Wednesday, September 23, 2015

Usulan Materi Penanganan Anak dalam Sertifikasi Guru

Tewasnya bocah Sekolah Dasar (SD) karena berkelahi dengan temannya yang terjadi di sebuah SD bilangan Jakarta Selatan telah menggegerkan berbagai kalangan pendidik dan orang tua. Berbagai pihak menyayangkan hal tersebut sampai terjadi. Terlebih lagi kejadiannya adalah di lingkungan sekolah yang notabene sekolah ada tempat yang seharusnya menjadi zona nyaman bagi seorang anak.

Selain itu keberadaan jajaran guru dan perangkat sekolah lainnya sudah sepatutnya menjadi payung pelindung bagi seluruh anak-anak yang ada didalamnya. Namun mengapa hal tersebut bisa terjadi? Apakah perangkat sekolah lalai mengawasi kegiatan murid-muridnya? Atau kurangnya peran orang tua dalam mendidik perilaku anak di rumah? Atau ada hal lain?

Dalam diskusi malam lalu (21/9) di Kompasiana TV, sebagai salah satu hangouter, saya menyampaikan masukan atau usulan kepada Pak James selaku staff ahli Kemendikbud yang saat itu hadir sebagai salah satu narasumber.

Saya menyampaikan apakah memungkinkan jika dalam materi sertifikasi guru dimuat juga masalah penanganan anak, sehingga seorang guru yang telah tersertifikasi akan memiliki sense yang lebih baik terhadap anak muridnya. Selian itu guru juga bisa lebih peka terhadap hal-hal apa saja yang terjadi pada anak didiknya tersebut, sehingga jika sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di sekolah maka seorang guru telah memahami apa saja yang harus ia lakukan sebagai upaya penanganan.

Dikatakan oleh Pak James, bahwa hal tersebut sebenarnya sudah lama diusulkan untuk ada dalam proses sertifikasi guru. Namun memang nasih terjadi pro kontra terkait hal ini. Demikian pula usulan tersebut diamini oleh Ibu Rita selaku perwakilan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang hadir malam itu. Beliau juga menyetujui agar seorang guru memiliki kepedulian yang lebih baik lagi pada seluruh anak didiknya.

Masih menurut Ibu Rita, saat ini banyak orang tua yang kurang peduli dengan kegiatan anak di sekolah. Contohnya jika anak pulang sekolah kebanyakan orang tua hanya bertanya “bagaimana sekolahnya hari ini, nilainya berapa dan ada PR atau tidak” itu saja. Seharusnya ada kepedulian yang lebih lagi dari para orang tua, misalnya menanyakan “apakah ada teman yang nakal, hari ini main dengan siapa, bermain apa, senang atau tidak sekolahnya, dll”.

Hal ini sependapat dengan Ibu Sany selaku psikolog yang juga sebagai salah satu dari empat narasumber, mengatakan bahwa dibutuhkan suatu sinergi yang kuat antara guru dan orang tua dalam mendidik anak. Karena dari dukungan kedua belah pihak tersebutlah anak dapat benar-benar terlindungi dengan maksimal.

Pelaku seni Sys NS yang malam itu juga hadir sebagai nara sumber memiliki pandangan yang berbeda. Terjadinya hal-hal yang tidak diiginkan di sekolah bahkan hingga ada anak murid yang tewas, yang patut bertanggung jawab salah satunya adalah negara. Karena negara belum sepenuhnya memonitor kegiatan belajar mengajar di sekolah, belum adanya monitoring berkala dan pengarahan langsung kepada perangkat sekolah terkait penanganan anak didik.

Sudah sepatutnya sekolah memang menjadi salah satu zona nyaman bagi anak, selain itu para pendidik yang ada di sekolah juga diharapkan mampu menjadi orang tua ke dua saat anak berada di sekolah.

 Keberlangsungan pendidikan anak memang tidak hanya bisa diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Perlu ada sinergi dari pihak keluarga dan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bagaimana Kemendikbud membentuk budaya sosial yang baik dimasyarakat maka akan sangat berpengaruh pada tingkah laku dan tumbuh kembang seorang anak.

Nomor satu memang berangkat dari pendidikan yang ditanamkan para orang tua dari dalam keluarga, namun peran penting masyarakat, sekolah dan pemerintah juga menjadi perihal yang tidak dapat dipisahkan.

(dnu, ditulis dengan hampa tanpa asa dan rasa... entah apakah ini efek dari tangal tua atau bagaimana... tapi ya bisa saja... hahaha...., 22 September 2015, 21.23 WIB)


Find me on :
Path : Dewi Nurbeauty
Instagram : @justdnu
Goodreads : Dewi Nurbaiti
Pinterest : Dewi "DNU" Nurbaiti
Google+ : Dewi "DNU" Nurbaiti
Twitter : @dewinurbeauty
Linkedin : Dewi Nurbaiti
Email : justdnu@gmail.com
Tumblr : Dewi Nurbaiti
Soundcloud : Dewi Nurbaiti - Suara Aksara
Web : www.tulisandnu.net or www.kompasiana.com/dewinurbaiti

Tuesday, September 22, 2015

You Can

You can drive your car crazy,
You can drive your motorcycle crazy,
And you can drive your mind be kind or crazy,
But you absolutely can't drive your heart kind or crazy,
You can only follow ^^

#DNU


Hindari Merendahkan Diri Sendiri


Kalau bukan kita yang bangga pada diri kita sendiri, lantas siapa lagi?
Kalau kita saja sering merendahkan diri sendiri, lalu bagaimana dengan orang lain?

Kadang kala kita boleh lho berbangga hati dan bangga pada diri sendiri. Karena apa yang kita ucapkan semuanya adalah doa.

Dewasa ini seringkali terdengar ungkapan "ah aku mah apa atuh..." yang kesannya untuk merendah. Namun kalau kalimat tersebut terlalu sering kita ucapkan lama-lama bisa dikabulkan lho oleh Yang Maha Kuasa. Bisa-bisa hidup kita tak menjadi apa-apa dan tak pula bermanfaat bagi siapa-siapa.

So, mulai sekarang dimodifikasi sedikit yuk ucapan merendahnya agar ada doa positif didalamnya. Misalnya jadi seperti ini ;

"Ah aku mah apa atuh, cuma serpihan emas dari pojokan lemari..."

Mulai sekarang, hindari ya merendahkan diri sendiri ^^

(dnu, ditulis sambil berkelana di jalan tikus demi menghindari jalur 3 in 1 yang menghadang, 21 September 2015, 18.53 WIB)
 
 

Dengan Izin-Nya

Dengan izinNya;
Bunga bermekaran pada waktunya,
Daun berguguran pada saatnya,
Kicau burung bersahutan pada masanya,

Pasrahkan semuanya dan biarkan tangan Tuhan yang bekerja ^^

#DNU


Kompas TV, Lagi ^^

Senin (21/9), lagi-lagi berkesempatan untuk bergabung dengan stasiun televisi Kompas TV dalam acara Kompasiana TV, dan menjadi salah satu hangouter.

Tema yang diangkat kali ini seputar kekerasan pada anak. Entah mengapa hampir setiap kali bergabung selalu saja saya kebagian tema terkait dunia anak. Sudahlah, yang pasti setiap kali support Kompas TV selalu saja ada keseruan-keseruan tersendiri.

Program Kompasiana TV yang malam lalu ditayangkan secara live pukul 20.00 s.d. 20.30 WIB dihadiri oleh Staff Ahli Kemendikbud Pak James, Perwakilan KPAI Ibu Rita, Komentator Pak Sys NS dan Psikolog Ibu Sany.

Acara yang berdurasi selama 30 menit tersebut berlangsung dengan sangat seru. Setiap nara sumber menyampaikan pendapatnya masing-masing terkait kekerasan yang belakangan ini banyak terjadi di kalangan anak kecil.

Termasuk saya dan satu orang hangouter lainnya yang ikut urun rembug dalam memberikan komentar secara teleconference, kami pun merasakan keseruan perbincangan 30 menit itu. Walaupun berbeda lokasi tapi kami tetap memandang kamera yang sama haha...

Inti tema yang dibahas kali ini mengacu pada kejadian yang sedang hangat yakni tewasnya anak Sekolah Dasar (SD) akibat berkelahi dengan temannya di sekolah. SD yang terletak di bilangan Jakarta Selatan tersebut kini tengah menjadi sorotan publik.

Perkelahian dipicu dari aksi bullying oleh teman-teman korban, yakni bullying verbal (memberikan sebutan yang tidak menyenangkan).

Berbagai pihak menyangkan terjadinya aksi perkelahian anak dibawah umur ini. Selain karena terjadi di sekolah, dalam hal ini juga disayangkan perangkat sekolah yang begitu lengkap bisa lalai terhadap perbuatan anak muridnya.

Bergabung dengan Kompas TV jelas memiliki keseruan tersendiri. Bisa merasakan menjadi pewarta ala ala melalui teknologi teleconference.

Menjadi bagian keseruan kala program secara live dimulai, mendengar arahan sang sutradara, mengikuti panduan sang produser benar-benar menjadi pengalaman seru yang menyenangkan.
Bagaimana pesan-pesan tak boleh makan, minum, garuk-garuk, batuk, pegang hidung dan gerakan-gerakan lainnya saat acara berlangsung menjadi pengalaman-pengalaman sederhana yang cukup mengasyikkan.

Kompasiana TV adalah stasiun TV yang merupakan program lanjutan dari situs pewarta warga Kompasiana.com. Menjadi bagian didalamnya tentu banyak ilmu-ilmu yang didapat, wawasan bertambah hingga berkesempatan bergabung dengan berbagai acara yang digelar Kompas Gramedia.
Teman jadi lebih banyak dan tentunya pengalaman datang dari sudut dan arah yang berbeda ^^

(dnu, ditulis sambil bengong senderan di tiang listrik ala ala mas Hendri Utama hahaha..., 22 September 2015, 11.35 WIB)

Link : https://www.youtube.com/watch?v=C-QzACVV8Ik

Maaf kalo bikin salah paham...

Mbak itu profesinya sehari-hari koki ya?
> Ow... bukan...

Mbak Dewi penulis ya?
> Waw! Aamiin... tapi bukan sih haha... Blogger aja... Gobloger lebih tepatnya :p


Mbak, lu udah ga kerja kantoran ya? Kok statusnya delivery cake mulu?
> Alhamdulillah masih kerja... ^^

Mbak, dirimu guru ya?
> Walaahh... budi pekerti saya belum luhur... belum cucok untuk jadi guru...

Freelancer di Kompas ya? Dibayar berapa?
> Buseng! Saya asik-asikan aja kok, bukan freelancer juga tapinya haha...

Dewi, kerja di LSM ya? Kayaknya sering jalan CSR...
> Oww... hatiku belum tulus benar, so belum bisa masuk LSM... :)

Bu, mau ngajar di SLB ga? Saya ada info lowongan nih... Ibu sekarang ngajar di sekolah mana?
> Belum ngajar di sekolah mana-mana Bu... :D

Bu Dewi, udah berapa lama jualan coklat? Dari pada kegiatannya cuma jualan mending apply ke sini xxxx lagi ada lowongan, biar ada kerjaan Bu Dewinya...
> Wew! Ahahahah....

Saya hanya ibu-ibu biasa yang kalo ke Dufan senengnya naik kuda-kudaan, dan kalo pas sambil ngantri senengnya nangkring duduk diatas pager besi :p

(dnu, ditulis sambil memandang taburan bintang di langit yang rata hitam kelamnya.... lalu bintangnya ada dimanaaa?? ahahaha...., 22 September 2015, 19.00 WIB)


Sunday, September 20, 2015

Cerita Aksara - Lautan Kesempurnaan

Hingga aku pun membenci keadaan yang paling membahagiakan,

Aku pun meluka dalam keadaan yang paling menyenangkan,

Dan akupun terjatuh dari ketinggian yang penuh dengan kegembiraan,

Lalu aku tenggelam, hanyut dan membiarkan diri terbawa arus kesedihan dalam lautan kesempurnaan...

‪#‎DNU‬
Cerita Aksara @soundcloud.com - Dewi Nurbaiti

Kabut Asap dan Masker

Beberapa hari lalu saya mendengar di radio tentang pendapat seorang pendengar tentang harapannya kepada pemerintah Republik Indonesia terkait kabut asap di pulau Sumatera. Harapannya seperti ini “kami tidak butuh masker, tapi kami butuh asap dibereskan”.

Sebagai pendengar yang juga sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) tentu saya amat prihatin dengan kejadian yang kini tengah menimpa saudara-saudara setanah air di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Namun berangkat dari komentar tersebut disini saya melihat antara pemberesan kabut asap dengan masker adalah dua hal yang berbeda.

Masker adalah wujud dari pertolongan pertama yang diberikan pemerintah Indonesia atau siapa saja yang menjadi relawan kesehatan bagi korban kabut asap. Dengan kata lain masker adalah first aid, pertolongan pertama, pertolongan tercepat, atau aksi gerak cepat yang bisa dilakukan terlebih dahulu.

Sedangkan pemberesan kabut asap adalah cerita lain yang tentu sudah dan terus dilakukan oleh pemerintah Indonesia hingga saat ini. Seperti yang telah banyak diketahui melalui berbagai pemberitaan, bahwa Presiden RI juga sudah berkunjug ke lokasi yang terkena kabut asap. Hal ini adalah wujud aksi nyata pemerintah dalam membereskan pencemaran udara tersebut.

Berdasarkan informasi yang saya baca di salah situs berita online, saat ini Pemerintah Indonesia juga tengah mengerahkan 25 unit pesawat untuk melakukan water bombing di Sumatera dan Kalimantan. Pesawat tersebut adalah bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Tentara Nasional Indonesia, serta Badan SAR Nasional (Basarnas). Pesawat-pesawat tersebut memiliki kapasitas 4.500 liter air.

Kebakaran hutan yang kini melanda Indonesia mulai dari Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur terjadi karena adanya aksi pembakaran besar-besaran yang dilakukan untuk membuka lahan perkebunan baru.

Sekali lagi, adalah dua hal yang berbeda antara masker dengan pemberesan kabut asap. Namun apakah hal ini hanya istilah saja karena ingin agar pemerintah segera membuat udara bersih kembali di daerah-daerah tersebut? Bisa jadi. Yang pasti siapapun yang mengetahui berita ini tentu sama-sama berharap agar daerah terdampak kabut asap bisa segera pulih dan bersih kembali.

(dnu, ditulis dengan rasa duka yang sedalam-dalamnya untuk saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang terkena musibah kabut asap, 18 September 2015, 12.21 WIB)


Find me on :
Path : Dewi Nurbeauty
Instagram : @justdnu
Goodreads : Dewi Nurbaiti
Pinterest : Dewi "DNU" Nurbaiti
Google+ : Dewi "DNU" Nurbaiti
Twitter : @dewinurbeauty
Linkedin : Dewi Nurbaiti
Email : justdnu@gmail.com
Tumblr : Dewi Nurbaiti
Soundcloud : Dewi Nurbaiti - Suara Aksara
Web : www.tulisandnu.net or www.kompasiana.com/dewinurbaiti

Sunday, September 13, 2015

Es Durian Minangkabau



Jelajah Seru Ranah Minang
#14

Salah satu jajanan yang patut dicoba di Ranah Minang adalah Es Durian. Bagi pecinta durian, minuman ini bisa menjadi bagian dari alternatif pilihan yang menarik. Begitu juga bagi para pecinta kuliner, es durian minangkabau merupakan alat pengisi perut yang juga ampuh untuk menghilangkan haus dan menyegarkan siang harimu yang cukup terik.

Gabungan antara kesegaran es dengan buah durian yang original menjadi keunggulan tersendiri minuman ini.

(dnu, ditulis sambil makan mie ayam abang-abang kesukaan :p, 13 September 2015, 13.54 WIB)


Saturday, September 12, 2015

Save Indonesia



Siapa yang paling tahu cara menyelamatkan diri kita? Tentu diri kita sendiri yang paling mengerti. Apa cara terbaik untuk bisa menyelamatkan diri sendiri? Sama, tentu kita yang paling memahami. Demikian halnya dengan bangsa Indonesia yang kini tengah dihajar berbagi tragedi memilukan di sana sini. Siapa yang bisa menyelamatkan bangsa ini kalau bukan rakyatnya sendiri?

Menunggu uluran tangan Negara lain? Menunggu belas kasihan bangsa lain? Atau menunggu bala bantuan yang datangnya dari Negara tetangga?

Sebelum orang lain tergerak untuk menyelamatkan Indonesia, sudah sepatutnya semua insan yang tercatat sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) turut ambil bagian masing-masing dalam upaya menyelamatkan Indonesia dari prahara saat ini.

Musim kemarau yang masih terus berlanjut yang mengakibatkan kekurangan air dan hawa panas dimana-mana, kepulan asap di pulau Sumatera yang tak kunjung reda, ditambah lagi adanya tragedi Mekkah dimana ada WNI yang juga sedang beribadah Haji di sana, belum lagi hujatan kepada Presiden kita sendiri yang terus menerus digempurkan tanpa ada fikir panjang bahkan kadang hanya karena azas ikut-ikutan.

Para pembaca yang budiman, siapapun dia, adalah pemimpin Negara yang tanahnya kita jejaki dan mencari sumber penghidupan didalamnya. Bayangkan, bagaimana rasanya jika sesuatu yang maha dahsyat terjadi dan dihubung-hubungkan dengan diri kita, karena kita, dan kitalah penyebabnya?! Tragedi Mekkah adalah takdir Allah SWT, yang menurut saya tidak ada kaitan jelasnya antara kehadiran Pak Presiden dalam rangka mengunjungi Negara-negara Arab dengan jatuhnya crane dan kejadian badai angin.

Mungkin kita bisa lebih bijak menanggapi semua issue yang beredar. Tidak hanya melihat, mendengar, membaca lalu menelannya bulat-bulat. Setelah itu ikut menyebarkannya tanpa ada rasa bersalah.

Lebih elok pula rasanya ketimbang menyudutkan satu orang atas kejadian dalam Ibadah Haji di Mekkah, dengan menyerukan sholat Istisqa untuk meminta diturunkan hujan kepada Allah SWT. Biar aliran air kembali deras, sawah-sawah tidak kekeringan, ladang-ladang menjadi subur dan para petani kembali bergembira karena tidak ada yang gagal panen akibat kekeringan.

Lebih bijak juga rasanya dengan turut mendoakan agar saudara-saudara di Pulau Sumatera bisa segera berakhir derita asapnya. Dimana aktifitas keseharian mereka tentu terganggu akibat kepulan asap akibat kebakaran hutan tersebut.

Tidakkah kita melihat keasyikan tersendiri yang dapat kita contoh dan kita bangun dalam skala yang lebih besar dari contoh-contoh berikut; bagaimana asyiknya Pak Ridwal Kamil atau akrab disapa Kang Emil dalam membangun Kota Bandung bersama para urang Bandung tercinta. Semuanya kompak dalam satu visi misi yang sama, sehingga lambat laun kini Bandung menjadi kota yang semakin diperhitungkan di Indonesia.

Betapa asyiknya Pak Ganjar Pranowo dalam membangun Kota Jawa Tengah. Dengan senandung lembut dan tenangnya Pak Ganjar terus bergerak ingin memajukan Indonesia melalui Jawa Tengah Tercinta.

Bagaimana asyiknya Koh Ahok dalam membangun Jakarta yang saat ini mulai disibukkan dengan rencana LRT-nya.

Serta yang paling serunya ialah bagaimana sang pemilik Gojek asyik mengembangkan usahanya yang kini telah menjadi sarana transportasi andalan masyarakat Jakarta, dan mulai merambah ke beberapa kota besar di Indonesia.

Semua keasyikan-keasyikan tersebut bisa jalan dan maju dengan baik tidak lain dan tidak bukan adalah berkat dukungan seluruh insan yang ada didalamnya.

Lalu bagaimana dengan bumi Indonesia yang sedemikian besarnya? Satu persatu tragedi menyusul terjadi sebelum yang lainnya selesai dibereskan. Siapa yang bisa mendorong kesembuhan prahara Indonesia kalau bukan rakyatnya sendiri?

Dengan tidak mudah terbuai dengan issue yang berkembang, menerimanya bulat-bulat tanpa memilah lalu serta merta meyebarkannya sebagai gumpalan bola salju yang semakin besar, adalah salah satu cara yang bisa diartikan dengan sayang Indonesia.

Save Indonesia dengan cara tidak turut ambil bagian dalam memfitnah orang lain, namun turut ambil bagian dalam menumbuhkan gerakan-gerakan positif untuk mengurangi bencana tanah air. Karena perubahan yang besar dimulai dari gerakan yang paling kecil.

Kecil tapi terintegrasi dengan baik maka akan menjadi besar sebagai kumpulan energi yang positif.

(dnu, ditulis sambil makan es krim rasa bubur ketan item lapis cokelat – menurut saya ini adalah resep aneh yang tiada duanya hahaha….., 12 September 2015, 16.33 WIB)