Friday, May 1, 2015

Sekeras Apapun, Jakarta Tetap Saja Indah



Lihat saja, foto tak baik dilihat dari sisi fotografi belahan dunia manapun terlihat cukup mampu menggambarkan indahnya Jakarta.

Ibu Kota negara ini memang agak sedikit keras dalam mendidik seluruh warga yang berdiam di dalamnya. Siapa yang kuat, dia akan bertahan dan tumbuh serta berkembang di sini. Namun bagi yang lemah, pulang ke kampung halaman mungkin menjadi pilihan terbaiknya.

Tak bisa dipungkiri, sebagai tempat mengadu nasib yang tak jelas kedepannya, tetap saja banyak orang-orang dari luar kota Jakarta yang berbondong-bondong untuk hidup di kota besar ini.
Secara tersirat, Jakarta telah menjanjikan sesuatu yang lebih baik kepada siapa saja yang tertarik padanya. Melalui sorotan lampu malam atau julangan gedung di setiap sudut kotanya.

Bagi kendaraan bermotor, Jakarta memiliki banyak hukum, di jalanan belahan manapun. Dilarang masuk jalur Transjakarta, dilarang menyeberang jalan sembarangan, dilarang berhenti sembarangan, hingga dilarang mewati jalan tertentu jika di dalam mobil pribadi hanya berpenumpang 2 orang pada jam tertentu.

Ketat hukum. Ya, Jakarta selalu berupaya tak pernah mengingkari janji. Memasuki jalur kendaraan berpenumpang minimal 3 orang, dengan penuh kesadaran kami berdua siap menerima lambaian tangan Pak Polisi untuk meminggirkan kendaraan yang kami tumpangi.

Hanya kurang pemahaman tentang suatu wilayah berpenumpang minimal 3 orang, kami sukses meminggirkan kendaraan dan melihat senyum manis Pak Polisi di sisi kanan mobil.
Diberi hormat, dan diberi tahu akan pelanggaran yang baru saja dengan sadar kami lakukan. Masuk area 3 in 1, hanya berdua di dalam kendaraan.

Surat izin mengemudi lantas ditahan. Dengan penuh kelembutan Pak Polisi mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan.
Tak ada umpatan maupun penyesalan, karena kami sadar melakukannya dan sudah sangat siap bila terjadi pemeriksaan. Dan akhirnya, gayung bersambut.

Perjalanan dilanjutkan sambil terus bersenda gurau dan menikmati kemacetan di Kota Metropolitan ini. Tetap banyak yang bisa dilihat, gedung-gedung tinggi, lampu kelap kelip, rumah makan, jutaan orang yang saling serobot jalanan, hingga pemandangan billboard yang berisi beraneka macam iklan.

Jakarta tetap cantik. Mempesona. Sedap dipandang. Walaupun kadang cukup melelahkan jika mengikuti gaya hidupnya.

Kami tetap bisa menikmati seluruh rangkaian perjalanan ini yang berlangsung menjelang tengah malam, walaupun bekal surat izin mengemudi sudah tidak ditangan.

Gedung-gedung menjadi hiburan, kantor ini kantor itu menjadi topik pembicaraan. Pusat perbelanjaan yang tampak tak pernah mati, serta berbagai jenis liukan jalan yang selalu diiringi pepohonan nan hijau.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Jakarta itu keras, namun ada satu pesan yang ini saya sampaikan, yaitu kita harus lebih keras lagi menghadapinya. Bisa jadi Jakarta itu tidak keras, tapi kitanya saja yang lemah.

Namun dibalik itu semua, sekeras apapun Jakarta tetap saja indah.

Sepakat?

(dnu, ditulis di BB, di dalem mobil, abis disapa pak polisi trus diminta simnya hihihihi... 29 April 2015, 19.30 WIB)