Monday, January 12, 2015

Untuk Para Pembenci Jokowi

Selasa (21/10) adalah hari ke dua Bangsa Indonesia memiliki Presiden baru yang ke 7, yakni Bapak Ir. H. Joko Widodo. Beliau telah dilantik dengan rangkaian acara serah terima jabatan, syukuran, hingga pesta rakyat yang digelar begitu meriah.

Entah ada berapa banyak jiwa manusia yang tumpah ruah jadi satu di arena perhelatan akbar Jokowi dan Jusuf Kalla (JK) itu. Makan gratis, hingga parade andong menjadi hiburan yang menarik bagi masyarakat yang tidak hanya berasal dari kota Jakarta.

Percaya atau tidak, dibalik kemeriahan singgasana kemenangan Jokowi – JK, masih ada saja segelintir bahkan sekumpulan manusia yang amat sangat membencinya. Ada saja caci maki yang ditujukan kepada pasangan terpilih ini dan terus keluar dari mulut atau bahkan tulisannya, lalu disebarluaskan melalui berbagai macam jenis jejaring sosial.

Mulai dari kemenangan mutlak yang diraih Jokowi – JK, hingga penghitungan KPU, lalu pelantikan presiden, tak hentinya ungkapan kebencian terus mengalir dari hari ke hari. Mulai dari mengedarkan foto-foto atas ketidak seimbangan jokowi yang menggelar pesta rakyat, aksi jokowi yang sedang memegang sebilah kayu dan lain-lain, kerap saja dijadikan bahan candaan dan olok-olokan yang ampuh memakan diri si penyebar foto itu sendiri.

Mengapa saya katakan demikian? Jelas saja, karena apa yang mereka edarkan, dan bagaimana caranya mengedarkan adalah menunjukkan seberapa positif kredibiltas dirinya.

Suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok, feeling atau tidak feeling, mau atau tidak mau, dia orang baik atau bukan, adalah pemikiran dan perasaan yang amat wajar yang dimiliki oleh setiap manusia. Perbedaan itu pasti ada, dan ketidakcocokan itu pasti terjadi. Tapi yang bisa kita lakukan adalah bukan saling membenci, tetapi kita harus saling melengkapi.

Kalau nanti di masa pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden periode 2014 – 2019 ada yang menurut kita tidak tepat, kritisilah melalui jalur yang semestinya. Bukan dengan cara menghadangnya dari awal, lalu sekuat tenaga membentuk citra negatif, dan menghujat habis-habisan orang yang sudah jelas-jelas meraih kemenangan.

Tidak suka terhadap pribadi Jokowi? Benci Jokowi? Tidak cocok dengan pola pikirnya Jokowi? Tidak rela Jokowi jadi Presiden? Mau menjatuhkan Jokowi?

Sadarlah….. sekarang Anda ada dimana? Masih ada di Indonesia toh? Masih tinggal di Indonesia? Masih jadi Warga Negara Indonesia? Masih cari makan di Indonesia? Masih memanfaatkan seluruh kekayaan bumi Indonesia? Masih berlindung di kolong jembatan Indonesia dari sambaran petir saat hujan toh? Masih mandi pakai gayung buatan Indonesia kan?

Kalau semua itu jawabannya adalah “iya”. Malu!

Malulah kita kalau hingga hari ini masih saja menghujat Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla. Malulah kita kalau masih menghina presiden sendiri! Sudah siap pindah ke negera lain karena tidak cocok dengan presiden Indonesia? Jika iya, lakukanlah!

Bagaimana jika belum siap? Berhenti menghujat Presiden RI 2014-2019. Karena dengan demikian Anda juga berarti sudah berhenti mempermalukan diri Anda sendiri.

Sedikit ungkapan tak berarti ini semoga dapat membuka mata hati seluruh pembenci Jokowi :
Jika kamu tidak dapat mencintai, minimal kamu tidak membenci.

Biarkan rasa hambar nan tawar terus berada dalam dirimu, dan tak perlu kamu keluarkan dalam bentuk caci maki hingga hujatan.

Tidak perlu juga kamu menunjukkan kepada dunia tentang bagaimana kejelekan yang dimiliki seseorang. Karena bangkai yang tertutup rapi, lama-lama akan tercium juga.

Jadi, rasanya tidak perlu lagi Anda sebarkan kebencian Anda melalui bentuk apapun, karena tindakan ini akan menentukan nilai pribadi diri Anda sendiri. Bagaimana kepribadianmu tercermin dari apa yang kamu lakukan.

Untuk semua pembenci Pak Jokowi, sekarang yang bisa dilakukan ialah berdoa, semoga Pak Jokowi – JK dapat menjadi pemimpin yang baik tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia.

(dnu, saat pemilu ngga milih Jokowi, ditulis sambil membayangkan makan rujak, 21 Oktober 2014, 10.24)