Monday, January 12, 2015

Menanti Pagi Di Kintamani

Menjadi seorang relawan yang faktanya sesuai dengan arti harfiahnya memang tidak mudah. Hal ini hanya bisa tumbuh dari hati yang telah memiliki dorongan kuat untuk berevolusi menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Bisa jadi hal ini merupakan mimpi terbesar bagi sebagian orang, berdiri seutuhnya dengan seluruh jiwa raga yang bermanfaat bagi sesama bahkan Nusa dan Bangsa.

Pekan ke empat Agustus 2014 saya diberi anugerah terindah lainnya oleh Tuhan untuk dapat menjadi bagian dari mimpi orang-orang tersebut. Ya, dengan sangat mengejutkan saya diterima menjadi Relawan Pendidikan untuk anak-anak Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang tinggal di Desa Kintamani, Bali.

Cerita berawal dari gemuruh di hati yang terus menggeretak dan mendorong saya untuk bisa menjadi manusia dengan peran yang lain, yakni dalam lakon yang berbeda tanpa singgungan materi dari manusia lainnya yang berfungsi sebagai hadiah utama. Tapi menjadi manusia yang mampu berbuat untuk sesama dengan hanya bermodal ketulusan dan mengharap limpahan kasih sayang dari Tuhan Yang Maha Esa.

Ya, saya sangat bermimpi untuk bisa menjadi pengajar lepas bagi anak-anak kurang mampu, anak jalanan maupun anak-anak lainnya yang membutuhkan tambahan pengetahuan dan wawasan.

Tidak pernah berfikir panjang, langsung saja setiap ada waktu saya selalu mencari informasi organisasi apa yang sedang membutuhkan tambahan relawan untuk mengajar. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya saya menemukan organisasi besar ini. Kelas Inspirasi, yang merupakan organisasi pengelola relawan pendidikan yang dikhususkan bagi karyawan atau pegawai yang ingin menyalurkan passion mengajarnya. Sehingga waktu berbagi ilmu pun cukup hanya satu hari saja. Masih merupakan saudara dekatnya organisasi Indonesia Mengajar, namun kelompok ini mencari relawan untuk berbagi ilmu dalam waktu hitungan bulan.

Singkat cerita, saya nekat mendaftarkan diri. Beberapa bulan kemudian saat sedang asyiknya bermain dengan buah hati di rumah, dering notifikasi email terdengar dari ponsel pintar yang kini sudah agak berkurang kepintarannya. Mungkin efek penggunaan yang berlebihan. Email dibuka lalu dibaca dengan seksama, dan ternyata pesan tersebut berasal dari panitia seleksi Kelas Inspirasi yang menginformasikan bahwa saya lolos seleksi dan berhak menjadi relawan pendidikan untuk anak-anak sebuah SD Negeri di Kintamani, Bali.

Senang, riang, gembira tak terhingga, tidak percaya, tidak yakin dan rasa takut terus bercampur jadi satu yang pada akhirnya membentuk ucapan selamat dari dalam diri sendiri untuk diri sendiri pula. Ya, membaca nama pribadi ada dalam deretan relawan pendidikan Indonesia memang membuat dunia serasa berputar lebih kencang mengikuti degup jantung yang kian cepat. Rasa senang ini tidak hilang dalam hitungan hari.

Semangat makin menjadi-jadi, membayangkan apa yang akan terjadi di Kintamani nanti, hingga memeluk erat satu persatu anak-anak baik nan lucu di SDN Serai Kintamani menjadi mimpi aneh tersendiri yang sangat saya junjung tinggi.

Tidak pernah terbayang akan berada di Pulau Bali dan berwisata disana, karena jelas Kota Bukittinggi di Sumatera Barat masih menjadi idola terkuat saya sampai saat ini. Terlalu besar rasa bahagia ini hingga yang terfikirkan sepanjang hari hanyalah ingin segera terbang kesana dan menemui anak-anak lucu yang akan memanggil saya Kak Dewi.

Sebagian orang mengatakan Kintamani adalah salah satu titik terindah di Pulau Dewata. Tapi bagi saya tetap lebih indah rasanya saat membuka email, membacanya dan menemukan nama sendiri berada dalam deretan relawan pendidikan Indonesia, yang saya kira selama ini hanya akan menjadi mimpi indah di siang bolong saja. Dan sejak saat itu tak bisa dipungkiri saya memang selalu harap-harap cemas untuk cepat-cepat sampai di Hari Inspirasi dan mengajar dengan senyuman yang tanpa henti.

Bangun tidur, mandi, berpakaian dan bergegas pergi menuju SDN Serai Kintamani. Sungguh tak ada rasa yang lebih mempesona selain menikmati degup jantung yang turut memberikan irama untuk saya kala menanti pagi di Kintamani.

(dnu, ditulis di ngurah rai after berbagi inspirasi, 28 Agustus 2014, 17.00)