Friday, January 16, 2015

Macet Ini Menyiksaku

Tidak lagi mengenal hari libur atau hari kerja. Tetap saja terjadi.

Bisa diselesaikan apa tidak ya sebenarnya?
Masih bisa kah diurai?
Apa yang salah dari semua ini?
Kendaraan terlalu banyak?
Tata kota yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan zaman?
Orang yang terlalu sibuk?

Atau kehidupan di kota ini memang sudah terlalu luar biasa dengan segala isinya?

Karena sebuah kemacetan, orang bisa mudah sekali berubah. Yang tadinya sabar menjadi mudah emosi. Yang tadinya pendiam mendadak mudah berkeluh kesah. Yang tadinya tenang bisa berubah jadi gelisah. Bahkan yang tadinya cantik bisa seketika berubah jadi kurang cantik karena lelah.

Mungkin rasa cemas atau khawatir di tengah kemacetan menjadi penyumbang paling besar dalam kelelahan seseorang.

Penyebab kelelahan fisik selain karena lelah duduk berjam-jam atau bahkan berdiri di bis kota untuk waktu yang lama, juga didukung oleh kecemasan mental yang berlebih.

Menahan rasa lelah, emosi, ingin marah, mengumpat, bolak balik liat jam, utak atik smartphone sampai bosan, memandang jalanan bikin sebel, bbm-an sampai ngobrol ngalor ngidul…

Hal-hal inilah yang membuat tubuh bisa terasa amat sangat lelah. Walaupun kenyataannya kita hanya duduk saja di dalam bis kota. Namun bagi yang berdiri, bisa dibayangkan berapa kali lipatnya kelelahan itu.

Cari jalur alternatif kadang susah juga, karena hampir di setiap ruas jalan mengalami hal yang sama, yaitu macet yang tiada tara.

Jalan toll? Sama aja. Bahkan bisa lebih parah macetnya dibandingkan dengan jalur biasa. Aneh ya! Jalan berbayar padahal.

Kemacetan telah menjadi sahabat paling erat bagi penduduk kota Jakarta. Pernah ada selorohan yang berbunyi “kalau ngga macet ya bukan Jakarta namanya”. Benarkah? Bisa jadi.

Atau selorohan lainnya yang berkata “kalau ingin menikmati Jakarta yang tanpa macet, datanglah saat liburan hari raya Idul Fitri. Dijamin jalanan kosong, karena semua penduduknya mudik ke kampung halaman.” Dan saat seperti ini ada lagi perumpamannya, yakni Jakarta sedang ditinggal para pecintanya.
Tapi coba sadarkan diri sesaat, apa yang terlontar saat tiba-tiba arus lalu lintas Jakarta lengang. Tidak sedikit dari kita yang bergumam “iiih tumben lho lancar… ngga maceett… kok bisa yaa…”
Kalau sedang baik begini keadaannya, lebih indah ya rasanya jika diungkapkan dengan “syukurlah lancar, semoga setiap hari ya!”.

Semoga jadi doa, dan Jakarta bisa lancar di setiap ruas jalannya. Dan kita sebagai pengguna jalannya tidak cemas dan lelah berlebihan lagi .

Enjoy Jakarta yuk!

(dnu, 14 Mei 2014, 07.38)