Friday, January 16, 2015

Si Betawi Keturunan Jawa yang Kagum Berat pada Budaya Minang

Saya perempuan kelahiran Jakarta, dari rahim seorang Ibu yang asli Jawa Tengah persisnya Purwokerto. Bapak juga asli Jawa yakni Banyumas. So, kurang kental apa darah saya dengan suasana kota yang terkenal dengan alat musik gamelannya ini?

Saya sudah menikah, dan berjodoh dengan laki-laki yang darah Jawanya tidak bisa diragukan lagi. Laki-laki kebanggaan saya ini juga lahir dari rahim seorang Ibu berdarah Jawa Timur dan Ayah mertua pun demikian, Jawa Timur pula. Walaupun ayah dari anak-anak saya ini lahir di Klungkung, Bali, tetapi ia menghabiskan masa sekolahnya di provinsi Jawa Timur.

Lengkap sudah lingkungan hidup saya yang benar-benar berisi orang Jawa semua hehe.. Bahasa pengantar di rumah pun kadang masih menggunakan bahasa Jawa. Saya pasif disini, artinya jika mendengar saya mengerti apa maksudnya, tetapi jika diminta berbicara/menjawab dengan bahasa yang sama, oh saya minta maaf, tidak bisa hehe...

Demikian halnya persis saya lakukan pula saat berada di kampung halaman suami, yang kini keluarga besarnya bermukim di kota Malang setelah sebelumnya menetap di Surabaya. Hilir mudik semua orang yang saya temui santun berbahasa Jawa yang lembut, namun saya, hanya mendengar, senyam senyum dan menelan bulat-bulat apa yang mereka katakan. Lalu meluncurlah bahasa Indonesia sebagai senjata sakti saya untuk menjawabnya. Memang benar, Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Mereka bertanya dengan bahasa Jawa, saya menjawab dengan bahasa Indonesia tetapi tidak terjadi kesalahpahaman :)

Saya hidup dan besar di lingkungan suku Betawi, namun keluarga inti kehidupannya sangat kental dengan adat dan budaya Jawa. Tapi dibalik itu semua tidak bisa dipungkiri saya memiliki kekaguman yang amat sangat terhadap budaya Minang. Ya, budaya Padang, Sumatera Barat saya sangat menyukainya. Entah kenapa, mungkin inilah yang disebut dengan cinta tanpa syarat haha…

Kesenian asal Minangkabau sangat menarik perhatian saya sejak lama. Ketika masih duduk di bangku TK saya memilih untuk bergabung dalam kelompok tari Indang (Dindin Badindin), sementara teman-teman yang lain ada yang menari Kupu-kupu atau Mbok Jamu.

Selain itu kalau jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) saya paling senang berfoto di rumah adat Sumatera Barat. Menapaki tangga di rumah panggungnya, berjinjit di jendelanya yang tinggi, hingga menari-nari di tiang penyangga tengah rumah. Menyenangkan sekalii…..

Pernah juga dalam acara kantor yang kala itu mengangkat tema budaya Indonesia, saya mengusulkan untuk mengusung budaya Minang. Saya beserta rekan-rekan kerja antusias untuk mencari baju semirip mungkin dengan baju adat Minang lengkap dengan hiasan kepalanya.

Saya juga punya lagu favorit yang sampai sekarang kadang tanpa sadar saya senandungkan, yaitu lagu Kampuang Nan Jauh Dimato. Dulu lagu ini dinyanyikan kembali oleh Ciquita Meidy, jadi ceria sekali kedengarannya :)
Boleh dites, saya hafal lho lagunya haha…

Melalui suatu media sosial saya juga pernah memposting tulisan tentang kekaguman saya terhadap Tari Indang, dan ternyata banyak juga yang menyukainya.

Berjalan-jalan menyusuri Kelok Sembilan, berfoto dibawah Jam Gadang hingga menikmati masakan padang asli ditengah sapuan angin kota Padang menjadi salah satu mimpi pendek saya saat ini.

Mimpi besarnya ada lagi, saya ingin sekali bisa menenun Pandai Sikek, dan kain hasil tenunan saya itu digunakan oleh Ibu Negara dalam acara kenegaraan yang mengusung budaya Nusantara haha… semoga bukan mimpi di siang bolong ya :p


Gadis Pandai Sikek memang menjadi salah satu pusat perhatian saya atas budaya Minang ini. Nampaknya seorang gadis yang pandai menenun memiliki kepribadian yang amat sabar, santun dan lemah lembut. Mungkin inilah salah satu alasan pemerintah Negara Republik Indonesia menampilkan gambar seorang gadis Pandai Sikek pada uang kertas pecahan Rp 5.000,-. Berkat melihat keunikan latar belakang tenun Pandai Sikek dan tentunya si gadis itu sendiri.

Belum pernah ke Padang dan belum pernah melihat kebangkitan kota ini setelah dilanda gempa bumi beberapa waktu lalu. Namun saya beruntung ada unsur padang yang sangat dekat dengan saya saat ini selain rumah makan padang, yaitu saya memiliki saudara ipar dari sepupu saya yang asli Padang haha…

Keberuntungan lainnya ialah saya sudah pernah memakai topi adat padang, semoga tidak salah nama, yaitu Tengkuluk. Merupakan hiasan kepala perempuan yang berbentuk runcing dan bercabang. Maknanya ialah Limpapeh Rumah Nan Gadang di Minangkabau tidak boleh menjunjung beban yang berat.

Walaupun Cuma hiasan kepala tapi maknanya luar biasa smile emoticon Semoga saya bisa segera terbang ke Padang, dan setibanya disana langsung melenggok untuk Tari Indang diatas kelok Sembilan haha… :D


(dnu, 27 Mei 2014, 11.33)