Tuesday, March 31, 2015

Astronot Cilik Indonesia

Roket buatannya digenggam dengan erat, pertanda betapa bangganya ia dengan hasil karya tangannya sendiri dengan hiasan cita-cita diatasnya.

Riko, murid kelas 2 SD Nawungan, Bantul, Yogyakarta, semangat membuat replika roket dari kertas origami yang saya bagikan saat menjadi guru tamu.

"Aku mau jadi astronot kak, trus terbang ke bulan......" Ungkap Riko.

"Kalau ke Bulan naik apa Riko??" Tanya saya sekaligus menguji kecanggihan lelaki ganteng ini.

"Naik Roket kak...." Teriaknya penuh semangat.

Cita-cita memang harus setinggi langit, dan saya tidak pernah membatasi imajinasi anak-anak untuk menjadi apapun mereka jika besar nanti.

Beragam mimpi saya temukan kala beraksi menjadi seorang relawan pendidikan ke pelosok daerah. Mulai dari mimpi yang paling sederhana, hingga yang luar biasa dan membuat mata saya berkaca-kaca.

Saya temukan mimpi seorang anak SD di Kintamani, Bali, dimana ia ingin menjadi seorang petani Jeruk jika besar nanti. Cita-cita yang tidak terlalu berlebihan, bahkan cenderung seadanya mengikuti lingkungan. Berkaca pada ayahnya yang seorang petani Jeruk, maka mimpinya pun hanya sebatas itu.

Kali ini ada mimpi luar biasa dan berupaya menembus astmosfer kehidupan. Calon penerus bangsa yang ingin menjadi seorang astronot.

Mungkin suatu hari nanti Riko akan membuat sebuah penemuan untuk planet baru. Maka jika terjadi sesuatu pada bumi ini, kita bisa pindah ke planet lain, hasil temuannya Riko. Mungkin saja.

Entah saat kecil dulu saya bermimpi untuk menjadi apa. Sepertinya tidak pernah. Saya hanya berfikir ingin menjadi saya sebagaimana yang Tuhan gariskan.

"Bermimpilah setinggi-tingginya dan jangan batasi imajinasimu. Karena kamu adalah apa yang kamu pikirkan."

(dnu, ditulis sambil makan siang diantara jutaan laki-laki, 24 Maret 2015, 13.00)

Cc. Bp. Anies Baswedan


Monday, March 30, 2015

Semangat Ala Tahu Gejrot



Adalah Mbak Cantik seorang pedagang Tahu Gejrot yang hingga kini saya tidak tahu namanya. Telah memberikan asupan energy yang seketika mampu membuat saya begitu bersemangat usai membeli produknya yang berbahan dasar tahu itu.

Sore itu (1/2) saya berbelanja ke sebuah pusat perbelanjaan yang letaknya tidak jauh dari rumah. Usai membeli beberapa kebutuhan pokok saya memang terbiasa untuk membeli makanan kecil siap saji sebagai bekal perjalanan pulang.

Saat itu mata dan hati saya bergitu tertarik dengan sebuah jajanan bernama Tahu Gejrot. Tanpa pikir panjang, saya segera menghampiri gerobag dagangan tahu goreng yang  dalam penyajiannya dicampur dengan air cuka, cabai, bawang merah dan bawang putih. 

Mbak Cantik sang pedagang menyambut saya begitu ramah.

“Sore Bu…. mau berapa porsi bu?” tanyanya dengan penuh senyum yang sumringah.

“Satu saja” jawab saya singkat.

Sambil mulai mempersiapkan makanan asli Jawa Barat tersebut, Mbak Cantik ini menjawab pernyataan saya. Lagi-lagi dengan senyum manis dan penuh semangat.

“Satu aja Bu belinya..? Ngga beli dua gitu bu…?”

“Satu saja cukup Mbak…. terima kasih…” jawab saya.

Sepanjang mempersiapkan makanan ringan kesukaan saya ini, ia terlihat begitu semangat dan begitu menikmati profesinya.

Saya mulai kagum pada dirinya. Ia begitu semangat mengajak saya berbicara. Terlepas dari apa tujuannya, atau memang tengah merayu saya agar membeli lebih dari satu porsi, tetap saja ada satu sisi positif lainnya yang saya kagumi. Mbak Cantik berjilbab ini begitu bersemangat dalam berjualan. Nampaknya ia begitu menikmati bahkan mencintai pekerjaan yang dilakoninya saat ini.

Usai dibuatkan satu porsi, saya segera menyerahkan uang dan beranjak pergi.

Masih jelas di telinga saya saat Mbak Cantik ini menerima uang pemberian saya, ia berkata “Oke bu, terima kasih banyak…”

Kalimat sakti tersebut diucapkan dengan penuh semangat dan rasa terima kasih yang amat terasa ketulusannya. Bukan sekedar basa-basi atau hanya sebuah standarisasi.

Para pembaca yang budiman, Mbak ini hanya seorang pedagang tahu gejrot, yang mungkin saja pendapatannya tidak seberapa bila dibandingkan dengan pekerja kantoran lainnya. Tetapi satu pelajaran yang jarang dimiliki orang lain yang sama-sama berstatus pegawai, atau bahkan secara jabatan jauh lebih tinggi dari seorang pedagang tahu.

Ia begitu ramah pada pembeli yang entah siapa, dia hanya orang lain yang datang dan pergi begitu saja. Ia begitu semangat menyambut siapa saja yang datang untuk membeli barang dagangannya. Tidak lagi dilihat berapa banyak porsi yang dibeli, tetapi semangatnya melayani terus membumbung tinggi.

Mulai dari menyambut calon pembeli, saat melayani, hingga transaksi usai dijalani Mbak Cantik ini telah berhasil memberikan energi positif kepada orang lain.

Seseorang yang memiliki profesi berbeda, yang mungkin tingkat pekerjaannya lebih rumit dari hanya sekedar berjualan tahu gejrot tetap bisa memetik pelajaran dari kisah ini.

Jelas tidak bisa disamakan dengan profesi lainnya yang tanggung jawab, resiko pekerjaan dan tuntutannya pun lebih besar. Tingkat stress menjadi lebih tinggi dan emosi pun akan sulit terkendali. 

Namun jika membaca kisah ini berulang kali ada pelajaran walaupun kecil yang bisa diambil, yakni jadilah pribadi yang menyenangkan yang kian mampu menebarkan energi positif bagi orang disekelilingnya.

Bisa melalui sapaan, senyuman atau hal-hal lainnya yang tak mudah diungkapkan dengan kata-kata.

(dnu, ditulis sambil makan tahu gejrot selera pedas, 1 Februari 2015, 08.30)

Saturday, March 28, 2015

Saya Cuma “Res-resan Gorengan” Belaka….



Pernah makan gorengan? Tahu goreng, pisang goreng, bakwan goreng atau cireng? Suka perhatikan kalau di setiap proses menggoreng makanan tersebut terdapat pecahan-pecahan tepung berukuran kecil-kecil? Nah, bagian ini biasa dikenal dengan res-resan atau remah-remahnya gorengan.

Pertanyaan ke dua, pernah mencicipi remah-remahnya gorengan tersebut? Jika iya, bagaimana rasanya? Enak bukan?

Res-resan atau remah-remah gorengan memiliki makna tersendiri bagi saya. Bayangkan saja bila ada seonggok makanan gorengan, bersih, rapi, licin, tanpa ada sedikitpun remah-remahnya, bagaimana penampilannya? Kurang menarik bukan? Itulah mengapa sesungguhnya remah-remah atau res-resan gorengan memiliki peran tersendiri dalam setiap sajiannya.

Selain untuk mempercantik penampilan saat disajikan, bagian penting ini juga mampu menambah kelezatan sajian gorengan utama. Selain itu, porsi terkecil dari sebuah tepung ini seringkali juga berhasil meningkatkan nafsu makan bagi orang yang melihatnya.

Berkaitan dengan res-resan gorengan, saya ingin menghubungkannya dengan pergaulan saat ini yang amat mudah melahirkan jargon-jargon baru sebagai penyemangat pertemanan. Bahkan sebuah jargon juga bsia menjadi alat ukur gaul atau tidaknya seseorang. Bagi yang mengenalnya maka bisa mendapatkan predikat “anak gaul”, dan jika tak mengenalnya maka predikat yang didapat adalah sebaliknya :p.

Jargon yang ingin saya bahas kali ini adalah yang erat hubungannya dengan makanan gorengan, yakni “saya sih cuma res-resan gorengan doang… kalo lagi laper dimakan, kalo udah kenyang dibuang….”

Jika digambarkan dalam kehidupan sehari-hari, res-resan gorengan sama halnya dengan teman-teman kita yang baik nan lucu-lucu. Teman-teman di kantor misalnya, keberadaannya sungguh dapat meningkatkan gairah hidup, yang tadinya amat berat untuk bangun pagi, tapi ketika bertemu dengan teman-teman tersebut semua berubah menjadi lebih positif. Lebih semangat, banyak tertawa, pikiran lebih lurus dan jiwa raga menjadi lebih berenergi ^^.

Bagi saya, teman-teman yang berada disekitar hidup saya telah memberi warna tersendiri. Mereka telah berhasil membawa warnanya masing-masing, dan ketika dipadukan dengan warna yang saya punya hidup saya menjadi lebih cerah ceria.

Terkait ungkapan pesimis tentang tidak bergunanya sepiring res-resan gorengan, yang berarti kurang lebih seperti ini “saya itu makhluk ngga berguna buat dia, kalau dia lagi butuh maka saya akan dilibatkan dalam hidupnya, kalau sudah ngga butuh maka saya akan dibuang… apalah artinya saya….”

Nah menurut saya, teman yang seolah-olah merasa dirinya hanyalah res-resan gorengan belaka bagi orang lain sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang telah tepat berada pada tempat terbaik di hati orang lain tersebut. Lebih mudahnya seperti ini, jika kamu merasa tak beda dengan res-resan gorengan, maka sebenarnya kamu justru telah berhasil menduduki satu sisi di hati saya.

Pancaran energi positif tentu selalu kita harapkan dalam hidup ini. Dan salah satu sumber pemancar tersebut adalah teman-teman yang tanpa sadar setiap kali bertemu telah mampu membuat kita tertawa. Bukankah tertawa satu detik akan menambah umur satu menit? :p

Disadari atau tidak, sehari saja kita tidak kumpul atau bertemu dengan teman yang mampu membuat kita tertawa maka kesuramanlah yang akan menemani kita sepanjang hari. Jika sejak pagi aura kita sudah tidak bagus, inginnya marah-marah, malas mengerjakan apapun, ingin segera bertemu dengan bantal di rumah, namun jika dalam ketidaksengajaan kita bertemu dengan teman-teman sang res-resan gorengan, bayangkan apa yang akan terjadi! Seketika semuanya berubah menjadi lebih ceria, indah, semangat dan ingin menjalani hidup ini lebih dari 24 jam dalam sehari :D

Melalui tulisan ini saya ingin berbagi kepada pribadi-pribadi yang kadang merasa tak berguna bagi orang lain, atau hanya merasa dilibatkan dalam hidupnya jika dibutuhkan saja, berhentilah berprasangka buruk mulai dari sekarang. Tetaplah menjadi diri sendiri dan tidak mudah terpengaruh dengan orang lain.
Sungguh elok terasa jika baik buruknya sikap orang lain tidak berpengaruh sedikitpun terhadap diri dan perilaku kita. Tetaplah menjadi pribadi yang senantiasa berbuat baik walau bagaimanapun perbuatan orang lain terhadap kita.

Hidup akan terasa lebih indah jika dalam setiap langkah kita selalu diselipkan hal-hal yang mampu membahagiakan orang lain. Pribadi yang dirindukan adalah pribadi yang senantiasa bermanfaat bagi orang lain. Dan pastikan, akan terjadi sebuah rasa kehilangan yang besar dalam diri seseorang jika kita tidak berada disampingnya J

Jangan sampai ada dan tiadanya diri kita tidak berefek apapun bagi orang lain. Kita ada maka orang lain akan bergembira, dan jika kita tidak ada maka orang lain akan merasa kehilangan. Namun tidak perlu kita menjadi orang lain, tetaplah menjadi kamu dengan apa adanya kamu tanpa banyak topeng yang terpasang di wajahmu.

Berlaku baiklah dari hati yang paling dalam, karena sebuah ketulusan hanya akan bisa dirasakan oleh orang yang menerimanya.

Dan bagi pribadi-pribadi yang terbiasa memanfaatkan orang lain jika sedang butuh saja, maka berubahlah mulai dari sekarang. Seperti pepatah lama mengatakan mencari seribu musuh sangatlah mudah, namun mencari satu teman saja tidaklah mudah.

Balik lagi ke res-resan gorengan, sesungguhnya remah-remah ini adalah penggembira yang kaya akan manfaat. Dan jika kamu sudah kenyang maka jangan pernah membuang res-resan gorengan, tetapi jadikan printilan-printilan itu sebagai cemilan untuk menemanimu menjalani aktivitas sehari-hari.

(dnu, ditulis sambil bersenandung (semoga) merdu lagunya Tangga “cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati…. haha…. 27 Maret 2015, 11.10 WIB)


Tuesday, March 24, 2015

Aplikasi Online "Khusus Tengah Malam” Buatan Pemerintah Indonesia



Entah saya ingin komentar menggunakan bahasa yang seperti apa terhadap pemerintah Indonesia saat ini. Khususnya pada aplikasi sistem online terkait dengan kewajiban yang harus dipenuhi oleh Warga Negara Indonesia (WNI). Jika tidak memenuhi kewajiban ini maka ada sanksi yang akan ditanggung oleh WNI. Nah maksudnya pemerintah mungkin ingin mempermudah warganya dalam menunaikan kewajiban tersebut dengan membuat suatu aplikasi online. Jadi warga tidak perlu bersusah payah mengantri di kantor kepemerintahan yang dimaksud, tetapi bisa dilakukan secara online dari mana saja selama ada jaringan internet.

Ini adalah kali ke dua saya menemukan jawaban yang amat “luar biasa” dari pelaku/petugas/pejabat berwenang untuk pelaksanaan kewajiban WNI secara online. Yang pertama aplikasi online untuk bidang kesehatan nasional, selanjutnya aplikasi online untuk ketaatan pembayaran suatu biaya kepada Negara.

Aplikasi ini sungguh tidak memudahkan. Bagaimana tidak, sangat amat sulitnya menggunakan aplikasi ini di siang hari, siang bolong, jam kerja, hari kerja atau bahkan bisa dibilang saat matahari masih bersinar cerah. Saya mengalaminya sodara-sodaraaaa…. !!!

Untuk aplikasi bidang kesehatan nasional ini, ketika saya tanyakan kepada pejabat yang berwenang jawabannya adalah “iya kalau siang banyak yang akses Bu, jadi agak lambat servernya… bahkan gak bisa dibuka… Kalau mau lancar aksesnya sebaiknya jam 3 atau 4 pagi Bu…..”
Oh nooo…. jawaban macam apa ituu???

Jawaban yang persis sama juga saya dengar melalui diskusi di radio untuk aplikasi kewajiban pembayaran suatu biaya seorang warga kepada Negaranya. Aneeehhh…. apakah aplikasi ini memudahkan warga untuk menunaikan kewajibannya? Sedangkan ketika waga mencoba taat pada Negara namun tidak didukung oleh aplikasi yang mumpuni! Bagaimana ini?? Harus menunaikan kewajiban di tengah malam buta dimana itu adalah waktu istirahat semua orang?? Entahlah, mungkin sang pembuat aplikasi sudah amat lelah sehingga lupa bagaimana caranya membuat suatu sistem yang performanya bisa tetap baik walau digunakan kapanpun.

Ah, sungguh emosi saya menuliskan keluhan ini :(

Indonesia sebagai Negara yang kaya raya dengan bukti korupsi bisa dilakukan dimana saja, nampaknya mungkin bisa ya uang-uang yang dikorupsi tersebut setelah sebagian dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat, digunakan juga untuk modal membuat sistem pelayanan yang baik nan mumpuni.
Mumpuni disini maksudnya ialah bisa support kapan saja saat warganya membutuhkan, tidak kenal waktu sampai satuan detik sekalipun.

Rencana kerja pemerintah yang luar biasa ini memang patut diacungi beribu jempol, yakni betapa para petinggi di Negara ini sebenarnya amat perhatian pada warganya, dengan cara membuatkan sistem yang katanya terintegrasi dengan baik. Namun aplikasinya di lapangan masih sangat jauh dari impian. Dan jawaban-jawaban para praktisi yang berkecimpung didalamnya turut menurunkan nilai takjub yang awalnya saya pribadi telah menyambutnya dengan mata berbinar.

Ketika aplikasi disusun bukankah segala kemungkinan telah dipikirkan dengan baik? Bagaimana jika ada 5 juta orang mengakses dalam waktu yang sama? Bagaimana jika tiba-tiba hujan lebat, petir bersahutan dan angin kencang, apakah sistemnya tetap bisa bekerja dengan sempurna? Jangankan hujan, siang bolong dibawah mentari yang indah saja aplikasinya mogok tak mau bekerja. Dan katanya harus menunggu tengah malam buta nan romantis untuk bisa berselancar dengan asik dengan aplikasi ini :(

Warga diminta menunaikan kewajiban tapi sarana dan prasarananya tidak disiapkan dengan baik. So, jangan salahkan warga jika telat menunaikan kewajiban atau masih memilih jalur yang konvensional.

(dnu, ditulis sambil makan ayam goreng di warung bebek goreng, 24 Maret 2015, 18.30)

Monday, March 23, 2015

Menelanjangi Matahari Diantara Bongkahan Beton

Menelanjangi Matahari Diantara Bongkahan Beton

Kota ini tidak juga berhenti sejenak dari aktifitasnya. Terus saja sibuk dengan segala kepentingan masing-masing pecintanya.

Ya, rasanya boleh saya katakan orang-orang yang menggadaikan hidupnya di Kota Metropolitan ini adalah para pecinta Ibu Kota Jakarta.

Hari ini, Minggu, yang sesungguhnya merupakan hari liburnya para pencari sesuap nasi dan sebongkah berlian di Jakarta, namun tidak dengan dirinya sendiri.

Jakarta terus saja bergerilya, hingga lupa pada pagi yang indah dan telah dijelang dengan sejuta kesibukannya.

Dari lantai 19 bangunan kokoh ini saya perhatikan sejak semalam, Jakarta belum tidur. Orang-orang masih saja hilir mudik dengan berbagai jenis kendaraannya, melintasi jalan layang ataupun jalan tikus.

Hingga waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB suara bising kendaraan yang tanpa sadar telah menjadi irama kehidupan ini masih saja terdengar.

Menyibak tirai kamar, nampak jelas lampu-lampu cantik berlomba adu terang dari berbagai sudut keindahan. Gedung-gedung pencakar langit bercahaya dari setiap lapisan lantainya, hingga tiang-tiang penyangga jalan yang dililit lampu kelap kelip.

Pepohonan yang semestinya hijau namun di malam ini tampak biru karena gelombang cahaya, hingga ratusan silang kilatan lampu kendaraan yang terus melesat untuk menambah keindahan.

Disamping bangunan kokoh ini, tampak jelas terlihat raksasa beton lainnya yang tengah kejar tayang guna menyelesaikan pembangunan.

Berbagai alat berat, tiang pancang hingga crane penuntas kegagahan terus bergerak sepanjang malam. Dia tidak berhenti bekerja.

Pagi hari saat kembali membuka mata, menikmati balutan kabut yang cuma seadanya, seraya menghirup udara yang tidak terlalu bebas, saya memastikan bahwa suara bising itu masih tetap ada.

Pembangunan gedung terus berjalan. Lalu lintas masih sibuk. Orang-orang semakin ramai hilir mudik, dan kehidupan di Jakarta ini tak jua rehat sejenak.

Para pecinta Jakarta terus berupaya menaikkan taraf hidupnya dengan berbagai usaha yang diagungkannya masing-masing.

Tidak peduli ini hari apa, tidak peduli ini jam berapa, atau bahkan mungkin tidak peduli apakah tubuhnya telah mendapatkan haknya.

Mereka terus begerak dari satu titik ke titik lainnya, seakan berlomba dengan segala kesibukannya.

Menelanjangi matahari diantara bongkahan beton. Menikmati terik matahari diantara bongkahan beton. Hingga melepas kepergian matahari yang masih tetap diantara bongkahan beton.

Atau mungkin saat berbincang dengan sang bulan dan bintang mereka masih ada diatara bongkahan beton?? Mungkin saja.

Diantara gedung-gedung pencakar langit ini udara melesat untuk kita hirup. Pepohonan seakan semakin sedikit mendapatkan izin untuk dapat tumbuh. Bahkan gemericik air alami tak lagi boleh beredar begitu saja, tanpa ada kubangan biru nan besar hasil buatan tangan manusia.

Para pecinta Jakarta mungkin telah nyaman dengan semua iramanya. Hingga tanpa sadar mulai dari membuka mata hingga memaksa mata tetap terbuka, mereka ada diantara bongkahan beton yang dikelilingi jalan raya.

Tubuh tetap memiliki hak untuk diistirahatkan. Sama dengan kota ini, mungkin boleh sesekali untuk terbebas dari asap knalpot ataupun uap limbah hasil industri sana sini.

Para bongkahan beton ini pun punya hak untuk berdiri manis sendiri, tanpa disibukkan oleh para pecintanya.

(dnu, ditulis sambil nemenin anak-anak berenang, 1 Maret 2015, 08.55)


Sunday, March 22, 2015

Tunjangan Meningkat, Korupsi Menghilang?


Korupsi itu terjadi karena beberapa hal, diantaranya adalah lemahnya iman dan adanya kesempatan. Walau mungkin kadang ada yang sengaja membuat adanya sebuah "kesempatan" untuk melakukan perbuatan hina tersebut. Dengan kata lain kesempatan sebenarnya sudah tidak ada tapi sengaja diada-adakan supaya bisa terbuka lebar jalan korupsinya.

Selain karena lemah iman dan adanya kesempatan, entah apakah bisa juga dikatakan karena adanya kebutuhan. Berangkat dari kebutuhan hidup yang memaksa maka seseorang mencari pendapatan dengan menghalalkan segala cara, korupsi salah satunya.

Entahlah, selain layak disebut dengan zaman edan, pantas disebut dengan kata apalagi masa-masa sekarang ini. Setelah ramai beredar kabar adanya dana siluman dari salah satu institusi kepemerintahan Indonesia, kini ramai lagi dibicarakan naikknya tunjangan para pegawai pajak. Saya juga belum tahu kebenarannya.

Disini saya hanya ingin berbagi pendapat tentang naiknya pendapatan hidup manusia bukan menjadi jalan penutup untuk manusia itu tetap melakukan perbuatan tercela.

Kasarnya, kalau memang pribadi orang tersebut sudah tidak baik, maka mau sebanyak apapun harta yang telah ia miliki namun jika ada kesempatan untuk berbuat curang maka dengan tanpa membuang waktu ia akan melakukannya. Atau jika si kesempatan tak kunjung tiba, maka dengan penuh kreatifitas ia akan membuat "kesempatan" jadi-jadian itu segera tiba. Dan aksi tercela akan segera dilakoninya.

Sebaliknya, jika seseorang memang telah memiliki kepribadian yang baik, maka seluas apapun kesempatan terbuka, dengan berbekal kekuatan iman yang baik ia tidak akan merugikan dirinya sendiri dengan melakukan hal yang memalukan, yakni korupsi. Karena ia paham benar selain korupsi adalah perbuatan manusia berhati kerdil, hal ini juga akan berimbas pada keluarganya tercinta.

Jadi saya simpulkan, korupsi terjadi bukan hanya karena keadaan yang berkekurangan, tetapi karena buruknya kepribadian.

Menurut saya sih gitu :D

(dnu, ditulis sambil nonton talk show anti korupsi di TV Swasta tak berbayar - ah di malam Senin ini ngebahas hal yang berat pisan - laksana kurcaci yang sedang menyaksikan pertunjukan panggung politik istana kenegaraan dengan seluruh patih, prajurit dan pegawai istana didalamnya, 22 Maret 2015, 06.50)

Uji Nyali Makan Bebek (Saya Benci Bebek !!!!)

Ini adalah bebek pertama yang akan saya makan dalam hidup saya.
Sungguh saya tidak bisa pastikan apakah bebek ini sudah cuci kaki atau belum saat akan dimasak.

Dengan mengucap bismillah dan doa makan, persantapan bebek pertama dalam hidup dimulai....

Tutup mata, dan bayangkan ini adalah ayam goreng yang mempesona zzzzz......

(dnu, ditulis sambil deg degan mau makan bebek, 19 Maret 2015, 18.06)

Saturday, March 21, 2015

Cinta Aku Menyerah

Kali ini aku mulai berhenti
Berhenti tuk mencintaimu
Telah ku coba untuk bertahan
Aku semakin terluka

Sebenarnya ku tak ingin berpisah
Namun hati tak bisa menerima
Terlalu dalam kau lukai hatiku
Tak sanggup lagi bertahan,
Cinta aku menyerah

Tak mungkin lagi kita teruskan
Bila akhirnya kau tak setia
Meski mencoba untuk bertahan
Aku semakin terluka

Sebenarnya ku tak ingin berpisah
Namun hati tak bisa menerima
Terlalu dalam kau lukai hatiku
Tak sanggup lagi bertahan,
Cinta aku menyerah

Terus dan terus melukaiku
Sebenarnya ku tak ingin berpisah
Namun hati tak bisa menerima
Terlalu dalam kau lukai hatiku
Tak sanggup lagi bertahan,
Tak sanggup lagi ku tahan

Cinta aku menyerah...

Calon Presiden Dari Bantul

Namanya Dana, murid laki-laki kelas 2 SD Nawungan, Bantul, Yogyakarta yang saya temui saat menjadi relawan Indonesia Mengajar - Kelas Inspirasi (16/3) lalu.

Dana tengah terisak disudut ruangan saat saya masuk ke dalam Kelas 2. Saya hampiri dengan hati-hati, takutnya Dana marah atau takut bertemu dengan orang baru atau guru tamu seperti saya.

Saya mulai bertanya "Kamu kenapa? Sakit? Jatuh? Ada yang nakalin?" Dana hanya menggeleng sambil terus terisak.

Saya tanya teman disebelahnya, ia pun tak tahu mengapa Dana menangis. Saya langsung mengusap kepalanya, mengajaknya berbicara dan coba memeluknya. Saya katakan "Dana, sekarang Kakak mau bagi-bagi pin, Dana mau ngga? Nanti di pinnya bisa ditulisin cita-cita Dana...."

Dana menatap mata saya sambil mengusap air matanya, dan mengangguk tanda setuju. Akhirnya drama tangispun selesai.

Tiap anak saya bagikan pin satu persatu. Perintahnya, pada pin tersebut harus dituliskan cita-citanya masing-masing. Dan saya masih tertarik kepada Dana.

Ia mulai menulis, kata "Prisiden" akhirnya lancar dituangkannya diatas pin. Saya tanya "Mau jadi Presiden ya?"

"Iya...!!!" Jawab Dana dengan penuh semangat.

"Biar aku bisa ke Jakarta Kak, pengin jadi Presiden..." tambahnya.

Dana yang hebat, Dana yang luar biasa. Profesi yang kini tengah kontroversi namun tetap diimpikan oleh seorang anak SD di Dusun Nawungan, Bantul.

Semoga Dana bisa meraih cita-citanya di masa yang akan datang. Dan kelak menjadi pemimpin yang adil dan berbudi luhur, sehingga mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya.

Dana adalah sosok putra bangsa yang polos dan tak mengerti betapa negara kita kini tengah hingar bingar atas sebuah profesi seorang Presiden.

Mungkin dimata Dana hanyalah kedamaian yang kini ada. Karena memang benar hanya sebuah keceriaan yang boleh tampak di mata anak Indonesia.

(dnu, ditulis sambil galau karena gerimis mengundang, 19 Maret 2015, 12.59)


Tentang Aku dan SemestaNya



Aku hanya ingin melangkah sendiri, menyatu dengan alam, memandangi hijau dedaunan dan menikmati hembusan angin.

Jika sesekali hujan turun, sungguh aku ingin menjadi bagian darinya. Yang tulus membasahi bumi walau kadang kehadirannya menuai caci.

Dan bersama air-air masam itu aku telah bisa menghempaskan seluruh kegelisahan, dari titik yang paling tinggi lalu menghantam tajam ke bumi.

Akupun percaya, seketika itu aku akan terlahir menjadi manusia yang baru. Kembali dari tanah. Karena air hujan telah menembus dinding tanah basah.

Melangkah dengan pasti, bebas pergi kemanapun yang diingini.

Memeluk alam kala siang menjelang.
Berpayung lembayung saat petang datang.
Dan bermandi taburan bintang ketika gulita malam mulai merata.

Jika ingin menangis tak harus ku tahan.
Jika ingin teriak tak perlu ku tekan.
Bahkan jika ingin ku berontak tak ada lagi hati kecil yang harus ku pertimbangkan.

Karena disini hanya ada aku dan alam.
Memeluk semesta.
Bermanja dengan suasana.
Dan disana adalah hati yang telah benar-benar seadanya, seutuhnya.

Saat fajar datang, butiran embun tersenyum bahagia.
Dan lagi-lagi, aku ingin menjadi bagian dari bulirnya.
Menangispun tak perlu ku menunggu turun hujan yang akan mampu membasahi wajah, lalu memudarkan jutaan tetes air mata.
Karena tak ada siapa-siapa lagi yang akan menyapa, mengapa aku tak lagi tertawa seperti biasanya.

And all of my tears will be lost in the rain…

(dnu, ditulis sambil menikmati hujan diawal Februari – bersiap untuk ditembak kalau ini adalah curahan hati – padahal bukan – cuma lagi belajar nulis puisi, 1 Februari 2015, 16.10)