Sunday, April 26, 2015

Ya Allah, Mohon Minggukan Hari Senin...



Entah ada apa dengan Si Senin. Kehadirannya begitu menuai kontroversi. Ada yang menyambut dengan riang gembira namun ada juga yang bermalas-malasan menanggapi kedatangannya.



Bangun pagi terasa berat.
Mata seakan susah untuk dibuka.
Mandi terasa lebih dingin dari Sabtu dan Minggu.



Yang ada dibenak hanya kembali ke tempat tidur, ambil bantal, tarik selimut, nyalakan pendingin ruangan dan bersiap kembali ke pendaringan...



Zzzzzzzzzz....



Sepertinya segala masalah menumpuk di hari Senin. Jika tak tuntas, maka Selasa tak akan menjadi indah.



Memanjang ke Rabu, yang akan memastikan bahwa keceriaanmu masih tetap semu.



Menjelang hadirnya si Kamis, selesai tak selesai masalah itu, semuanya akan tetap terasa manis.



Apalagi jika matahari mulai menampakkan dirinya di hari Jumat, percayalah, tak ada lagi yang berani mengumpat.



Aura Sabtu mulai terasa di Jumat sore yang merayu. Gegap gempita seluruh semesta, seakan semua akan mati esok hari, sehingga keceriaan dihabiskan semuanya di malam ini.



Sabtu... Minggu... 48 jam laksana 2 jam saja. Selesai dalam sekejap, tak bersisa. Tanpa bisa berbuat apa-apa, percayalah esok Senin akan segera menyapa... ^o^



Tapi jangan pernah lupa, berterimakasihlah kepada Senin, karenanya kita mencintai Jumat ^^



Namun jika boleh meminta....



Ya Allah jika memungkinkan, mohon minggukan hari Senin esok.... :(



Ahahahahaha.... Semangaaattttt !!!!



(dnu, ditulis di hari Minggu malam Senin dalam balutan kasih penuh bahagia seakan tak percaya liburnya cuma 2 hari saja huakakakakak.... semangaaatttt...., 26 April 2015, 19. 33 WIB)



Nice quote "minggukan hari senin" by Boss Gogon Journey

Saturday, April 25, 2015

4P (Pergi Pagi Pulang Pagi)



Kerja itu ibadah lho. Siapapun yang mengerjakannya. Baik laki-laki maupun perempuan. Kaum adam maupun kaum hawa. Pasti ada tujuan dari setiap pekerjaan yang dilakukan, mulai dari mencari nafkah sampai dengan aktualisasi diri dan penerapan ilmu.

Pekerjaan dalam bentuk apapun yang dilakukan dengan cara yang halal dan untuk mencapai tujuan yang baik sejatinya adalah aktifitas yang bernilai mulia. Beragam aktifitas mencari penghasilan di dunia ini menyebabkan beraneka ragam pula jam kerja yang harus ditempuh.

Ada yang berangkat dari rumah pagi hari dan malam hari baru kembali. Ada yang berangkat siang, dan tengah malam baru pulang. Ada yang berangkat sore hari dan esok paginya baru kembali. Bahkan ada yang pergi pagi dan pulang esok pagi. Luar biasa! Selama semuanya dilakukan di jalan Tuhan maka menurut saya kebaikan-kebaikan pulalah yang akan mengiringinya setiap hari.

Ada gurauan yang mengatakan :

“Emang kemana sih si nafkah kok dicariin terus? Susah banget ya ketemu sama si nafkah?”

Haha…. Ya! Nafkah itu harus dicari! Sungguh nafkah ngga bisa dateng sendiri kepada yang hanya berdiam diri. Satu kesatuan yang sempurna antara doa dan usaha akan memudahkan si nafkah datang kepada yang mencarinya.

Itulah mengapa setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam berselancar di dunia ini untuk bekerja, mulai dari jenis usahanya yang berbeda hingga jam kerja yang harus dilakoni pun berbeda-beda.

Jika yang mencari nafkah sudah meniatkan dirinya untuk beribadah maka yang ditinggal di rumah pun akan tenang melepas kepergiannya dengan untaian doa keselamatan, sambil sesekali diiringi nyanyian :

“aku rela ditinggal pagi pulang pagi karena kamu mencari rezeki, dan ku doakan semoga pulang dompetmu terisi…”

hahaha….

Sekali lagi, niatkan bekerja untuk ibadah. Bukan untuk membunuh waktu, atau menghabiskan waktu di luar rumah, atau hanya sekedar mencari kesibukan. Maka jika kita harus rela pergi pagi pulang pagi untuk mengais rezeki, kita bisa dengan ikhlas mengerjakannya tanpa keluhan dan umpatan sedikitpun. Karena apa? Karena jauh di lubuk hati yang paling dalam kita sudah meniatkan semuanya untuk ibadah.

Ibadah untuk siapa? Untuk memenuhi kewajiban kita sebagai umat manusia yang hanya perlu berbuat bagi Tuhannya :)

Pergi pagi pulang pagi hanya untuk mengais rezeki? No! Niatkan untuk ibadah juga ya! ^^

(dnu, tulisan ngga penting ini ditulis sambil ndengerin lagunya Armada “Pergi Pagi Pulang Pagi” dan tanpa sadar ikut bersenandung tak merdu hahaha…. , 26 April 2015, 10.10 WIB)


Friday, April 24, 2015

Splash After Class, Pesta Bikini setelah Lulus UN



Beberapa hari terakhir ini tersiar kabar yang amat mengagetkan banyak kalangan, yakni tentang adanya pesta bikini yang diperuntukkan bagi siswa siswi yang baru saja menyelesaikan Ujian Nasional (UN). Luar biasa menggila!!! Apa tujuannya ini semua???

Saya sebagai penikmat berita-berita yang terus bertebaran dari Sabang sampai Merauke baru kali ini benar-benar terperanjat dan mencoba menelaah baik-baik apa maksud dari kegiatan ini! Splash after Class, begitulah tajuk acara tak bermoral yang sedianya akan diselenggarakan pada Sabtu (25/4) ini. Dengan mengambil tempat di sebuah Hotel, persisnya ditepian kolam renang, dan dimulai pukul 22.00 WIB, sebuah event organizer menyelenggarakan acara ini.

Pesta pora tak berakal sehat ini kenyataannya memang sudah dibatalkan. Suatu situs berita mengatakan karena pihak kepolisian yang tidak memberikan izin keramaian untuk penyelenggaraan acara ini, namun ada juga informasi yang mengabarkan pembatalan acara ini dikarenakan adanya penolakan dari Kemendikbud. Walaupun berdasarkan berita yang saya baca di sebuah situs berita online lainnya menyebutkan bahwa Kemendikbud merasa tidak memiliki wewenang untuk menolak pelaksanaan kegiatan ini, dikarenakan berada diluar ranah tanggung jawabnya.

Tapi dibalik itu semua, menurut saya, siapapun yang masih mencintai pertumbuhan anak cucu kita sebagai pewaris negeri patut menggelar aksi penolakan besar-besaran terhadap penyelenggara acara, dan terutama kepada pencetus ide!

Awalnya pesta ajaib ini undangannya dibuka untuk umum, informasi acara juga disebarkan via youtube dan media cetak. Tiket yang dijual juga beraneka ragam, mulai dari harga Rp 150rb sampai dengan Rp 5jt. Saya makin pusing melihat pembagian tiket ini. Memangnya akan ada apa dengan yang harganya paling mahal?? Sudahlah, tak perlu dipikirkan terlalu mendalam. Toh Alhamdulillah acaranya pun sudah positif dibatalkan.

Tapi apakah dengan batalnya “pesta bikini” ini juga berarti selesai masalahnya? Menurut saya sih belum, malah justru ini adalah awal dari kehancuran semuanya! Mengapa demikian? Okelah acaranya kali ini batal, tapi yang harus diingat adalah, tidakkah hal ini akan menginspirasi para muda mudi generasi penerus bangsa Indonesia kita tercinta??? Bukan tidak mungkin akan banyak manusia yang berfikiran sama untuk mengadakan hal sejenis! Entahlah apa itu namanya, yang pasti tak bermoral dan jelas-jelas melanggar norma kesusilaan.

Bukan hanya muda mudi, tapi pribadi dalam usia berapapun tentu akan terinspirasi oleh ide acara seperti ini.

Agama apapun pasti mengajarkan hal-hal yang baik. Dan saya yakin tidak ada yang seiring sejalan dengan pesta bikini macam ini. Setiap bagian dari batalnya Splash after Class ini akan menjadi pelajaran bagi siapa saja. Sang muda akan berfikir :

“okelah suatu saat kita selenggarakan pesta seperti ini tapi diam-diam saja, hanya untuk kalangan terbatas saja, tak perlu mengajukan izin keramaian kepada kepolisian, tak perlu ini, tak perlu itu dan tak perlu ingat apa-apa lagi…”

Mungkin saja kan?

Semuanya akan menjadi inspirasi yang baik bagi siapa saja yag berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan. Semuanya akan berupaya mencari satu saja pembenaran diantara seribu kesalahan.

“Ini hanya pesta biasa, hanya merayakan kelulusan saja, tidak lebih, hanya berbeda kostum saja yakni mengharuskan seluruh pesertanya mengenakan summer dress…”

Oh my God! Bagi saya, sudah tidak ada lagi yang bisa dibenarkan dari aktifitas macam ini. Nomer satu, dengan budaya bangsa kita saja sudah tidak sesuai, dimana kita amat menjunjung tinggi adat ketimuran.

Pertanyaan berikutnya, apa yang perlu dirayakan dari sebuah kelulusan sekolah tingkat pertama atau tingkat atas? Masih sangat panjang sekali jalan yang harus ditempuh untuk meraih cita-cita, menata hidup yang baik, menjalani proses pahit getir mencapai langit dan menembus berbagi lapisan atmosfer!

Tidak saya katakan bahwa kelulusan tidak perlu dirayakan. Boleh-boleh saja, tapi yang harus diingat adalah lebih tepat jika bentuknya itu bersyukur, bukan berpesta. Rayakan keberhasilanmu dengan cara yang paling elegan. Bukan sembarangan tanpa pertimbangan.

Apakah jalan hidupmu selesai jika sudah lulus UN? No! Masih jutaan kilometer di depan sana yang menanti untuk ditapaki dan dijejaki dengan baik. Jika berpesta sekarang apakah akan mengubah seluruh jalan hidupmu sehingga menjadi lebih mudah dalam mencapai cita-cita? Jelas tidak!

Masalah pesta bikini setelah lulus UN jelas bukan menjadi Pekerjaan Rumah (PR) berat para orang tua saja. Namun juga bagi para pendidik, tokoh masyarakat, para ulama, petinggi Negara hingga kita sendiri sebagai para pecinta pendidikan dan pertumbuhkembangan generasi muda.

Perlu penanaman tentang pendidikan moral yang lebih baik lagi bagi seluruh anak didik, tentang bagaimana perbuatan yang baik dan tidak. Perlu pemantapan pendidikan tentang budi pekerti yang terpuji, serta menjauhi yang tercela.

Selain itu perlu juga upaya yang berkesinambungan untuk meyakinkan dalam diri agar terus mengakar tentang pentingnya arti sebuah kejujuran. Jujur pada diri sendiri dan jujur pada Tuhan. Berhenti melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah Tuhan tidak hanya jika banyak mata yang memandang, tapi juga saat kita hanya berdua saja dengan Tuhan kita.

Adalah hubungan yang paling intim jika dengan Sang Pencipta kita mampu memantapkan diri secara lahir dan bantin untuk menjadi pribadi yang mulia, seutuhnya.

Semuanya harus mengerjakan PR ini bersama-sama, agar perjuangan berat yang ada selama menempuh pendidikan tidak hancur seketika dalam hitungan detik saja.

Splash after class is not a spirit to get high class.

(dnu, ditulis sambil menikmati segelas susu cokelat diiringi alunan merdu original sound track of timmy time, 25 April 2015, 09.30 WIB)

Pidato Kartini ala Minang

Ada seorang teman yang minta bantuan untuk dibuatkan naskah pidato untuk lomba Peringatan Hari Kartini.

Specnya cukup singkat yaitu pidato bertema RA Kartini, akan dibawakan oleh anaknya, laki-laki, kelas 1 SD dan menggunakan campuran bahasa Minang!

Onde mande.... secara saya seorang Betawi yang keturunan Jawa namun memang pecinta Padang sejati sempat agak galau namun tertantang hahahaa...

Jadilah pidato macam ini berselancar dijari-jari manis saya dan Alhamdulillah juara :p

Maap kalo isinya rada aneh qiqiqiqi....

(dnu, pidato ini ditulis sambil ketawa-ketawa tak terarah karena memikirkan kenyataan mengapa saya tak terlahir sebagai urang awak haha...., 15 April 2015, 20.08 WIB)

*****
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Salamaik Pagi Bapak dan Ibu Guru serta kawan-kawan yang ambo cinto...

Kito mulai yo!

Cie, duo, tigo...!

Untuak semua Bundo yang ado Di Indonesia...

Hari iko tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.
Kartini tu pejuang wanita yang dilahirkan di Kota Jepara, Jawa Tengah.

Perjuangan Ibu Kito Kartini indak hanyo untuak perempuan yang ado di pulau Jawa sajo, tetapi untuk semua perempuan yang ado di Indonesia.

Ibu Kartini berpesan agar kito saling menghormati dan menyayangi kepada semua perempuan, seperti Bundo, Ibu Guru dan semua kawan-kawan perempuan.

Perempuan dan laki-laki samo sajo. Kito harus saling menghormati.

Onde mande...

Ingat, kito semua samo!

Ibu Kartini juga berjuang untuk kemajuan pendidikan perempuan. Agar perempuan Indonesia bisa maju samo dengan laki-laki.

Semoga Semangat Ibu Kito Kartini bisa terwujud salamanyo dan semoga sehabis gelap maka terbitlah terang, seperti buku yang ditulis oleh Ibu Kito Kartini.

Semangat Ibu Kartini indak akan parnah padam.

Tarimo kasiah,

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Monday, April 20, 2015

Kartini Masa Kini, Sederhana namun Tetap Bersahaja


Wanita Indonesia kini telah memiliki kesempatan yang sama dengan kaum pria untuk maju dan berkembang. Tidak ada lagi batasan yang mampu mencegah seorang wanita untuk berhenti pada satu titik dan berbalik, namun dengan tetap memperhatikan norma-norma dalam keagamaan atau kepercayaan masing-masing.

Menjadi wanita yang seutuhnya dengan peluang yang terbuka lebar untuk melebarkan sayap, aktualisasi dan pengembangan diri dengan tetap mengusung tujuan mulia yakni menjadi seorang wanita yang bermanfaat bagi sesama.

Semangat juang kewanitaan yang dipelopori oleh Kartini hendaknya terus mengakar dalam diri setiap kaum hawa saat ini dan hingga nanti. Emansipasi wanita yang telah lama didengung-dengungkan ke seluruh penjuru negeri semoga bukan hanya sekedar teori belaka. Kita sebagai penerus Indonesia tercinta, dengan kelemahlembutan sebagai fitrah wanita yang telah Tuhan berikan hendaknya bukan menjadi penghalang akan kegigihan suatu perjuangan yang bisa kita lakukan.

Raden Ajeng Kartini telah memulainya, dan kitalah seluruh jajaran wanita Indonesia yang berdiri di bumi pertiwi ini wajib menjadi penerusnya. Meluaskan makna kesejajaran antara laki-laki dengan perempuan, serta memperkaya pengertian akan perlunya peranan wanita dalam setiap upaya kemajuan bangsa. Namun dibalik itu semua anugerah wanita sebagai makhluk yang penuh kelembutan harus tetap dipertahankan diatas segala kemampuannya.

Menjadi pejuang wanita dalam era globalisasi, berperan dalam setiap bidang kehidupan sejatinya tidak hanya dilakukan oleh wanita-wanita yang berada di kota-kota besar saja. Seluruh kaum hawa yang berpijak di tanah Nusantara ini juga harus segera ambil bagian masing-masing untuk membuat diri kita menjadi lebih bermakna.

Dalam hal kesehatan misalnya, masuklah menjadi bagian terpenting darinya, dengan menjadi ahli kesehatan, seorang dokter, perawat ataupun penyuluh kesehatan masyarakat, dimana hal ini sangat penting karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Mulailah mendidik anak-anak dalam hal kesehatan, dari yang paling sederhana sampai yang ekstra dan luar biasa. Ajarkan kepada para tunas bangsa tentang betapa pentingnya menjaga kesehatan agar kehidupan di masa yang akan datang dapat dijelang dengan cemerlang.

Dalam hal pendidikan formal, seorang wanita bisa menjadi pemimpin di sekolah, menjadi kepala sekolah, ataupun menjadi guru yang berarti mempimpin ratusan siswa. Menjadi sahabat anak, pendamping anak ataupun sekedar sebagai tempat berbagi untuk seluruh belahan jiwa yang ada di sekolah.

Di atas panggung politik pun seorang wanita Indonesia telah mampu menunjukkan kemampuannya. Telah banyak contoh yang dapat kita ikuti jejaknya, Ibu Sri Mulyani misalnya, seorang wanita Indonesia yang berhasil menduduki salah satu posisi penting di Bank Dunia, Ibu Megawati yang pernah menjadi Presiden, ada yang menjadi Menteri, Bupati ataupun menjadi Kepala Desa. Hal ini membuktikan betapa wanita Indonesia sebenarnya adalah wanita yang kaya akan pengetahuan, kemampuan dan keberanian.

Wanita maju dan unjuk kemampuan dalam berbagai bidang kehidupan, namun bukan berarti kini ia berada di barisan paling depan dari laki-laki. Atas kesederhanaan dan kelemahlembutannya, wanita tetap menjadi pribadi yang perlu dipimpin oleh seorang laki-laki. Namun disini garis kesejajaran telah boleh dinikmati, karenanya kini kita bebas berkarya, bebas bekerja, bebas mengaktualisasikan diri sesuai dengan pribadinya masing-masing.

Raden Ajeng Kartini telah membukakan pintu dan menunjukkan kepada kita semua, bahwa sesungguhnya wanita Indonesia adalah wanita-wanita yang hebat dan penuh daya juang. Kita sebagai penerus bangsa ini sudah sepatutnya mengekor semua jerih payah Sang Kartini, menempuh pendidikan tanpa henti, berbuat yang terbaik untuk negeri, namun tetap memperhatikan hati nurani bahwa harus senantiasa menjadi wanita yang sederhana namun tetap bersahaja.

Semangat Kartini adalah semangat juang seluruh wanita Indonesia.

Kartini masa kini teruslah bertumbuh, ikut ambil bagian dalam setiap kesempatan. Jangan ada yang berdiam diri atau hanya berpangku tangan. Karena bumi Indonesia akan semakin berjaya jika Kartini-kartini didalamnya terus menebar cinta dalam karya.

Majulah Kartini-kartini masa kini dalam balutan kasih yang sederhana namun tetap bersahaja.

(dnu, ditulis sambil menghayal pengen jadi Kartini yang sesungguhnya dengan membuat diri lebih bermanfaat bagi sesama, 21 April 2015, 08.17)