Sunday, June 7, 2015

Melatih Kejujuran Melalui Lomba Lari


Minggu (7/6) saya kembali mengikuti kompetisi lari yang sama sekali tak pernah saya anggap sebagai kompetisi. Mengapa demikian? Hanya karena saya amat sadar diri bahwa tak mungkin bisa menginjak podium untuk sebuah kompetisi olah raga, apalagi lari. Berhasil melewati garis finish saja sudah merupakan prestasi yang amat membanggakan bagi saya.

Tajuk acaranya adalah Jakarta Green Run – Astra Green Lifestyle. Acara yang dipersembahkan oleh PT Astra International Tbk ini selain menggelar pameran berkaitan dengan lingkungan hidup, diselenggarakan juga kompetisi lari sejauh 5 dan 10 Kilometer yang dibuka untuk umum. Jika ada yang bertanya saya berpartisipasi di angka KM berapa, saya jawab dengan bangga, 5K saja hahah…

Dalam kesempatan ini dibuat juga suatu program penghijauan yakni satu pelari berarti telah menanam satu pohon yang bibitnya telah disediakan oleh panitia penyelenggara. Khusus untuk program ini ada tagline keren yang diusungnya yaitu Hijaukan Bumi dengan Larimu.

Dalam kesempatan berperan sebagai runner jadi-jadian ini ada kejadian menggelitik yang ingin saya angkat ke permukaan, yakni jiwa sportifitas amat perlu dijunjung tinggi mulai dari hal yang paling kecil yaitu kejujuran saat berlari.

Setelah berlari kurang lebih 3 KM ditengah sengalan safas yang tak kunjung henti, iringan kaki yang kadang berlari kadang berjalan, otak memerintah untuk berlari namun hati mengatakan boleh berjalan, saya melihat ada salah satu peserta perempuan yang mengambil jalan pintas. Ia melompati pembatas jalan yang berupa taman-taman kecil, dan langsung melanjutkan tugas berlarinya yang sudah dipotong kurang lebih 1 KM.

Mungkin dia lelah ya sehingga memilih untuk memotong lintasan lari demi mencapai garis finish lebih cepat karena jarak lari yang memendek.

Saya jelas-jelas bukan seorang pelari yang baik, pelari ulung atau pelari dengan kekuatan yang luar biasa. Saya hanya seseorang yang senang dengan olah raga lari, dan hanya untuk bersenang-senang saja, just fun run or happy run.

Tapi melalui kegiatan ini saya amat menjunjung tinggi nilai kejujuran, tidak boleh memotong lintasan, tidak boleh curang, tidak boleh melebihi waktu yang telah ditentukan, tidak boleh patah semangat dan harus mencapai garis finish, walaupun sejauh 3 dari 5 KM-nya saya habiskan dengan berjalan cepat ahahaha…

Terbayangkah mental seperti apa yang dimiliki oleh seorang pelari yang memotong lintasan tersebut? Mental curang, ingin mencapai garis finish tapi tidak mau berlelah-lelah menghabiskan track sesuai dengan ketentuan, serta mental pengecut yang mungkin ingin menang tapi dengan cara yang tak cemerlang.

Apakah dia sakit? Ada ambulance kok kalau memang butuh penanganan medis. Atau bosan karena telah terlalu jauh berlari? Hm.. kalau yang ini saya kurang paham haha….

Lalu tahukah kamu apa rasanya mendapatkan medali finisher atas usaha sendiri yang telah susah payah berlari, tanpa sempat tebar-tebar pesona karena sibuk memikirkan bagaimana caranya mencapai garis finish dengan baik, badan tetap segar dan meraih kemenangan yang sempurna?? Rasa puas yang amat sangat berkecamuk di dalam dada! Maap kalo lebay ahahaha....

Jelas podium bukanlah ukuran, tapi berlari-lari cantik sambil melambai-lambaikan tangan ala Puteri Indonesia kala memasuki garis finish, menjadi kebanggaan tersendiri yang amat saya nikmati huakakakakak…..

Kejujuran bisa dilatih dan bisa terlihat dari aktifitas apapun. Termasuk dalam lomba lari seperti ini. Karena kemenangan yang berhasil diraih tanpa dasar kejujuran hanyalah kemenangan semu yang patut ditertawakan.

(dnu, ditulis sambil ngobrol sama opung tercintah, 8 Juni 2015, 12.52 WIB)