Sunday, April 5, 2015

Ya Allah, Saya Dendam…



Namanya kehidupan semuanya serba berpasang-pasangan. Ada perbuatan baik dan ada yang buruk, ada warna hitam ada warna putih, ada rasa manis ada rasa pahit, ada suka ada duka, ada tinggi ada rendah, ada dalam ada dangkal dan masih banyak lagi kategori pasangan lainnya yang tidak mungkin dijelaskan satu persatu dalam artikel ini.

Semua makhluk hidup di dunia ini khususnya manusia tentu pernah melakukan hal-hal yang bertentangan antar satu sama lain. Misalnya, dalam sebuah perlombaan ada peserta yang bersikap jujur dan mungkin saja ada yang bersikap curang. Begitu juga dengan tindak tanduk seseorang yang tidak selalu dalam lorong kebaikan. Ada kalanya manusia sengaja melakukan hal yang tidak terpuji dan hal ini membuahkan kecewa dalam diri orang lain.

Dalam kehidupan sosial apapun bisa terjadi. Kesenangan, kesedihan, kebahagiaan maupun penderitaan. Lalu apa sebenarnya yang terjadi dalam diri seseorang kala ia mengalami perbuatan yang tidak menyenangkan? Sadarkah kamu, jika kamu telah berhasil membuat temanmu bersedih maka kesakitan akan terus dirasakan olehnya? Pun jika sudah membaik, mungkin saja bekas lukanya akan tetap ada.

Marah, kecewa dan dendam adalah tiga emosi yang amat berbahaya bila dipelihara. Seseorang bisa amat marah karena disikapi dengan tidak sewajarnya. Seseorang bisa amat kecewa karena kepercayaannya diacuhkan begitu saja, dan seseorang bisa menjadi dendam karena kesakitan yang luar biasa.

Ketika amarah mulai menyapa segeralah cari Tuhanmu dan bersimpuhlan kepadaNya. Katakan padaNya bahwa kamu sungguh diambang marah yang mungkin saja sebentar lagi akan berubah menjadi dendam akibat kecewa yang terlalu dalam.

Kasih sayang Tuhan selalu tersedia untuk hambanya kapan saja. Saya pernah mendengar pendapat yang mengatakan bahwa jadikanlah Tuhamu sebagai kekasihmu yang pertama. Jadi maksudnya kalau ada apa-apa yang nyaris bikin kamu galau segeralah mengadu pada Tuhamu.

Bagi umat Kristiani, Hindu, Budha, Konghucu maupun yang lainnya segeralah berdoa dan sampaikan semua yang membuatmu gelisah. Dan bagi umat Muslim jangan pernah lupa bahwa selalu saja ada sajadah untuk bersimpuh.

Menyakiti perasaan orang lain memang kadang terjadi karena ketidak sengajaan, misalnya kita melakukan sesuatu hal yang menurut kita biasa saja namun diterimanya oleh orang lain sebagai suatu perbuatan yang tidak menyenangkan. Sekali lagi, nampaknya akan lebih elok jika kita melihat segala sesuatu dari berbagai sisi, bukan dari kacamata pribadi saja. Serta sebaliknya agar kita juga tidak menyimpulkan sesuatu hanya dari satu kejadian saja. Misalnya kecewa dalam waktu sekali yang mengakibatkan dendam membara seumur hidup.

Bisa dikaji ulang mengapa sesuatu yang tidak menyenangkan bisa terjadi, apakah ada unsur kesalahannya dari kita juga atau bagaimana. Karena tentu tidak akan ada asap kalau tidak ada api.

Kembali pada pembahasan rasa marah, kecewa dan berujung dendam. Ketika kita menyadari sepenuhnya bahwa diri kita sedang diujung kemarahan, sesungguhnya masih ada energy positif dari dalam diri yang bisa mengalahkan kemarahan tersebut, atau minimal mengurangi. Kesadaran yang ada dalam diri adalah indikasi bahwa sebenarnya kita masih bisa berfikir lebih lurus nan terarah, agar tidak mengikuti emosi kemarahan, murka dan beraksi sejahat-jahatnya karena ingin balas dendam. Kita bisa berfikir ulang mengapa hal tersebut bisa terjadi, apa sebenarnya pemicu kemarahan ini dan mengapa orang lain bisa membuat kita marah. Bisa jadi memang ada kesalahan dalam diri kita.

Jika sudah melalui proses berfikir tersebut bisa jadi emosi yang sebelumnya bertumpuk dan siap ditumpahkan kapan saja, menjadi lebih rendah, tenang, mampu menahan diri dan mampu bertindak dengan lebih baik.

Menahan marah juga tidak baik dan sejatinya ini bukanlah keputusan yang paling benar. Ada kalanya seseorang perlu mengetahui apa yang terjadi dalam diri kita. Tentang kemarahan kita atau ketidaksukaan kita terhadap sikapnya. Tujuannya apa? Agar sama-sama introspeksi diri untuk membuang semua energi negatif yang ada.

Marahlah secukupnya dan seperlunya. Setelah semuanya terlampiaskan dengan elegan hendaknya tidak ada lagi amarah yang terpendam dan menjadi bom waktu yang bisa meledak seketika. Bahkan lebih bahanya lagi jika amarah yang tertahan menjadi pundi-pundi dendam yang mengakar didalam hati.

Bagaimana jika hal ini sampai terjadi? Balik lagi, cari Tuhanmu, mengadulah padaNya dan katakan dengan penuh permohonan untuk pencarian jalan keluar, yakni “Ya Allah, saya dendam….”

Karena tidak ada yang lebih berbahaya selain marahnya orang yang pendiam, kecewanya orang yang setia dan murkanya orang yang suka tertawa.

(dnu, ditulis sambil mendengarkan syahdu kumandang adzan isya di Timur Indonesia, 5 April 2015, 19.29 WITA)