Saturday, August 15, 2015

Inai, Ukiran Cantik Sebagai Simbol ke-Cantik-an

Jelajah Seru Ranah Minang
#12

Hiasan ini terukir manis diatas kuku dan punggung tangan, dengan motif batik, bunga dan ukiran-ukiran sejenisnya, serta biasa dipakai oleh mempelai wanita. Bagi sebagian orang hiasan ini disebut dengan tatto, tapi bagi sang pemilik budaya hiasan seperti itu disebut dengan inai.

Entah atas sumber dari mana, inai disebut-sebut sebagai simbol magis. Selain tentunya sebagai simbol kecantikan.

Menurut sejarah, sudah sejak zaman dahulu kala di Semenanjung Mediterania, Melayu dan juga Indonesia para wanita mewarnai kuku dengan daun inai agar terlihat cantik. Selain itu, di sebagian ritual pernikahan di Indonesia juga memasukkan penggunaan inai dalam prosesi janji suci tersebut. Namun demikian, masing-masing daerah tetap memiliki makna sendiri-sendiri untuk ritual penggunaan inai.

Beberapa daerah yang memiliki tradisi penggunaan inai antara lain Aceh, Minangkabau, Riau, Palembang, Lampung, Betawi dan Bugis-Makassar.

Disini saya hanya ingin membahas tradisi ber-inai dari daerah Minangkabau saja. Karena apa? You know laahh... I love Minangkabau so much hahaha... Tapi bukan berarti saya tidak cinta pada daerah lainnya, hanya saja untuk kali ini izinkan saya fokus pada budaya dari Ranah Minang ^^

Di Minangkabau ada sebuah tradisi yang digelar malam hari sebelum upacara pernikahan, dimana pada malam tersebut kuku calon mempelai ditorehkan daun inai, dan malam ini dikenal dengan Malam Bainai. Penorehan ini dilakukan oleh orang tua sang mempelai, ninik mamak, saudara, handaitaulan dan orang-orang terkasih lainnya.

Malam ini berarti malam seribu harapan, seribu doa bagi kebahagiaan rumah tangga anak daro yang akan melangsungkan pernikahan esok harinya.

Tapi seiring dengan perkembangan zaman hiasan inai tidak hanya digunakan oleh orang yang baru menikah saja. Namun demikian inai tetap saja identik dengan pengantin baru.

Dewasa ini amat mudah ditemui para ahli pengukir inai di berbagai pusat perbelanjaan dan keramaian. Sama halnya dengan saya, dimana punggung tangan ini dihias oleh sang ahli di suatu pusat keramaian. Tepatnya di area wisata Jam Gadang - Bukittinggi.

Bayangkan, malam hari, ditengah keriuhan wisata Jam Gadang, dibawah pancaran sinar bulan, ditemani senandung lagu-lagu padang, tangan saya diukir oleh sang ahli penghias inai... aaahh... romantisnyaaa... ahahaha....

Ini bukanlah kali pertama punggung tangan saya dihias dengan inai atau Hena, namun kali ini sungguh terasa berbeda dan amat sempurna. Ngerasain pakai hiasan inai yang asli diukir oleh urang awak :D

Dan jika saya boleh ngelunjak, malam itu... saya berasa jadi Uni beneran ahahaha....

*Mohon maaf kepada semua urang awak kalau ada salah dalam penulisan sejarah Inai.
*Mohon izin kepada semua urang awak, si Betawi keturunan Jawa ini untuk boleh dipanggil Uni :p

(dnu, ditulis sambil maceeettt... bayangkaannn... sambil macet aja bisa nulis!! Karena sesungguhnya ini bukan macet, melainkan parkir berjamaah!! Enjoy Jakartah!, 14 Agustus 2015, 18.42 WIB)