Tuesday, August 4, 2015

MOS Sebagai Ajang Balas Dendam?



Di awal tahun ajaran baru ini banyak sekali berseliweran berita-berita seputar Masa Orientasi Siswa atau yang biasa disebut dengan MOS. Dan berita yang berdar di sana sini justru bukan yang menyenangkan bahkan yang sebaliknya. Aktifitas yang banyak orang katakan sebagai bentuk siksaan terjadi dalam berbagai macam bentuk. Bahkan hingga ada siswa yang meninggal dunia yang katanya sebagai akibat dari perlakuan saat MOS yang berlebihan.

Menteri Pendidikan Anies Baswedan dalam beberapa pemberitaan juga telah melakukan kunjungan  ke beberapa sekolah dan mendapati kegiatan MOS yang dirasa tidak perlu dilakukan. Berangkat dari hal tersebut Anies Baswedan mengeluarkan maklumat bagi seluruh pelaku dan pemerhati pendidikan untuk tidak lagi menyelenggarakan MOS dengan detil aktifitas yang tidak semestinya.

Menggunakan penutup kepala dengan pot bunga dialibikan sebagai aktitfitas cinta lingkungan. Berjalan kaki hingga kurang lebih 4 KM juga dikatakan sebagai wujud cinta lingkungan. Hal-hal tersebut adalah contoh dari beberapa berita yang berkembang di masyarakat. Pihak penyelenggara MOS mengatakan hal-hal tersebut sebagai alih jawab atas anehnya bentuk MOS yang dilakukannya.

Jika difikir dengan akal sehat, apakah tidak ada aktifitas yang lebih positif dalam membentuk siswa agar cinta lingkungan? Sudah lupakah dengan aktifitas berkebun? Tidak ada lahan? Bagaimana jika dilakukan dengan tabulampot (tanam buah dalam pot)? Apakah tidak lebih baik?

Berangkat dari banyak pemberitaan di media massa terkait MOS ini, saya justru berfikir apakah MOS ini sebagai aksi balas dendam sang kakak kelas? Dan apakah detil aktifitas MOS yang disusun oleh organisasi siswa di sekolah sudah diketahui sedetil-detilnya oleh dewan guru? Tidak ada kah dewan guru yang mendampingi saat pelaksanaan MOS berlangsung?

Kakak kelas yang sebelumnya menerima perlakuan MOS dengan tidak menyenangkan maka  akan besar kemungkinan saat ia menjadi senior juga akan menerapkan hal yang sama persis yang ia rasakan sebelumnya. Bahkan lebih. Jika sudah begini, berarti perlakuan siksaan demi siksaan kepada siswa baru akan terus berlangsung setiap tahunnya. Bukankah demikian? Saya tidak mengatakan bahwa seluruh kakak kelas akan memiliki rasa “dendam” kepada adik kelasnya, sehingga pelampiasan yang paling tepat adalah saat MOS tersebut.

Hal ini hanya sebuah kekhawatiran dan perkiraan saya pribadi. Tidak ada maksud untuk menjenelarisir kondisi secara keseluruhan.

Selanjutnya mengenai keterikatan dewan guru dalam pelaksanaan MOS di sekolah, bukankah hal ini erat kaitannya dengan citra sekolah? Jika terjadi sesuatu yang baik maka citra sekolah akan turut baik, dan jika terjadi hal-hal yang burukpun maka citra sekolah akan menjadi buruk. Maka menurut saya, apapun yang terjadi di dalam lingkungan sekolah maka sudah sepatutnya atas sepengetahuan dan sepersetujuan perangkat sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah, Bidang Kesiswaan ataupun Bapak/Ibu guru.

Nah pihak sekolah tentu paham benar dalam pemberian izin serta seluruh detil pelaksanaan MOS, pun termasuk untuk menyaring kegiatan-kegiatan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilaksanakan. Jika masih saja terdapat aktifitas MOS yang tergolong memberatkan siswa dan berpotensi memberikan efek fatal maka perlu ditanyakan bagaimana sebenarnya proses persetujuan atas seluruh detil kegiatan MOS. Apakah telah melalui perijinan dewan guru atau tidak.

Jika perijinan sudah beres dan aktifitas MOS yang tergolong memberatkan siswa boleh dilaksanakan maka menurut saya sekolah secara keseluruhanlah yang perlu dievaluasi lagi.
Jika dewan guru tidak mengetahui detil kegiatan MOS maka yang perlu ditanyakan adalah dimana kepedulian pihak sekolah terhadap siswa senior maupun junior yang seharusnya diberikan sepenuhnya.

Masa Orientasi Siswa adalah masa-masa siswa baru untuk mengenal sekolah dan lingkungannya. Bukan ajang senior balas dendam kepada juniornya atas perlakuan yang pernah dirasakan sebelumnya. Serta bukan pula kegiatan sepele yang boleh dilakukan pembiaran oleh pihak sekolah.

Jelas wajib dilakukan review sedetil-detilnya tentang aktifitas MOS yang akan dilaksanakan oleh organisasi siswa, serta review setelah MOS berlangsung tentang apa saja yang menjadi catatan sekolah mengenai aktifitas yang masih dinilai memberatkan siswa baru. Lebih disayangkan lagi jika aktifitas yang memberatkan tersebut sangat jauh hubungannya dengan tujuan utama MOS yakni mengenal sekolahnya lebih dekat.

(dnu, artikel ini ditulis sambil apa hayoooo.... ahahaha...., 4 Agustus 2015, 10.30 WIB)