Thursday, February 5, 2015

Lihat Segalanya Lebih Dekat



Lihat Segalanya Lebih Dekat
(Niat Baik Pak Toge di Buku Saatnya Aku Belajar Pacaran)

Kalangan orang tua, pengajar, pemuka agama ataupun kaum Ibu saat ini mungkin tengah terusik kedamaiannya dalam mendidik sang buah hati. Terkait dengan ramainya pemberitaan tentang sebuah buku berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran” yang ditulis oleh Toge Aprillianto, dimana dalam buku tersebut ada titik bahasan tentang pembolehan ala Pak Toge untuk remaja yang ingin berpacaran.

Tidak hanya itu, jelas terpapar dalam kalimat yang beliau susun mengenai bolehnya juga ala Pak Toge apabila remaja yang tengah dimabuk asmara tersebut melakukan hubungan badan, atau dalam bukunya ditulis ML. Dikatakan disitu apabila pasangan/teman dekat kita mengajak untuk berhubungan badan maka pihak yang satunya silahkan saja menerima ajakannya asalkan siap menanggung segala resikonya.

Toge Aprilianto seorang Master Psikolog yang juga terkenal sebagai praktisi terpercaya dalam bidang tumbuh kembang anak, memang dalam buku yang ditulisnya menuangkan kalimat-kalimat yang amat mudah dimengerti, walaupun akhirnya menuai kontroversi.

Memang sangat disayangkan Pak Toge kini tersandung kerikil tajam. Saya pun demikian menyayangkannya. Karena betapa ajaran-ajaran beliau sebelumnya yang mudah didapati melalui berbagi media sosial amat memberi masukan yang baik bagi para orang tua khususnya kaum Ibu. Dan disaat terjadi hal seperti ini tentu banyak kalangan yang turut berduka atas dirinya.

Melalu artikel ini saya ingin mengajak teman-teman semua, para pembaca yang budiman dan para pemerhati dunia anak, bahwa dibalik kepolosan kalimat Pak Toge sesungguhnya ada pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak ramai.

Ketika beliau menuliskan kurang lebih seperti ini : silahkan saja yang berpacaran boleh ML karena itu manusiawi dan berarti kita manusia normal yang memiliki keinginan biologis, asalkan telah siap menanggung segala resikonya. Nah, ini adalah makna dari untaian kalimat kontroversi yang sudah tentu siapa saja, seluruh makhluk yang menganut budaya ketimuran akan marah bahkan mungkin murka.

Karena apa? Ketika para orang tua dan pendidik tengah mengajarkan kepada anak-anaknya tentang hal-hal yang harus dihindari saat memasuki usia remaja, tiba-tiba saja serasa dibombardir dengan hadirnya buku ini yang memperbolehkan remaja melakukan hubungan badan. Apapun alasannya mungkin ini nampaknya tidak bisa diterima.

Tapi teman-teman pembaca sekalian, yuk kita lihat sekali lagi apa sih sebenarnya maksud dari Pak Toge menuliskan hal seperti itu. Kalau dilihat dari kacamata saya, secara saya berkacamata haha…. maksud Pak Toge disini ada baiknya. Artinya beliau tengah memberikan pelajaran tentang sebuah tanggungjawab kepada anak remaja. Tanggungjawab tentang apapun itu, termasuk jika anak mulai ingin memiliki teman dekat.

Makna lain yang saya lihat adalah jika remaja mulai memiliki teman dekat maka akan timbul berbagai resiko yang akan menimpa anak tersebut, salah satunya hadirnya setan yang akan menguji ketahanan anak dari godaan perbuatan zina badan, alias hubungan badan. Tapi beliau lagi-lagi mengembalikan tanggungjawab kepada anak-anak muda tersebut dengan tetap mengingatkan bahwa segala perbuatan tentu ada resikonya. Apapun itu. Jika anak sudah berani mengambil keputusan, maka anak juga harus berani menanggung segala resikonya.

Tapi….. perlu diingat sekali lagi sih, pemilihan kata yang amat lugas nan polos tersebut memang sangat mudah memancing kontroversi bagi yang membacanya. Mungkin bisa lain ceritanya jika pengemasan kata-kata dilakukan dengan lebih elok.

Misalnya….

Sebenarnya berpacaran itu ada yang menganggap boleh dan tidak lho. Bagi kalian yang muslim maka tidak ada sama sekali istilah pacaran karena hal tersebut tidak sesuai dengan ajaran agama. Bagi yang beragam lain tentu saya yakin ada ketentuan tersendiri yang juga tetap menjaga kelangsungan hubungan pertemanan dekat antar dua anak muda berlainan jenis.

Tapi yang juga namanya pergaulan kan tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menghindarinya. Apabila kita terbawa arus hingga akhirnya memiliki teman dekat, maka kita harus waspada, ingat ini tidak benar dan harus sangat-sangat dijaga dengan baik untuk hubungan ini.

Diantaranya yang bisa dilakukan adalah tidak pergi berduaan yang jelas-jelas mampu mengundang hadirnya setan, bahkan bukan tidak mungkin setan menggoda kita dan membawanya ke arah yang tidak semestinya.

Anak muda harus selalu ingat bahwa pilihan hidupnya di usia ini adalah belum sepenuhnya menjadi tanggungjawab seorang diri. Orang tua tetap berperan besar disini, dan sepatutnya para remaja meminta masukan orang tua setiap akan melakukan suatu tindakan.

Namun jenis-jenis anak muda memang beda-beda, ada yang penurut dan ada yang senang mencoba hal-hal baru. Nah kita sebagai orang tua harus bisa mengingatkan kepada anak tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh. Ini adalah kewajiban orang tua.

Dari sisi anak, jika telah berani mengambil suatu keputusan tanpa sepengetahuan orang tua, maka bersiaplah dengan berbagai resiko yang akan datang dan harus diterima dengan tangan terbuka. Resiko apapun itu.

Ingat, pacaran adalah hal yang penuh dengan mara bahaya. Berani ambil keputusan, berani ambil resiko. Atau katakana saja ; pokoknya pacaran itu ngga boleh. Titik.

Kurang lebih sih menurut saya mungkin bisa disampaikan seperti tersebut diatas, karena kata-kata yang amat vulgar selain memiliki energi positif yakni mudah dimengerti, tapi juga kental dengan energi negatifnya yaitu mudah menuai kontroversi yang sulit berhenti.

Diambil sisi positifnya, diartikan dengan positif dan diamalkan perbuatan positifnya.

Tetap semangat Pak Toge!

(dnu, ditulis sambil kipas-kipas karena kegerahan, 5 Februari 2015, 15.43)