Saturday, January 10, 2015

Rindu Masa Lalu?

Apakah menyesal menjadi dewasa? Menyesal telah tumbuh dan berkembang? Sehingga kini amat kuat rasa ingin kembali ke masa lalu, dimana masalah yang paling berat pada masa itu hanyalah sebuah PR Matematika.

Ungkapan sederhana namun sangat terlihat pernyataan ini keluar dari hati orang yang mengucapkannya. Betapa indah masa kecil dan betapa buruknya masa kini saat telah menjadi dewasa. Yang mana bertubi-tubi masalah datang silih berganti tanpa mengenal waktu, dan kesiapan sang individu.

Saat bangun di pagi hari... Yang ada di otak hanya bersiap untuk mandi lalu pergi ke sekolah. Saat pulang sekolah hanya memikirkan akan main apa hari ini, layang-layang atau memilih untuk tidur siang.
Menjelang sore hari Ibu mulai memekikkan suara yang meminta kita untuk mandi dengan segera. Dan usai mandi kita amat bahagia untuk memilih baju yang terbaik dan terindah...

Saat malam hari Ayah meminta kita untuk belajar atau mengerjakan PR, dan disitulah mungkin masalah yang amat besar tengah menyapa, yakni hadirnya sebuah PR Matematika... yang harus selesai malam ini, karena harus dikumpulkan esok hari, karena hukuman pegang kuping sambil berdiri telah menanti apabila PR Matematika tak jua kita penuhi.

Setelah dewasa tentunya hidup menjadi lebih berwarna, masalah yang hadirpun tak cuma sekelas matematika...

Lebih rumit dari soal matematika dicampur rumus fisika yang berbahasa Inggris dan harus ditulis dalam bentuk stenografi, namun tentu membuat hidup kita lebih hidup.

Siapa yang rindu dengan masa lalu, mungkin adalah ciri pribadi penyerah yang amat mengenal kata lelah.

Janganlah demikian, kenanglah masa lalu, hadapi masa kini dan sambutlah masa depan dengan kualitas hidup yang lebih berarti.

Kini setelah menjadi dewasa... Apakah kamu mau dikasih PR Matematika lagi?

(dnu, ditulis sambil candle light lunch nasi bungkus karet dua, 6 Desember 2014, 12.40)