Saturday, May 2, 2015

Hanya Sebuah Bahasa Hati, Ibu dan Cinta



“Kakaaakk…….@#%&&^$R$@%*%@%^%#@&^#@.....!!!”

Masya Allah! Apa yang dia katakan pada saya? Dia mau ngomong apa sama saya? Dia bilang apa??? Omaygot! Saya sedih ngga bisa mengerti bahasanya :(

Saat menginjakkan kaki di Kelas 1 SD 2 Kembang Kuning, Tete Batu, Lombok Timur hampir saja saya menangis karena kesal! Saya kesal terhadap diri saya sendiri! Mengapa saya tidak belajar dulu Bahasa Sasak saat akan mengajar disini?! Huhuhu…. Akibatnya ini, saya tak berhasil menjawab satu kata pun atas penyataan anak-anak lucu itu :(

Saat tiba di sekolah, guna mengikuti kegiatan Indonesia Mengajar – Kelas Inspirasi Lombok Timur (6/4), seorang guru memang sudah menginformasikan kepada kami kelompok relawan di SD tersebut, bahwa kebanyakan dari anak-anak Kelas 1 dan 2 di sekolah ini belum bisa berbahasa Indonesia. Baru bahasa Sasak saja yang mereka kuasai secara aktif.

Begitu mendengar pernyataan ini saya cukup terkejut dan langsung membayangkan proses mengajar seperti apa yang akan saya lakukan nanti jika saya bercakap dalam Bahasa Indonesia. Apakah mereka akan mengerti? “Semoga sajaa…..” ucap saya dalam hati.

Tapi dibalik kepanikan terpendam itu, tentunya hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Telah mengakar di bagian hati yang paaaallliiiiing dalam tentang seonggok niat bahwa saya harus bisa bermain sambil belajar dengan seluruh anak-anak itu. Bagaimanapun kondisinya. Karena saya sangat percaya bahwa di Hari Inspirasi ini mereka adalah untuk saya, dan saya tentulah untuk mereka, apapaun keadaannya.

Tersusun jelas dalam benak saya bahwa hanya Bahasa Hati yang akan saya bawa ke dalam kelas. Hanya Bahasa Ibu yang akan saya usung kepada mereka. Serta hanya sebuah Bahasa Cinta yang akan selalu saya ungkapkan kepada mereka.

Dengan segenap kesungguhan hati akan jatuh cintanya saya pada moment seperti ini, saya mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang Kelas 1, dan dilanjutkan ke Kelas 2 seusainya. Saya mulai ajak mereka bermain sambil menyusun sebuah cita-cita.

Saya katakan bahwa saya membawa lilin mainan untuk mereka praktek menjadi seorang Koki. Namun hasilnya, mereka agak bingung apa itu lilin, berwarna warni tanpa sumbu terpasang dipermukaannya.

Saya katakan dengan istilah yang lain “kakak bawa play dough…. kita main yaa….” Jelas saja saya semakin membuat mereka bingung.

Percakapan verbal berikutnya menyusul… Dan kebetulan saya bertemu dengan yang belum bisa berhasa Indonesia.

“Kak… ^%#@^**^^%#FNMKHD@$^(KNFCR%^#GT%#&HY&$Y#@^*&^$............”

Saya lantas tanyakan pada teman yang lainnya “Itu apa artinya? Kakak bingung…. Kakak belum ngerti Bahasa Sasak….”

Siswi yang saya tanya dan diharapkan mampu membantu saya menyelesaikan teka teki ini hanya mampu tersenyum…. mungkin dia pun tak mengerti saya ngomong apa :(

Saya tanya pada yang lainnya…. tahu apa yang terjadi? Ia berlari sambil tertawa….
Apakah kalimat panjang itu artinya berlari? Bisa iya bisa tidak :(

Proses belajar mengajar terus berjalan… dengan bekal sakti saya yaitu Bahasa Hati, Ibu dan Cinta saya berhasil bercengkerama dan tertawa bersama anak-anak itu…. walaupun entah apakah yang kami tertawakan sama maknanya. Biar saja, saya tidak peduli,  yang penting saya dan mereka menyatu dalam satu ikatan kakak adik yang syahdu.

Saat mereka kembali menyampaikan sesuatu kepada saya, tak lagi saya berputar mencari interpreter untuk hal ini. Cukup saya balas dengan senyuman, usap kepalanya, raih tangan mungilnya dan tatap matanya, maka apa yang ingin mereka katakan saya sudah bisa menangkapnya.

Sejurus kemudian kegiatan belajar dan bermain di dalam Kelas 1 dan 2 berlangsung dengan ceria. Walau secara verbal kami tak saling memahami, namun ikatan batin yang terjalin telah mampu membuat kami mengerti satu sama lain.

Di penghujung sesi belajar di Kelas 2 ada lagi yang menyampaikan sesuatu kepada saya, “Kakak…. @$^&YHBCGJU#^&IJNJI*&%^##((O*^$#@&*......”

Saya balas dengan senyuman dan jawaban dalam hati “I love you too…..” Ahahahaha…..

Pokoknya saya tidak peduli mereka bicara apa, yang pasti saya amat mencintai mereka, amat sangat! Wkwkwkwkwk……

Tidak butuh waktu lama kami lantas bergandengan tangan dan kembali bernyanyi untuk sebuah kemenangan.

Kemenangan untuk mereka yang telah berhasil mengambil hati saya, dan tentunya juga kemenangan saya yang telah berhasil membuat mereka tertawa tanpa aksara namun sarat makna.

Selesai mengajar kami hanya saling tatap dan tersenyum satu sama lain. Namun saya yakin sungguh mereka ingin mengatakan satu hal yang sama dengan yang juga ingin saya katakan kepada mereka yakni, “I just wanna say love you so much…..”

Nice to meet you… all of you…. I love you…. love you so much….. hikss…. aku terharuuu…… :(

(dnu, ditulis sambil nonton TV in English – dimana hal ini terulang lagi yaitu saya ngga ngerti orang-orang di TV ini ngomong apah zzzzzzzzzzzzzzz…….., 2 Mei 2015, 23.57 WIB)