Thursday, June 18, 2015

Wahai Wanita, Mengapa Engkau Berseteru?



Beberapa hari ini nampaknya sedang hangat-hangatnya perseteruan para istri atau ibu pencari pahala. Singkat saja, bagi istri atau ibu yang bekerja kantoran yang otomatis menghasilkan uang dari jerih payahnya sendiri berpendapat bahwa, ia adalah wanita mandiri yang mampu menghidupi diri sendiri.

Lain lagi bagi istri atau ibu yang aktifitasnya full mengurus rumah tangga, bisa berkata bahwa syurga-lah yang akan menjadi balasan dari peluh, perih dan lelahnya setiap hari.

Namu bagi seorang istri atau ibu yang juga bekerja namun dilakukan dari rumah (berbisnis sendiri) mengatakan bahwa, merekalah yang paling sempurna karena mampu menghasilkan uang sendiri dengan tanpa melalaikan kewajiban mengurus rumah tangga.

Hai girls! Apakah kalian sadar, perhelatan ini sama persis dengan adu argumen para wanita yang baru saja melahirkan! Dimana ada yang bilang jika belum merasakan melahirkan secara normal maka ia belum menjadi wanita yang seutuhnya. Namun apakah kita lupa? Melahirkan secara caesar juga butuh perjuangan! Sama-sama mempertaruhkan nyawa! Dan seharusnya tidak ada istilah “wanita seutuhnya”! Memang ada yang mau dikatakan sebagai wanita yang setengah-setengah??!

Ini masih sama halnya dengan perebutan tahta bagi ibu yang menyusui anaknya dengan yang tidak bisa menyusui. Harus dilihat dengan mata terbuka bahwa ada alasan-alasan yang menyebabkan mengapa seorang wanita harus melahirkan secara caesar dan mengapa seorang wanita tidak bisa meyusui atau memberikan ASI kepada anaknya. Pasti ada alasannya!

Saya sebagai seorang wanita pekerja, istri, ibu, yang melahirkan secara caesar setelah gagal mencoba secara normal, berhasil menyusui anak ke dua hingga 3 tahun setelah hanya 3 bulan saja bagi anak pertama, geram melihat ini semua!

Apakah disadari bahwa;

Seorang wanita pekerja bisa saja mendadak tidak berkah atas semua pendapatan dari pekerjaannya hanya karena ia sombong seolah-olah amat bergengsi karena bisa mencari uang sendiri!

Seorang wanita yang full mengurus rumah tangga bisa saja syurga menjadi jauh darinya karena ia telah riya melalui seluruh keluh kesah pamrihnya kepada siapa saja yang menyapanya.

Dan seorang wanita yang mengurus rumah tangga namun sambil berbisnis dari rumah bisa saja kehilangan cinta dari Allah SWT karena ia jumawa, merasa paling hebat bisa melakukan keduanya.

Sayang lho semua upaya yang berlelah-lelah itu pahalanya bisa musnah seketika dengan tanpa sadar...

Pernah mencoba berfikir kah mengapa seorang wanita memilih untuk bekerja? Memilih untuk full di rumah? Memilih bekerja dari rumah? Memilih melahirkan caesar dan tidak bisa memberikan ASI kepada anaknya? Pernah memikirkan yang seperti itu kah kira-kira apa alasannya?? Mungkin tidak. Yang terfikirkan hanya mengagungkan diri sendiri dan mennghakimi orang lain tanpa alasan!

Semua wanita itu cantik. Semua wanita itu istimewa. Semua wanita itu hebat. Semua wanita itu luar biasa. Yang membedakan apa? Hanya amalan yang telah dilakukannya selama di dunia! Itu yang membuat wanita berbeda. Tidak penting di mata manusia, yang penting bagaimana bisa menjadi istimewa di mata Allah SWT.

Pernah adu argumen kah mengapa seorang wanita memilih untuk menutup aurat sementara yang lain tidak? Mengapa seorang wanita memilih mengenakan jilbab secukupnya sementara yang lain berusaha sesuai syar’i habis-habisan? Mengapa seorang wanita memilih untuk pergi mengaji ketimbang nonton di XXI? Mengapa seorang wanita memilih untuk menghalalkan hubungannya dengan pria melalui pernikahan sementara banyak yang berteman sembarangan? Mengapa seorang wanita memilih untuk bermain dengan anaknya ketimbang pergi ke mall bersama teman-temannya?

Pernah memikirkan yang seperti itu kah??? Nyaris tidak kan?? Justru sebenarnya hal-hal tersebutlah yang cukup mampu untuk membuktikan siapa yang menjadi muslimah sesungguhnya dan penting dalam kehidupannya.

So, sudahilah perseteruan ngga penting itu! Berhentilah mengagungkan diri sendiri! Cukup sudah menghakimi orang lain dengan tanpa alasan! Stop melihat cara dan gaya hidup orang lain dari sisi yang negatif. Karena apa? Karena semua pasti ada alasannya.

Satu hal penting lainnya, posisikan dirimu sebagai dirinya maka selanjutnya kamu akan merasakannya.

(dnu, pernah menulis sambil emosi?? saya pernah!, 18 Juni 2015, 12.48 WIB)