Wednesday, April 1, 2015

Pandai-pandailah Membalut Luka



Tidak bisa dihindari saat ini media sosial atau akrab disapa medsos telah melahirkan banyak fungsi. Kata kunci dari fungsinya adalah berbagi. Kita bisa berbagi tentang apa saja melalui medsos ini, baik suka maupun duka.

Jika dipreteli satu persatu tentang indahnya berbagi melalui media sosial tentu akan terlihat sisi negatif dan positifnya. Tapi  yang ingin saya bahas terlebih dahulu melalui artikel ini ialah tentang seni berbagi kedukaan melalui media sosial.

Sadarkah kita kadang terlalu bebas mengungkapkan seluruh rasa di hati terutama tentang kesedihan? Melalui foto, tulisan atau ungkapan apapun kita seakan tengah beradu dengan orang lain untuk tingkat kesedihan dalam hidup. Siapa yang paling sedih maka ialah pemenangnya. Kita berlomba-lomba menunjukkan kepada siapa saja bahwa kita tengah berduka, bahwa hidup kita jauh dari kata bahagia, bahwa saya sedang putus asa.

Entah apa yang sebenarnya ingin diraih dari hal-hal tersebut, seolah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa sayalah orang yang paling tidak bahagia.

Tahukan kamu bahwa jika kamu menebarkan kesedihan maka kamu tengah menebar energi negatif kepada orang lain?

Apakah dengan orang lain tahu bahwa kita tengah terluka, sedih dan gundah gulana maka seketika kesedihan yang kita rasakan bisa tersembuhkan?

Manfaatkanlah medsos dengan bijak. Kurang elok rasanya jika terus menerus meratapi hidup di medsos.
Mencari perhatian orang lain rasanya bisa dilakukan dengan banyak cara, dengan menghubungi psikolog, atau ngobrol dengan teman misalnya. Itu masih lebih manis jika dibandingkan dengan selalu memamerkan kesedihan di dunia maya.

Atau ada hal lain yakni melalui cara ini seseorang ingin menunjukkan kepada khalayak ramai bahwa hidupnya tak bahagia, tapi masih bisa berdiri di atas kaki sendiri. Apakah demikian?

Lihatlah, dengan kita memposting kesedihan maka sudah bisa dipastikan bahwa kita bukanlah orang yang kuat, melainkan rapuh serapuh-rapuhnya.

Tidak kuat menahan diri dengan memasang foto wajah berlinang air mata sebagai display picture (dp) BlackBerry (BB). Dan hal ini menjadi keanehan tersendiri bagi saya. Apa sih yang sebenarnya diharapkan dari orang tersebut? Atau memang benar-benar sudah tidak punya tempat lagi untuk berkeluh kesah sehingga media sosiallah yang menjadi sasaran empuknya?

Jika demikian adanya, mulailah mencari sahabat dan jadikan ia penolong dalam keterpurukan. Bukankah setiap orang need a shoulder to cry on? Pasti kan? Tidak usah gengsi seolah tidak butuh orang lain. Atau bagi yang muslim tentu akan selalu ada hamparan sajadah untuk bersimpuh. Demikian pula dengan yang kristiani, selalu ada gereja untuk kita masuk dan mengadu kepada Tuhan, dan agama-agama lainnya pun demikian, selalu ada tangan Tuhan yang bersedia memeluk hambanya kapan saja.
Media sosial apapun bentuknya memang terasa memiliki magnet tersendiri bagi pribadi-pribadi yang dalam kesendirian. Mudah sekali menumpahkan semuanya disitu. Aku sedih, aku terluka, aku ngga suka, hingga ungkapan aku ikhlas dengan semua kesedihan ini, tapi tolong aku Tuhan…

Guys, be strong! You must be strong! Keep your problem just in you! Ingat, just keep in you! Tidak perlu diceritakan kepada dunia tentang betapa hancurnya kamu! Tugasmu hanyalah memikul masalah dengan bahu terkuatmu, jalan gagahmu, senyum manismu dan hamparan pesonamu. Bukan untuk berbagi deraian air mata di media sosial!

Kamu akan terlihat menjadi pribadi yang amat mempesona jika dalam segala keadaanmu kamu tetap anggun dan besahaja. Hadapi semua kesedihan. Terima, rasakan dan pecahkan.

Dengan kesahajaanmu memikul penderitaan, bukan tidak mungkin orang lain akan melihatmu sebagai pribadi yang selalu berbahagia dalam keadaan apapun kamu. Karena mustahil kan dalam hidup seseorang selalu bahagia? Ya, karena setiap orang pasti punya masalah, namun tergantung bagaimana kita memikulnya.

Dalam bahagia, tersenyumlah dengan anggun.
Dalam kesedihan, tersenyumlah dengan kekuatan.
Jadilah pribadi yang walaupun terpuruk namun tetap bersahaja.

Dan jika ada yang bertanya tentang betapa kuatnya kamu, jawablah dengan prima “jangan salah, pake air mata juga nih!”

(dnu, ditulis sambil menikmati punggung sakit - leher kaku - kepala pusing, 28 Januari 2015, 11.23)