Monday, April 13, 2015

Istana Di Atas Pelangi

Entah apa yang ada dibenak mereka dengan memberikan tema kue seperti judul artikel ini. Apakah karena daya khayalnya yang terlalu tinggi atau mimpinya yang tak terkendali? Sekali lagi saya hanya bisa berkata, entah.

"Istana diatas Pelangi... !!!" seru kelompok ini berbarengan saat saya tanyakan "Ini tema kuenya apa ceritanya...?"

Luar biasa! Dan akhirnya saya akui hal ini terjadi hanya karena imajinasinya yang baik sekali.
Anak-anak SD 2 Kembang Kuning, Tete Batu Lombok Timur ini memang memiliki segudang cita-cita. Semuanya merupakan gabungan dari khayalan, mimpi dan juga imajinasi. Terlihat jelas betapa mereka memiliki kebebasan berfikir yang amat baik. Tiada yang mampu membatasi untuk apapun yang mereka inginkan.

Hal ini tercermin dari beberapa hasil kreasi kue mainan yang dibuat oleh anak-anak sekolah ini dengan pemberian judul yang tidak main-main.

Ada yang memberi judul "Kuda Berlari Di Padang Rumput", "Ikan Berenang Kehausan", "Kamar Cinta Boneka" dan juga "Taman Bunga yang Indah". Semuanya berkesan, namun satu yang berhasil membuat mata saya berkaca-kaca ialah tentang mimpinya membuat "Istana Di Atas Pelangi".

Kreasi Istana ini dibuat oleh sebuah kelompok di kelas 6 yang semua anggotanya adalah murid laki-laki. Kerjasama yang baik amat terlihat disini. Tidak ada yang bersantai-santai ria, semuanya sibuk membangun setiap bagian istana.

Ada yang sibuk membuat atap, tangga, pintu dan juga ada yang sibuk menempelkan satu bagian dengan bagian yang lain agar terbentuk jadi satu.

Bangunan ini berwarna warni, persis perpaduan semua warna Pelangi. Adonan lilin mainan hingga menghasilkan warna seperti ini juga dilakukan oleh mereka sendiri.

Kerucut atap dan ulasan warna warni jelas telah mengikrarkan dengan tepat bahwa ini adalah sebuah istana yang dibangun di atas pelangi.

Ketika saya tanyakan ada apa dengan istana ini, perwakilan kelompok menjawab "kami ingin punya rumah seperti istana kak, trus adanya nggak di bumi tapi di atas pelangi, biar enak, tinggi..."

Oke, alasan yang tak pernah terfikirkan oleh saya. Mereka ingin mempunyai tempat tinggal yang bagus dan nyaman dan dibangun dengan letak yang tinggi. Mungkin agar mereka bisa merasakan sensasi yang berbeda, alias tidak sama dengan apa yang mereka rasakan saat ini.

Sederhananya saya melihat anak-anak ini memiliki keinginan untuk hidup yang lebih baik. Lebih nyaman dan lebih segala-galanya tapi dengan hasil usahanya sendiri.

Nampaknya mereka juga telah mengerti benar bahwa untuk menggapai cita-cita dibutuhkan usaha yang keras. Dan sebuah kerjasama untuk saling memajukan satu sama lain juga telah mereka pahami.

Intinya anak-anak ini memiliki cita-cita dan mimpi yang sungguh istimewa, dan dengan sekuat tenaga mereka berusaha mewujudkannya. Diawali dengan membuat kreasi kue dari lilin mainan yang mereka pahat sendiri, lalu disaksikannya dengan mata terbuka akan segala cita dan cintanya.

Melalui lilin-lilin yang saya bawa dengan penuh cinta, saya hanya ingin menunjukkan kepada mereka dan dunia, bahwa sebuah cita-cita sesungguhnya bisa menjadi nyata.

Mereka mulai merajutnya menjadi nyata sejak hari itu, saat kita bertemu dan saat hati kita sempat menjadi satu.

Namun saya yakin tidak hanya saat di Hari Inspirasi saja yakni saat relawan berada disana (6/4), namun di hari-hari berikutnya untaian perwujudan cita-cita senantiasa mereka rajut agar kelak menjadi nyata.

Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, namun jika kamu harus terjatuh maka jatuhlah diantara bintang-bintang...

(dnu, ditulis sambil dipijitin kakiknya sama mbak-mbak cantik di sebuah salon, 12 April 2015, 17.40 WIB)