Thursday, February 12, 2015

Perang Bisnis Di Dunia Maya


Media sosial jadi sarana perang antar pebisnis. Berusaha menunjukkan kelebihan bisnisnya masing-masing hingga tanpa sadar terbesit niat menjatuhkan pesaing.

Lihat saja bagaimana pelaku bisnis yang menjadikan sistem tertentu sebagai senjata utamanya. Hampir setiap hari menunjukkan taring masing-masing melalui publikasi keistimewaan bisnisnya.

Mulai dari sorot biaya pendaftaran yang paling murah, bonus yang tak terhingga, hadiah-hadiah yang luar biasa, hingga ungkapan menjalani bisnis yang luar biasa ini bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja.

Entah berapa banyak orang seperti saya yang kian hari menjadi sedih melihat pertikaian di dunia maya ini.

Saat fajar datang bahkan ayam pun belum berhenti berkokok, perseteruan sudah dimulai melalui update status. Mengagung-agungkan bahwa bisnisnyalah yang paling hebat, sedikit kerja tapi banyak bonusnya, bonus nyata dan bukan iming-iming saja, tim yang kuat dan full support, dan... entah apa lagi yang saya yakin bahwa media sosial ini adalah salah satu perangkat utamanya dalam mengembangkan jaringannya!
Tapi apa yang mereka lakukan? Berusaha saling menjatuhkan dengan kealpaan mengingat bahwa rejeki itu ditangan Tuhan. Sudah ada yang mengatur. Rasanya tidak perlu bersusah payah berusaha menjatuhkan kubu lawan denga cara kekanak-kanakan seperti itu.

Sangat fair sekali memang kalau kita sebagai pelaku bisnis dengan sepenuh jiwa raga berusaha menunjukkan kepada seluruh makhluk di dunia bahwa bisnis kita sangat menjanjikan.

Dan juga amat manusiawi jika kita punya perasaan ingin dilihat sebagai orang yang sukses di suatu bidang pekerjaan. Atau kasarnya kita tidak salah pilih bisnis.

Bagaimanapun upaya yang kita lakukan untuk mempromosikan bisnis/pekerjaan/barang dagangan kita, tapi kalau memang rejeki belum berpihak kepada kita apa mau dikata???

Kembali bahwa tangan Tuhan yang bekerja toh?

Bukan maksudnya melalui artikel ini disarankan untuk tidak perlu ngoyo dalam bekerja dan berusaha, tapi... berusahalah dengan cara yang elegan. Anda hanya perlu membuktikan, bukan menceritakan!

Tunjukkan bukti-bukti bahwa bisnismu berjalan baik dan lancar, entah bukti dalam bentuk apapun itu. Bukan malah menceritakan panjang lebar melalui status; bisnis saya enak, santai, bonus banyak, hadiah banyak, endebrah... endebrah...!! Ditambahkan selipan umpatan; join sama saya aja, jangan sama bisnis tetangga.

Hohoho... Kelihatan toh kalau kita takut kehilangan rejeki? Hihihihi.... Tenang aja, kalau memang telah menjadi hak kita, maka entah melalui cara yang bagaimanapun akan kembali ke kita. Percaya deh :) Sama Tuhan tapinya, bukan sama saya hahaha...

Hal lain yang juga kadang menarik perhatian saya adalah, adanya umpatan-umpatan yang menolak seseorang yang hanya tanya-tanya lalu menghilang hihihihi... Contohnya gini : Ga usah tanya-tanya tentang bisnis saya kalau pada akhirnya join sama orang lain atau hanya mau membanding-bandingkan saja.

Masbro-masbro... Sista-sista.... Lupakah bahwa dalam sebuah pengambilan keputusan selalu ada hal-hal yang harus dilakukan yakni menimbang dan mengingat :p Baru setelah itu diputuskan.

Jika ada yang banyak tanya tentang bisnismu, justru jadikan itu sebagai kesempatan emas dirimu untuk menjelaskan sebaik-baiknya tentang semuanya. Overall tentang bisnis yang tengah kamu geluti, juga tentang dirimu! Cerita tentang bagaimana kamu sekarang sebagai akibat positif atas bisnis yang kamu lakukan! That's it! No more!

Dari percakapan itu, orang lain akan menilai bagaimana bisnismu dan tentu bagaimana kamu. Apakah kamu orang yang ramah, baik hati, tidak sombong, rendah diri atau bagaimana.

Jangan lupa, kepribadian seorang penjual atau leader bisnis juga menjadi faktor utama bagi seseorang untuk memutuskan apakah mau beli barang daganganmu ataupun join pada bisnismu.

Lha kalau penjual atau leadernya aja galak, gimana mau ada pembeli atau downline yang dateng??
Jangan salahkan siapapun, jangan salahkan bunda mengandung dan jangan salahkan rumput yang bergoyang apabila ada orang yang sudah berdiskusi panjang lebar tentang bisnismu, lalu mengakhiri pembicaraan dan say goodbye! Saya tahu hal ini, sakitnya tuh nggak tau dimana hahaha...

Intinya dari saya sebagai sesama pebisnis yang baru belajar, saya melihat tidak hanya dibutuhkan profil bisnis yang amat luar biasa, tetapi juga dibutuhkan profil sang pelaku bisnis yang lebih dari kata luar biasa.

Karena bisnis yang baik berisi orang-orang yang juga baik :)


(dnu, ditulis di mall - sambil memandangi hujan karena menunggu jemputan, 12 Februari 2015, 18.00)