Friday, June 12, 2015

Kompasiana TV untuk Angeline dan Anak Jokowi

Kamis (11/6), saya kembali join dengan Kompas TV untuk teleconference program Kompasiana TV.
Kali ini membahas yang lagi hangat yaitu kasus pembunuhan gadis kecil Angeline dan pernikahan anak Presiden Joko Widodo yang malam itu tengah berlangsung acara resepsinya.

Acara yang tayang secara live pada pukul 19.30 WIB tersebut sengaja mengambil dua tema yang kekinian. Pada tema pertama yaitu tentang Alm. Angeline si cantik dari Bali dihadirkan seorang narasumber dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan yang akrab disapa Pak Pri.

Beliau melihat penyebab terjadinya kasus ini salah satunya adalah akibat dari kurang pahamnya masyarakat tentang peraturan dan Undang-undang adopsi anak. Sehingga saat ini terjadi kebebasan bagi keluarga macam apapun untuk bisa mengadopsi anak mana saja, lalu terjadi kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa anak kecil yang hidup dengan orang tua angkatnya.

Dalam episode kali ini dilakukan teleconference juga dengan seorang pengacara yang mengikuti kasus Angeline dari awal, dimana ia melihat telah terjadi salah kaprah dalam kehidupan masyarakat saat ini. Dimana saat terjadi kehilangan aggota keluarga atau anak, mengapa yang dilakukan pertama kali adalah menyebarkan informasinya di media sosial, bukannya menghubungi pihak kepolisian. Namun dari hal ini justru mengungkap keanehan yang terjadi.

Dari sisi rekan kompasianer lainnya yang malam itu juga melakukan teleconference, Mbak Widha, ia berpendapat semestinya ada peran dari lingkungan sekitar berupa kontrol sosial terhadap kehidupan sehari-hari orang lain. Misalnya kita juga harus peka jika terjadi kekerasan terhadap anak tetangga, memperhatikan mengapa ada anak yang sehari-harinya hidup tidak layak, tertutup, lusuh atau murung.

Sejatinya bisa ada bantuan kontrol sosial yang datang dari lingkungan sekitarnya agar tidak terjadi hal-hal yang diluar batas apalagi sampai hilangnya nyawa seseorang.

Masih terkait tewasnya Angeline, rupanya kedukaan ini terus menyebar hingga ke luar Pulau Bali. Salah satunya pada Kamis malam itu disiarkan langsung dari Bundaran HI Jakarta sebuah aksi "1000 Lilin untuk Angeline" yang dilakukan oleh sekumpulan orang dari berbagai komunitas.

Berbagai kegiatan dilakukan di Bundangan HI, salah satunya adalah menyalakan lilin dan berdoa untuk Angeline.

Memasuki tema yang ke dua yakni tentang pernikahan anak Presiden Jokowi; Gibran dan Selvi. Point yang diusung disini adalah tentang betapa elegannya suasana pernikahan tersebut yang kental dengan adat tradisional Jawa Tengah.

Dalam kesempatan ini dihadirkan seorang ibu yang merupakan ahli tata rias dan upacara adat tradisional Jawa. Menurut beliau, banyak tahapan upacara adat yang harus dilalui oleh kedua mempelai, dan tidak boleh ada yang dilanggar karena setiap bagiannya memiliki makna sendiri-sendiri.

Pernikahan Gibran dan Selvi terlihat begitu elegan, dengan mengenakan pakaian adat Solo, berupa setelan kain dan atasan bludru hitam membuat keanggunan sang mempelai wanita semakin terasa.

Adalah kekaguman tersendiri melihat pernikahan anak Presiden yang mengusung tema tradisional. Dimana saat ini mungkin telah banyak muda mudi yang mulai menghindari kebiasaan ini dan beralih kepada nuansa nasional yang simpel-simpel saja.

Pak Presiden beserta keluarga disini menunjukkan bahwa sesungguhnya masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk melestarikan budaya Indonesia, salah satunya melalui penyelenggaraan prosesi pernikahan.

Mengusung tema tradisional berdasarkan tanah kelahiran lalu melaksanakan setiap tahapan adat istiadatnya hingga semuanya selesai dan terselenggara dengan baik, bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi insan Indonesia.

Dalam kesempatan ini dilakukan juga siaran langsung dari lokasi berlangsungnya resepsi pernikahan putra tercinta Pak Jokowi, dimana terlihat banyak perangkat kenegaraan yang hadir salah satunya ialah Prabowo Subianto. Dengan senyum persahabatan Prabowo hadir dan mulai memasuki arena perlehatan akbar Gibran dan Selvi.

Walau hanya menyaksikan melalui layar kaca dan menjadi interviewer yang terpisah jarak, namun tetap beruntung seolah-olah menjadi salah satu tamu acaranya Pak Presiden :)


Lagi-lagi menjadi kompasianer yang beruntung bisa bergabung dengan Kompas TV memang menjadi pengalaman seru tersendiri.

(dnu, ditulis sambil makan nastar sebelum lebaran haha..., 12 Juni 2015, 11.20 WIB)