Sunday, April 5, 2015

Jati Diri Sebuah Online Shop



Seperti kita ketahui bersama dewasa ini banyak para pebisnis bidang apapun yang merambah promosi barangnya melalui jalur dunia maya. Memang banyak keuntungan dari penjualan via online ini, salah satunya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan toko untuk memajang produk-produk yang dijual. Keuntungan lainnya  tentu masih banyak lagi, dimana hal ini menyebabkan banyak orang yang memilih jalur online untuk dunia perdagangannya.

Bagi sebagian orang yang memiliki jiwa entrepreneur juga kerap memanfaatkan kesempatan ini. Ramai-ramai membuka Online Shop dan gerilya berjualan melalui segala macam media sosial. Saking semangatnya berjualan sampai-sampai mereka lupa dengan core dari bisnis yang ingin dibangunnya?

Seberapa penting sih core atau jati diri sebuah online shop dalam melakukan jual beli? Menurut saya sangat penting sekali karena hal ini akan menunjukkan “siapa” sebenarnya online shop tersebut.

Jika teman-teman pembaca perhatikan, sangat banyak para entrepreneur pemula yang menurut saya telah salah kaprah dalam berjualan. Saya ambil contoh yang berjualan via BlackBerry Messanger (BBM). Saat ini ia memasarkan produk berupa makanan, lalu dalam waktu kurng dari 5 menit kemudian Display Picture (DP) BBMnya sudah berganti dengan pakaian, ya kali ini ia memasarkan sebuah pakaian wanita. Dimenit-menit berikutnya sudah berganti lagi barang yang ditawarkannya, kali ini perlengkapan dapur diusungnya dengan harga murah. Beberapa waktu berikutnya gambar sepatu yang kini dipasang dan dijualnya.

Dari contoh tersebut diatas yang merupakan pengalaman saya menyaksikannya secara langsung, timbul pertanyaan dibenak mumet saya ini; apa sih yang sebenarnya dia jual? Kok ganti-ganti terus? Sebenernya mau jualan apa?

Menurut saya, sebagai pelaku online shop yang juga masih belajar, amat penting bagi para penjual untuk menentukan satu core bisnis onlinenya. Misalnya, kalau mau jualan makanan maka milikilah satu nama online shop untuk jenis dagangan tersebut. Jika tertarik untuk merambah ke jenis barang lainnya maka buatlah satu nama online shop yang berbeda untuk barang lainnya itu.

Perangkat penjualanpun idealnya dibuat berbeda. Kalau mau jualan via BBM, maka milikilah beberapa PIN untuk jenis barang yang berbeda-beda. Pengelolanya tetap kita namun melalui armada yang berbeda.

Orang yang melihat nampaknya akan kacau balau dengan barang dagangan berbeda jenis yang dijual berganti-ganti. Dan kita pun sebagai penjualnya tidak segera mendapatkan cirri atau image dari konsumen tentang penjual apa kita sebenarnya.

Seorang pedagang yang telah jelas mendapat predikat “pedagang sambel pecel” maka siapapun yang suatu ketika membutuhkan sambel pecel maka akan segera mencari kita, karena mereka tahu “Dewi, tukang sambel pecel”. Setuju??

Lha kalau fenomena online shop yang sekarang berkembang tidak disikapi dengan baik oleh para pemanfaatnya, maka image apa yang akan kita dapatkan sebagai pedagang? Orang lain tidak dapat dengan mudah menempelkan suatu predikat pada kita, karena mereka ngga tahu kita jualan apa!

Dilihat dari kacamata saya, ungkapan “palugada = apa yang lu mau gua ada” nampaknya agak kurang cocok bagi pelaku bisnis yang menempuh jalur online. Hal ini tidak bisa disamakan dengan profesi broker di dunia offline. Tapi perlu diingat, broker saja masih punya core lho dalam usahanya. Misalnya broker khusus property, broker khusus otomotif dan lain sebagainya.

Kembali kepada ungkapan ‘palugada’, jangan bangga jika ada orang yang pada akhirnya berfikiran “oh dia itu sejenis toko kelontong kali ya, apa aja dijual, ya makanan, perlengkapan rumah tangga, areng hingga minyak tanah.” Sekali lagi, menurut saya hal ini kurang cocok bila diaplikasikan di dunia maya.

Sepak terjang seorang pemilik online shop akan lebih mudah dan cepat mendapatkan pelanggan jika difokuskan pada satu rumpun barang dagangan. Misalnya dikelompokkan menjadi toko penjual makanan dan minuman, pakaian khusus wanita, khusus busana muslim, perlengkapan rumah tangga, penjual sarana dan prasarana pertamanan, dll.

Selain sang penjual jelas mendapatkan jati dirinya dalam berjualan di dunia maya, ia pun akan lebih mudah mendapatkan pelanggan.

Hal ini juga menunjukkan keseriusan si pedagang terhadap bisnis yang tengah digelutinya. Jika yang dijual terlalu beraneka ragam tanpa ada benang merah sebagai sambungannya, maka persepsi negatif juga bisa saja muncul. Jangan salahkan orang lain jika ada yang berfikiran “Dia sebenarnya serius jualan ngga sih? kok yang dijual ganti-ganti terus…? Apa aja dijual… maunya apa sebenarnya?...”

Satu sisi lainnya yang juga perlu dibahas disini adalah sisi sang penjual barang beraneka ragam. Apakah ia ingin mendapatkan image luar biasa yang mampu menjual berbagai jenis barang? Hmmm.. belum tentu. Alih-alih demikian malah ada yang beranggapan kita tidak mampu sukses di satu bidang, makanya jualannya secapat kilat berubah-ubah. Atau jangan sampai ada yang berfikiran “Dewi lagi kejar setoran deh kayaknya, sampe-sampe segalanya dijual….” :p

Kesimpulannya, bukan berarti tidak disarankan menjual barang yang berbeda-beda, tetapi hanya jika berkenan mungkin bisa dikelompokkan dalam satu koridor dagang yang sama untuk satu armada.
(dnu, ditulis sambil nahan mata remang-remang efek through the day without glasses, 10 Februari 2015, 13.03)