Saturday, February 28, 2015

Bukan Karena Pemuda Minang

Cinta yang sesungguhnya katanya terjadi dengan tanpa syarat. Kalau masih ada "karena"-nya itu katanya bukan yang sesungguhnya :p


Sama halnya dengan betapa menggebunya saya untuk mendalami segala hal tentang minang, betapa cintanya saya sama budaya ranah minang dan betapa tutup matanya saya dengan perasaan suka ini yang kata orang tergolong aneh.

Bagaimana tidak, karena hampir tak ada unsur minang apapun dari dalam diri saya hingga saya begitu cinta pada bumi Sumatera Barat ini.

Ada yang mengira karena saya keturunan urang awak, ada yang menyangka orang tua saya suku Padang, juga ada yang menebak suami saya adalah orang Padang. Tapi yang paling aneh cuma satu, ada yang mengira saya pernah jatuh cinta sama pemuda Minang namun tidak kesampaian, maka jadilah kota Si Malin Kundang itu sangat saya cintai ahahaha...

Semua alasan diatas tidak ada yang benar. Karena saya sendiri pun tak bisa menceritakan secara gamblang apa alasan sesungguhnya mengapa Minang amat menarik perhatian saya.

Memang sangat banyak hal yang berhasil menarik seluruh hati dan jiwa saya hingga luluh lantak klepek-klepek pada budaya Minang itu :p


Saya memang sangat bermimpi difoto pakai sunting emas sambil selfie kelihatan gigi haha... Tapi tidak berani karena takut salah kaprah. Ada yang bilang sunting adalah peralatan sakral dan khusus digunakan hanya untuk pernikahan.

Lalu ada juga yang mengatakan bahwa sunting itu amat berat, maka jika ingin memakainya ada ritual tertentu yang harus dilakukan yakni memberikan upeti kepada yang membutuhkan. Hal ini bertujuan agar ketika dipakai tidak terlalu berat di kepala.

Perihal garis keturunan Minang yang ditarik dari Ibu pun menjadi salah satu hal keren yang saya kagumi. Selain itu lagu-lagunya juga selalu mengajak saya menari kala mendengarnya hahaha....

Pernah saya terlupa hingga mengabaikan Pak Polisi dan mobilnya yang berada disamping mobil saya, saat saya asyik mengendarai mobil sambil mendengarkan lagu minang huahahahaha...

Sirine Pak Polisi amat jelas saya dengar, tapi entah kenapa hati, jiwa, pikiran dan tangan yang memegang kemudi tak jua meminggirkan kendaraan karena beliau sedang mengawal perjalanan deretan orang-orang penting.

Hingga akhirnya Pak Polisi turun dari mobilnya dan berhenti didepan mobil saya lalu meminta saya berhentik sejenak karena pengawalan harus segera lewat :p Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya Pak ^^

Hahaha... Inilah kenyataanya, alunan musik mendayu Ranah Minang memang telah mengusik otak saya hingga nyaris tak peduli dengan apa yang ada disekitar :p

Kesimpulannya, kalau ditanya kenapa sih suka banget sama Padang?? Jawabannya hanya satu "Entah ya, mungkin inilah yang disebut dengan cinta tanpa syarat :p "

(dnu, ditulis di bengkel sambil nungguin service mobil, 28 Februari 2015, 09.50)