Monday, January 12, 2015

Suamiku

Lelaki luar biasa yang saya temukan di dunia maya. Kurang lebih 9 tahun lalu cerita bermula.
Demam friendster yang saat itu semua muda mudi menggandrung.
Termasuk kami yang merasa, ini adalah ajang persahabatan yang tak terbendung.

Menjadi teman dengan awal mula undangan saya. Dalam rangka mencapai target gengsi dengan banyaknya teman indikasi sebagai pengguna friendster yang hebat.
Kenal maupun tidak, semua menjadi korban undangan. Termasuk laki-laki super sabar yang kini selalu ada di samping saya.

Pertemanan lambat laun berubah menjadi kiriman pesan rahasia di menu inbox.
Tegur sapa terencana telah berjalan menjadi biasa.
Namun berubah menjadi rasa yang luar biasa bila sapaan tak kunjung ada.

Dua buah buku bacaan menjadi korban alibi kopi darat pertama.
Karena menu hobi di Friendster sama-sama dituliskan "gemar membaca".
Tukar baca bukulah yang sukses menjadi senjata utamanya.

Tukar buku sukses digelar, lalu buka puasa bersama menjadi alat berikutnya yang disambar.

Sejak saat itu persahabatan terus terjalin dengan satu mimpi indah bersama, yakni menyimpan buku yang kita saling tukar, di satu lemari yang sama, dan lemari itu ada di dalam kamar yang sama. Kamar kita.

Persahabatan berjalan tidak lepas dari kehadiran kerikil di sepanjang tapakan. Hingga kini, berbagai warna gelap dan terang terus berganti untuk rona keindahan.

Dia selalu ada untuk saya.
Kapanpun dan dimana pun.

Seorang penyabar yang tidak ada tandingannya.

Seorang penahan rasa yang tidak ada lawannya.

Seorang pengalah yang selalu berkorban untuk saya.

Seorang pecinta olahraga yang rela walk out demi saya.

Seorang pimpinan kerja yang selalu hebat membagi waktunya antara pekerjaan dengan saya.

Seorang putra dari ayah ibunya yang telah hebat melahirkan, membesarkan dan memberinya pendidikan.

Seorang penerima atas segala perkataan saya.

Seorang teman yang selalu menyediakan telinga untuk mendengarkan berbagai cerita tidak penting dari saya.

Seorang ayah yang sangat sayang pada anak-anaknya.

Seorang ayah yang tidak pernah lupa mencium kening anak-anaknya sebelum mereka terlelap.

Seorang ayah yang selalu bahagia mengambilkan minum untuk saya.

Seorang dokter pribadi yang tidak pernah lupa mengingatkan saya untuk minum vitamin setiap harinya.

Seorang praktisi elektro yang kini menjadi penasehat spiritual saya.

Seorang suami hebat yang selalu menyediakan bahunya untuk saya.

Seorang imam istimewa yang tidak pernah lupa mengajak kami sholat berjamaah.

Seorang suami yang tidak ada bandingnya bagi ketidakrelaannya melihat saya kini, berlelah-lelah setiap hari.

Seorang laki-laki penyabar yang senantiasa tersenyum dalam ketidaksetujuannya atas keputusan saya.

Seorang suami tanpa kata-kata namun anggukan dan senyumnya adalah arti untuk ridho bagi semua aktivitas saya.

Seorang suami yang tidak bisa lagi saya ceritakan, karena saya terlalu bahagia telah ada di sampingnya.

Karena dia, adalah malaikat yang tampak nyata di depan mata saya.

(dnu, ditulis di bis dalam perjalanan acara kantor, 18 Juni 2014, 16.20)