Tuesday, January 27, 2015

Surat Terbuka untuk Seluruh Petani & Tukang Apel Di Dunia



Kepada yang Tercinta :
Bapak/Ibu Petani & Pedagang Apel
Dimanapun berada

Dengan penuh rasa cinta,

Bapak/Ibu petani dan pedagang apel yang budiman… semoga saat saya menulis hingga melayangkan surat terbuka ini Bapak/Ibu senantiasa dalam keadaan sehat dan bahagia.

Terkait pemberitaan yang kini hangat beredar di masyarakat, bahwa ada jenis buah Apel tertentu yakni Apel Granny’s Best dan Big B yang berasal dari USA (Granny Smith dan Gala produksi Bidart Bros, Bakersfield, California, Amerika Serikat) tidak boleh diperdagangkan dan dikonsumsi dulu untuk saat ini.

Hal ini pun sudah diinformasikan oleh pemerintah bidang kesehatan Indonesia tentang pelarangan memakan buah Apel jenis ini, dikarenakan terkontaminasi bakteri Listeria monocytogenes. 

Bapak/Ibu juga mungkin sudah mengerti bahaya apa saja yang bisa terjadi jika mengkonsumi Apel jenis ini. Karena bakteri Listeria monocytogenes adalah bakteri yang dapat menyebabkan infeksi serius dan fatal pada bayi, anak-anak, orang sakit dan lanjut usia, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Orang sehat yang terinfeksi mungkin menderita gejala jangka pendek seperti demam tinggi, sakit kepala parah, pegal, mual, sakit perut dan diare. Selain itu infeksi listeria juga dapat menyebabkan keguguran pada perempuan hamil.

Mengerikan sekali ya Pak, Bu :(

Terkait hal tersebut diatas, saya langsung terfikirkan efek samping apa yang mungkin akan dialami oleh Bapak/Ibu. Bisa jadi masyarakat yang awam maupun tidak, akan mengambil jalan pintas teraman dengan menghentikan sama sekali aktifitas mengkonsumsi buah Apel. Bisa jadi orang-orang di luar sana tidak ingin ambil pusing nan berresiko, jadi mereka akan menjauhi sementara yang namanya buah Apel, jenis apapun itu.

Tentunya kekhawatiran ini beralasan Pak, Bu :( Dimana masyarakat yang minim informasi tentang jenis Apel yang berbahaya, ditambah lagi dengan pemberitaan seadanya yang tidak lengkap. Sehingga banyak orang akan sama sekali berhenti makan buah Apel, karena mereka hanya tahu bahwa saat ini buah Apel adalah buah yang mematikan.

Gerakan stop makan Apel. Mungkin gerakan ini dianggap sebagai jalan penyelamatan terhadap jiwa dan raga.
Lalu bagaimana dengan Bapak/Ibu yang sehari-hari mata pencahariannya adalah bertani apel ataupun berdagang apel? :( Tentu akan terkena imbasnya. Seirama dengan pepatah lama ya Pak, Bu karena nila setitik maka rusak susu sebelanga :(

Bapak/Ibu Petani dan Pedagang Apel dimanapun berada, semoga Kementerian Kesehatan Indonesia terus gencar memberikan edukasi dan informasi ke seluruh rakyat Indonesia tentang buah Apel jenis apa yang berbahaya. Dan tentunya juga edukasi tentang masih ada jenis-jenis Apel yang aman untuk dikonsumsi.

Ini harus gencar penyebaran informasinya, karena kalau tidak maka dunia persilatan Apel dalam negeri bisa runyam :(

Apalagi untuk orang awam, mungkin kurang paham mana Apel yang aman dan mana yang tidak aman. Yang mereka tahu hanyalah “jangan makan apel, bahaya” :(

Kalau boleh memberi masukan untuk pemerintah nih, jangan berharap satu arah saja. Artinya jangan hanya mengharapkan masyarakat aktif mencari informasi tentang jenis buah Apel yang kini tengah berbahaya bagi kesehatan, tapi juga harus ada aksi dari pemerintah dalam memberikan informasi.

Bapak/Ibu petani dan pedagang Apel yang budiman, tetap semangat ya ditengah gejolak bakteri jahat yang ada di Apel asal USA itu. Semoga tidak terkena imbas yang terlalu pahit, karena sesungguhnya Apel Indonesia itu manis, segar dan menyehatkan :)

Salam Apel :)

(dnu, ditulis sambil makan gado-gado dengan segala pesonanya, 28 Januari 2015, 12.55)



Saturday, January 17, 2015

Aku Rapopo = Aku Rapuh Porak Poranda

Ungkapan yang lagi ngetrend banget di kalangan anak muda dan remaja. Aku rapopo diambil dari bahasa Jawa yang artinya ‘aku ngga apa-apa’ atau ‘aku baik-baik saja’.

Tapi belakangan ini muncul candaan atas ungkapan merdu tersebut yakni ‘Aku Rapuh Porak Poranda’, yang artinya aku hancur banget luar biasa berantakan. Ya, makna yang sangat berlawanan.

Aku rapopo biasanya diucapkan oleh seseorang atas terjadinya sesuatu hal yang tidak mengenakkan, namun ia tetap berbesar hati dan tetap baik-baik saja atas kejadian tersebut. Hal ini diungkapkan demi berupaya membesarkan hati orang lain, juga demi membesarkan hati dan diri sendiri.

Makna ‘berupaya membesarkan hati dan diri sendiri’, jelas terlihat sesuatu yang tidak baik-baik saja sedang terjadi dalam dirinya. Apakah benar demikian? Ya bisa jadi.

Saya sakit tapi saya tak ingin orang lain tahu kalau saya sakit. Saya sedih tapi saya tak ingin orang lain ikut bersedih. Saya hancur tapi saya tak ingin orang lain mengasihani diri saya atas kehancuran ini. Dan saya gamang tapi saya tak ingin orang lain ikut susah karena kegamangan saya ini.

Itulah mengapa ungkapan ‘aku rapopo’ mendadak terucap berkali-kali bahkan mungkin diucapakannya sudah dibawah alam sadar. Ya karena apa yang diucapkannya jelas tak sejalan dengan hati dan pikirannya.

Bayangkan seseorang yang berkata ‘aku baik-baik saja’ tapi sambil mngusap air mata, sambil menarik nafas panjang atau sambil memejamkan mata! Tentu kecewa atau sakit hati yang mendalam tengah dirasakannya. Tapi ia ingin tetap tampil baik, tenang dan tampak tak ada masalah.

Seiring dengan berjalannya hari bisa jadi ungkapan ‘aku rapopo’ bertubi-tubi diucapkan sekedar untuk menunjukkan kepada alam semesta bahwa saya baik-baik saja dan tak ada yang perlu mengkhawatirkan saya.

Tapi apa yang sesungguhnya terjadi didalam diri dan hatinya? Tidak ada yang tau. Mungkin saja seluruh perasaannya telah hancur berkeping-keping.

Banyak cerita yang bisa membuat hari seseorang bersedih, terluka bahkan hancur. So, ungkapan bersahaja ini nampaknya bisa digunakan untuk mengelabui semuanya. Tapi kelabu untuk kebaikan.
Adanya kemungkinan kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya inilah yang melahirkan candaan baru untuk kepanjangan ‘rapopo’ yaitu ‘rapuh porak poranda’.

Hati saya telah hancur sehancur-hancurnya. Luka seluka-lukanya, atau hati saya sesungguhnya rapuh dan telah porak poranda. Hancur yang tak tertolong lagi, mungkin ini yang paling menyerupai.

Saat berada dalam keadaan yang tidak baik-baik saja ada kalanya kita ingin tetap terlihat segar bugar dan selalu tampil baik. Nah ungkapan miris yang penuh sahaja inilah yang tepat untuk digunakan. Namun ada juga saatnya dimana kita memang ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa kita sedang bersedih, sekedar untuk menarik empati dan pengertian dari orang lain.

Saat dalam keadaan tidak baik-baik saja tentu kita butuh teman untuk mendengarkan cerita, butuh sandaran untuk berbagi atau need a shoulder to cry on. Tapi pribadi yang baik, pribadi yang hebat tak ingin terlihat ada masalah, tak ingin tampak sedih dan tak ingin orang lain tau tentang luka batinnya.
Biarkan saya sakit sendiri dan biarkan saya menikmati luka ini sendiri. Kegamangan yang menemani hari-hari, serta kehancuran hati yang selalu bernyanyi biar menjadi teman saya yang sejati.

Saya harus selalu tersenyum.
Saya harus selalu tertawa.
Dan saya harus selalu tampak bahagia. Ya, walaupun hanya tampak.

Saya harus kuat berdiri.
Saya harus tegar. Ya, walaupun sesungguhnya hanya sok tegar.
Dan saya harus selalu berkata “aku rapopo”. Walaupun sesungguhnya aku rapuh porak poranda :(

(dnu, 18 April 2014, 17.22)

Gara-gara Dinda

Kamis (17/4) jam 06.00 WIB saya memposting tulisan yang berjudul “Dinda, Are You Okay?”. Tulisan ini berisi tentang informasi dari saya mengenai garis besar kondisi yang umum dialami oleh ibu hamil. Bagaimana keseharian ibu hamil dan apa yang kerap terjadi pada seorang ibu hamil.

Tulisan ini saya buat terkait komentar gadis bernama Dinda tentang kereta dan ibu hamil.

Beberapa jam sejak tulisan ini naik di Kompasiana angka jumlah pembaca bergerak begitu signifikan. Kalau tidak salah jam 11.00 WIB siang saja jumlah pembaca sudah mencapai angka 700, menjelang jam 13.00 WIB sudah mencapai kisaran 1000 pembaca.

Saya begitu takjub melihat pergerakan angka yang luar biasa ini.. Ya, ini sungguh luar biasa bagi saya. Karena saya seorang kompasianer baru yang masih meraba-raba bagaimana tulisan yang banyak diminati oleh pembaca dunia luar. Maklum selama ini tulisan yang saya buat hanya disimpan di blog yang sangat pribadi nan rahasia haha..

Jumlah pembaca yang terus membesar benar-benar memberikan asupan semangat luar biasa bagi saya. Banyak yang repost via facebook, twitter, hingga masuk ke grup-grup WhatsUp, broadcast message di bbm, hingga repath!

Bahkan ada yang menemukan tulisan saya itu di halaman pertama Google saat ia browsing tentang Dinda dan kereta. Yang lebih menyenangkan lagi, di Kompasiana tulisan ini turut masuk dalam jajaran Trending Articles! Aaah… nampaknya saya boleh berbangga hati kali ini :)

Bisa dilihat, seberapa besar sih jumlah pembaca tulisan-tulisan saya di Kompasiana ini? Belum banyak, bahkan ratusan saja tidak ada! Ya, ini benar-benar karena Dinda. Tapi saya sadar, saya memposting tulisan di waktu dan moment yang tepat. Sehingga semuanya bisa bergerak dengan baik. Banyak pembaca dan banyak mendapat respon dari orang lain.

Saya menulis waktu itu malam hari sebelum esok paginya saya posting. Sebelum tidur saya biasa bercengkerama dengan laptop kebanggaan saya ini. Dan ketika itu saya memang tergerak untuk melihat postingan path dari Dinda yang sudah ramai dibicarakan orang sejak siang hari.

Usai membaca, emosi saya menjadi-jadi. Sebagai wanita yang sudah pernah hamil dua kali. Pernah merasakan mabok berat. Pernah naik bis dan tidak mendapatkan tempat duduk. Pernah punya teman yang selama hamilnya tidak bisa berdiri lama karena terlampau pusing. Dan pernah melihat saudara dekat yang ketika hamil harus diinfus karena begitu lemah dan tidak bisa makan karena selalu mual.

Begitu campuran emosi memuncak dan bergejolak, malam itu tidak saya tunda lagi untuk segera menuangkan semua isi kepala serta hati tanpa basa basi. Setelah selesai, saya berfikir, apakah tepat jika tulisan ini saya submit di kompasiana tengah malam begini? Nampaknya tidak. Bisa-bisa tulisan yang penuh emosi ini tidak ada yang membaca dan hanya bergeser ke urutan paling bawah lalu menghilang tak terlihat.

Jadilah saya putuskan untuk menyimpan tulisan dan memposting esok pagi. Dengan harapan kompasianer sejati lainnya yang pagi hari mungkin terbiasa membaca informasi atau berita-berita yang lagi hangat, bisa melihat tulisan saya dan menikmatinya.

Pelajaran menyenangkan yang amat berharga bagi saya dan ingin saya bagikan ke kompasianer disini ialah menulis memang baiknya mengikuti emosi hati yang mengalir saat itu. Begitu dapat ide, ada rasa dan emosi membuncah segeralah tuang dan keluarkan semuanya dalam bentuk tulisan Anda. Jangan ditunda! Karena rangkaian kalimat yang keluar pasti akan berbeda dan bagi yang membaca, emosinya juga belum tentu bisa didapatkan.

Lain halnya dengan tulisan yang dibuat saat emosi penuh dan total, maka yang membacanya pun akan larut dan terbawa dalam emosi yang sama. Bukankah dalam berbagi tulisan salah satu tujuannya adalah agar pembaca terbawa dengan apa yang kita rasakan? Sehingga pesan dalam tulisan tersampaikan dengan baik?

Ini hanya teori saya. Teori yang mungkin tidak sependapat dengan orang lain :)


Lalu bagaimana nasib tulisan saya itu sampai dengan hari ini? Senang sekali! Jumlah pembaca menunjukkan angka 3001 alias sudah tiga ribu satu kali tulisan saya dibaca dan dinikmati orang lain!
Terlepas dari apa isi tulisan saya, disini saya hanya ingin berbagi bahwa ternyata indah ya rasanya jika tulisan kita dibaca banyak orang :)


So, yuk semangat menulis. Tulislah dengan hati, maka yang membacanya juga akan tersentuh hatinya :)


Ini tulisan saya waktu itu http://sosbud.kompasiana.com/…/dinda-are-you-okay-647468.ht…

(dnu, 23 April 2014, 09.19)

Buat Apa Menikah?

Masih suka berantem? Masih suka salah paham? Masih suka berselisih untuk hal-hal ngga penting? Masih suka membesar-besarkan masalah yang kecil? So, buat apa menikah?

Menikah itu meleburkan dua hati yang kadang tak sejalan.
Menikah itu menyatukan dua kepala yang kadang berbeda pemikiran.
Menikah itu menyatukan dua jiwa yang kadang penuh perselisihan.

Dan menikah itu adalah untuk menyatukan dua pribadi yang berbeda, dengan tujuan untuk saling melengkapi.

Keputusan menikah dengan seseorang adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup setiap manusia. Ketika kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada pasangan terpilih, itu berarti telah bersiap untuk menghabiskan sisa usia kita dengan orang tersebut.

Hanya bayangan kebahagiaan bukan yang menggelantung dipelupuk mata saat kita taaruf? Saat dilamar? Bahkan saat pengucapan ijab kabul? Yup, tak sedikitpun kita menginginkan hadirnya hal-hal yang dapat menghancurkan mimpi-mimpi itu.

Diorama perang dingin, salah paham atau mungkin pertengkaran hebat dalam bahtera rumah tangga memang tidak bisa kita hindari. Dinamika naik turunnya emosi dua insan yang sesungguhnya berbeda ini adalah warna utama dalam kehidupan sehari-hari. Karena kepala boleh sama hitam, tapi pemikiran tentu berbeda.

Ada yang bilang perahu yang berjalan tenang-tenang saja rasanya tidak berirama jika tanpa deburan ombak.

Namun apakah menyenangkan jika perahu sepanjang jalannya dihiasi riak ombak tanpa henti? Tentu tidak.

Lalu pesiar seperti apa yang menyenangkan untuk ditempuh dan tetap indah iramanya?
Ombak yang tidak terlalu besar, mungkin itu jawabannya. Deburan ombak kecil, sedikit menggoyang perahu namun penumpangnya dapat tetap menikmati perjalanan.

Ombak besar menghempas, benturan karang dan badai menerjang, bisa menjadi penghancur perahu seketika. Tapi penumpangnya tetap pada tujuan yang sama dan kian erat berpegangan tangan untuk sama-sama sepakat menyelamatkan perahu dan diri mereka.

Pembaca yang budiman, pembaca yang berbahagia dan pembaca yang luar biasa, perjalanan dengan ombak seperti apa yang Anda pilih? Ombak kecil sebagai hiburan saja? Atau ombak besar namun tetap kuat berpegangan tangan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya selipkan satu pertanyaan lainnya. Apakah bisa kita memilih untuk "datangkanlah kepada saya hanya ombak kecil saja" atau "berikan saya ombak besar karena saya tetap kuat berpegangan". Ya, tidak bisa.

Kita tidak bisa memilih dinamika seperti apa yang boleh datang dikehidupan kita.
Meminta pada Yang Kuasa tentu bisa dan wajib dilakukan. Tapi Yang Maha Kuasa akan tetap memberikan semuanya sesuai dengan yang telah digariskan. Dan kita sebagai pemerannya hanya bisa menjalankan perintah Sang Sutradara.

Kembali ke pertanyaan diatas, sungguh luar biasa jika jawaban pembaca sekalian ialah "Kami siap dengan ombak seperti apapun. Ombak kecil akan menjadi pewarna yang indah dan ombak besar akan menjadi penguat dalam perjalanan. Tidak ada model ombak apapun yang kami takuti. Karena kami dua insan yang berbeda namun saling melengkapi".

Buat apa menikah kalau masih tidak saling terbuka?
Buat apa menikah kalau masih ada yang disembunyikan satu sama lain?
Buat apa menikah kalau tidak bertujuan untuk sama-sama bahagia?

Kecilkan masalah yang besar.
Buang permasalahan yang kecil.
Selesaikan semua dinamika dengan senyuman.

(dnu, 28 April 2014, 15.40)

Friday, January 16, 2015

Gita Wirjawan I’m in Love

Tinggi besar, gagah, tampan, sungguh nampak luar biasa bersahaja! Ya, saya senang sekali melihat tindak tanduk Bapak yang satu ini. Pria kelahiran Jakarta ini *wikipedia, akhir-akhir ini sering sekali muncul di televisi dan berhasil menarik perhatian saya.

Dilihat dari kacamata saya, Bapak ganteng Sang Ketua PBSI ini ketika berbicara atau menyampaikan suatu pendapat, sangatlah santun. Tidak penuh nafsu apalagi emosi. Senyumnya terus mengembang sepanjang berbicara dengan orang lain.

Pak Gita, senyumnya saya suka banget. Senyum optimis, tulus dan lagi-lagi bersahaja.
Pria yang menghabiskan masa mudanya di Bangladesh dan India ini memiliki nama lengkap Gita Irawan Wirjawan, namun akrab disapa Gita Wirjawan. *wikipedia

Pak Gita mengisi masa kuliahnya di luar negeri, hingga akhirnya bertemu dengan Ibu Yasmin Stamboel yang kini menjadi istrinya, yang merupakan cucu pahlawan Otto Iskandar Dinata. *wikipedia

Membaca biografi Pak Gita di Wikipedia benar-benar membuat mata saya terbelalak. Luar biasa hebat Pak Gita ini! Berbagai gelar pendidikan berhasil diraihnya walaupun melalui masa-masa hidup yang sulit.

Ada satu persamaan antara saya dengan Pak Gita, mau tau? Ya, kita sama-sama menyukai kata-kata sakti dari Winnie The Pooh, yaitu “You’re bigger than what you think you are”.*wikipedia
Hohoho… akhirnya ada juga kesaman saya dengan idola saya ini hehe…

Kalimat ini memang sangat bisa menguatkan saya saat berada dimasa sulit dan bingung harus melakukan apa. Kalimat ini seperti charger, setelah mengingatnya langsung semangat lagi.

Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari sosok pendiri Ancora Foundation ini. Sekedar informasi, Ancora Foundation adalah yayasan yang kemanusiaan yang bergerak dibidang pendidikan. *Wikipedia. 

Saya jadi tergerak untuk melakukan hal yang sama, ingin berbagi ilmu dengan saudara-saudara yang kurang beruntung. Tentu tidak sama persis dengan apa yang dilakukan Pak Gita, tapi ini adalah salah satu hal yang benar-benar menginspirasi saya. Melakukan hal yang positif dan bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.

Pak Gita yang luar biasa, sebenarnya banyak hal tentang kekaguman saya terhadap Bapak yang ingin saya tuangkan disini, tapi bingung karena terlalu banyak hal yang membuat saya bangga dengan Pak Gita :)

Sukses selalu ya Pak Gita! Teruslah berjaya namun tetap bersahaja :)

Note : Tulisan ini murni penuangan rasa kagum dari penulis terhadap pribadi Pak Gita Wirjawan. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan politik, event, serta musim apapun.

(dnu, 8 Mei 2014, 11.08 WIB)


Buat Apa Menikah?


Masih suka berantem? Masih suka salah paham? Masih suka berselisih untuk hal-hal ngga penting? Masih suka membesar-besarkan masalah yang kecil? So, buat apa menikah?
Menikah itu meleburkan dua hati yang kadang tak sejalan.

Menikah itu menyatukan dua kepala yang kadang berbeda pemikiran.
Menikah itu menyatukan dua jiwa yang kadang penuh perselisihan.
Dan menikah itu adalah untuk menyatukan dua pribadi yang berbeda, dengan tujuan untuk saling melengkapi.

Keputusan menikah dengan seseorang adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup setiap manusia. Ketika kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada pasangan terpilih, itu berarti telah bersiap untuk menghabiskan sisa usia kita dengan orang tersebut.

Hanya bayangan kebahagiaan bukan yang menggelantung dipelupuk mata saat kita taaruf? Saat dilamar? Bahkan saat pengucapan ijab kabul? Yup, tak sedikitpun kita menginginkan hadirnya hal-hal yang dapat menghancurkan mimpi-mimpi itu.

Diorama perang dingin, salah paham atau mungkin pertengkaran hebat dalam bahtera rumah tangga memang tidak bisa kita hindari. Dinamika naik turunnya emosi dua insan yang sesungguhnya berbeda ini adalah warna utama dalam kehidupan sehari-hari. Karena kepala boleh sama hitam, tapi pemikiran tentu berbeda.

Ada yang bilang perahu yang berjalan tenang-tenang saja rasanya tidak berirama jika tanpa deburan ombak.

Namun apakah menyenangkan jika perahu sepanjang jalannya dihiasi riak ombak tanpa henti? Tentu tidak.

Lalu pesiar seperti apa yang menyenangkan untuk ditempuh dan tetap indah iramanya?

Ombak yang tidak terlalu besar, mungkin itu jawabannya. Deburan ombak kecil, sedikit menggoyang perahu namun penumpangnya dapat tetap menikmati perjalanan.

Ombak besar menghempas, benturan karang dan badai menerjang, bisa menjadi penghancur perahu seketika. Tapi penumpangnya tetap pada tujuan yang sama dan kian erat berpegangan tangan untuk sama-sama sepakat menyelamatkan perahu dan diri mereka.

Pembaca yang budiman, pembaca yang berbahagia dan pembaca yang luar biasa, perjalanan dengan ombak seperti apa yang Anda pilih? Ombak kecil sebagai hiburan saja? Atau ombak besar namun tetap kuat berpegangan tangan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya selipkan satu pertanyaan lainnya. Apakah bisa kita memilih untuk "datangkanlah kepada saya hanya ombak kecil saja" atau "berikan saya ombak besar karena saya tetap kuat berpegangan". Ya, tidak bisa.

Kita tidak bisa memilih dinamika seperti apa yang boleh datang dikehidupan kita.

Meminta pada Yang Kuasa tentu bisa dan wajib dilakukan. Tapi Yang Maha Kuasa akan tetap memberikan semuanya sesuai dengan yang telah digariskan. Dan kita sebagai pemerannya hanya bisa menjalankan perintah Sang Sutradara.

Kembali ke pertanyaan diatas, sungguh luar biasa jika jawaban pembaca sekalian ialah "Kami siap dengan ombak seperti apapun. Ombak kecil akan menjadi pewarna yang indah dan ombak besar akan menjadi penguat dalam perjalanan. Tidak ada model ombak apapun yang kami takuti. Karena kami dua insan yang berbeda namun saling melengkapi".

Buat apa menikah kalau masih tidak saling terbuka?
Buat apa menikah kalau masih ada yang disembunyikan satu sama lain?
Buat apa menikah kalau tidak bertujuan untuk sama-sama bahagia?
Kecilkan masalah yang besar.

Buang permasalahan yang kecil.
Selesaikan semua dinamika dengan senyuman.

(dnu, 28 April 2014, 15.40)

Cake Cinta yang Penuh Haru


Baru kali ini saya benar-benar terharu oleh seorang customer yang membeli cake. Biasanya saya ikut senang dengan berbagai cerita customer atas cake yang dibelinya di toko online saya ini.

Setiap kisah rata-rata sama, yakni seorang ibu yang membelikan sebuah blackforest cake dalam rangka ulang tahun anaknya tercinta.

Tapi kisah yang satu ini cukup mengharukan bagi saya. Cerita berawal saat seorang ibu memesan sebuah cake dengan design tertentu, yang dipersembahkan khusus untuk putra pertamanya.

Singkat cerita, sampailah pada saat hari perjanjian untuk sang ibu datang ke rumah saya untuk mengambil cake pesanannya.

Saat itu ia datang dengan membawa dua orang putranya, salah satunya ialah yang berulang tahun. Dua anaknya ini masih sama-sama duduk di bangku SD.

Seperti biasa, sama dengan customer-customer lainnya, saat ada yang datang mengambil cake ke rumah, saya memang senang ngobrol panjang lebar tentang berbagai hal. Tidak melulu soal peruntukan cake yang ia beli.

Semakin larut dalam obrolan, hingga sampailah saat ibu berparas cantik ini bercerita, bahwa cake ini secara spesial ia persembahkan untuk syukuran ulang tahun anak lelakinya, yang saat ini sudah tidak tinggal bersamanya lagi. Ya, karena ia telah berpisah dengan suaminya, dan anak lelaki pertamanya ini tinggal dengan sang ayah.

Itu berarti, kakak beradik yang kala itu ada di rumah saya, sudah tidak tinggal dalam satu rumah yang sama.

Secara khusus di hari ulang tahunnya ini sang ibu menjemput Si Kakak dan memboyong ke rumahnya untuk bersama-sama berbagi kebahagiaan bersama Ibu dan Adik dalam syukuran kecil-kecilan.
Saya sangat tersentuh dengan kisah ini. Terlebih lagi, dua anak yang merupakan kakak beradik itu terus saja bersenda gurau sepanjang berada di rumah saya.

Kakak adik itu kini memang tinggal terpisah, sang Adik tinggal bersama ibu, dan Kakak bersama Ayah. Mungkin hari itu mereka sedang melepas rindu yang lama terpendam. Setelah sekian lama tidak bertemu dan main bersama.

Jelas sekali terlihat rona bahagia di wajah dua kakak beradik itu. Apalagi saya melihat foto mereka dalam acara syukurannya, mereka saling rangkul dan terlihat jelas kebahagiaan "aku kini ada dalam pelukan kakak...."

Ah... ibu yang baik, ibu yang senantiasa berusaha bersikap adil bagi anak-anaknya.

Ibu yang siap dengan segala situasi dan kondisi, namun tetap siap menjaga kebahagiaan sang buah hati, lahir dan bathinnya.

(dnu, 15 Des 2013, 10.15)

Macet Ini Menyiksaku

Tidak lagi mengenal hari libur atau hari kerja. Tetap saja terjadi.

Bisa diselesaikan apa tidak ya sebenarnya?
Masih bisa kah diurai?
Apa yang salah dari semua ini?
Kendaraan terlalu banyak?
Tata kota yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan zaman?
Orang yang terlalu sibuk?

Atau kehidupan di kota ini memang sudah terlalu luar biasa dengan segala isinya?

Karena sebuah kemacetan, orang bisa mudah sekali berubah. Yang tadinya sabar menjadi mudah emosi. Yang tadinya pendiam mendadak mudah berkeluh kesah. Yang tadinya tenang bisa berubah jadi gelisah. Bahkan yang tadinya cantik bisa seketika berubah jadi kurang cantik karena lelah.

Mungkin rasa cemas atau khawatir di tengah kemacetan menjadi penyumbang paling besar dalam kelelahan seseorang.

Penyebab kelelahan fisik selain karena lelah duduk berjam-jam atau bahkan berdiri di bis kota untuk waktu yang lama, juga didukung oleh kecemasan mental yang berlebih.

Menahan rasa lelah, emosi, ingin marah, mengumpat, bolak balik liat jam, utak atik smartphone sampai bosan, memandang jalanan bikin sebel, bbm-an sampai ngobrol ngalor ngidul…

Hal-hal inilah yang membuat tubuh bisa terasa amat sangat lelah. Walaupun kenyataannya kita hanya duduk saja di dalam bis kota. Namun bagi yang berdiri, bisa dibayangkan berapa kali lipatnya kelelahan itu.

Cari jalur alternatif kadang susah juga, karena hampir di setiap ruas jalan mengalami hal yang sama, yaitu macet yang tiada tara.

Jalan toll? Sama aja. Bahkan bisa lebih parah macetnya dibandingkan dengan jalur biasa. Aneh ya! Jalan berbayar padahal.

Kemacetan telah menjadi sahabat paling erat bagi penduduk kota Jakarta. Pernah ada selorohan yang berbunyi “kalau ngga macet ya bukan Jakarta namanya”. Benarkah? Bisa jadi.

Atau selorohan lainnya yang berkata “kalau ingin menikmati Jakarta yang tanpa macet, datanglah saat liburan hari raya Idul Fitri. Dijamin jalanan kosong, karena semua penduduknya mudik ke kampung halaman.” Dan saat seperti ini ada lagi perumpamannya, yakni Jakarta sedang ditinggal para pecintanya.
Tapi coba sadarkan diri sesaat, apa yang terlontar saat tiba-tiba arus lalu lintas Jakarta lengang. Tidak sedikit dari kita yang bergumam “iiih tumben lho lancar… ngga maceett… kok bisa yaa…”
Kalau sedang baik begini keadaannya, lebih indah ya rasanya jika diungkapkan dengan “syukurlah lancar, semoga setiap hari ya!”.

Semoga jadi doa, dan Jakarta bisa lancar di setiap ruas jalannya. Dan kita sebagai pengguna jalannya tidak cemas dan lelah berlebihan lagi .

Enjoy Jakarta yuk!

(dnu, 14 Mei 2014, 07.38)

Taman Kota untuk Jakarta Lebih Baik

Bagi Kota sebesar Jakarta memang akan terasa lebih ringan nan rindang jika banyak taman kota di dalamnya. Gunungan beton berupa bangunan berbagai bentuk dan fungsi telah berdiri kokoh di setiap sudutnya. Mulai dari pusat perbelanjaan, pusat perkantoran hingga penengah urusan tempat tinggal alias hotel dan apartemen.

Lihat saja, berbagai bentuk pusat perbelanjaan kini telah dengan mudah bisa ditemui. Itulah mengapa saya katakan bahwa Kota Metropolitan ini akan nampak lebih nyaman apabila seluruh sisi kehidupannya dibuat lebih seimbang. Salah satunya melalui pengadaan Taman Kota di beberapa titiknya.

Sekarang ini Taman Kota mulai banyak bermunculan, tidak hanya di pusat aktifitas bisnis kota namun di pinggiran Jakarta pun mulai menjamur. Banyak fungsi yang bisa dimanfaatkan dari keberadaan area hijau tersebut, diantaranya sebagai sarana melepas penat sambil menghirup udara segar di siang hari. Selain itu arena ini juga kerap dimanfaatkan oleh sebagian orang sebagai sarana berolahraga ringan atau sekedar bermain bersama keluarga.

Dewasa ini taman kota telah tampil lebih cantik dengan disandangkannya berbagai nama. Contohnya di dekat tempat tinggal saya ada salah satu taman yang bernama “Taman Kembang Sepatu”, atau dibelahan lain ada yang bernama” Taman Bambu”. Nama yang ringan dan enak didengar bukan?

Pemberian nama ini serta merta telah mampu merefleksikan suasana yang sesungguhnya, yaitu taman yang dihiasi oleh tumbuhan kembang sepatu atau taman yang dihiasi dengan pohon bambu. Namun benar saja, pada keadaan sesungguhnya tidak melulu harus sesuai dengan nama yang disandangnya. Walaupun saya yakin pemerintah DKI Jakarta dalam membrikan nama bagi taman-taman ini telah melalui proses tertentu sehingga melahirkan nama terbaik.

Keberadaan taman di tengah hiruk pikuknya Ibu Kota Negara ini telah memberikan berbagai dampak positif. Khususnya pada siang hari, tentu banyak lapisan masyarakat yang memanfaatkannya. Salah satu contoh taman yang sudah lama berdiri dan masih dimanfaatkan dengan baik adalah Taman Menteng. Hingga kini telah banyak masyarakat yang terbiasa untuk melepaskan lelahnya pada taman ini dengan hanya sekedar duduk-duduk dan menikmati semilir angin.

Para penjaja makanan juga banyak yang menggantungkan nasibnya ditengah-tengah keramaian taman. Muda mudi yang entah dari belahan Jakarta mana juga mungkin pernah memanfaatkan taman ini, hanya untuk sekedar bermain, bersosialisasi, menikmati jajanan atau untuk menyatakan cintanya. Ya, mungkin saja J Ada yang pernah melakukan point terakhir itu? haha…

Bagaimana di daerah tempat tinggalmu, ada taman apa? 

(dnu, 27 Mei 2014, 06.45)

Si Betawi Keturunan Jawa yang Kagum Berat pada Budaya Minang

Saya perempuan kelahiran Jakarta, dari rahim seorang Ibu yang asli Jawa Tengah persisnya Purwokerto. Bapak juga asli Jawa yakni Banyumas. So, kurang kental apa darah saya dengan suasana kota yang terkenal dengan alat musik gamelannya ini?

Saya sudah menikah, dan berjodoh dengan laki-laki yang darah Jawanya tidak bisa diragukan lagi. Laki-laki kebanggaan saya ini juga lahir dari rahim seorang Ibu berdarah Jawa Timur dan Ayah mertua pun demikian, Jawa Timur pula. Walaupun ayah dari anak-anak saya ini lahir di Klungkung, Bali, tetapi ia menghabiskan masa sekolahnya di provinsi Jawa Timur.

Lengkap sudah lingkungan hidup saya yang benar-benar berisi orang Jawa semua hehe.. Bahasa pengantar di rumah pun kadang masih menggunakan bahasa Jawa. Saya pasif disini, artinya jika mendengar saya mengerti apa maksudnya, tetapi jika diminta berbicara/menjawab dengan bahasa yang sama, oh saya minta maaf, tidak bisa hehe...

Demikian halnya persis saya lakukan pula saat berada di kampung halaman suami, yang kini keluarga besarnya bermukim di kota Malang setelah sebelumnya menetap di Surabaya. Hilir mudik semua orang yang saya temui santun berbahasa Jawa yang lembut, namun saya, hanya mendengar, senyam senyum dan menelan bulat-bulat apa yang mereka katakan. Lalu meluncurlah bahasa Indonesia sebagai senjata sakti saya untuk menjawabnya. Memang benar, Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Mereka bertanya dengan bahasa Jawa, saya menjawab dengan bahasa Indonesia tetapi tidak terjadi kesalahpahaman :)

Saya hidup dan besar di lingkungan suku Betawi, namun keluarga inti kehidupannya sangat kental dengan adat dan budaya Jawa. Tapi dibalik itu semua tidak bisa dipungkiri saya memiliki kekaguman yang amat sangat terhadap budaya Minang. Ya, budaya Padang, Sumatera Barat saya sangat menyukainya. Entah kenapa, mungkin inilah yang disebut dengan cinta tanpa syarat haha…

Kesenian asal Minangkabau sangat menarik perhatian saya sejak lama. Ketika masih duduk di bangku TK saya memilih untuk bergabung dalam kelompok tari Indang (Dindin Badindin), sementara teman-teman yang lain ada yang menari Kupu-kupu atau Mbok Jamu.

Selain itu kalau jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) saya paling senang berfoto di rumah adat Sumatera Barat. Menapaki tangga di rumah panggungnya, berjinjit di jendelanya yang tinggi, hingga menari-nari di tiang penyangga tengah rumah. Menyenangkan sekalii…..

Pernah juga dalam acara kantor yang kala itu mengangkat tema budaya Indonesia, saya mengusulkan untuk mengusung budaya Minang. Saya beserta rekan-rekan kerja antusias untuk mencari baju semirip mungkin dengan baju adat Minang lengkap dengan hiasan kepalanya.

Saya juga punya lagu favorit yang sampai sekarang kadang tanpa sadar saya senandungkan, yaitu lagu Kampuang Nan Jauh Dimato. Dulu lagu ini dinyanyikan kembali oleh Ciquita Meidy, jadi ceria sekali kedengarannya :)
Boleh dites, saya hafal lho lagunya haha…

Melalui suatu media sosial saya juga pernah memposting tulisan tentang kekaguman saya terhadap Tari Indang, dan ternyata banyak juga yang menyukainya.

Berjalan-jalan menyusuri Kelok Sembilan, berfoto dibawah Jam Gadang hingga menikmati masakan padang asli ditengah sapuan angin kota Padang menjadi salah satu mimpi pendek saya saat ini.

Mimpi besarnya ada lagi, saya ingin sekali bisa menenun Pandai Sikek, dan kain hasil tenunan saya itu digunakan oleh Ibu Negara dalam acara kenegaraan yang mengusung budaya Nusantara haha… semoga bukan mimpi di siang bolong ya :p


Gadis Pandai Sikek memang menjadi salah satu pusat perhatian saya atas budaya Minang ini. Nampaknya seorang gadis yang pandai menenun memiliki kepribadian yang amat sabar, santun dan lemah lembut. Mungkin inilah salah satu alasan pemerintah Negara Republik Indonesia menampilkan gambar seorang gadis Pandai Sikek pada uang kertas pecahan Rp 5.000,-. Berkat melihat keunikan latar belakang tenun Pandai Sikek dan tentunya si gadis itu sendiri.

Belum pernah ke Padang dan belum pernah melihat kebangkitan kota ini setelah dilanda gempa bumi beberapa waktu lalu. Namun saya beruntung ada unsur padang yang sangat dekat dengan saya saat ini selain rumah makan padang, yaitu saya memiliki saudara ipar dari sepupu saya yang asli Padang haha…

Keberuntungan lainnya ialah saya sudah pernah memakai topi adat padang, semoga tidak salah nama, yaitu Tengkuluk. Merupakan hiasan kepala perempuan yang berbentuk runcing dan bercabang. Maknanya ialah Limpapeh Rumah Nan Gadang di Minangkabau tidak boleh menjunjung beban yang berat.

Walaupun Cuma hiasan kepala tapi maknanya luar biasa smile emoticon Semoga saya bisa segera terbang ke Padang, dan setibanya disana langsung melenggok untuk Tari Indang diatas kelok Sembilan haha… :D


(dnu, 27 Mei 2014, 11.33)

Ibu, yang Tak Tertuliskan

Ngga akan pernah bisa merangkai kalimat dalam bentuk apapun untuk sosok ini.
Sosok yang tidak ada pemeran penggantinya.
Sosok yang terlalu mulia atas jabatannya.
Sosok yang berkat keberadaanya, maka kita juga menjadi ada.


Wanita yang telah melahirkan kita dengan proses yang tidak sederhana, bahkan sebaliknya, mempertaruhkan kelangsungan hidupnya demi hidup kita.
Wanita yang telah dengan suka cita membagi makanan di dalam tubuhnya untuk kita, saat ada di dalam perutnya.

Wanita yang selalu menampakkan kebahagiaan, walau sebenarnya hatinya menangis.
Wanita yang selalu menampakkan keikhlasan, walau sebenarnya ada rasa yang tak tertahankan.
Wanita yang selalu berusaha tersenyum, walau sebenarnya ia kecewa.
Dan wanita yang tidak akan pernah selesai dituliskan dengan untaian jutaan kata.

Ibu, yang selalu ingin membahagiakan keluarganya, karena sungguh benar bahwa kasihnya sepanjang masa.

Sudahkah kamu memeluk Ibumu hari ini?
Sudahkah kamu membuat Ibumu tersenyum hari ini?

Bagiku, Ibuku adalah kehidupanku.
Bagaimana dengan kamu?

(dnu, 5 Mei 2014, 18.01, single written at KFC MKG, photo source kresyaginadotwordpress)

Thursday, January 15, 2015

Ketika Para Pendukung Mulai Linglung



Mendukung suatu gerakan atau mendukung sesesorang untuk menduduki suatu jabatan memang perlu pertaruhan lahir batin. Tidak hanya mulut yang senantiasa berucap kalimat pendukungan, tetapi rasa didalam hati hendaknya sama yakni tulus mendukung dengan segala konsekuensinya.

Yang namanya pendukung sebenernya sih boleh saja jika di kemudian hari berubah fikiran atau mata serta hatinya bru terbuka bahwa yang didukunngnya tidaklah sepenuhnya istimewa. Tapi yang perlu dipertanyakan ialah apakah saat awal menjatuhkan hati pada pilihan untuk mendukung tidak dilakukan sedikit penelitian bagaimana tentang profil yang didukungnya?

Jangan sampai saat kita berkoar-koar mendukung seseorang itu hanya ikut-ikutan saja atau tidak atas dasar panggilan hati. Solidaritas kepada teman, kepada komunitas, kepada agama atau bahkan hanya sekedar solidaritas yang entah atas dasar apa.

Sekarang kalau yang didukungnya ternyata mengecewakan bagaimana? Lari dari kenyataan? Menghapus rekam jejak tentang pernah memberikan dukungan? Nah, kalau yang seperti ini sih apa bedanya dengan si kancil anak nakal? Hanya benar-benar anak kecil yang jelas hanya ikut-ikutan belaka.
Bisa jadi saat ini wujud kekecewaan yang dituangkan melalui berbagai bentuk juga hanya ikut-ikutan semata. Padahal tidak mengerti benar apa permasalahannya dan apa makna dari kekecewaannya para pendukung lainnya.

Fikirkan benar-benar dengan kepala yang dingin namun tetap dengan hati yang hangat.
Mendukung jangan sekedar ikut-ikutan saja. Dan ketika yang lain ramai-ramai mencaci karena “katanya” kecewa, juga jangan serta merta diikuti juga. Rasakan apa yang sesungguhnya diri kita rasakan.
Kalau memang feeling, maka dukunglah.

Kalau sudah mendukung, selamatkan orang yang kita dukung jangan sampai dipermalukan oleh orang lain. Bukan malah kebalikannya kita kembali mendukung orang lain yang sedang menghancurkan dukungan kita.

Mendukung seseorang untuk menduduki jabatan tertentu apalagi mempimpin organisasi yang besar bisa diibaratkan dengan manjatuhkan sebuah cinta yang tanpa syarat. Jangan karena ada embel-embelnya, juga jangan karena dijanjikan sesuatu atau karena hal-hal lainnya.

Ketika orang yang kita dukung sedikit saja melakukan kesalahan maka kita juga lantas ikut-ikutan mencacinya bahkan menjatuhkannya. Sama seperti kisah awal, mendukung tanpa berfikir dan kini mencaci juga tanpa berfikir.

So, sejak awal rasakan benar-benar dengan hati apa yang sesungguhnya dirasakan, tulus mendukung atau tidak. Karena percayalah bahwa rasa itu tidak pernah salah :p

(dnu, ditulis sambil makan nasi bungkus daun nan romantis haha…, 16 Januari 2015, 08.09)


Wednesday, January 14, 2015

Assalamu’alaikum Indonesia !!!

Hahay! Kelihatannya ada apa dengan judul artikel ini?? Maksa? Nafsu? Norak? Atau Lebay? Hihihi… Bukan itu semua, apalagi ingin menyaingi judul film Assalamualaikum Beijing. Ngga sama sekali.

Saya memang amat tertarik untuk membuat satu artikel dengan judul Assalamu’alaikum Indonesia, sebagai cara untuk menginformasikan kepada siapa saja tentang indahnya Indonesia.
Love your country! Cintai tanah airmu, sayangi bumi Indonesiamu. Namun dengan apa kita bisa menunjukkan tentang besarnya rasa cinta kepada Indonesia?

Banyak hal sih sebenarnya, muali dari turut berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, hingga yang paling berat adalah tidak turut mencaci maki siapa peminpin bangsa saat ini. Sekalipun ada kesalahan yang tengah atau telah dilakukannya. Cukup didoakan saja agar para pemimpin negara itu kembali ke jalan yang benar dan bekerja sesuai dengan fitrahnya.

Tapi dibalik itu semua, menurut saya salah satu aksi yang bisa sama-sama kita lakukan sebagai wujud rasa cinta, yakni explore Indonesia.

Jelajahi negeri kepulauan ini. Percaya deh, banyak yang menarik di Indonesia ini. Mulai dari eloknya kota budaya Yogyakarta, anggunnya Aceh sebagai serambi Mekkah, eksotisnya pantai-pantai di Bali, primanya rumah-rumah panggung di Toraja, mengagumkannya Ranah Minang, hingga menawannya Derawan.

Masih banyak lagi keindahan Indonesia yang tentunya ngga mungkin dipreteli satu per satu dalam artikel ini. Cuma perlu satu hal, percaya. Yakinlah Indonesia tuh menarik lho untuk dikunjungi.
Sebelum kita bergegas pergi mengitari negeri tetangga dekat bahkan sampai tetangga jauh, ada baiknya puas-puasin dulu menyelami negeri rempah-rempah ini.

Banyak tempat diving yang lucu di Indonesia ini. Banyak pantai yang menarik untuk kita membuat istana pasir disini. Banyak situs-situs sejarah yang perlu kita katahui sebagai keturunan atas kehidupan zaman dahulu kala.

Boleh sepakat ya, tentu banyak kan dari Indonesia ini yang belum kita tahu. Baik sejarahnya maupun wujud kotanya.

Palembang misalnya, Ibu Kota Propinsi Sumatera Selatan ini adalah kota tertua lho di Indonesia. Walaupun secara teori sejarahnya kita sudah tahu, bukankah akan punya rasa yang berbeda kalau sudah pernah menginjakkan kaki disana?

Atau contoh yang lainnya, ada pendapat yang mengatakan intelegensi warga Kabupaten Belitung itu amat tinggi. Mungkin karena banyak asupan ikan sebagai sajian makanan utamanya. Nah, apakah kita ngga ingin beneran hadir disana, melihat keelokan kotanya dan bercengkerama dengan para penduduknya yang pintar-pintar itu?

Sulawesi, setelah mempelajari bolak balik tentang sejarah raja Gowa dan Tallo, nampaknya amat luar biasa kalau kita bisa menjelajah daerahnya dan membayangkan kehidupan jaman dahulu kala. Dengan kata lain, setelah belajar teorinya, kini berupaya mengetahui perkembangannya secara langsung.

Bandung, Jawa Barat saat ini juga menjadi salah satu kota yang cantik akan penataan tata kotanya. Ada taman Jomblo, ada alun-alun yang baru dan masih banyak lagi. Budaya yang dibangun saat ini juga amat bermartabat, yakni setiap Senin ada Bis Gratis, Selasa Tanpa Rokok, Rebo Nyunda, Kamis Inggris dan Jumat Bersepeda.

Hal-hal sederhana ini tanpa sadar bisa membentuk suatu budaya yang baik khususnya bagi Kota Bandung itu sendiri, serta bagi Indonesia pada umumnya.

Boleh dong kita bermimpi mengharumkan nama Indonesia melalui daerah kita?

Wisata bahari yang tak kalah eksotisnya juga bisa didapat di Raja Ampat, Papua Barat. Popularitas wilayah ini sudah mendunia lho! Selain mencoba diving disana, ada baiknya juga cari tahu kenapa sih diberi nama Raja Ampat? Berangkat dari kata Empat-kah? Atau apa?

Cari tau teorinya, lalu sambangi fisiknya! Seru banget pastinya!

Selain itu semua jelas masih banyak pelosok nusantara yang tentu amat indah bila dijelajah. Mempelajari kearifan negeri sendiri untuk kemudian diadopsi nilai-nilai positifnya merupakan penambahan wawasan yang luar biasa.

Ditegaskan sekali lagi, bukan berarti saya katakan tidak perlu atau tidak setuju dengan kegiatan travelling ke luar negeri. Tapi hal ini kembali lagi pada pilihan masing-masing.

Melalui artikel ini saya hanya ingin berbagi info bahwa Indonesia tuh indah lho! Banyak sisi dari tanah air ini yang belum kita ketahui.

So, jika ada libur panjang dan sisi pendanaan cukup mendukung, yuk explore our Indonesia!
Mulai dari Kulonuwun Jogjaaa… Horas Samosir! Piye kabare Suroboyo?!! Atau mau dimulai dari Selamat Sore Jonggol !! Itu juga indah :)


Yang pasti, jalan-jalan di Indonesia ngga ada bosennya!

(dnu, ditulis sambil mimpi selfie di tengah jalan kelok sembilan sambil teriak Ranca bana!!!, 14 Januari 2015, 13.05)

Monday, January 12, 2015

Suamiku

Lelaki luar biasa yang saya temukan di dunia maya. Kurang lebih 9 tahun lalu cerita bermula.
Demam friendster yang saat itu semua muda mudi menggandrung.
Termasuk kami yang merasa, ini adalah ajang persahabatan yang tak terbendung.

Menjadi teman dengan awal mula undangan saya. Dalam rangka mencapai target gengsi dengan banyaknya teman indikasi sebagai pengguna friendster yang hebat.
Kenal maupun tidak, semua menjadi korban undangan. Termasuk laki-laki super sabar yang kini selalu ada di samping saya.

Pertemanan lambat laun berubah menjadi kiriman pesan rahasia di menu inbox.
Tegur sapa terencana telah berjalan menjadi biasa.
Namun berubah menjadi rasa yang luar biasa bila sapaan tak kunjung ada.

Dua buah buku bacaan menjadi korban alibi kopi darat pertama.
Karena menu hobi di Friendster sama-sama dituliskan "gemar membaca".
Tukar baca bukulah yang sukses menjadi senjata utamanya.

Tukar buku sukses digelar, lalu buka puasa bersama menjadi alat berikutnya yang disambar.

Sejak saat itu persahabatan terus terjalin dengan satu mimpi indah bersama, yakni menyimpan buku yang kita saling tukar, di satu lemari yang sama, dan lemari itu ada di dalam kamar yang sama. Kamar kita.

Persahabatan berjalan tidak lepas dari kehadiran kerikil di sepanjang tapakan. Hingga kini, berbagai warna gelap dan terang terus berganti untuk rona keindahan.

Dia selalu ada untuk saya.
Kapanpun dan dimana pun.

Seorang penyabar yang tidak ada tandingannya.

Seorang penahan rasa yang tidak ada lawannya.

Seorang pengalah yang selalu berkorban untuk saya.

Seorang pecinta olahraga yang rela walk out demi saya.

Seorang pimpinan kerja yang selalu hebat membagi waktunya antara pekerjaan dengan saya.

Seorang putra dari ayah ibunya yang telah hebat melahirkan, membesarkan dan memberinya pendidikan.

Seorang penerima atas segala perkataan saya.

Seorang teman yang selalu menyediakan telinga untuk mendengarkan berbagai cerita tidak penting dari saya.

Seorang ayah yang sangat sayang pada anak-anaknya.

Seorang ayah yang tidak pernah lupa mencium kening anak-anaknya sebelum mereka terlelap.

Seorang ayah yang selalu bahagia mengambilkan minum untuk saya.

Seorang dokter pribadi yang tidak pernah lupa mengingatkan saya untuk minum vitamin setiap harinya.

Seorang praktisi elektro yang kini menjadi penasehat spiritual saya.

Seorang suami hebat yang selalu menyediakan bahunya untuk saya.

Seorang imam istimewa yang tidak pernah lupa mengajak kami sholat berjamaah.

Seorang suami yang tidak ada bandingnya bagi ketidakrelaannya melihat saya kini, berlelah-lelah setiap hari.

Seorang laki-laki penyabar yang senantiasa tersenyum dalam ketidaksetujuannya atas keputusan saya.

Seorang suami tanpa kata-kata namun anggukan dan senyumnya adalah arti untuk ridho bagi semua aktivitas saya.

Seorang suami yang tidak bisa lagi saya ceritakan, karena saya terlalu bahagia telah ada di sampingnya.

Karena dia, adalah malaikat yang tampak nyata di depan mata saya.

(dnu, ditulis di bis dalam perjalanan acara kantor, 18 Juni 2014, 16.20)