Monday, January 12, 2015

Biarkan Yang Maha Adil Sang Pelukis Alam Memainkan Kuasnya

Hidup dan kehidupan tak pernah ada yang mulus meluncur tanpa luka. Manisnya suka cita akan terasa lebih indah jika diberi bumbu air mata.

Amarah, kecewa, duka lara dan sejenisnya memberi keseimbangan yang luar biasa dalam kehidupan umat manusia. Dari kejadian yang tidak menyenangkan itu justru banyak pelajaran yang bisa dipetik, lalu dijadikan alas bagi pembelajaran episode hidup di esok hari.

Kesuksesan yang diraih seseorang, ataupun kebahagiaan tak terkira yang dinikmati oleh seseorang bukanlah sejurus air terjun yang datang tanpa syarat dari tebing yang tinggi. Jangan salah, semua pakai air mata.

Air mata dalam perjuangan, air mata penuh pengorbanan, air mata keikhlasan, hingga air mata dalam senyuman saat bahagia hadir setelah kesusahan yang bertubi-tubi.

Di dunia ini tidak ada yang abadi. Begitu juga dengan rasa sakit yang terjadi, tidak permanen dan tidak paten. Semua pasti ada akhirnya.

Maka, biarkan Yang Maha Adil Sang Pelukis Alam memainkan kuasnya. Dan kita sebagai makhluk ciptaanNya hanya bertugas mengikuti skenario yang telah disusunNya.

Melakonkan peran dengan sebaik mungkin, ikhtiar setinggi-tingginya, dibalut keikhlasan dalam setiap langkah menuju hasil yang sudah ditentukan.

Jangan sedih berkepanjangan.
Jangan senang berlebihan.
Karena semua telah ada yang menggariskan :)

(dnu, ditulis sambil macet dan deg-degan telat masuk kantor, 25 Agustus 2014, 07.40)