Saturday, January 10, 2015

Tak Mudah untuk Menjadi yang Terindah

Menjadi Teman Terbaik Itu Tidak Mudah, Karena Memahami Perasaan Orang Lain Juga Tidak Mudah...

Termasuk juga memahami perasaan anak yang notabene adalah darah daging kita sendiri.
Setiap Ibu pasti pernah berkata, baik secara harfiah maupun hanya batiniah tentang "saya ibu dari anak saya, maka sayalah yang paling mengerti perasaannya dan paling tau apa yang bisa membuatnya bahagia..."

Pembaca setia yang baik hatinya, pernyataan diatas terkesan seperti seorang ibu adalah sosok yang paling mengerti tentang keadaan anaknya dan paling paham bagaimana cara menyembuhkan segala bentuk lukanya.

Saya setuju jika dikatakan demikian, tapi tidak 100%. Ada hal lain yang perlu ditanyakan, "apakah benar demikian adanya? "Mampukah kita menyelami pikiran orang lain? Anak sekalipun? Apakah kita tahu persis apa yang bisa dengan benar-benar membuat anak kita bahagia? Belum tentu.

Pun ibu, perempuan yang mengandung dan melahirkannya ke dunia, menurut saya, tetap ada celah ketidaktahuan untuk memahami perasaan seorang anak.

Semua orang tua tidak hanya Ibu jelas ingin menjadi teman terbaik untuk anaknya. Terlebih lagi seorang ibu terhadap anak perempuannya, yang dirasa inilah teman saya, seorang teman yang sesungguhnya. Bisa diajak belanja bersama, ke salon bersama, ibadah bersama atau bahkan olahraga bersama.
Saling bercerita tentang makanan ataupun aksesoris kesukaan.

Ibu sangat paham makanan apa yang paling tidak disuka anaknya, pakaian jenis apa yang menjadi soul anaknya, tetapi apakah kita juga bisa tahu persis apa yang sedang dirasa oleh anak kita saat itu juga? Belum tentu.

Memang yang terbaik adalah sang ibu memposisikan diri sebagai teman terbaik bagi sang putri/putra. Tapi jangan pernah lupa, tata diri sebaik mungkin agar metode pertemanannya bisa terjalin dengan baik dan saling nyaman.

Jangan sok tahu tentang urusan jalan keluar atas suatu masalah sang anak. Atau bahkan jangan sekali-sekali mengambil keputusan secara veto atas apa yang harus dilakukan seorang anak.

Menjadi teman terbaik itu tidak mudah, karena memahami perasaan anak juga tidak mudah.

Posisikan diri pada tempatnya. Seorang ibu yang benar telah melahirkannya tapi berikan anak kebebasan untuk menyampaikan pendapat dan angan-angannya. Tunjukkan empati yang bukan pura-pura, serta tetap posisikan diri sebagai wadah tempatnya berkeluh kesah.

Jangan pernah sekali-kali memposisikan diri sebagai hakim agung yang terlalu semangat dalam mengambil jalan keluar. Atau malah menjadi malaikat pencabut nyawa yang datang tiba-tiba dan menyelesaikan segalanya.

Anak kita butuh ditemani, bukan dihakimi.
Anak kita butuh dipahami, bukan disalahi.
Anak kita butuh pelukan, bukan keputusan.
Anak kita butuh senyuman, bukan sindiran.

Karena anak kita adalah kita, sebagaimana makhluk yang sama-sama tak bisa dihakimi begitu saja.
Karena jalan keluar dari suatu masalah adalah bukan amarah.

Karena anak cantik akan tetap menjadi cantik bila dikasihi dengan penuh empati yang tanpa tanda titik.
Dan anak tampan akan tetap menjadi tampan bila dibimbing dengan penuh kasih dan pendampingan.
Mendampingi bukan berarti menghakimi.

(dnu, ditulis dikeramaian pameran alat tempur TNI AD, 13 Desember 2014, 14.19)