Tuesday, May 12, 2015

Mencintai Jakarta dengan Sederhana


Perkelanaan saya sejak siang sampai dengan sore hari ini (12/5) berkisah di dalam taksi biru. Dari arah Kebayoran Baru saya dan Pak Supir melintasi indahnya sore di Ibu Kota tanah air tercinta.

"Musisi jalanan mulai beraksii...." rasanya ingin sekali saya bernyanyi syair tersebut, namun sayang ini bukan di Jogja.

Supir taksi yang saya tumpangi nampaknya sudah akrab sekali dengan Kota Metropolitan ini, termasuk dengan pesona macetnya. Tapi cerita sore ini berbeda.

Namanya Pak Doddy, ia begitu tercengang seakan tak percaya dengan kejadian saat kami mulai memasuki arena lalu lintas yang macet parah luar biasa. Tiba-tiba terlihat seorang polisi yang baik mempersilakan kendaraan yang ada di lajur tengah untuk masuk melewati jalur Transjakarta.

Seakan mimpi, jalur di kiri jalan yang begitu macet luar biasa, kami terbebas darinya. Maju sekian ratus meter di depan ada sebuah putaran dengan lampu lalu lintas di kanan kirinya. Warna merah menyala, tapi kembali Pak Polisi yang bertugas di sekitarnya mempersilakan antrian kendaraan untuk terus berjalan dan mengabaikan warna lampu tadi.

"Waaaahhh... luar biasa... ada apa ini... kok tumben-tumbenan bisa lancar banget begini.... ada yang ulang tahun nih kayaknya... jadinya jalanan dibebasin....."

Hahahaha..... ini memang sulit dipercaya, jalur yang biasanya ditempuh berjam-jam tapi hari ini hanya butuh beberapa menit saja. Hari kerja lho padahal hihihi.....

Sambil menikmati kelancaran jalanan yang aneh tapi nyata ini Pak Doddy kembali berujar "Jakarta itu sebenernya kecil Neng, cuma gara-gara macet aja jadi kesannya luas.... mau kemana-mana lama sampainya, padahal karena macet alias jalan di tempat..."

Saya tak pedulikan benar atau tidaknya ungkapan Pak Supir ini. Saya hanya memperhatikan betapa ia sudah amat akrab dengan segala pernak pernik kota ini.

"Macet itu makanan saya sehari-hari Neng...." katanya seakan pasrah dengan keadaan kota ini.
"Saya biasa nongkrong di GI (baca : Grand Indonesia) kalo lagi pengen menghindari macet...." ungkap Pak Doddy.

"Grand Indonesia Pak? Keren.... saya malah belum pernah..." timpal saya.

 "Basementnya Neng... bukan mallnya heheh.... saya mah ga mampu makan di mall begitu..." tambahnya.

Perjalanan semakin menyenangkan, karena banyak pelajaran yang bisa saya peroleh darinya.

Pak Doddy adalah sosok pekerja keras yang amat menikmati hidup. Ia ikhlas dengan segala tantangan yang datang, namun ia juga pandai mensyukuri kemudahan-kemudahan yang hadir disela-sela pekerjaan.

"Dari nyetir taksi ini saya juga banyak belajar bahasa gaul Neng.... misalnya... Kunci alias Kuningan City. Tamcit alias Thamrin City.... Banyak deh Neng tempat-tempat gaul yang saya suka lewatin. Pengin tau aja sih buat jaga-jaga, bedain mana gaul yang bener dengan yang ngga bener...."

"Saya juga hapal jalanan di sini... kapan jamnya macet, kapan kemungkinan lancar.... jadi enak kalo bawa penumpang bisa saya kasih saran arah-arah jalanannya...."

Saya semakin takjub mendengarnya.

Seorang driver taksi yang hebat, ngga sekedar mengantar penumpang tapi juga mempelajari kesibukan kota dengan segala hiburannya.

Ini bukan perjalanan biasa, namun sungguh sarat makna. Senang bisa bertemu dengan Bapak yang tenang nan menghanyutkan.

Satu hal penting lainnya, semuanya ia jalani, syukuri dan nikmati apa adanya ^^
Proud to know you Pak Doddy ^^

(dnu, ditulis sambil nemenin Pak Edwin Sholeh tanding basket di lapangan basket haha...., 12 Mei 2015, 18.54 WIB)