Monday, February 9, 2015

Hikmah Dibalik Air Melimpah



Provinsi DKI Jakarta dalam dua hari ini (9-10/2) diguyur hujan lebat berkepanjangan yang mengakibatkan banjir di banyak titik. Keluhan, umpatan hingga cacian hadir disana sini terhadap kumpulan air yang datang namun enggan pergi.

Hujan memang memiliki banyak cerita didalamnya, baik cerita yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan. Tapi tahukah kamu bahwa sesuatu yang kurang menyenangkanpun mampu menjadi kenangan dikemudian hari, atau dalam bahasa Jawa ngangeni.

Dibalik berbagai umpatan yang ramai hadir kala musim banjir seperti sekarang ini, tetap ada hikmah yang bisa kita petik dari semunya. Hikmah yang paling sederhana sekalipun, misalnya seperti paparan berikut ini.

1.      Kekuatan Terpendam
Suatu hari nanti mungkin saja kita akan teringat betapa kita pernah menjadi seseoran yang amat tangguh kala menerjang banjir kemarin atau hari ini. Menuju tempat kerja atau sekolah, dimana hanya bermodal sendal jepit, jas hujan dan sebilah payung, namun dibalut dengan kegigihan yang luar biasa kita mampu mencapai tempat kita beraktifitas dengan baik. Karena apa? Semangat untuk mencari nafkah bagi keluarga atau menuntut ilmu bagi diri sendiri yang begitu menggelora.

Jika dikatakan “Percuma datang ke tempat kerja, disana pun tidak produktif, karena datang sudah siang, lelah, lalu tahu-tahu sudah jam pulang. Bikin capek saja! Mending tidur di rumah”. Pembaca yang baik hatinya, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan melihat berbagai usaha yang hambanya lakukan, proses teberatnya saat menerjang banjir dan semangatnya untuk bekerja, dimana bekerja juga merupakan suatu ibadah. Tuhan akan membalas semua apa yang hambanya lakukan. Jangan khawatir, Tuhan melihat semuanya.

2.      Jijik Air Banjir yang Kotor Masuk Rumah?
Adalah pelajaran bagi kita untuk merasakan betapa tidak enaknya orang-orang yang harus hidup dibantaran sungai. Menghadapi air kotor setiap hari. Tahu air itu tidak higienis, tetapi tak ada pilihan karena hidup yang terbentur keterbatasan.

3.      Panjatkan Doa Saat Hujan Turun
Bagi kaum muslim, saat hujan turun adalah salah satu waktu yang baik untuk memanjatkan doa. Hujan adalah berkah namun kadang diumpat karena datangnya yang berlebihan. Bagaimanpun datangnya tetap saja berkah.

4.      Macet Stuck Tak Bergerak
Sesungguhnya kita sedang diuji kesabarannya. Ditempa untuk menjadi pribadi yang jauh lebih sabar lagi. Merasa mendadak punya banyak saudara di jalan ya, karena yang kena macet adalah jutaan manusia. Merasa tak sendiri, maka inilah hikmahnya sesungguhnya bersaudara dan banyak teman lebih menyenangkan.

5.      Pengatur Jalanan yang Baik Hati
Sebagai pengguna jalan disaat banjir seperti ini, apakah para pembaca sekalian memperhatikan banyak orang-orang baik yang mendadak hadir di jalan, membantu mengatur arus perjalanan? Orang-orang yang berinisiatif membuat perahu kayu atau dikenal dengan sebutan getek untuk membantu pengendara sepeda motor yang terjebak banjir. Membantu mengangkat sepeda motor ke area yang lebih tinggi agar tidak terrendam.

Ada juga yang membuat angkutan manusia untuk menyeberangi arena banjir dengan menggunakan gerobak seadanya, atau perahu karet sederhana. Hanya sekedar niat membantu sesama dalam keadaan yang penuh air dimana-mana. Perihal kita membayar mereka atau mereka meminta bayaran dari kita, tentu hal ini sudah semestinya.

Tapi hikmah yang ingin saya tunjukkan disini ialah betapa masih ada orang baik bermunculan dikala banjir datang. Bayangkan jika tidak ada orang-orang seperti mereka? Siapa yang mau bantu kita menyeberangi banjir? Siapa yang akan membantu kita mengangkat atau mendorong sepeda motor yang mogok karena knalpot kemasukan air? Sesama pengguna jalan? Belum tentu.

6.      Banjir karena Kita
Lingkungan rumah terendam banjir? Selain mungkin ada kesalahan dalam penyusunan tata kota, coba diingat apakah kita juga sudah tertib dalam membuang sampah? Ilmu sederhana yang mungkin sudah muak jika diungkapkan berkali-kali yakni, membuang sampah sembarangan berati mengharapkan banjir datang.

Mengenai tata kota yang saya maksud disini, coba dilihat lagi disekitar kita, masih banyakkah lahan terbuka hijau? Area serapan air? Aliran air yang baik? Jika semuanya masih kurang baik, yuk bantu beri masukan kepada pemerintah tentang pengelolaan tata kota dan tata ruang yang lebih baik. Caranya? Surat terbuka bisa juga.

Sebenarnya masih banyak hikmah lainnya yang bisa dipetik dari bencana banjir ini. Setiap dari kita tentu bisa memetiknya sendiri-sendiri, dan jelas-jelas paham hikmah apa saja yang relevan dengan kehidupan masing-masing. Yang harus selalu diingat ialah, badai pasti berlalu dan tidak ada yang abadi di dunia ini. Termasuk juga kumpulan air yang kini menghampiri.

Tetap semangat ditengah kumpulan air cokelat !!!

(dnu, ditulis sambil menikmati sepinya kantor ini, 10 Februari 2015, 09.26)