Monday, January 12, 2015

Entah Pemimpin Macam Apa yang Tepat Berdiri di Indonesia Tercinta

Jokowi dicaci, Ahok dimaki.

Menteri Susi kontroversi, serta Mbak Airin Rachmi Diani masih saja dibuat dengki.

Rasanya selalu saja ada yang kurang tepat siapapun dia yang menjadi pemimpin di negeri kepulauan ini. Apakah kita semua lupa bahwa setiap manusia dilahirkan selalu dengan pembawaan positif namun tetap diimbangi dengan sisi negatif lainnya. Dan apakah kita lupa bahwa apa sih di dunia ini yang sempurna? Tidak ada bukan?

Demikian juga halnya dengan Pak Presiden Joko Widodo. Beliau seorang pelaku blusukan yang amat baik, pengatur tata kota yang luar biasa tetap saja memiliki kekurangan yang telah beliau seimbangkan dengan Pak Jusuf Kalla yang kini menjadi wakilnya. Kebijakan menaikkan harga BBM yang kini menuai protes disana sini adalah bukan harga mati kita bisa menilai Pak Jokowi sebagai pribadi yang tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat. Keputusan terbut tentu sudah melalui pertimbangan berbagai hal yang jelas saja tidak bisa dibuka ke seluruh rakyat Indonesia.

Pengamatan yang cukup dangkal mungkin hanya sampai pada "bbm naik dalam kondisi harga minyak dunia turun". Bagaimana dengan perhitungan, penelitian dan sekali lagi pertimbangan yang sudah dilakukan oleh Pak Presiden dan tim, apakah individu yang memprotes telah memikirkan hal-hal tersebut? Belum tentu. Mereka hanya tahu harga bbm naik dan ini berarti Pak Jokowi tidak pro rakyat. Titik. Dan bagi saya ini adalah pemikiran yang dangkal.

Memutuskan hingga melahirkan satu kebijakan baru yang skalanya adalah negara pasti tidak main-main. Bersiaplah siapapun yang menjadi Presiden Indonesia akan didemo habis-habisan jika kebijakan yang dibuatnya ketahuan tanpa perhitungan.

Pak Presiden Jokowi adalah figur sederhana yang berangkat dari keluarga sederhana dan yang pasti beliau tahu persis bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak punya banyak uang. Menurut saya, Pak Jokowi telah cukup berupaya menyeimbangkan kebijakan menaikkan harga BBM dengan penggelontoran tiga kartu saktinya yang telah keluar lebih dulu. Ini artinya apa? Pak Presiden dan timnya tidak ingin rakyat Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan terkena dampak langsung atas kebijakannya itu. Pak Jokowi telah memikirkan hal itu.

Beliau tidak sedang semata-mata ingin menindas rakyatnya, sedang jumawa menjadi RI 1 atau sedang berada diatas angin sehingga bebas melakukan apapun. Berfikirlah positif agar kita pun menjadi pribadi yang positif.

Bagaimana dengan kaum yang kehidupannya sudah diatas standar? Masih mengeluuuuhh karena BBM naik? Guys, motor kebeli, mobil kebeli, rokok kebeli, so masih galau dengan naiknya harga BBM? Bukankah ketika kita memutuskan akan membeli kendaraan bermotor kita telah mempersiapkan diri pula untuk segala efek sampingnya yang akan terjadi di kemudian hari? Termasuk telah siap harga BBM naik kapan pun juga.

Apakah para pembaca yang budiman sepakat dengan saya bahwa telah tanpa sadar kita selalu mencaci siapapun yang menjadi pemimpin kita? Bapak A, ada salahnya. Bapak B, ada kekurangannya. Ibu C, ada negatifnya. Lalu siapa yang bisa dengan lapang dada kita terima kepemimpinannya?? Lupakah bahwa dengan pernyataan bahwa sebaik apapun kamu maka akan tetap saja ada yang benci padamu?
Nah, kalau seperti ini rasanya tidak elok ya negeri yang katanya menjunjung tinggi gotong royong dan penduduknya ramah-ramah ini selalu saja melihat sisi negatif dari seseorang dan melampiaskan tanpa beban. Jelas, kita seharusnya terbeban dengan apa yang kita sampaikan, karena itu adalah sebuah pertanggungjawaban.

Jika satu, dua, tiga dan seterusnya setiap rakyat Indonesia bisa menahan gemuruh di hatinya, atas ketidaksukaan, ketidakcocokan dan ketidakcintaan pada orang lain, alangkah Indonesia ini adalah benar-benar negeri yang menyenangkan.

Bukan tidak boleh disampaikan ketidaksukaan kita itu, tapi pilihlah cara yang paling tepat untuk menyalurkannya. Pikirkan bagaimana cara kita menyampaikannya. Apakah telah melalui jalur yang benar, ungkapan yang tepat dan pelampiasan yang baik?

Mengkritik boleh saja, bahkan pemimpin-pemimpin kita pun sangat terbuka dengan segala kritik dan saran dari rakyatnya. Tapi sampaikanlah dengan penuh semangat untuk membangun, bukan menghancurkan.

Menginginkan sosok pemimpin yang seperti apa sih sebenarnya? Yang bisa mengayomi rakyat? Sayang rakyat? Mengerti semua kebutuhan rakyat? Cinta damai? Seneng blusukan? Pinter? Wawasan internasionalnya baik? Interpersonal skill-nya diatas rata-rata? Bahasa Inggrisnya oke? Berwibawa? Atau apa lagi? Sesungguhnya semua itu klise dan tak berguna jika kita sebagai rakyatnya tidak turut andil untuk mengendalikan diri sendiri.

Kita mengharapkan pemimpin yang terbaik? Apakah kita sudah membentuk diri kita juga sebagai rakyat yang baik?

Jangan mau hanya dilayani terus. Ingat, kita juga punya kewajiban untuk memajukan negeri ini. Jangan bilang membereskan masalah banjir adalah tugasnya Ahok seorang. Ingat, ada tanggung jawab kita juga untuk menjaga lingkungan agar tidak berpotensi banjir.

Jangan hanya mencibir Menteri Susi karena tatto-nya, tapi ngat masih banyak sisi positif lainnya dari Bu Susi yang bisa kita contoh. Kalaupun banyak hal lainnya yang tidak sepaham dengan kita, atau bagi kita itu adalah hal negatif yang tidak sejalan dengan kita, jawabannya cuma satu, yaitu jangan ditiru. Ambil positifnya, buang negatifnya. Make it simple!

Jangan bikin hal-hal yang kurang penting dijadikan bahan dasar untuk memasak perseteruan. Jangan berbahagia jika ada api kecil lalu kita ikut meniup agar terus menjadi besar.

Apapun di dunia ini pasti ada sisi positif dan negatifnya. Sama seperti kita, selain merasa punya kelebihan, tapi kita juga punya kekurangankan?? Dan kita selalu ingin dipahami atas segala kekurangan kita kann?? Sama dong dengan Pak Presiden Jokowi, Pak Gubernur Ahok, Bu Menteri Susi ataupun siapa saja yang tidak saya sebutkan disini :)

Setelah melihat orang lain, maka bersegeralah untuk melihat diri kita sendiri :)

(dnu, ditulis sampe batre BB habis, 20 November 2014, 12.20)