Wednesday, April 8, 2015

Cinta Ini Dimulai dari Senggigi



Menginap satu malam di sebuah penginapan di pinggir pantai Senggigi memberikan kesan yang amat mendalam bagi saya. Semua kenangan mulai terajut dengan indah dari sini, karena di tempat inilah saya mengumpulkan segenap tenaga untuk menyambut hari esok yang lebih cerah. Ya jelas lebih cerah, karena dimulai dari Minggu (5/4) dimana merupakan hari pertama saya bertemu dengan puluhan relawan lainnya yang akan bertugas untuk menginspirasi segenap siswa siswi Sekolah Dasar (SD) di Desa Tete Batu, Lombok Timur. Dan dilanjutkan pada Senin (6/4) sebagai Hari Inspirasi yang akan menerjunkan para relawan ke 6 sekolah di Tete batu untuk berbagi inspirasi dalam balutan kisah, kasih dan cinta.

Semangat menjadi relawan pendidikan untuk Kelas Inspirasi Indonesia Mengajar benar-benar telah mengakar dalam diri saya, dan terus bertumbuh rasa cinta ini kepada para tunas bangsa sebagai calon penerus negeri. Kami siap bersatu dan menikmati seluruh kerepotan, kebahagiaan, suka, duka serta getir yang mewarnai setiap langkah kaki.

Menginspirasi anak negeri akan cita-cita mereka, serta rangkaian jalan setapak yang harus mereka tempuh dalam mencapai cita-citanya itu, kami lakukan dengan penuh cinta yang luar biasa. Tiada lagi perhitungan tentang apapun, karena ini adalah kesungguhan akan panggilan jiwa yang telah bersemayam dalam hati yang paling dalam.

Ingin melihat mereka bahagia, walau hanya satu hari.
Ingin melihat mereka tertawa, walau hanya satu hari.
Ingin bermain bersama mereka, walau hanya satu hari.

Namun aktivitas berbagi ilmu profesi yang saya lakukan hanya satu hari itu semoga dapat menginspirasi mereka, sepanjang hari.

Hanya mampu berdoa dengan penuh pengharapan, agar di suatu hari nanti ada salah satu anak bangsa, khususnya dari Tete Batu, Lombok Timur yang mampu mengharumkan nama Indonesia dengan profesinya yang membanggakan. Semoga kami bisa menjadi salah satu penyemangatnya, sehingga mereka teringat dulu pernah ada relawan yang bercerita di depan kelas. Mengizinkan mereka bermimpi, mengizinkan mereka berimajinasi dan mengikuti jejak para relawan sehingga mereka mampu menjadi anak bangsa dengan cita-cita yang akhirnya ada di depan mata.

Melihat mereka bermimpi, mengacungkan tangan begitu tinggi sambil meneriakkan cita-citanya, tak ada lagi yang sungguh terasa dalam hati saya, selain getaran hati dengan sebaris senyuman dan air mata yang tertahan. Mereka dipelosok daerah, namun cita-citanya sungguh tinggi luar biasa.

Kebahagiaan tak terkira saat memasuki gerbang sekolah, bertemu para guru, melambaikan tangan kepada murid-murid, mulai masuk ke dalam kelas, proses mengajar dimulai... dan disinilah baru terasa bahwa menjadi seorang guru tidaklah mudah. Dibutuhkan ekstra sabar dan ekstra ketegasan namun tetap dalam balutan kasih sayang.

Hari itu, saya dan teman-teman relawan yang bergabung dari seluruh Indonesia tidak hanya berbagi ilmu tapi juga meraih banyak pelajaran dari anak-anak Tete Batu. Pelajaran tentang kejujuran, ketulusan, kemandirian serta kebahagiaan yang sesungguhnya amatlah indah.

Menikmati setiap getir kasih dan cinta yang terasa saat menginspirasi, bagaimana mereka begitu bahagia menyambut tamu sehari, yang sebenarnya tamu-tamu itulah yang lebih banyak mendapat pelajaran dari mereka.

Saya, salah satu tamu diantaranya. Hadir dengan penuh cinta, membawa sebentuk cinta dan ingin berbagi jutaan cinta yang saya bawa dari Jakarta. Dan cinta ini telah saya mulai dari Senggigi.

(dnu, ditulis sambil siap-siap miting, 8 April 2015, 15.53 WIB)