Saturday, March 28, 2015

Saya Cuma “Res-resan Gorengan” Belaka….



Pernah makan gorengan? Tahu goreng, pisang goreng, bakwan goreng atau cireng? Suka perhatikan kalau di setiap proses menggoreng makanan tersebut terdapat pecahan-pecahan tepung berukuran kecil-kecil? Nah, bagian ini biasa dikenal dengan res-resan atau remah-remahnya gorengan.

Pertanyaan ke dua, pernah mencicipi remah-remahnya gorengan tersebut? Jika iya, bagaimana rasanya? Enak bukan?

Res-resan atau remah-remah gorengan memiliki makna tersendiri bagi saya. Bayangkan saja bila ada seonggok makanan gorengan, bersih, rapi, licin, tanpa ada sedikitpun remah-remahnya, bagaimana penampilannya? Kurang menarik bukan? Itulah mengapa sesungguhnya remah-remah atau res-resan gorengan memiliki peran tersendiri dalam setiap sajiannya.

Selain untuk mempercantik penampilan saat disajikan, bagian penting ini juga mampu menambah kelezatan sajian gorengan utama. Selain itu, porsi terkecil dari sebuah tepung ini seringkali juga berhasil meningkatkan nafsu makan bagi orang yang melihatnya.

Berkaitan dengan res-resan gorengan, saya ingin menghubungkannya dengan pergaulan saat ini yang amat mudah melahirkan jargon-jargon baru sebagai penyemangat pertemanan. Bahkan sebuah jargon juga bsia menjadi alat ukur gaul atau tidaknya seseorang. Bagi yang mengenalnya maka bisa mendapatkan predikat “anak gaul”, dan jika tak mengenalnya maka predikat yang didapat adalah sebaliknya :p.

Jargon yang ingin saya bahas kali ini adalah yang erat hubungannya dengan makanan gorengan, yakni “saya sih cuma res-resan gorengan doang… kalo lagi laper dimakan, kalo udah kenyang dibuang….”

Jika digambarkan dalam kehidupan sehari-hari, res-resan gorengan sama halnya dengan teman-teman kita yang baik nan lucu-lucu. Teman-teman di kantor misalnya, keberadaannya sungguh dapat meningkatkan gairah hidup, yang tadinya amat berat untuk bangun pagi, tapi ketika bertemu dengan teman-teman tersebut semua berubah menjadi lebih positif. Lebih semangat, banyak tertawa, pikiran lebih lurus dan jiwa raga menjadi lebih berenergi ^^.

Bagi saya, teman-teman yang berada disekitar hidup saya telah memberi warna tersendiri. Mereka telah berhasil membawa warnanya masing-masing, dan ketika dipadukan dengan warna yang saya punya hidup saya menjadi lebih cerah ceria.

Terkait ungkapan pesimis tentang tidak bergunanya sepiring res-resan gorengan, yang berarti kurang lebih seperti ini “saya itu makhluk ngga berguna buat dia, kalau dia lagi butuh maka saya akan dilibatkan dalam hidupnya, kalau sudah ngga butuh maka saya akan dibuang… apalah artinya saya….”

Nah menurut saya, teman yang seolah-olah merasa dirinya hanyalah res-resan gorengan belaka bagi orang lain sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang telah tepat berada pada tempat terbaik di hati orang lain tersebut. Lebih mudahnya seperti ini, jika kamu merasa tak beda dengan res-resan gorengan, maka sebenarnya kamu justru telah berhasil menduduki satu sisi di hati saya.

Pancaran energi positif tentu selalu kita harapkan dalam hidup ini. Dan salah satu sumber pemancar tersebut adalah teman-teman yang tanpa sadar setiap kali bertemu telah mampu membuat kita tertawa. Bukankah tertawa satu detik akan menambah umur satu menit? :p

Disadari atau tidak, sehari saja kita tidak kumpul atau bertemu dengan teman yang mampu membuat kita tertawa maka kesuramanlah yang akan menemani kita sepanjang hari. Jika sejak pagi aura kita sudah tidak bagus, inginnya marah-marah, malas mengerjakan apapun, ingin segera bertemu dengan bantal di rumah, namun jika dalam ketidaksengajaan kita bertemu dengan teman-teman sang res-resan gorengan, bayangkan apa yang akan terjadi! Seketika semuanya berubah menjadi lebih ceria, indah, semangat dan ingin menjalani hidup ini lebih dari 24 jam dalam sehari :D

Melalui tulisan ini saya ingin berbagi kepada pribadi-pribadi yang kadang merasa tak berguna bagi orang lain, atau hanya merasa dilibatkan dalam hidupnya jika dibutuhkan saja, berhentilah berprasangka buruk mulai dari sekarang. Tetaplah menjadi diri sendiri dan tidak mudah terpengaruh dengan orang lain.
Sungguh elok terasa jika baik buruknya sikap orang lain tidak berpengaruh sedikitpun terhadap diri dan perilaku kita. Tetaplah menjadi pribadi yang senantiasa berbuat baik walau bagaimanapun perbuatan orang lain terhadap kita.

Hidup akan terasa lebih indah jika dalam setiap langkah kita selalu diselipkan hal-hal yang mampu membahagiakan orang lain. Pribadi yang dirindukan adalah pribadi yang senantiasa bermanfaat bagi orang lain. Dan pastikan, akan terjadi sebuah rasa kehilangan yang besar dalam diri seseorang jika kita tidak berada disampingnya J

Jangan sampai ada dan tiadanya diri kita tidak berefek apapun bagi orang lain. Kita ada maka orang lain akan bergembira, dan jika kita tidak ada maka orang lain akan merasa kehilangan. Namun tidak perlu kita menjadi orang lain, tetaplah menjadi kamu dengan apa adanya kamu tanpa banyak topeng yang terpasang di wajahmu.

Berlaku baiklah dari hati yang paling dalam, karena sebuah ketulusan hanya akan bisa dirasakan oleh orang yang menerimanya.

Dan bagi pribadi-pribadi yang terbiasa memanfaatkan orang lain jika sedang butuh saja, maka berubahlah mulai dari sekarang. Seperti pepatah lama mengatakan mencari seribu musuh sangatlah mudah, namun mencari satu teman saja tidaklah mudah.

Balik lagi ke res-resan gorengan, sesungguhnya remah-remah ini adalah penggembira yang kaya akan manfaat. Dan jika kamu sudah kenyang maka jangan pernah membuang res-resan gorengan, tetapi jadikan printilan-printilan itu sebagai cemilan untuk menemanimu menjalani aktivitas sehari-hari.

(dnu, ditulis sambil bersenandung (semoga) merdu lagunya Tangga “cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati…. haha…. 27 Maret 2015, 11.10 WIB)