Thursday, September 10, 2015

Mahalnya Ongkos Anak Sekolah Di Jakarta

Membaca berita di sebuah media cetak harian terbitan Sabtu (5/9) lalu untuk berita tentang “Si Kuning” Bis Sekolah yang beroperasi di Jakarta, terdapat satu pernyataan yang cukup mencengangkan.

Dalam berita tersebut dipaparkan tentang besarnya manfaat Bis Sekolah yang berwarna kuning ini bagi para pelajar setiap harinya. Dimana angkutan yang tarifnya nol rupiah alias gratis ini mampu mengurangi biaya transportasi yang menjadi beban anak-anak termasuk juga orang tuanya.

Terlebih lagi jika bis Transjakarta sudah terintegrasi dengan Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang dimiliki banyak siswa siswi di Jakarta ini, dimana bagi para pelajar bisa naik dengan gratis, maka bukan tidak mungkin persoalan “bekal uang jajan” anak sekolah bisa sedikit dikurangi.

Keberadaan Si Kuning saat ini bukan tidak menggandeng beberapa persolan, diantaranya kedatangan Bis Sekolah yang kadang terlambat sehingga menyebabkan para pelajar harus menggunakan angkutan lain untuk menuju ke sekolahnya. Hal ini bertujuan agar mereka tidak terlambat masuk kelas.

Disinilah satu paparan yang menggelitik tersebut saya temukan. Diceritakan bahwa ada anak sekolah yang jika terlambat naik Bis Sekolah karena ia kesiangan atau Bisnya yang terlambat datang, maka siswa tersebut harus naik angkutan bajaj menuju sekolahnya dengan tarif Rp 30.000,- s.d. Rp 35.000,-.

Menurut saya, angka tersebut cukup besar untuk ukuran anak sekolah. Sejauh apa sih jarak rumah mereka dengan letak sekolahan sehingga harus mengeluarkan dana segitu banyak?

Bisa jadi jaraknya dekat namun memang harga BBM yang kini tidak murah menjadi alasan para pengemudi angkutan untuk memasang tarif yang cukup mahal. Dapat dibayangkan berapa rupiah ongkos yang harus dibekalkan orang tua kepada anaknya jika untuk transportasi saja satu hari menghabiskan angka sebesar itu.

Sudah jelas terlihat disini dibutuhkan peran pemerintah khususnya DKI Jakarta mengingat harga kebutuhan hidup di Ibu Kota ini yang kian hari kian meningkat, agar persoalan yang menyangkut anak dan dunia pendidikannya dijadikan prioritas yang utama.

Misalnya dengan membuat jadwal yang pasti untuk perputaran Bis Sekolah dan menjamin kehadirannya tidak terlambat, serta menyegerakan integrasi sistem antara Bis Transjakarta dengan KJP. Maka jika Bis Kuning masih saja datang terlambat karena sesuatu hal, maka ada alternatif lain bagi para pelajar untuk bisa beralih ke angkutan Bis Transjakarta yang juga gratis bagi mereka.

Harga kebutuhan pokok yang saat ini cukup tinggi, ditambah lagi dengan persoalan biaya transportasi anak yang cukup mahal akan semakin mencekik perputaran dana rumah tangga bagi para orang tua. Tapi hal ini akan menjadi lain ceritanya untuk keluarga yang hidup berkecukupan.

Perbaikan dalam bidang pendidikan anak dari sisi manapun akan menjadi investasi jangka panjang yang amat baik bagi pemerintah daerah khususnya, serta bagi para orang tua pada umumnya.

(dnu, ditulis sambil bahagia penuh cinta dalam sebaris kepercayaan bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, 10 September 2015, 12.36 WIB)