 WIB)

Happy reader, happy writer ^^


Tahukah Kamu?

Tahukah kamu kalau;
Orang yang kelihatan begitu tegar hatinya adalah justru yang paling rapuh dan lemah?

Tahukah kamu kalau;
Orang yang menghabiskan waktunya untuk menolong orang lain adalah justru yang sangat mendambakan bahu untuk bersandar dan menangis?

Tahukah kamu kalau;
Kita menolong orang lain maka pertolongan itu akan kembali kepada kita dua kali lipat?

Tahukah kamu kalau;
Kita menyampaikan sesuatu kepada seseorang secara lisan akan lebih bernilai dibandingkan dengan menyampaikannya dalam bentuk tulisan?

Dan tahukah kamu bahwa Tuhan tidak menciptakan gembok tanpa kuncinya? Begitu juga bahwa Tuhan tidak mengujimu dengan suatu permasalahan tanpa menyelipkan kesabaran dan menyiapkan jalan keluar.

Bersabarlah dan tetaplah menebar kebaikan smile emoticon

(dnu, ditulis sambil mengikuti seminar the dynamics of mfcg industry towards aec 2015, 11 November 2015, 20.09 WIB)

Monday, November 16, 2015

Ingat Pak Harto, Ingat Seikat Padi


Sosok yang satu ini memang "ngangeni" alias bikin kangen. Terlepas dari beberapa dugaan kasus kenegaraan yang belum tuntas hingga beliau tiada, dan kini pro kontranya tentang pemberian gelar pahlawan bagi beliau, dikatakan atau tidak tetap saja banyak yang rindu senyumnya.

Presiden Republik Indonesia ke 2 ini memang kebapakan sekali. Senyumnya yang ramah, anggukan kepalanya dan lambaian lembut tangannya terus melekat diingatan orang-orang yang hidup di zamannya.

Salah satunya saya. Entah mengapa jika melihat gambar beliau saya teringat betul akan senyum sumringahnya di tengah sawah, mengenakan caping Pak Tani, sambil mengangkat seikat padi di tangannya. Di zamannya foto ini malambangkan kesejahteraan rakyat Indonesia dan juga para petani, yang hasil buminya melimpah dan bermanfaat untuk orang banyak.

Selain itu teringat pula saat bagaimana Pak Harto memegang seekor ikan dengan kedua tangannya, atau beberapa ekor ikan dengan jala di tangan kokohnya. Hal ini juga menggambarkan betapa perikanan Indonesia bermutu baik dan mampu menghidupi rakyat di negeri ini.

Jelas zaman dahulu kala hal ini tak terkesan sebagai pencitraan. Bagaimana dengan saat ini? Sedikit saja para petinggi negeri ini berpose dihadapan kamera dengan aktifitas rakyat sipil, apa yang akan terjadi? Tudingan pencitraan akan segera datang tanpa diundang.

Pak Harto, sang Bapak Pembangunan Indonesia, suasana kala itu memang amat terasa perbedaannya dengan saat ini. Saya hanya ingin membahasnya dari sisi kesejahteraan pangan. Bagaimana Pak Harto bisa menyejahterakan para petani, hasil bumi yang melimpah, sapi tidak impor, beras hasil panen dalam negeri, cabai bawang hasil ladang sendiri dan masih banyak lagi urusan perut yang terasa baiknya saat masa kepemimpinan beliau.

Teringat juga bagaimana ramainya suasana tempat wisata Taman Mini Indonesia Indah saat peringatan Hari Anak Nasional, dimana Pak Harto dan Ibu Tien hadir disana untuk sebuah acara sambil menyapa dan bercengkrama dengan anak-anak Indonesia.

Tahun ini? Tahun lalu? Euforianya tidak terasa.

Entah kenapa saat ini sering kali masyarakat dibuat risau akibat panganan yang membingungkan. Tiba-tiba ada apel yang bisa membawa penyakit, beras yang terbuat dari plastik, sapi impor dari luar negeri, petani cabai kacau balau karena hasil panennya terus merugi sehingga para ibu rumah tangga harus membelinya dengan harga tinggi. Belum lagi masalah minyak goreng yang disinyalir mengandung zat-zat tertentu sehingga terlarang untuk dikonsumsi.

Rasanya riweuh sekali!

Jika dikaitkan dengan guyonan "Piye kabare? Enak zamanku tho?" apakah ada benarnya? Entahlah. Bisa jadi. Penilaian subyektif akan kuat bermain dalam menjawab pertanyaan ini.

Satu hal yang pasti, saat melihat patung Pak Harto yang begitu cepat melintas dibenak saya adalah kesejahteraan pangan yang begitu menyenangkan kala masa kepemimpinan beliau.

(dnu, ditulis sambil tiduran santai kaya di pantai, 15 November 2015, 19.58 WIB)

Friday, November 13, 2015

Artikel Pilihan

Ketika hasil permainan jari jemari menjadi pilihan khalayak ramai.... :p
Alhamdulillah :)

Diskusi Pelanggaran HAM 65 di Kompas TV

Kamis (12/11) saya kembali bergabung dengan Kompas TV untuk menjadi salah satu hangouter teleconference dalam program Kompasiana TV.

Topik yang dibahas malam lalu cukup berat untuk saya, yakni kami berdiskusi tentang kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi tahun 1965 di Indonesia, namun saat ini tengah dilakukan peradilan di Den Haag, Belanda.

Agak berat, bahkan sangat-sangat berat. Dunia hukum dan politik semacam ini bukan makanan saya sehari-hari, namun kali ini saya coba masuk dan menceburkan diri ke dalamnya.

Hadir sebagai narasumber pada kesempatan tersebut antara lain perwakilan sejarawan Anhar Gonggong, LBHI Alvon, komentator Sys NS, serta pengamat hukum Internasional.

Acara yang ditayangkan secara live pada Kamis (12/11) Pk. 20.00 s.d. 21.00 WIB ini juga menampilkan sesi teleconference dari Belanda oleh perwakilan WNI yang menyampaikan pendapatnya terkait soal peradilan Den Haag.

Dalam diskusi tersebut dibahas mengapa korban pelanggaran HAM 65 yang terjadi di Indonesia tetapi justru meminta bantuan ke peradilan internasional di Den Haag, Belanda. Hal ini disinyalir karena korban tersebut merasa pengaduannya tidak ditanggapi oleh pemerintah Indonesia.

Selain itu dibahas pula apakah negara perlu meminta maaf kepada keluarga korban seperti yang mereka harapkan. Dan saat diberi kesempatan menyampaikan komentar saya hanya berujar sederhana, apakah jika negara sudah meminta maaf kepada keluarga korban maka otomatis permasalahan selesai? Apakah korban menerima permohonan maaf tersebut?

Menurut saya ada hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini yaitu negara perlu memperhatikan hak dan kewajiban yang harus diterima warga negaranya, terlebih kepada yang merasa menerima ketidakadilan ataupun pelanggaran HAM. Tidak dengan mengabaikannya begitu saja tanpa memerdulikan sedikitpun apa yang dikeluhkan warganya.

Durasi tayang selama 1 jam tersebut ternyata tidak cukup mampu menarik kesimpulan apa yang sebaiknya negara lakukan menghadapi hal ini. Masing-masing pengamat memiliki pendapatnya sendiri-sendiri yang bisa saja hal ini menjadi rekomendasi bagi pemerintah Indonesia.

Membahas perihal hukum dan politik memang tidak mudah, banyak hal yang harus dipertimbangkan agar tetap menjunjung tinggi hukum di Indonesia dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Satu hal yang pasti apapun topiknya, join Kompas TV, Seru!

(dnu, ditulis sambil apa hayoooo... haha..., 13 November 2015, 11.30 WIB)