Tuesday, June 2, 2015

Menghayati Pancasila dengan Sederhana



Senin (1/6) lalu diperingati sebagai hari lahirnya pancasila, dasar Negara Republik Indonesia yang terdiri dari 5 sila. Ada yang lupa kalau kemarin adalah hari lahirnya Pancasila? Semoga tulisan ini mengingatkan ya!

Sebagai warga Negara yang berbudi luhur sudah sepatutnya kita mengamalkan setiap sila pancasila dengan penuh kesungguhan. Tujuannya hanya satu, yakni meraih kenyamanan hidup yang seutuhnya sebagai individu yang berstatus sebagai makhluk sosial.

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengamalkan sila-sila tersebut mulai dari hal yang paling sederhana. Dikaitkan dengan 5 sila Pancasila berikut ini hal-hal sederhana yang mungkin saja bisa dijadikan pondasi tambahan sebagai cikal bakal dalam menghayati dasar Negara kita.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sudah jelas disini bahwa kita sebagai Warna Negara Indonesia yang berbudi luhur hendaknya percaya pada adanya Tuhan Yang Maha Esa, sehingga segala tindak tanduk yang kita lakukan semua berdasarkan atas dasar moral yang baik, yakni moral yang berkeTuhanan.

Sila ke dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Hal terkecil yang bisa dianut dari sila ke dua ini adalah sudah sepatutnya bahwa keadilan harus diterapkan kepada semua warga Negara tanpa pandang bulu, jabatan, SARA atau yang lainnya. Jadi eloknya sudah tidak ada lagi seorang pejabat yang menjadi koruptor namun hidupnya masih aman dari jangkauan teralis besi, alias kebal hukum. Serta tak ada lagi kasus nenek ini atau nenek itu atau siapapun yang dipidanakan dengan tanpa rasa kemanusiaan hanya karena dianggap mencuri sebuah tutup gelas.

Sila ke tiga, Persatuan Indonesia. Sudah terang benderang maksud dari sila ke tiga ini, yaitu tidak ada alasan lagi untuk terjadinya perpecahan di bumi Indonesia dengan dasar apapun. Dan pemerintah sudah sepatutnya memperhatikan dengan sama rata atas teritori seluruh belahan nusantara raya, terkait kesejahteraannya, pengakuan hukumnya, kualitas pendidikannya, sarana kesehatannya dan sebagainya. Jadi semakin hari semoga semakin sedikit rakyat disuatu wilayah yang ingin bergabung dengan Negara lain karena merasa aplikasi kehidupannya lebih dimudahkan oleh Negara yang beririsan garis batas tersebut. Dan semoga bisa berakhir kejadian belanja pakai rupiah tapi kembaliannnya ringgit karena Negara pemilik mata uang tersebut amat sukses menyediakan semua kebutuhan hidup rakyat Indonesia di dalam kampong penduduk Indonesia yang letaknya memang berada di garis perbatasan.

Sila ke empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Ini sila yang paling menggemaskan, dan tentu semua rakyat Indonesia amat ingin berpesan agar cukup sudah para wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat untuk membawa suara rakyat demi kesejahteraan rakyat, malah tertidur pulas nan manis saat rapat berlangsung.

Sila ke lima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sila pamungkas, berlambang padi dan kapas, artinya kesejahteraan hidup hendaknya untuk seluruh masyarakat negeri rempah-rempah ini. Bukan yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Tidak juga yang berjaya semaki jaya dan yang hidupnya ngepas semakin terhempas.

Mari kita ciptakan seni hidup yang berkeTuhanan, berperikemanusiaan, bersatu, bermusyawarah dan adil sejahtera untuk seluruh saudara setanah air Indonesia.

(dnu, ditulis sambil mendengarkan adzan isya yang berkumandang syahdu dari masjid dekat rumah, 2 Juni 2015, 19.02 WIB)

#NulisRandom2015 #tulisanke2 #dewinurbaiti