Tuesday, August 25, 2015

Coming soon on September 2015

Bismillah....
Mohon doa dan dukungannya...

Bukan sebuah maha karya, melainkan hanya sebuah kumpulan catatan penuh cinta dari seorang wanita biasa...

"Berbagi Cinta Di 4 Kota"

Coming soon on September 2015

-DNU-


Monday, August 17, 2015

Menyikapi Kemerdekaan dengan Hati yang Merdeka

Mampu melihat kebaikan orang lain dan atau lebih luasnya lagi mampu melihat upaya-upaya kebaikan yang telah dilakukan oleh pemimpin bangsa ini adalah salah satu refleksi dari hati yang merdeka.
Hati yang berani mengakui kehebatan orang lain juga menjadi salah satu tolak ukur akan kemerdekaan diri seseorang.

Jika masih saja kita terus melihat kekurangan, kekurangan dan segala kekurangan yang ada dalam diri orang lain, itu tandanya bukan cuma hati yang belum merdeka tetapi juga fikiran kita.

Tidak sedikit orang yang belum berani mengakui kelebihan yang ada dalam diri orang lain. Terlebih lagi jika orang tersebut adalah lawan dalam suatu kompetisi. Karena kemenangan sejati adalah buakn hanya berhasil memenangkan pertandingan tapi juga berhasil mengalahkan sikap kerdil untuk takut mengakui kemenangan orang lain.

Sama halnya dengan pemimpin bangsa Indonesia yang dari tahun ke tahun terus saja dicemooh karena dianggap kurang disana sini. Tapi banyak hal yang terlupa tentang keberhasilan mereka yang walaupun sedikit telah berkontribusi dalam membangun bangsa Indonesia.

Saya tidak ingin menyebutkan contoh nama pemimpin dalam bahasan ini, karena hal tersebut sama saja saya sedang mengunggulkan yang satu dan menjatuhkan yang lainnya.

Pemimpin yang mungkin belum berhasil membabat semua para koruptor lalu dihina dina, dianggap tidak mampu dan nyaris didemo untuk diturunkan dari jabatannya. Tapi apakah kita lupa bahwa bisa jadi ia telah berhasil dalam bidang pembangunan lainnya yang bisa jadi skalanya memang jauh lebih kecil ketimbang memberantar koruptor.

Satu hal yang perlu diingat adalah beda permasalahan maka beda pula ukuran waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Maka jika seorang pemimpin bangsa belum terlihat keberhasilannya pada suatu masalah, adalah bukan tidak mungkin masih banyak waktu yang dibuthkan untuk menuntaskannya.

Hati yang merdeka adalah hati yang berani mengakui kekurangan diri dan berani mengakui kehebatan orang lain. Dan fikiran yang merdeka adalah fikiran yang tidak terus menerus tentang sebuah hal yang negatif, melainkan selalu pandai melihat sisi postif atas segala sesuatu.

Di Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke 70 ini marilah kita bersama-sama memerdekakan hati dan fikiran kita dengan cara menjauhi prasangka buruk dan fikiran negatif.

Karena yang terlihat diam belum tentu berhenti, dan yang terlihat hitam belum tentu tak bercahaya.

(dnu, ditulis sambil makan pisang bakar coklat kejuuuu.... ennaakk... saya sukaaakk..., 17 Agustus 2015, 13.30 WIB)

Found me at :
Website :
www.tulisandnu.net
www.kompasiana.com/dewinurbaiti
www.etalasedewi.com
Instagram : @dewinurbeauty
Path : @dewinurbeauty
Linkedin : Dewi Nurbaiti
Google+ : www.google.com/+Dewinurbaitiku
Tumblr : Dewi Nurbaiti
Pinterest : Dewi Nurbaiti
Goodreads : Dewi Nurbaiti
Email : justdnu@gmail.com

Sunday, August 16, 2015

Istana Nan Elok, Istana Pagaruyung

Jelajah Seru Ranah Minang
#13

Istana Pagaruyung yang dalam bahasa minang adalah Istano Basa Pagaruyuang merupakan salah satu tujuan wisata di Provinsi Sumatera Barat yang wajib dikunjungi. Rasanya bisa dibilang misi di Ranah Minang belum komplit jika belum ke Istana yang cantik jelita ini.

Bangunan kebanggaan rakyat Minangkabau ini terletak di Kecamatan Tanjung Emas, Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Istana ini merupakan obyek wisata budaya yang terkenal di Sumatera Barat.

Istano Basa yang berdiri sekarang sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istano Basa asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966.

Musibah kebakaran ini kembali terulang pada tanggal 27 Februari 2007, akibat petir yang menyambar di puncak istana. Akibatnya, bangunan tiga tingkat ini hangus terbakar.

Istano Basa Pagaruyuang ini merupakan pusat budaya Minangkabau. Oleh karenanya disini kita bisa melihat berbagai benda kebudayaan yang berasal dari Sumatera Barat, serta berbagai informasi terkait bumi yang terkenal dengan legenda Malin Kundang ini.

Di lantai pertama kita bisa melihat berbagai pakaian adat dan benda-benda budaya dari Sumatera Barat. Namun sebelum naik ke lantai ini dibagian bawah panggung Istana kita bisa menemukan area khusus penyewaan Pakaian Adat Sumatera Barat yang dikenal dengan Baju Daro dan hiasan kepala wanita yakni Sunting. Tidak hanya pakaian adat wanita, untuk kaum pria pun lengkap bisa menyewanya disini. Bahkan untuk anak-anak juga tersedia di area yang menarik ini.

Di lantai ke dua kita bisa melihat ke luar melalui jendela yang terdapat di seluruh dinding bangunan Instana. Melihat dengan pandangan yang begitu luas untuk pesona Tanah Datar yang amat indah.
Di lantai ketiga kita juga bisa melihat pemandangan yang lebih luas lagi untuk pesona Sumatera Barat yang penuh dengan pepohonan hijau dan disela-selanya terdapat rumah-rumah penduduk yang masih mengusung budaya rumah tradisional Minangkabau.

Bangunan Istana yang amat megah ini telah menjadi icon tersendiri bagi Provinsi Sumatera Barat. Sejak dibukanya untuk umum yakni kurang lebih tahun 1970-an, hingga kini Istana Pagaruyung mampu menyerap begitu banyak kunjungan dari wisatawan baik lokal maupun asing.

Istana ini ditata sedemikian rupa dan tampak begitu asri hingga membuat siapa saja yang berkunjung kesini merasakan benar pesona Ranah Minang yang elok nan rupawan.

Mungkin suatu saat nanti siapa saja yang cinta Ranah Minang bisa membuat program “Visit Istano Basa Pagaruyuang” untuk lebih mengenalkan tentang budaya Minangkabau yang memiliki daya tarik tersendiri.

(dnu, pernah menulis sambil nahan ngantuk?? Saya pernah!, 17 Agustus 2015, 09.08 WIB)

Found me at :
Website :
www.tulisandnu.net
www.kompasiana.com/dewinurbaiti
www.etalasedewi.com
Instagram : @dewinurbeauty
Path : @dewinurbeauty
Linkedin : Dewi Nurbaiti
Google+ : www.google.com/+Dewinurbaitiku
Tumblr : Dewi Nurbaiti
Pinterest : Dewi Nurbaiti
Goodreads : Dewi Nurbaiti
Email : justdnu@gmail.com

Cinta Indonesia Dimana Saja

Mall grosiran ini bener-bener beda dengan mall lainnya. Ketika memperdengarkan alunan lagu-lagu masa kini melalui pengeras suara telah menjadi hal yang amat biasa, tidak sama halnya dengan pusat perbelanjaan grosiran ini.

Sepanjang saya berbelanja dan berputar di dalam bangunan besar ini, tak henti-hentinya saya mendengar alunan lagu-lagu kebangsaan.

Mulai dari Bagimu Negeri, Satu Nusa Satu Bangsa, Di Timur Matahari, Syukur dan masih banyak lagi. Hebat ya?! Ketika hal yang biasa menjadi keunggulan bagi orang lain, pusat perbelanjaan ini memilih jalan yang berbeda namun amat mengena.

Biasanya saya mengumandangkan lagu Bagimu Negeri hanya saat ada acara di kantor, setelah menyanyikan Mars perusahaan dan dilanjutkan dengan Bagimu Negeri.

Pasti dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang Ke 70 sehingga lagu-lagu kebangsaan dikumandangkan oleh pusat grosir ini. Namun benar-benar menghasilkan suasana yang berbeda saat saya memilih-milih kecap dengan buatan kedelai hitam yang paling unggul, saya ditemani oleh lagu Sepasang Mata Bola :D

Dan juga kali ini cukup fantastis, sambil memilih sabun mandi, sambil berdendang lagu Bagimu Negeri dalam hati.

Terakhir sambil memilih ice cream, diiringi lagu sendu ini :

"Tanah airku aman dan makmur... pulau kelapa yang amat subur... tanah melati pujaan bangsa... sejak dulu kala...."

Keren!
Saya suka!

(dnu, ditulis sambil ngelihatin ikan berenang di akuraium trus diambil sama abang2nya trus dipotong dengan teganya..., 16 Agustus 2015, 12.10 WIB)


Saturday, August 15, 2015

Inai, Ukiran Cantik Sebagai Simbol ke-Cantik-an

Jelajah Seru Ranah Minang
#12

Hiasan ini terukir manis diatas kuku dan punggung tangan, dengan motif batik, bunga dan ukiran-ukiran sejenisnya, serta biasa dipakai oleh mempelai wanita. Bagi sebagian orang hiasan ini disebut dengan tatto, tapi bagi sang pemilik budaya hiasan seperti itu disebut dengan inai.

Entah atas sumber dari mana, inai disebut-sebut sebagai simbol magis. Selain tentunya sebagai simbol kecantikan.

Menurut sejarah, sudah sejak zaman dahulu kala di Semenanjung Mediterania, Melayu dan juga Indonesia para wanita mewarnai kuku dengan daun inai agar terlihat cantik. Selain itu, di sebagian ritual pernikahan di Indonesia juga memasukkan penggunaan inai dalam prosesi janji suci tersebut. Namun demikian, masing-masing daerah tetap memiliki makna sendiri-sendiri untuk ritual penggunaan inai.

Beberapa daerah yang memiliki tradisi penggunaan inai antara lain Aceh, Minangkabau, Riau, Palembang, Lampung, Betawi dan Bugis-Makassar.

Disini saya hanya ingin membahas tradisi ber-inai dari daerah Minangkabau saja. Karena apa? You know laahh... I love Minangkabau so much hahaha... Tapi bukan berarti saya tidak cinta pada daerah lainnya, hanya saja untuk kali ini izinkan saya fokus pada budaya dari Ranah Minang ^^

Di Minangkabau ada sebuah tradisi yang digelar malam hari sebelum upacara pernikahan, dimana pada malam tersebut kuku calon mempelai ditorehkan daun inai, dan malam ini dikenal dengan Malam Bainai. Penorehan ini dilakukan oleh orang tua sang mempelai, ninik mamak, saudara, handaitaulan dan orang-orang terkasih lainnya.

Malam ini berarti malam seribu harapan, seribu doa bagi kebahagiaan rumah tangga anak daro yang akan melangsungkan pernikahan esok harinya.

Tapi seiring dengan perkembangan zaman hiasan inai tidak hanya digunakan oleh orang yang baru menikah saja. Namun demikian inai tetap saja identik dengan pengantin baru.

Dewasa ini amat mudah ditemui para ahli pengukir inai di berbagai pusat perbelanjaan dan keramaian. Sama halnya dengan saya, dimana punggung tangan ini dihias oleh sang ahli di suatu pusat keramaian. Tepatnya di area wisata Jam Gadang - Bukittinggi.

Bayangkan, malam hari, ditengah keriuhan wisata Jam Gadang, dibawah pancaran sinar bulan, ditemani senandung lagu-lagu padang, tangan saya diukir oleh sang ahli penghias inai... aaahh... romantisnyaaa... ahahaha....

Ini bukanlah kali pertama punggung tangan saya dihias dengan inai atau Hena, namun kali ini sungguh terasa berbeda dan amat sempurna. Ngerasain pakai hiasan inai yang asli diukir oleh urang awak :D

Dan jika saya boleh ngelunjak, malam itu... saya berasa jadi Uni beneran ahahaha....

*Mohon maaf kepada semua urang awak kalau ada salah dalam penulisan sejarah Inai.
*Mohon izin kepada semua urang awak, si Betawi keturunan Jawa ini untuk boleh dipanggil Uni :p

(dnu, ditulis sambil maceeettt... bayangkaannn... sambil macet aja bisa nulis!! Karena sesungguhnya ini bukan macet, melainkan parkir berjamaah!! Enjoy Jakartah!, 14 Agustus 2015, 18.42 WIB)

Tuesday, August 4, 2015

MOS Sebagai Ajang Balas Dendam?



Di awal tahun ajaran baru ini banyak sekali berseliweran berita-berita seputar Masa Orientasi Siswa atau yang biasa disebut dengan MOS. Dan berita yang berdar di sana sini justru bukan yang menyenangkan bahkan yang sebaliknya. Aktifitas yang banyak orang katakan sebagai bentuk siksaan terjadi dalam berbagai macam bentuk. Bahkan hingga ada siswa yang meninggal dunia yang katanya sebagai akibat dari perlakuan saat MOS yang berlebihan.

Menteri Pendidikan Anies Baswedan dalam beberapa pemberitaan juga telah melakukan kunjungan  ke beberapa sekolah dan mendapati kegiatan MOS yang dirasa tidak perlu dilakukan. Berangkat dari hal tersebut Anies Baswedan mengeluarkan maklumat bagi seluruh pelaku dan pemerhati pendidikan untuk tidak lagi menyelenggarakan MOS dengan detil aktifitas yang tidak semestinya.

Menggunakan penutup kepala dengan pot bunga dialibikan sebagai aktitfitas cinta lingkungan. Berjalan kaki hingga kurang lebih 4 KM juga dikatakan sebagai wujud cinta lingkungan. Hal-hal tersebut adalah contoh dari beberapa berita yang berkembang di masyarakat. Pihak penyelenggara MOS mengatakan hal-hal tersebut sebagai alih jawab atas anehnya bentuk MOS yang dilakukannya.

Jika difikir dengan akal sehat, apakah tidak ada aktifitas yang lebih positif dalam membentuk siswa agar cinta lingkungan? Sudah lupakah dengan aktifitas berkebun? Tidak ada lahan? Bagaimana jika dilakukan dengan tabulampot (tanam buah dalam pot)? Apakah tidak lebih baik?

Berangkat dari banyak pemberitaan di media massa terkait MOS ini, saya justru berfikir apakah MOS ini sebagai aksi balas dendam sang kakak kelas? Dan apakah detil aktifitas MOS yang disusun oleh organisasi siswa di sekolah sudah diketahui sedetil-detilnya oleh dewan guru? Tidak ada kah dewan guru yang mendampingi saat pelaksanaan MOS berlangsung?

Kakak kelas yang sebelumnya menerima perlakuan MOS dengan tidak menyenangkan maka  akan besar kemungkinan saat ia menjadi senior juga akan menerapkan hal yang sama persis yang ia rasakan sebelumnya. Bahkan lebih. Jika sudah begini, berarti perlakuan siksaan demi siksaan kepada siswa baru akan terus berlangsung setiap tahunnya. Bukankah demikian? Saya tidak mengatakan bahwa seluruh kakak kelas akan memiliki rasa “dendam” kepada adik kelasnya, sehingga pelampiasan yang paling tepat adalah saat MOS tersebut.

Hal ini hanya sebuah kekhawatiran dan perkiraan saya pribadi. Tidak ada maksud untuk menjenelarisir kondisi secara keseluruhan.

Selanjutnya mengenai keterikatan dewan guru dalam pelaksanaan MOS di sekolah, bukankah hal ini erat kaitannya dengan citra sekolah? Jika terjadi sesuatu yang baik maka citra sekolah akan turut baik, dan jika terjadi hal-hal yang burukpun maka citra sekolah akan menjadi buruk. Maka menurut saya, apapun yang terjadi di dalam lingkungan sekolah maka sudah sepatutnya atas sepengetahuan dan sepersetujuan perangkat sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah, Bidang Kesiswaan ataupun Bapak/Ibu guru.

Nah pihak sekolah tentu paham benar dalam pemberian izin serta seluruh detil pelaksanaan MOS, pun termasuk untuk menyaring kegiatan-kegiatan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilaksanakan. Jika masih saja terdapat aktifitas MOS yang tergolong memberatkan siswa dan berpotensi memberikan efek fatal maka perlu ditanyakan bagaimana sebenarnya proses persetujuan atas seluruh detil kegiatan MOS. Apakah telah melalui perijinan dewan guru atau tidak.

Jika perijinan sudah beres dan aktifitas MOS yang tergolong memberatkan siswa boleh dilaksanakan maka menurut saya sekolah secara keseluruhanlah yang perlu dievaluasi lagi.
Jika dewan guru tidak mengetahui detil kegiatan MOS maka yang perlu ditanyakan adalah dimana kepedulian pihak sekolah terhadap siswa senior maupun junior yang seharusnya diberikan sepenuhnya.

Masa Orientasi Siswa adalah masa-masa siswa baru untuk mengenal sekolah dan lingkungannya. Bukan ajang senior balas dendam kepada juniornya atas perlakuan yang pernah dirasakan sebelumnya. Serta bukan pula kegiatan sepele yang boleh dilakukan pembiaran oleh pihak sekolah.

Jelas wajib dilakukan review sedetil-detilnya tentang aktifitas MOS yang akan dilaksanakan oleh organisasi siswa, serta review setelah MOS berlangsung tentang apa saja yang menjadi catatan sekolah mengenai aktifitas yang masih dinilai memberatkan siswa baru. Lebih disayangkan lagi jika aktifitas yang memberatkan tersebut sangat jauh hubungannya dengan tujuan utama MOS yakni mengenal sekolahnya lebih dekat.

(dnu, artikel ini ditulis sambil apa hayoooo.... ahahaha...., 4 Agustus 2015, 10.30 WIB)

Monday, August 3, 2015

Pilkada Sumbar, Bereskan Dahulu Sampah yang Berserakan



Jelajah Seru Ranah Minang
#11

Rabu – Minggu (23-26/7) saya sengaja menyempatkan diri untuk berkunjung ke Sumatera Barat dengan tujuan utama plesir, alias murni jalan-jalan. Ribuan kilo saya tempuh melalui jalur udara dari Jakarta ke Sumatera Barat hanya karena dasar kecintaan yang amat kuat terhadap Ranah Minang ini.

Setibanya disana ada dua hal yang membuat saya takjub, pertama karena kecantikan atap gaya rumah gadang yang menjulang diberbagai bangunan, yang ke dua karena saya melihat banyak sampah berserakan dimana-mana, bahkan hampir disetiap sudut kota.

Saya tertarik untuk membahas rasa takjub saya yang ke dua, yakni tentang serakan sampah. Seiring dengan banyaknya pemandangan sampah, seiring itu pula banyak sekali poster, baliho, spanduk dan materi publikasi lainnya untuk seorang Calon Gubernur (Cagub) Sumatera Barat. Seperti banyak diberitakan bahwa akan segera dilaksanakan pemilihan Kepala Daerah yakni Gubernur untuk area Sumatera Barat, maka sudah tentu para calon sibuk dengan misinya masing-masing sambil mempromosikan diri.

Bagi saya ada kaitan yang erat antara sampah dengan pencalonan Cagub kali ini. Sangat mjudah dilihat bahwa lebih dari dua calon beradu kekuatan dan kemampuan untuk bisa mengambil hati rakyat Sumatera Barat agar ia terpilih menjadi Gubernur. Tanpa saya perlu tahu tentu sudah banyak cara yang para cagub lakukan untuk memenangkan hati rakyatnya, namun mengapa cara yang satu ini tidak disentuh ya? Yakni gerakan bersih-bersih lingkungan untuk menunjukkan bahwa Pak Cagub adalah seorang yang cinta kebersihan, pemerhati lingkungan atau apalah yang tentunya menunjukan betapa ia cinta kepada tanah Sumatera Barat.

Walaupun hanya sebuah alat saja, melakukan gerakan pungut sampah yang diajak oleh Calon Gubernur akan menjadi sesuatu yang membekas di hati masyarakat. Maka menurut saya, sekaligus membenahi tanah yang akan dipimpin maka sudah sepatutnya sejak mencalonkan diri harus pandai melihat hal-hal apa saja yang perlu dibenahi dan segera dilakukan pembenahannya.

Namun hendaknya tidak hanya menjadi sebuah kegiatan klise saat kampanye saja, namun jika sudah terpilih menjadi Gubernur maka program-program yang terkait dengan menjaga kebersihan lingkungan juga harus semakin digalakkan.

Sangat berbeda dengan yang saya saksikan. Para Bapak Calon Gubernur nampak begitu menikmati masa-masa kampanyenya namun kebersihan lingkungan tidak diambil alih sebagai salah satu cara untuk mewujudkan bahwa ia pantas menjadi pemimpin daerah tersebut.

Menurut saya ini adalah hal sederhana yang efeknya luar biasa. Bagi para tim sukses calon gubernur juga idealnya mengerti dan paham benar bagaimana cara mengangkat sosok yang diusungnya, serta pandai pula menyusun berbagai program kerja pra kepemimpinan yang bisa dilakukan dengan penuh azas manfaat.

Mengambil hati rakyat memang tidak mudah, namun alangkah mudahnya sebenarnya melakukan hal-hal kecil nan sederhana tapi memiliki efek luar biasa. Bukan tidak mungkin sesuatu yang istimewa berangkat dari kesuksesan sesuatu yang amat sederhana.

Hanya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama melakukan gerakan pungut sampah, gerakan cinta lingkungan, gerakan hijaukan Minangkabau kita atau apalah yang dapat menarik perhatian masyarakat sekaligus membuat lingkungan lebih asri. Dan disamping itu sekalian juga mengingatkan tentang kebersihan adalah sebagian dari iman :)

Selamat berjuang para Cagub! Jika lingkungan bersih maka kerja nyata untuk membangun daerahpun dapat terlaksana dengan baik :)

(dnu, ditulis di parkiran sambil ngerasain kaki pegel pisan huhu…., 3 Agustus 2015, 17.58 WIB)

Saturday, August 1, 2015

Cerita Iseng Terkait Hotel Bintang 5 Premier B***O – Padang

Jelajah Seru Ranah Minang
#5

Ini adalah bukan kali pertama saya menginap di sebuah hotel, mulai dari yang tak berbintang alias hanya sebuah Guest House atau penginapan biasa, hingga hotel yang penuh dengan taburan bintang. Dari sekian kali pengalaman tersebut maka secara tidak langsung saya memiliki kesimpulan tersendiri untuk sebuah standar minimal sebuah Hotel apalagi yang berbintang-bintang.

Dalam rangka mengisi sebuah kegiatan saat hari libur saya menyempatkan diri berkunjung ke sebuah Provinsi yang telah lama saya impikan, yaitu Sumatera Barat. Dengan maksud menjelajah seluruh belahan bumi Ranah Minang ini maka sudah barang tentu saya harus menghabiskan beberapa waktu disini.

Pilihan untuk menginap di Kota Padang jatuh pada Hotel Premier B***O – Padang. Hotel bintang 5 ini merupakan Hotel yang telah lama berdiri, ya bisa dibilang ini adalah Hotel senior yang ada di Kota yang terkenal dengan penganan keripik sanjai ini.

Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan saya memilih Hotel yang berada ditengah Mall ini. Selain karena bintangnya yang ada 5, lokasi beradanya Hotel yang terletak di tengah Kota sehingga memudahkan saya jika ingin menuju ke beberapa tempat yang menarik juga menjadi pertimbangan yang utama.

Ternyata Bintang 5 bukan jaminan sebuah pelayanan yang memuaskan. Langsung saja, saya tidak ingin berbasa basi lebih panjang lagi.

Sore hari, usai check in saya memutuskan untuk langsung mandi, setelah seharian berkeliling ke beberapa objek wisata yang tentu membuat badan lelah dan kotor. Begitu memasuki kamar mandi saya merasa ada sesuatu yang kurang.

Pertama, begitu melihat tissue gulung di samping kloset, saya membatin “kok gulungan tissuenya tipis amat yaa… hmm… bekas pakai nampaknya dan ga diganti dengan baru…. okelah… penghematan mungkin…”. Agak kurang ideal sih bagi saya atas sebuah pelayanan Hotel Bintang 5 untuk tamunya. Kalau sisa tissue bekas pakainya masih tebal ya boleh lah, tapi ini tipiiisss… benerr…. paling 3 kali pakai juga habis.

Ke dua, kembali saya membatin “kok ini kamar mandi terang banget yaaa… astagaa… ternyata ada yang kurang, “handuk kok ngga kelihatan ya?....”. Cari sana sini, buka lemari sana sini. Tengok kolong wastafel, kolong meja, bawah TV tidak ada juga. Buka minibar siapa tahu ada handuk didalamnya yang lagi didinginkan, tapi ternyata tidak ada juga. Cari di tempat sampah, dibalik gorden, diatas lampu, dibalik cermin, sampe di laci meja rias juga tidak ditemukan. So, saya harus cari handuk dimana lagi di kamar ini?

Ke tiga, usai mencuci muka, cuti tangan, cuci kaki, nyalain shower… cipratan air disana sini… alhasil menyebabkan lantai becek dong? Lagi-lagi saya merasa ada yang kurang…. tapi apa ya? Keset! Yak, keset atau lap lantai tidak ada di kamar mandi ini. Hah! Sungguh aneh! Kan jadi jorok toh lantainya???
Sekali lagi saya ingatkan, ini Hotel Bintang 5!

Entahlah, apakah ini kategori kealpaan yang wajar nan standar atau bagaimana. Yang pasti barnag-barang tersebut adalah hal mendasar yang seharusnya ada di sebuah kamar dalam Hotel Berbintang, apalagi 5. Huh!

Saat akan menuju mall yang menjadi satu dengan gedung Hotel ini untuk berjalan-jalan di malam hari saya sempatkan mampir ke reception Hotel untuk menyampaikan tentang ketidak adaan handuk di kamar saya.

Ini redaksional pembicaraan saya dengan reception Hotel :

Saya : Malam Mbak, saya Dewi dari kamar xxx

Mbak Cantik Jelita sang Reception : Malam Bu Dewi, ada yang bisa saya bantu?

Saya : Saya Cuma mau bilang, di kamar saya ngga ada handuk lho
mbak, keset juga ngga ada. Jadi tadi saya mandi tanpa
mengeringkan badan dengan handuk. Dan lantai kamar mandi
saya juga becek air dimana-mana karena kesetnya ngga ada….

Mbak Cantik Jelita sang Reception : Oh bla… bla… blaa…. endebrah… endebraahh….. maaf ya bu…

Dua hal yang saya tidak mengerti disini. Satu; saya tidak tahu mbak cantik itu ngomong apa! Cuma denger “Oh” dan “Maaf ya Bu” saja. Selebihnya hanya alam semesta yang tahu! Pronounciationnya tak jelas blas! Dua; kok bisa ya memberikan penjelasan kepada tamu dengan amat santai tanpa pasang muka iba. Wajahnya standar aja saat bicara, seakan hal-hal semacam ini sudah biasa terjadi. Pura-pura iba gitu kan bisa biar tamunya merasa ada yang berempati kepadanya hahaha….

Usai acara pengaduan di meja reception selesai saya bergegas menuju mall untuk makan malam. Dan ketika kembali ke kamar saya harap-harap cemas apakah ada yang mengantarkan handuk sementara saya tidak ada di kamar. Atau bisa jadi handuknya sudah di kamar dengan cara room service masuk ke kamar dengan kunci lainnya tanpa sepengetahuan penghuninya. Nah bayangan ke dua ini yang saya lagi-lagi tak setuju.

Ternyata benar saja, begitu masuk kamar saya mendapati lipatan handuk putih sudah nangkring manis diatas kasur. Oke, petugas masuk tanpa saya tahu. Huhuhu…. lagi-lagi saya ndak sukkaaa…. this is my room, my private also, so you can call me before you came in :p

Kalau memang dunia perhotelan tak memiliki standar agar pegawainya menelepon penghuni kamar terlebih dahulu sebelum memutuskan masuk ke dalam kamarnya, kali ini saya boleh kasih saran ya bahwa sebaiknya tunggu sampai penghuni kamar membukakan pintu, atau telepon terlebih dahulu dan tunggu sampai ada yang angkat.

Kalau dalam waktu yang cukup lama tidak ada jawaban dari dalam kamar dan dicurigai telah terjadi sesuatu maka keputusan masuk ke dalam kamar dengan menggunakan kunci duplikat baru bisa dilakukan. Atau bisa saja dibenarkan masuk ke kamar tamu jika di daun pintu kamar digantungkan label untuk mempersilahkan petugas masuk guna membersihkan kamar atau melakukan apa saja.

Bayangkan, jika penghuni kamar yang merupakan seorang perempuan - yang tidak membukakan pintu, tidak dengar suara bel, tidak dengar telepon kamar berbunyi karena sedang tertidur pulas alias bukan sedang tidak di kamar. Lalu petugas yang membawakan barang yang diperuntukkan bagi kamar tersebut adalah seorang laki-laki, kira-kira elok tak?

Ah sudahlah… yang pasti baru kali ini saya menginap di Hotel yag bertabur bintang dimana-mana tapi kamar mandinya tak berkeset dan tak berhanduk.

Double check ga siiihhh sebelum tamunya masuk ke kamarrrrr????!!!!

(dnu, ditulis sambil makan pisang goreng tabur coklat keju sebagai pelampiasan esmosi atas ketiadaan dua lembar handuk dan keset ahahaha…., 23 Juli 2015, 22.52 WIB)