Tuesday, March 17, 2015

Mutiara Di SD Nawungan, Bantul, Yogyakarta



Mereka dengan Cita-citanya

Kali ini kota budaya nan elok Yogyakarta menjadi sasaran saya berikutnya untuk berbagi cerita. Kembali dengan mengikuti kegiatan Indonesia Mengajar – Kelas Inspirasi saya memantapkan diri untuk terus berbagi. Bukan ilmu, tetapi cerita, pengalaman dan ispirasi yang saya bagikan disana demi memotivasi para tunas bangsa untuk semangat menyambut hari esok yang lebih cerah.

Memang sekolah-sekolah di garis marjinal dan menengah ke bawahlah yang menjadi sasaran progam ini. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengispirasi anak-anak Sekolah Dasar agar memiliki cita-cita yang tinggi, bahkan melebihi profesi para relawan yang hadir saat ini.

Sebagai salah satu relawan pendidikan di SD Nawungan, Bantul, saya merasakan getaran yang berbeda kala saya mulai menginjakkan kaki ke dalam kelas. Proses mengajar yang berlangsung pada Senin (16/3) lalu, telah benar-benar membuka mata saya bahwa masih ada dibelahan suatu kota berdiri para tunas bangsa dengan cita-cita yang luar biasa.

Namanya Lukman, murid kelas 2, ketika saya tanyakan jika besar nanti ingin jadi apa, dengan lantang ia menjawab “aku mau jadi astronot kak, nanti aku naik roket lalu terbang ke bulan….” Seketika saya merasa bangga dengan mimpi luar biasa Lukman yang tanpa disadari bahwa ia tengah merajut semuanya mulai saat ini.

Lukman bukan anak yang pendiam, justru sebaliknya. Berbagai aktifitas ia lakukan didalam kelas. Mulai dari berlarian kesana kemari, naik turun kursi, bersenda gurau dengan teman-temannya, menerbangkan pesawat impiannya hingga menuliskan mimpi besarnya di papan tulis. Ya, sosok anak bangsa yang tumbuh dengan ceria tanpa ada sedikitpun beban didalam hidupnya.

Lain halnya dengan Lita yang ketika saya ceritakan bahwa saya berasal dari Jakarta, spontan ia bertanya :

“Kak Dewi di Jakarta kenal sama Pak ini ngga…. hhmmm…. Pak….. hmm… pak siapa ya….. hhmm…. itu….. hhmm…. ah aku lupa Kak…… Kenal kak? “

Hahahahaha….. seketika saya tertawa melihat pesona dek Lita haha…. Jakarta yang sedemekian besarnya, lalu ia bertanya tentang satu orang yang namanya pun tak berhasil dia sebutkan hahahaha…..

Tapi ini adalah bukti bahwa ada Lita seorang anak desa yang tidak malu-malu bertemu dengan kami para relawan dari kota yang berbeda.

Jumlah siswa dalam satu kelas memang tidak banyak, hanya rata-rata 15 orang. Hal ini sempat membuat saya terkejut saat pertama kali membuka pintu ruang kelas 1. Saya lihat ke sekeliling kelas, mulai menghitung satu persatu dan akhirnya saya berani bertanya “adek-adek… ini temen-temennya pada kemana?....” Dengan kompak mereka menjawab “Cuma segini Kak…. sudah masuk semuanyaa…. 14 kak….”

Oke, ruang kelas yang sendu, jumlah teman-teman yang tidak banyak, tapi tidak mampu mengurangi semangat mereka belajar. Berbagai perlatan sekolah mereka mainkan saat saya bercerita di depan kelas, mulai dari penggaris, kapur tulis, gulungan kertas, botol minum hingga sendok dan tempat makan. Ya, mereka adalah anak-anak yang aktif dengan segala keceriaannya.

Saat saya tanyakan, “Riko, itu sendoknya bagus sekali, mau buat apa dikeluarkan sekarang…?” Dengan cepat Riko menjawab “Buat saya makan tadi Pagi Kak, dibawakan Ibu, kata Ibu biar sehat ngga usah jajan, trus kalau sudah besar aku mau jadi Dokter kak biar aku bisa obatin orang yang sakit karena kebanyakan jajan…..”

Riko telah mampu membuat air mata saya jatuh tanpa sadar. Menatapnya dengan penuh kebanggaan. Melihatnya dengan penuh ketidakpercayaan, bahwa semangat untuk menjadi Dokter dan menolong orang lain ada dalam diri siswa kelas 1 SD yang letak sekolahnya mirip diatas gunung.

Jalan berliku, dikelilingi sawah dan sesekali terdapat rumah penduduk telah saya lalui saat menuju SD Nawungan, Bantul ini. Pancaran sinar matahari yang kala itu sukses menerangi seluruh alam Yogya, benar-benar membuat saya lupa bahwa saya hanya berada sebentar disini. Bertemu Riko, Lita dan yang lainnya tidak lebih dari satu hari.

Tunas bangsa yang terus bersemangat dengan tiada henti, bercerita dengan gayanya sendiri-sendiri dan bermain dengan kesukaannya masing-masing. Sungguh diatas bukit ini, dibalik tembok sekolah ini, di tiap-tiap ruang kelas ini, ada para tunas bangsa yang kini hidup dengan untaian cita-citanya sendiri-sendiri.

Saya amat bahagia bisa bertemu dengan mereka. Karena tidak ada rasa yang lebih luar biasa selain melihat para tunas bangsa tumbuh menjadi pribadi yang sehat, pintar dan bahagia.

(dnu, ditulis sambil nahan laper, 18 Maret 2015, 07.47)