Saturday, February 28, 2015

Bukan Karena Pemuda Minang

Cinta yang sesungguhnya katanya terjadi dengan tanpa syarat. Kalau masih ada "karena"-nya itu katanya bukan yang sesungguhnya :p


Sama halnya dengan betapa menggebunya saya untuk mendalami segala hal tentang minang, betapa cintanya saya sama budaya ranah minang dan betapa tutup matanya saya dengan perasaan suka ini yang kata orang tergolong aneh.

Bagaimana tidak, karena hampir tak ada unsur minang apapun dari dalam diri saya hingga saya begitu cinta pada bumi Sumatera Barat ini.

Ada yang mengira karena saya keturunan urang awak, ada yang menyangka orang tua saya suku Padang, juga ada yang menebak suami saya adalah orang Padang. Tapi yang paling aneh cuma satu, ada yang mengira saya pernah jatuh cinta sama pemuda Minang namun tidak kesampaian, maka jadilah kota Si Malin Kundang itu sangat saya cintai ahahaha...

Semua alasan diatas tidak ada yang benar. Karena saya sendiri pun tak bisa menceritakan secara gamblang apa alasan sesungguhnya mengapa Minang amat menarik perhatian saya.

Memang sangat banyak hal yang berhasil menarik seluruh hati dan jiwa saya hingga luluh lantak klepek-klepek pada budaya Minang itu :p


Saya memang sangat bermimpi difoto pakai sunting emas sambil selfie kelihatan gigi haha... Tapi tidak berani karena takut salah kaprah. Ada yang bilang sunting adalah peralatan sakral dan khusus digunakan hanya untuk pernikahan.

Lalu ada juga yang mengatakan bahwa sunting itu amat berat, maka jika ingin memakainya ada ritual tertentu yang harus dilakukan yakni memberikan upeti kepada yang membutuhkan. Hal ini bertujuan agar ketika dipakai tidak terlalu berat di kepala.

Perihal garis keturunan Minang yang ditarik dari Ibu pun menjadi salah satu hal keren yang saya kagumi. Selain itu lagu-lagunya juga selalu mengajak saya menari kala mendengarnya hahaha....

Pernah saya terlupa hingga mengabaikan Pak Polisi dan mobilnya yang berada disamping mobil saya, saat saya asyik mengendarai mobil sambil mendengarkan lagu minang huahahahaha...

Sirine Pak Polisi amat jelas saya dengar, tapi entah kenapa hati, jiwa, pikiran dan tangan yang memegang kemudi tak jua meminggirkan kendaraan karena beliau sedang mengawal perjalanan deretan orang-orang penting.

Hingga akhirnya Pak Polisi turun dari mobilnya dan berhenti didepan mobil saya lalu meminta saya berhentik sejenak karena pengawalan harus segera lewat :p Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya Pak ^^

Hahaha... Inilah kenyataanya, alunan musik mendayu Ranah Minang memang telah mengusik otak saya hingga nyaris tak peduli dengan apa yang ada disekitar :p

Kesimpulannya, kalau ditanya kenapa sih suka banget sama Padang?? Jawabannya hanya satu "Entah ya, mungkin inilah yang disebut dengan cinta tanpa syarat :p "

(dnu, ditulis di bengkel sambil nungguin service mobil, 28 Februari 2015, 09.50)

Jadi Ukhti Secantik Barbie

Kadang wanita cantik itu diibaratkan dengan sebuah boneka Barbie. Bertubuh langsing dengan lekukan ideal, tinggi semampai, putih, rambut panjang bergelombang, mata indah berbinar, bulu mata lentik menarik hingga pipi merah merona yang tak tirus dan tak chubby, melainkan sedang sedang saja.

Ukhti cantik calon Bidadari Surga, cantik itu persepsi dan cantik lahiriah itu tidak dibawa mati.

Cantikkan dirimu dengan segala amalan baikmu.

Setuju ya kalau dikatakan tubuh yang langsing dengan lekukan ideal akan lebih anggun kalau ditutup dengan gamis atau pakaian seorang muslimah.

Tinggi tak harus semampai, walaupun semeter tak sampai tapi kalau ibadahnya rajin dan amalan sholehahnya terus dilakukan, tentu Allah SWT lebih suka dengan yang ini.

Simpan kulit putihmu dibalik balutan baju kebesaran dan jilbab longgarmu.

Rambut panjang bergelombang, simpan didalam khimar indahmu. Maka gelombang keindahan akan tetap terpancar dari dalam.

Mata indah berbinar hendaknya ditundukkan dari pandangan. Hanya menatap masa depan dimana kematian telah semakin mendekat.

Bulu mata lentik menarik hingga pipi merah merona yg tirus tak chubby, akan jadi lebih indah jika diiringi sikap muliamu.

Memang tak mudah menjadi muslimah yang mulia, namun kita bisa sama-sama memulainya untuk maju selangkah demi selangkah untuk keindahan diri di akhirat nanti.

(dnu, ditulis sambil gamang banyak PR kerjaan yang menunggu dituntaskan, 25 Februari 2015, 12.50)

Sunday, February 22, 2015

Ada Cinta Di Jogja

Ceritanya ada teman yang curhat ke saya, pernah punya pacar di kota kelahirannya, Yogyakarta. Tapi keadaan memaksa mereka harus berpisah. Tapi si teman saya ini masih belum ikhlas ngelepas semuanya. Saya sebagai pendengar ceritanya ikutan sedih, kebayang gimana rasanya harus pisah secara lahir tapi bathin belum bisa.

Jadilah ini tulisan muncul bagai air beberapa saat setelah curhatannya selesai...

Diangkat dari kisah nyata...

Ada Cinta Di Jogja

Jogja, kota sejuta kenangan, sejuta cinta, sejuta cerita bahkan sejuta masa lalu. Tak banyak yang bisa ku ungkungkapkan tentang kota budaya nan elok itu, karena terlalu dalam kisah yang ku pendam hingga sulit untuk ku tuangkan dalam kata-kata. Kamu bisa melihatnya dari tatapan mataku, senyumku dan terawang indah mataku.

Jogja, entah kapan aku kan kembali pulang kesana. Antara bahagia, berharap cemas, bercampur dengan rasa takut yang amat sangat. Aku takut semua cerita kembali menari-nari dengan indahnya di pelipisku, aku takut semua kenangan yang sesungguhnya ingin kukubur kembali datang dan menghantui langkahku. Walau dalam hati kecilku, sangat ingin ku dapat kembali berlari, berputar dan menari disana, di Jogja itu.

Kini semuanya telah berubah, diriku, juga dirinya. Tetapi tidak dengan Jogja ku, yang juga merupakan jogjanya. Karena bumi keraton ini adalah Jogja kami.

Tapi dibalik itu semua sesungguhnya hingga kini ku masih terperanjat, ku masih tak percaya, seketika aku harus berpisah dengan Jogja ku, dengan semua kisahku, dan tentunya dengan orang terkasih ku. Dalam hitungan waktu yang cukup lama kujalin semuanya, cerita indah yang ku kira tak akan pernah ada akhirnya. Tapi apa yang kuhadapi saat itu? Aku harus menerima bahwa semua telah hancur. Tanpa butuh waktu yang panjang, garis menentukan kami harus berpisah.

Kini aku berdiri di kota ini, kota yang banyak dikatakan orang sebagai kota metropolitan. Yah memang ada benarnya, kota besar yang kadang berhasil membuatku naik darah. Tak jarang aku marah pada keadaan, yang padahal hal ini tak pernah terjadi padaku kala masih di kota yang tugunya berdiri megah itu, Jogjakarta.

Ditengah hiruk pikuknya kehidupan di Ibukota ini, pikiranku masih saja melayang pada kisah kasihku beberapa tahun lalu. Semua tak bisa hilang begitu saja, karena semuanya telah terukir indah di hatiku dan diseluruh perjalanan hidupku. Jogja, mungkin suatu sat aku akan kembali kesana. Dan untuk semua kenanganku, tunggu aku di Jogjamu. (dnu)

Ditulis tanggal 20 Desember 2010

Saturday, February 21, 2015

Disitu kadang saya merasa sedih....

Banyak hal yang kadang membuat saya merasa sedih, dibawah ini diantaranya :(

* Lagi asik-asiknya menikmati es campur di hari minggu siang bolong, tiba-tiba nyadar besok hari Senen...

* Ngincer sepatu paling mahal di mall tapi inget tanggal gajian masi tiga minggu lagi...

* Buru-buru keluar mall menuju parkir mobil karena hujan lebat tapi ternyata salah masuk mobil...

* Laper berat, masuk restoran dan pas mau bayar duit ga ada lalu mesin debit sang resto pun rusak :(

* Berangkat aktifitas pagi buta saat anak-anak masih terlelap, dan pulang aktifitas malam buta juga saat anak-anak sudah terlelap :(


* Ngelihatin orang-orang pada berantem di media karena membela pemimpin tertentu, yang satu cinta mati dan yang satu benci mati...

* Bengong di mall karena menunggu jemputan dilengkapi batere hape dan laptop yang empty semua, mencari resto yang ada colokan pun tak mudah...

* Urgent pengin nelpon, punya hape tiga biji tapi pulsanya habis semua...

* Ada yang BBM dan berkata "Mbak tulisannya bagus-bagus, copy paste ya?" :(

* Ada yang nanya bulak balik ngalor ngidul tentang sebuah cake, setelah dijawab dengan penuh cinta lalu dia hanya berkata "Oh, oke, saya nanya-nanya dulu ya Sis..." :(

* Ada yang mau bayar coklat, minta nomor rekening Bank Mandiri, dan saya jawab ngga punya. Lalu ia berkata "Mestinya kamu siapin Sis rekening Mandiri..."

Dan masih banyak hal-hal lainnya yang disitu kadang saya merasa sedih :(


Gimana kalau kamu? :p

(dnu, ditulis sambil makan strawberry cheese cake di sebuah resto cepat saji, 21 Februari 2015, 10.35)

Thursday, February 19, 2015

Everything Happen for a Reason


Kadang manusia bertanya dan berbicara kepada Tuhannya...

Ya Allah, kenapa mesti kaya gini....
Ya Allah, ini sangat tidak menyenangkan, dan saya nggak mau ini....
Ya Allah, apa maksud dari cobaanmu ini...
Ya Allah, saya sudah nggak kuat lagi...
Ya Allah, kenapa harus saya yang merasakan ini...


Dan masih banyak kalimat ratapan lainnya yang sering kita semua temui baik di status BlackBerry, FB, twitter atau apapun.

Nampaknya media sosial memang telah menjadi pelampiasan paling empuk bagi hati yang terpuruk.
Meratap, mengadu, menangis dan tersedu, adalah ungkapan emosi dari dalam diri yang katanya akibat dari sudah tak sanggupnya seseorang menahan beban atau penderitaan.

Dan luapan emosi yang kadang tak terkendali adalah yang seperti ini. Menuangkan sebaris kalimat di media sosial dilengkapi dengan gambar ilustrasi yang berlinang air mata.

Semua yang Tuhan beri pasti ada hikmahnya.

Karena selalu ada makna dibalik semua pertanda.
Ada harap dibalik cemas.
Ada kemudahan dibalik kesulitan, dan ada cinta di setiap air mata.
Serta yang paling penting karena semua terjadi untuk sebuah alasan.

Pasti ada hikmahnya, hanya saja kadang kita lupa memaknainya.

'cause everything happen for a reason.

(dnu, ditulis sambil mengumpulkan niat untuk mandi di siang bolong - terinspirasi dari status BB temen yang mellow melulu, 19 Februari 2015, 11.55)

Thursday, February 12, 2015

Just Friend and No More...

Pernyataan yang berat, bahkan sangat-sangat berat. Jika tidak pandai-pandai menjaganya bukan tidak mungkin batasan yang telah dibangun dengan baik nan kokoh dapat seketika hancur dan mudah untuk dilewati.

Sepenggal kalimat tersebut merupakan janji setia bagi diri sendiri dan satu orang lainnya. Tidak hanya lisan, tetapi batin pun turut sepakat. Suasana murni pertemanan yang mengasyikkan namun saling terbuka terdapat dalam hubungan sahabat dua insan ini. Para pelaku dalam relationship ini bisa dipastikan satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Jika bukan, sangat tidak perlu dibangun sebaris perjanjian yang mematikan ini.

Persahabatan jenis ini bisa dikatakan saling menguntungkan. Bagaiamana tidak, dua manusia yang terlibat dapat saling leluasa terbuka satu sama lain dengan maksud berbagi cerita, saling menolong dan saling menghormati namun tetap dengan setia menjunjung tinggi kesepakatan yang sudah dibuat sejak awal.

Dalam banyak kisah, bisa saja kesepakatan ini hanya di patenkan oleh satu pihak saja. Pihak yang lain? Bisa saja merasa tak perlu mengadakan sebuah kesepakatan, ”toh sampai kapanpun kita memang hanya akan berteman”.

Tapi di lain sisi, bisa saja pihak lainnya mengharapkan sesuatu yang lebih dari hubungan pertemanan ini. Karena bisa jadi ia tidak mengetahui misi apa sebenarnya yang sedang di jalani oleh lawan relationshipnya itu. Tidak salah, karena memang di banyak kasus, perjanjian ini muncul hanya dari satu pihak dan cukup dalam hati saja diikrarkannya.

Kehati-hatian sangat diperlukan dalam membina pertemanan ini. Relationship yang terbangun dengan canda tawa dan curahan berbagai cerita bisa seketika berbalik menjadi kebencian, yang sesungguhnya sangat mampu menghancurkan semuanya. Hal ini bisa terjadi pada dua insan yang salah satu pihaknya tidak turut dimintakan kesepakatan.

Pengkhianatan. Ya mungkin itulah sebuah kata yang bisa mewakili cuaca relationship tadi. Jika rasa ini terjadi, jangan pernah menolak bahwa pertemanan yang mengasyikkan itu akan selesai seketika.

Hal sebaliknya mungkin saja terjadi. Yang awalnya janji hanya berteman, tapi berlajut kearah yang lebih jauh. Sekali lagi, hal ini mungkin saja terjadi. Dan bagaimana apabila tanda-tanda sesuatu yang jauh akan segera dimulai? Apakah masing-masing hati mampu menolaknya? Saya berharap jawabannya adalah Ya. Harus mampu.

Jangan pernah ikuti perasaan itu. Tetaplah pada jalur yang sejak awal sudah Anda jalani. Tetaplah berusaha menjaga ikrar hati. Tetaplah berupaya menjaga keceriaan pertemanan yang mungkin tak ada duanya. Dan satu hal, tetaplah menjaga diri agar tetap berdiam jauh dari dinding pembatas yang jika disentuh sedikit, keretakkan akan mulai terlihat dan kehancurannya akan segera dijelang. 

(dnu, tulisan tanggal 22 Desember 2010, lupa jam berapa)

Perang Bisnis Di Dunia Maya


Media sosial jadi sarana perang antar pebisnis. Berusaha menunjukkan kelebihan bisnisnya masing-masing hingga tanpa sadar terbesit niat menjatuhkan pesaing.

Lihat saja bagaimana pelaku bisnis yang menjadikan sistem tertentu sebagai senjata utamanya. Hampir setiap hari menunjukkan taring masing-masing melalui publikasi keistimewaan bisnisnya.

Mulai dari sorot biaya pendaftaran yang paling murah, bonus yang tak terhingga, hadiah-hadiah yang luar biasa, hingga ungkapan menjalani bisnis yang luar biasa ini bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja.

Entah berapa banyak orang seperti saya yang kian hari menjadi sedih melihat pertikaian di dunia maya ini.

Saat fajar datang bahkan ayam pun belum berhenti berkokok, perseteruan sudah dimulai melalui update status. Mengagung-agungkan bahwa bisnisnyalah yang paling hebat, sedikit kerja tapi banyak bonusnya, bonus nyata dan bukan iming-iming saja, tim yang kuat dan full support, dan... entah apa lagi yang saya yakin bahwa media sosial ini adalah salah satu perangkat utamanya dalam mengembangkan jaringannya!
Tapi apa yang mereka lakukan? Berusaha saling menjatuhkan dengan kealpaan mengingat bahwa rejeki itu ditangan Tuhan. Sudah ada yang mengatur. Rasanya tidak perlu bersusah payah berusaha menjatuhkan kubu lawan denga cara kekanak-kanakan seperti itu.

Sangat fair sekali memang kalau kita sebagai pelaku bisnis dengan sepenuh jiwa raga berusaha menunjukkan kepada seluruh makhluk di dunia bahwa bisnis kita sangat menjanjikan.

Dan juga amat manusiawi jika kita punya perasaan ingin dilihat sebagai orang yang sukses di suatu bidang pekerjaan. Atau kasarnya kita tidak salah pilih bisnis.

Bagaimanapun upaya yang kita lakukan untuk mempromosikan bisnis/pekerjaan/barang dagangan kita, tapi kalau memang rejeki belum berpihak kepada kita apa mau dikata???

Kembali bahwa tangan Tuhan yang bekerja toh?

Bukan maksudnya melalui artikel ini disarankan untuk tidak perlu ngoyo dalam bekerja dan berusaha, tapi... berusahalah dengan cara yang elegan. Anda hanya perlu membuktikan, bukan menceritakan!

Tunjukkan bukti-bukti bahwa bisnismu berjalan baik dan lancar, entah bukti dalam bentuk apapun itu. Bukan malah menceritakan panjang lebar melalui status; bisnis saya enak, santai, bonus banyak, hadiah banyak, endebrah... endebrah...!! Ditambahkan selipan umpatan; join sama saya aja, jangan sama bisnis tetangga.

Hohoho... Kelihatan toh kalau kita takut kehilangan rejeki? Hihihihi.... Tenang aja, kalau memang telah menjadi hak kita, maka entah melalui cara yang bagaimanapun akan kembali ke kita. Percaya deh :) Sama Tuhan tapinya, bukan sama saya hahaha...

Hal lain yang juga kadang menarik perhatian saya adalah, adanya umpatan-umpatan yang menolak seseorang yang hanya tanya-tanya lalu menghilang hihihihi... Contohnya gini : Ga usah tanya-tanya tentang bisnis saya kalau pada akhirnya join sama orang lain atau hanya mau membanding-bandingkan saja.

Masbro-masbro... Sista-sista.... Lupakah bahwa dalam sebuah pengambilan keputusan selalu ada hal-hal yang harus dilakukan yakni menimbang dan mengingat :p Baru setelah itu diputuskan.

Jika ada yang banyak tanya tentang bisnismu, justru jadikan itu sebagai kesempatan emas dirimu untuk menjelaskan sebaik-baiknya tentang semuanya. Overall tentang bisnis yang tengah kamu geluti, juga tentang dirimu! Cerita tentang bagaimana kamu sekarang sebagai akibat positif atas bisnis yang kamu lakukan! That's it! No more!

Dari percakapan itu, orang lain akan menilai bagaimana bisnismu dan tentu bagaimana kamu. Apakah kamu orang yang ramah, baik hati, tidak sombong, rendah diri atau bagaimana.

Jangan lupa, kepribadian seorang penjual atau leader bisnis juga menjadi faktor utama bagi seseorang untuk memutuskan apakah mau beli barang daganganmu ataupun join pada bisnismu.

Lha kalau penjual atau leadernya aja galak, gimana mau ada pembeli atau downline yang dateng??
Jangan salahkan siapapun, jangan salahkan bunda mengandung dan jangan salahkan rumput yang bergoyang apabila ada orang yang sudah berdiskusi panjang lebar tentang bisnismu, lalu mengakhiri pembicaraan dan say goodbye! Saya tahu hal ini, sakitnya tuh nggak tau dimana hahaha...

Intinya dari saya sebagai sesama pebisnis yang baru belajar, saya melihat tidak hanya dibutuhkan profil bisnis yang amat luar biasa, tetapi juga dibutuhkan profil sang pelaku bisnis yang lebih dari kata luar biasa.

Karena bisnis yang baik berisi orang-orang yang juga baik :)


(dnu, ditulis di mall - sambil memandangi hujan karena menunggu jemputan, 12 Februari 2015, 18.00)

Sehari Tak Menulis, Bagai Makan Sayur Tanpa Garam

Magnet tulis menulis telah terlalu amat sangat melekat kuat pada jiwa saya. Hal ini mungkin sama terjadi pula pada sebagian orang yang memili passion dibidang kepenulisan.

Jika ada yang menanyakan apa sih sebenarnya manfaat dari menulis? Sesungguhnya hal ini sulit saya jawab secara tertulis, karena jelas kesenangan absolute itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata :p
Apa saja manfaat menulis yang saya rasakan? Berikut ini jawabannya :)

      1. Menulis adalah Terapi
Bagi sebagian orang menulis bisa dijadikan sarana terapi jiwa. Misalnya bagi yang tengah galau bin gundah gulana, jika seluruh kegelisahan hati dan jiwanya dituangkan melalui tulisan, percaya deh sedikit dari jiwamu akan merasa lebih tenang. 

Menuangkan curahan hati melalui tulisan sama halnya dengan kita bercerita kepada orang lain. Bukankah jika kita berbagi kesedihan dengan teman atau sahabat maka kesedihan kita akan terasa sedikit berkurang? Hal ini sama halnya dengan menulis :)

     2. Menulis adalah Pembentukan Karakter Diri
Dalam menulis tentunya kita memiliki kecenderungan terhadap satu fokus bahasan. Misalnya ada yang senang gemar dengan segala pernak pernik dunia fashion, maka dalam menuangkan hobi menulisnya ia banyak bercerita tentang dunia fashion. Nah disini akan terlihat karakter dia sebenarnya sebagai ‘siapa’, pecinta fashion tentunya.

Atau ada juga yang gemar menulis naskah cerita/novel, maka sudah jelas bahwa ia tertarik dunia fiksi yang daya imajinasinya mampu melambung tinggi.

Ada lagi yang jenis tulisannya selalu menjadi penengah terhadap sesuatu hal. Misalnya sedang ramai-ramainya ribut pembubaran suatu organisasi keagamaan, maka melalui tulisannya ia berusaha memberikan pencerahan lainnya agar yang membacanya tidak terpancing ikut ribut, malah terbuka fikirannya terhadap sisi yang lupa dilihatnya. Karakter ini mungkin bisa disebut dengan karakter tenang dan menenangkan.

     3. Menulis adalah Berbagi Ilmu
Para ilmuwan menuangkan hasil penemuannya melalui paparan tulisan atau artikel. Sederhana saja, menulis memang jelas ajang berbagi ilmu. Buat yang tidak kesampaian untuk menjadi guru atau pendidik informal, kamu bisa membagikan wawasanmu melalui tulisan yang jangkauannya bisa lebih luas lagi.

      4. Menulis adalah Pengabadian Diri
Gajah mati meninggalkan gading, kita mati meninggalkan apa? Buatlah dirimu dikenang melalui hal-hal positif dan bermanfaat yang kamu lakukan selama hidupmu. Salah satunya rekamlah jejakmu melalui tulisan, karena tulisan yang baik dan berguna tentu akan menjadi pelajaran bagi yang membacanya, dan ini akan dipegang selamanya. Dengan demikian, jika goresan tangamu selalu diingat oleh orang lain maka otomatis dirimu turut dikenangnya.

Kenangan adalah keabadian, maka menulis adalah proses pengabadian diri yang dirintis sedikit-demi sedikit dalam hidup dan kehidupan.

      5. Menulis adalah Beramal
Jika hasil karyamu dimanfaatkan oleh orang lain secara terus menerus dan turun temurun, maka amalpun akan senantiasa mengalir padamu. Demikian juga tulisan yang sarat manfaat, jika menjadi pembelajaran bagi orang lain maka amal pun mengalir pada sang penulisnya.

So, tunggu apa lagi? Lakukan apa yang menjadi passion-mu dan upayakan ada manfaat-manfaat tertentu yang bisa diambil oleh orang lain, agar kelak jika dirimu tiada maka akan tetap ada yang mengenangmu.
Dan bagi saya, jika tidak menulis sehari saja bagaikan makan sayur tanpa garam. Mau tahu rasanya? Nggak enak banget :(

(dnu, ditulis sambil istirahat di kantor, 11 Februari 2015, 13.03)


Percayalah, Tuhan Selalu Sayang Kamu


Merasa sendiri, berteman sepi, tak ada yang menemani...

Sepi dalam keramaian...

Kadang berfikir entah apa yang sedang Tuhan skenariokan bagi hambanya.
Kita memang tidak akan pernah tau tentang jalan cerita yang Tuhan susun. Karena tugas kita hanyalah menjalani semua dan ikhlas atas rantai cerita Sang Sutradara.

Paling jatuh. Paling terpuruk. Paling sedih. Paling tidak bahagia. Paling... Paling... dan paling...

Setelah turun hujan yang amat lebat memang belum tentu hadir sebilah pelangi. Namun satu hal yang patut diyakini, bahwa hujan pasti berhenti dan sang mentari kembali menyinari bumi.

Masalah pelangi hanyalah bonus saja bagi yang bersabar terhadap segala ujianNya.

Kamu diuji?
Karena Tuhan tahu kamu hebat!

Terus menerus diberi cobaan?
Karena Tuhan tengah menempamu untuk menjadi lebih kuat!

Merasa sudah tak kuat dengan segala cobaaNya?
Kembalilah kepadaNya, karena tangan Tuhan siap memeluk hambanya kapan saja.

(dnu, ditulis sambil menikmati indahnya macet di selatan Jakarta, 12 Februari 2015, 11.15)

Monday, February 9, 2015

Hikmah Dibalik Air Melimpah



Provinsi DKI Jakarta dalam dua hari ini (9-10/2) diguyur hujan lebat berkepanjangan yang mengakibatkan banjir di banyak titik. Keluhan, umpatan hingga cacian hadir disana sini terhadap kumpulan air yang datang namun enggan pergi.

Hujan memang memiliki banyak cerita didalamnya, baik cerita yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan. Tapi tahukah kamu bahwa sesuatu yang kurang menyenangkanpun mampu menjadi kenangan dikemudian hari, atau dalam bahasa Jawa ngangeni.

Dibalik berbagai umpatan yang ramai hadir kala musim banjir seperti sekarang ini, tetap ada hikmah yang bisa kita petik dari semunya. Hikmah yang paling sederhana sekalipun, misalnya seperti paparan berikut ini.

1.      Kekuatan Terpendam
Suatu hari nanti mungkin saja kita akan teringat betapa kita pernah menjadi seseoran yang amat tangguh kala menerjang banjir kemarin atau hari ini. Menuju tempat kerja atau sekolah, dimana hanya bermodal sendal jepit, jas hujan dan sebilah payung, namun dibalut dengan kegigihan yang luar biasa kita mampu mencapai tempat kita beraktifitas dengan baik. Karena apa? Semangat untuk mencari nafkah bagi keluarga atau menuntut ilmu bagi diri sendiri yang begitu menggelora.

Jika dikatakan “Percuma datang ke tempat kerja, disana pun tidak produktif, karena datang sudah siang, lelah, lalu tahu-tahu sudah jam pulang. Bikin capek saja! Mending tidur di rumah”. Pembaca yang baik hatinya, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan melihat berbagai usaha yang hambanya lakukan, proses teberatnya saat menerjang banjir dan semangatnya untuk bekerja, dimana bekerja juga merupakan suatu ibadah. Tuhan akan membalas semua apa yang hambanya lakukan. Jangan khawatir, Tuhan melihat semuanya.

2.      Jijik Air Banjir yang Kotor Masuk Rumah?
Adalah pelajaran bagi kita untuk merasakan betapa tidak enaknya orang-orang yang harus hidup dibantaran sungai. Menghadapi air kotor setiap hari. Tahu air itu tidak higienis, tetapi tak ada pilihan karena hidup yang terbentur keterbatasan.

3.      Panjatkan Doa Saat Hujan Turun
Bagi kaum muslim, saat hujan turun adalah salah satu waktu yang baik untuk memanjatkan doa. Hujan adalah berkah namun kadang diumpat karena datangnya yang berlebihan. Bagaimanpun datangnya tetap saja berkah.

4.      Macet Stuck Tak Bergerak
Sesungguhnya kita sedang diuji kesabarannya. Ditempa untuk menjadi pribadi yang jauh lebih sabar lagi. Merasa mendadak punya banyak saudara di jalan ya, karena yang kena macet adalah jutaan manusia. Merasa tak sendiri, maka inilah hikmahnya sesungguhnya bersaudara dan banyak teman lebih menyenangkan.

5.      Pengatur Jalanan yang Baik Hati
Sebagai pengguna jalan disaat banjir seperti ini, apakah para pembaca sekalian memperhatikan banyak orang-orang baik yang mendadak hadir di jalan, membantu mengatur arus perjalanan? Orang-orang yang berinisiatif membuat perahu kayu atau dikenal dengan sebutan getek untuk membantu pengendara sepeda motor yang terjebak banjir. Membantu mengangkat sepeda motor ke area yang lebih tinggi agar tidak terrendam.

Ada juga yang membuat angkutan manusia untuk menyeberangi arena banjir dengan menggunakan gerobak seadanya, atau perahu karet sederhana. Hanya sekedar niat membantu sesama dalam keadaan yang penuh air dimana-mana. Perihal kita membayar mereka atau mereka meminta bayaran dari kita, tentu hal ini sudah semestinya.

Tapi hikmah yang ingin saya tunjukkan disini ialah betapa masih ada orang baik bermunculan dikala banjir datang. Bayangkan jika tidak ada orang-orang seperti mereka? Siapa yang mau bantu kita menyeberangi banjir? Siapa yang akan membantu kita mengangkat atau mendorong sepeda motor yang mogok karena knalpot kemasukan air? Sesama pengguna jalan? Belum tentu.

6.      Banjir karena Kita
Lingkungan rumah terendam banjir? Selain mungkin ada kesalahan dalam penyusunan tata kota, coba diingat apakah kita juga sudah tertib dalam membuang sampah? Ilmu sederhana yang mungkin sudah muak jika diungkapkan berkali-kali yakni, membuang sampah sembarangan berati mengharapkan banjir datang.

Mengenai tata kota yang saya maksud disini, coba dilihat lagi disekitar kita, masih banyakkah lahan terbuka hijau? Area serapan air? Aliran air yang baik? Jika semuanya masih kurang baik, yuk bantu beri masukan kepada pemerintah tentang pengelolaan tata kota dan tata ruang yang lebih baik. Caranya? Surat terbuka bisa juga.

Sebenarnya masih banyak hikmah lainnya yang bisa dipetik dari bencana banjir ini. Setiap dari kita tentu bisa memetiknya sendiri-sendiri, dan jelas-jelas paham hikmah apa saja yang relevan dengan kehidupan masing-masing. Yang harus selalu diingat ialah, badai pasti berlalu dan tidak ada yang abadi di dunia ini. Termasuk juga kumpulan air yang kini menghampiri.

Tetap semangat ditengah kumpulan air cokelat !!!

(dnu, ditulis sambil menikmati sepinya kantor ini, 10 Februari 2015, 09.26)

Sunday, February 8, 2015

Bijaklah Dalam Menyebarkan Informasi



Seringkali beredar informasi yang sifatnya masif - tentang apapun - melalui broadcast message di Blackberry Messanger, Wahats Up ataupun lainnya. Terkait hal ini, para pembaca yang baik hatinya pernah perhatikankah biasanya di awal pesan yang ingin disampaikan ada tertulis “copy dari grup sebelah, info dari grup tetangga, ngelanjutin BC aja, nerusin BC temen, dll....”

Nah, tersadarkah bahwa kalimat-kalimat awalan tersebut adalah ciri dari ketidaktanggungjawaban sang pelanjut pengirim pesan? Artinya, yang melanjutkan Broadcast (BC) tersebut bisa jadi tidak mau disalahkan jika terjadi kesalahan dalam informasi yang ia edarkan. Karena apa? Karena kan diawal sudah dikatakan saya hanya melanjutkan dari grup sebelah ya... ^^

Saya melihat hal ini terus terjadi untuk peredaran informasi apapun, tanpa yang mengedarkan merasa bertanggung jawab untuk mencari kebenarannya atas isi informasi. Nampaknya kita tidak bisa menyerah dan berpasrah diri begitu saja pada title pemilik informasi yang terdapat dari pesan tersebut. Misalnya pesan tentang banjir yang katanya disebarluaskan oleh pihak kepolisian, atau pesan tentang adanya pengobatan massal yang katanya diedarkan oleh sebuah Rumah Sakit.

Menurut saya, bisa lebih bijak rasanya jika kita tidak semata-mata percaya begitu saja dengan isi pesan tersebut. Karena bisa saja yang mengirimkan bukan instansi yang disebutkan disitu, atau bisa jadi nih pesan tersebut benar adanya dari instansi terkait, tapi... isi pesannya sudah kadaluarsa.

Bisa saja kan ada oknum iseng yang mungkin kurang kesibukan, dia mengklaim ada pesan penting yang dikeluarkan oleh sebuah badan usaha, pemerintah atau instansi apapun lalu dengan gaya seriusnya mengedarkan pesan paslu tersebut. Dan kita sebagai rantai ke sekian yang menerima pesan langsung menelan bulat-bulat tanpa merasa lagi perlu mengecek tingkat kebenaran atas isi pesan tersebut.

Saya tertarik untuk membagi dua tipe individu yang gemar meneruskan pesan berantai, yaitu :

1    1. Individu yang Amat Peduli Pada Terhadap Sesama
Tipe ini cenderung memiliki energi positif yang amat baik. Betapa ia sangat peduli dengan orang-orang disekitarnya sehingga ada pesan apapun ia langsung mengedarkannya tanpa basa basi. Bisa dibilang tanpa pikir panjang ia lantas menyebarkan pesan yang menurutnya perlu dibagikan kepada orang lain. Terlebih lagi bisa jadi ia belum tahu kebenarannya atas isi pesan tersebut. Ia hanya tahu bahwa “saya harus bagikan pesan ini kepada teman-teman saya... mungkin akan bermanfaat bagi mereka...”

2      2. Individu Kurang Kreatif
Tipe ke dua ini nampaknya memang agak kurang banyak energi positifnya. Sehingga bisa saja setiap pesan berantai yang masuk pada dirinya dengan kekuatan iseng atau nothing to lose langsung saja disebarkannya tanpa berharap apa-apa. Ia hanya meneruskan saja tanpa pernah berharap apapun yang akan terjadi atas penyebaran pesan ini. “Yang penting saya teruskan saja... terserah yang nerima aja mau gimana.....”

Saya tidak lagi membicarakan apakah BC atau pesan berantai itu mengganggu  atau bagaimana. Yang diangkat dalam artikel ini fokus kepada perlunya rasa tanggung jawab sebelum kita meneruskan informasi kepada orang lain.

Kalau ternyata yang kita teruskan adalah informasi kaleng bagaimana? Bukankah jika ada akibatnya nanti kita juga bisa turut disalahkan? Sebagai orang yang ikut serta menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya maka pihak ini juga bisa disalahkan jika suatu hari nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atas pesan tersebut.

Tidak sulit ya rasanya jika ingin menelaah sebentar tentang suatu pesan yang kita terima sebelum meneruskannya kepada orang lain. Agar kita juga terciri sebagai pribadi yang selektif, cinta kebenaran dan tidak salah kaprah. Terlebih lagi bentuklah diri kita sendiri sebagai pribadi yang tidak mudah dimasuki oleh doktrin apapun :p

(dnu, ditulis sambil menikmati derasnya hujan turun - memandangi macet dan memikirkan anak-anak di rumah yang entah sedang apa, 9 Februari 2015, 11.14)

Saturday, February 7, 2015

Indonesia Harus Bangkit! Jangan Mau Dihina Negara Manapun !



Kembali Negara tetangga bikin seluruh rakyat Indonesia geram!!! Tenaga Kerja Wanita yang bekerja di Malaysia disamakan dengan alat pembersih! Luar biasa jahatnya!!!

Berita ini beredar luas pada Kamis (5/2) melalui berbagai media pemberitaan. Penghinaan besar-besaran terhadap bumi Indonesia. Kalimat iklan yang memiliki arti Pecat Pembantu Indonesia ini dibuat oleh suatu perusahaan alat pembersih.

Siapapun yang melihat iklan ini atau mendengar berita ini bisa langsung berasap kepalanya. Terang saja Warga Negara Indonesia yang sedang mencari nafkah di negeri jiran dengan profesi pembantu rumah tangga dihina dengan sangat terbuka.

Oke, kita bisa tambah geram jika mengingat perbuatan apa saja yang telah dilakukan Malaysia hingga membuat Indonesia murka. Mulai dari permasalahan budaya hingga kini masalah pembantu!
Jangan lama-lama diingat hal-hal yang membuat geram ini, ada hal lain yang lebih penting dari sekedar penghinaan tak berkelas dari Negara tetangga itu, yakni Indonesia harus bangkit!

Kita sebagai warganya jelas memiliki peranan penting untuk kebangkitan Indonesia dalam menghadapi ujian-ujian dari Negara tetangga ini.

Beberapa hal yang menurut saya bisa dilakukan. Pertama, anak mudanya harus menggapai ilmu dengan baik, kuasai ilmu dan milikilah wawasan yang luas. Perkaya diri dengan informasi-infirmasi terkini. Jadilah pribadi yang up to date. Berusaha tampil menjadi pribadi yang pintar. Terbuka terhadap segala hal.  Dengan pemenuhan kriteria yang demikian maka para tunas bangsa akan tumbuh menjadi pribadi yang pintar sehingga bisa memiliki pekerjaan yang bukan seorang Tenaga Kerja di Negara tetangga.

Ke dua,  semangat mengubah diri. Dengan adanya dorongan yang kuat dari dalam diri untuk mengubah kepribadian kea rah yang lebih baik maka jalan untuk menjadi seseorang yang luar biasapun akan terbuka. Yang penting semangatnya ada dulu. Seperti pepatah mengatakan, ada kemauan pasti ada jalan J

Ke tiga,  selain semangat mengubah diri harus ada juga rasa cinta yang amat dalam terhadap tanah air. Dengan besarnya rasa cinta terhadap tanah kelahiran maka keinginan untuk membesarkan bangsa ini juga akan mengalir dengan sendirinya. Akan tumbuh rasa dimana kita akan amat marah jika ada yang mendiskreditkan bumi Indonesia, akan tumbuh rasa dimana kita akan sangat tidak suka jika ada yang mengecilkan Indonesia. Bahkan bisa akan merasa amat tersakiti jika ada yang menganggap Indonesia hanyalah Negara biasa yang hanya terus menerus dalam tahap berkembang dan tidak mengalami kemajuan.

Agar semua hal-hal yang tidak diinginkan tersebut terjadi terhadap Negara kita maka menurut saya, anak mudanya harus bangkit. Masing-masing memiliki peranannya masing-masing, berkembanglah dalam bidangnya sendiri-sendiri. Tetap ikuti naluri ingin berkembang di jalur mana, namun tujuannya sama yakni untuk kemajuan Bangsa Indonesia.

Pelecehan verbal maupun non verbal, nyata maupun terselubung tentunya tidak diinginkan oleh siapapun. Untuk itu berangkat dari dalam diri setiap penghuni Tanah Air Indonesia dengan niat dan tujuan yang sama untuk kemajuan bangsa, namun dilaksanakan dengan cara yang berbeda-beda. Karena apa? Karena kita berbeda namun tetap satu jua J

Ujung-ujungnya apa? Agar Negara tetangga dekat, Negara jauh, Negara di seberang samudera maupun di lain benua, pada akhirnya memandang Indonesia sebagai Negara kepulauan dengan seluruh warga negaranya yang berkualitas diatas rata-rata J

(dnu, ditulis sambil ngemil opak singkong yang bunyinya kriuk kriuk, 7 Februari 2015, 20.11)