Thursday, October 29, 2015

Assalamualaikum Karawang!


Kota yang terletak diantara Jakarta dan Purwakarta, yang terkenal dengan goyangannya sang mojang yakni goyang karawang, saya jajaki dengan penuh cinta pagi ini.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan saat menuju wilayah ini, diantaranya ;

Jalan toll yang amat sangat lancar, namun tidak boleh dibilang tumbenan.

Jangan salah masuk pintu pom bensin, exit itu keluar, dan kalau masuk itu entry :p

Melwati tiga taman pemakaman yang terletak sedikit di pinggir jalan toll yakni Lestari, Al Azhar dan Sadiego Hilss, mengingatkan bahwa kita pasti akan kembali ke bumi karena kematian bisa sewaktu-waktu menghampiri.

Jalan beriringan dengan berbagai truk, tronton dan sejenisnya di jalan yang tak berliku ini, mengingatkan bahwa masih ada orang yang lebih susah dari pada kita dalam melaksanakan pencarian nafkahnya. Tapi bedanya, para supir dan kenek truk tersebut terlihat amat semangat dalam membelah aspal sepanjang jalan kenangan tersebut. Sedangkan saya? Masih sering sekali mengeluhkan ini dan itu.

Memasuki kawasan industri, mendekati lokasi tujuan, saya melihat banyak warung-warung kecil, beratap terpal seadanya, berdinding kayu, lengkap dengan bangku kayu panjang dihadapannya. Mengingatkan saya bahwa dibalik gegap gempitanya pembangunan pusat perbelanjaan di kota-kota besar, masih ada para pengusaha kecil yang bekerja dengan semangat tiada henti, setiap hari, walaupun keuntungan yang akan didapatkannya hari ini belum pasti.

Bagaimana cara menyambung hidup ala mereka? Jalani saja, tanpa perlu berharap lebih kepada manusia. Karena kalau sudah rejekinya pasti tak akan kemana. Sedangkan para pengusaha di mall-mall pusat kota, belum apa-apa sudah menaikkan harga dengan harapan mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda.

Karawang, kota penuh cerita sederhana namun luar biasa, di tengah pembangunan kota yang kadang kala tak memikirkan lagi dimana pepohonan hijau masih boleh berdiri dan tertata.

(dnu, ditulis disela-sela waktu menjadi MC sebuah acara hihihi..., 29 Oktober 2015, 10.20WIB)


Saturday, October 24, 2015

“Dewi.... kurang satu.... lipstick....!!”

Yup, goresan benda mungil itu memang baru dua kali menempel di bibir saya, saat menikah dan saat wisuda. Tidak lebih.

Mungkin suatu saat nanti akan memakainya lagi, yang sudah bisa dihitung; wisuda, nikahan kakak, nikahan adek, nikahan anak-anak. Belum kehitung sih pastinya, karena belum tahu akan punya anak berapa hahaha....

Secara pekerjaan sehari-hari, kantor saya memang tidak mewajibkan karyawatinya untuk menggunakan lipstik, apalagi bersolek. Alhamdulillah ya :p Ahahaha...

Tidak terbayang jika harus bekerja sebagai resepsionis misalnya, yang diwajibkan tampil cantik, bersinar dan berbinar dari wajah sampai kaki. Hmm... biar sajalah, biar sinarnya memancar dari hati saja :p

Aamiin... semoga kita semua juga yaaaa... semoga sinar kecantikannya terpancar dari hati... bukan hanya mengandalkan dari bibir, pipi, hidung ataupun jidat :)

Tapi bukan berarti yang terbiasa berdandan itu tak mampu memancarkan sinar dari dalam dirinya alias innerbeauty. Sama saja, yang wajahnya terlihat cantik berkat sapuan kuas kecil untuk pipi (apa tuh namanya hahah...) dan goresan pensil alis, akan semakin cantik jika hatinya juga baik dan mampu mencarkan sinar keindahan. Ini namanya lengkap, cantik di luar, cantik juga di dalam.

So, kesimpulan dari artikel ini adalaaaahhh..... yuk mariiiiii.... bareng-bareng kita percantik diri baik dari dalam maupun dari luar.

Yang luarnya sudah cantik, semoga dalamnya juga sudah atau minimal sedang berubah menuju cantik ^^

Yang merasa dalamnya sudah cantik, semoga bukan cuma anggapan diri sendiri saja ya, tapi pandangan orang lain pun demikian, memang terlihat punya innerbeauty yang baik. Jangan lelah untuk terus memperbaiki diri agar cantik di luar dan cantik di dalam.

Dan terakhir, buat yang tidak terbiasa berdandan, jangan sediihh... jangan dipaksakan... karena kecantikan yang hakiki datangnya dari dalam diri :)

(dnu, maap kalo saya sotoy hahaha... ditulis sambil sekolah di siang bolong..... zzzzz....., 24 Oktober 2015, 14.35 WIB)

Kamu, Senjaku

Saat senja datang, saat itulah kuat kurasakan kehadiranmu.

Kamu yang kini entah dimana, bukan hanya terpisah jarak, ruang dan waktu, tetapi juga bergantinya bulan dan matahari yang turut memisahkan kita.

Aku selalu suka senja.
Aku selalu menantikan senja.
Karena ku tahu di dalam senja itu ada kamu.
Kamu yang dulu senantiasa hadir di hidupku, tak peduli pagi, siang maupun malam.
Kamu selalu ada.

Kini, hanya senja yang membuat ku merasa hadirmu selalu ada.

Karena pernah ada genggaman erat tanganmu di kala senja itu,
Pernah ada gelak tawa kita waktu senja itu,
Pernah ada mimpi-mimpi ini indah kita pada senja itu,
Dan kini semua hanya bisa ku katakan pada sang senja; “ya.... semua itu pernah ada...”

Kini... kamu dimana, aku dimana...
Ada senja terbentang luas diantara kita,
namun bukan untuk memisahkan, tapi untuk kembali mengingatkan,
bahwa kamu dan aku pasti akan kembali dipertemukan.

Sambil menanti alam semesta kembali mempertemukan, kini ku ingin kau tahu, bahwa;

“Aku bahagia walau hanya dengan memandang senja saja....”

(dnu, ditulis sambil sekolaaaahhh.... zzzzz......, 24 Oktober 2015, 13.17 WIB)
 
 

Friday, October 23, 2015

Happy reader, happy writer ^^


Membaca Dengan Penuh Cinta


Melintas Pulau :)

 
Mendaki gunung lewati lembah
Sungai mengalir indah ke Samudra
Bersama teman bertualang

Tempat yang jauh belum pernah terjamah
Suasana yang ramai di tengah kota
Slalu waspadalah kalau berjalan
Siap menolong orang dimana saja

Gozaru Gozaru itulah asalnya
Pembela kebenaran dan keadilan
Hai! Ninja Gozaru
 

Aku bahagia walau hanya dengan memandang senja saja..


Berbagi Cinta Hingga Ke Dasar Samudera


Love ^^


Hohoho...


Ayo membaca :)


Doa Cinta "Kasih Tak Sampai"

Tuhan, biarkan saya menangis sebelum saya bisa mengikhlaskan tak berjodohnya saya dengan dia.
Tuhan, jangan beri saya kekuatan untuk tampak baik-baik saja saat menerima kenyataan saya tak bisa hidup dengannya.

Tuhan, tanamkan dalam kepala saya bahwa benar cinta itu tak melulu soal bahagia.
Tuhan, karena letak otak dengan hati saya yang begitu jauh, terkadang otak saya memerintah untuk ikhlas tapi hati tak jua mau menerima. Bagaimana ini Tuhan?

Tuhan, jika boleh saya meminta, saya harap Engkau cabut nyawanya agar tak ada yang bisa memilikinya.

Jahatkah ini Tuhan?

Tuhan ini semua hanya karena cinta yang terlalu dalam, diiringi kasih yang tak sampai. Sehingga doa cinta ini penuh dengan kejahatan.

Tuhan, ampuni saya :(

Note : Jangan diresapi. Ini tulisan iseng belaka. Ga ada niat apa-apa. Hohoho... ^^

(dnu, ditulis sambil ngelihatin orang makan eskrim, 20 Oktober 2015, 20.08 WIB)

 

Terima Kasih

Ketika cuma bisa bilang terima kasih kepada yang sudah membeli buku ini, yang sudah tertarik pada buku ini, terharu karena buku ini, tersentuh oleh buku ini, mendoakan buku ini agar beranak pinak, ikut bahagia atas lahirnya buku ini.

Dan tentunya kepada yang sudah nyinyir terhadap buku ini :)

Terima kasiiiiiihhh..... ^^
Love you..... ^^

Tetaplah Berbuat Baik

Seberapapun kamu berbuat baik, pasti akan tetap ada orang yang membencimu.
Seujung laingitpun kamu berbuat baik, pasti akan tetap ada orang yang berusaha mencari keburukanmu.
 
Orang seperti itu fungsinya untuk apa? Menjadi penyeimbang hidup kita....
 
Jika tidak ada orang-orang yang seperti tersebut diatas, bisa jadi kita tidak akan pernah belajar tentang ilmu sabar, ikhlas, bijak dan berbagai penyakit hati lainnya.

Kalau di sekeliling kita ada orang-orang seperti itu, berbahagialah. Yang begitu penting banget untuk disyukuri ^^

 

Wednesday, October 21, 2015

Saat Kehilangan Cinta

Love you so.... Miss you so..... :(
I act like i don't care, but the deep inside it's hurt....

https://www.youtube.com/watch?v=KmIJ-tZ1FZI

Anda Sportif? Andalah Sang Pemenang!

Mencuplik segambreng pengalaman dalam rangkaian acara Pekan Olahraga dan Seni Astra 2015, yang diselenggarakan oleh PT Astra International untuk seluruh anak perusahaannya yakni Astra Group pada Jumat – Minggu (16 – 18/10) lalu, kini saya memiliki pelajaran berharga yang ingin saya bagikan.

Kedengarannya sederhana, hanya sebuah kata “sportifitas”. Tapi tahukah Anda seberapa besar makna kata tersebut? Bagi saya, sangat besar sekali.

Dalam hidup dan kehidupan tentu kita mengalami hal-hal yang tidak selalu menyenangkan. Baik itu memang hal yang terrencana, artinya kita tahu memang akan terjadi hal yang tidak mengenakkan tapi kita tidak bisa menghindarinya. Atau kejadian yang diluar kuasa kita dan kita tidak mungkin menghindarinya.

Jika sudah terjadi hal yang sepert itu tentu keadaan hati di dalam dada ini hancur lebuh berkeping-keping sakit tak terkira tak dinyana tak ada obat pun pembalut luka dan kecewa.

Dalam keadaan yang paling sakit sekalipun, sebagai manusia normal yang penuh dengan tipu daya, kita selalu ingin tetap tampil baik bukan? Tampil gagah, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Tapi yang sesungguhnya? Sakit dan sedih bukan? Dalam keadaan yang seperti ini bukan tidak mungkin umpatan demi umpatan keluar dengan bebasnya dari dalam hati. Nah, mengumpat itu perbuatan yang terpuji bukan ya? Sebuah perbuatan pemberani atau pecundang?

Disinilah dibutuhkan sikap yang pemberani atu gentle untuk menghadapi semuanya. Dalam sebuah pertandingan misalnya, jika kita berada di pihak yang kalah maka terima saja, tanpa perlu mencari-cari kesalahan lawan dan berusaha menjatuhkannya. Sportif saja. Terima kekalahan dengan besar hati. Bukankah jika kita ingin menaiki anak tangga kita tidak boleh menempuh cara dengan menginjak teman yang lainnya?

Yang ke dua, masih dalam sebuah pertandingan, dimana pasti ada yang menang dan kalah. Menjadi pribadi yang berani mengakui kekalahan diri dan kemenangan orang lain tentu akan lebih membahagiakan. Ikut bersorak untuk kemenangan orang lain juga amat menyenangkan. Memberikan ucapan selamat atas keberhasilan lawan dan kesuksesan orang lain merupakan tindakan yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa Anda adalah seseorang yang luar biasa dengan kemenangan sejati dengan telah beraninya menerima kekalahan diri dan kemenangan orang lain tanpa umpatan.

Rasakan betapa besar diri Anda saat Anda mampu menjabat tangan lawan yang berhasil mengalahkan Anda. Dengan demikian Anda juga layak dikatakan sebagai pemenang. Yakni pemenang atas keberhasilan diri untuk berani berbesar hati.

Apakah Anda sering melihat perilaku supporter sebuah cabang olahraga yang merusak dan melakukan tindakan anarkis, yang diakibatkan kelompok yang didukungnya tidak memenangkan pertandingan? Apakah ini sebuah sportifitas? Bukan sama sekali. Apakah ini sebuah pecundang dan berhati kerdil? Benar sekali.

Mengakui keberhasilan teman di lingkungan pekerjaan juga erat kaitannya dengan pembahasan ini. Anda tidak perlu menduga-duga dengan hal yang aneh-aneh atas keberhasilan teman Anda, namun yang perlu Anda lakukan hanyalah melihat ke dalam diri sendiri. Apakah yang Anda lakukan selama ini sudah baik dan memenuhi kriteria untuk mencapai keberhasilan? Jika belum, penuhilah. Jika sudah namun belum berhasil maka berarti ada yang kurang dari diri Anda. Jika sudah begini yang perlu dilakukan sekali lagi hanya menjunjung tinggi sportifitas yang tanpa batas.

(dnu, ditulis sambil menikmati makan siang yang seadanya di tempat yang sedernaha didukung angin yang sekenanya karena harta dikantong tinggal secukupnya, 19 Oktober 2015, 12.15 WIB)
 
 

Siapa Berhak Menilai Kinerja Presiden?


Tepat 1 tahun masa pemerintahan Joko Widodo selaku Presiden Indonesia saat ini, banyak yang mengulas keberhasilan maupun yang dianggap kekurangan kinerjanya. Salanjutnya banyak yang berbondong-bondong mempreteli satu persatu kinerja beliau.

Me-review adalah melakukan evaluasi, dan mirip dengan menilai. Jika sudah menilai dan bila ditemukan kekeliruan maka hendaknya diberi masukan untuk perbaikan. Lalu apakah setelah kita mereview hasil kerja Pak Presiden lantas kita memberikan masukan kepada beliau untuk memperbaiki yang kurang? Tidak banyak yang melakukan hal ini.

Bisakah hal-hal tersebut tidak dikatakan sebagai kegagalan, namun dianggap sebagai proses menuju keberhasilan?? Artikel Ini bukan sebuah bentuk kampanye pembelaan presiden, tapi hanya opini dari saya yang juga bukan seorang Jokowers. Namun saya hanya berusaha melihat semuanya secara sederhana, dari kacamata saya yang juga amat sederhana.

Ibaratnya mobil mogok, penumpang didalamnya hanya bisa berteriak, bergumam, mengumpat dan berseloroh “bagaimana ini, kok mogok? Dorong yang bener dong! Bisa ndorong gak sih, kok gak jalan-jalan? Mesinnya rusak ya? Benerin dong sebelum jalan? Nasib kita gimana nih?? Panas nih didalem mobil mogok begini! Buruan dong....!” Sementara yang mendorong mobil mogok tersebut hanya dua orang saja, yakni supir dan keneknya. Mendorong sekuat tenaga, sambil diiringi suara-suara sumbang yang tak jua memberikan solusi atas kekurangan.

Apakah penumpang yang demikian telah membantu Pemerintah? Tidak sama sekali. Mereka hanya bisa mencaci tanpa memberikan bantuan dan solusi untuk pemecahan.

Bagaimana bisa kita hanya berkomentar sana sini, presiden gagal di sini, presiden gagal di situ, presiden salah di sini, presiden salah di situ, presiden tak becus mengurus ini, presiden tak becus mengurus itu, dan lain sebagainya yang bentuknya sama. Mengkritik tanpa memberi solusi.

Kembalikan semua kritikan tersebut kepada diri kita masing-masing yang kini hanya menjadi penonton kinerja pemerintah, dimana tanpa sadar kita juga sebagai penikmat hasil kerja mereka. Can you??? Bisakah kamu menyelesaikan semua urusan yang kini belum mampu diselesaikan Sang Presiden beserta jajarannya???

Kita adalah kritikus unggul yang hanya mampu berceloteh tanpa mampu berbuat banyak. Lalu bagimana jika kita tidak mampu berbuat banyak namun kita merasa banyak hal yang perlu diperbaiki di negara ini? Lakukan apa yang kita bisa. Misalnya kita merasa terlalu banyak koruptor di negara ini, tapi semuanya lolos dan bebas melenggang kesana kemari, maka hal paling sederhana yang bisa kita lakukan terhadap hal ini adalah berikan opini kita, bentuknya masukan, bukan kritikan apalagi menjatuhkan. Opini tersebut bisa dipublikasikan melalui apapun, dengan maksud agar banyak yang mengetahui sehingga suara yang kita sampaikan mendarat tepat ke lembaga yang bersangkutan.

Penyampaian opini tidak harus dalam bentuk tulisan. Saat ini banyak sekali program-program di televisi maupun radio yang sifatnya berdiskusi terkait kondisi kekinian negara Indonesia. Wadah yang seperti ini juga bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan opini dan masukan bagi kemajuan bangsa dan negara. Satu lagi terkait korupsi, hal terkecil yang juga bisa kita lakukan adalah perbaiki diri, tidak ikut-ikutan korupsi dalam bentuk apapun.

Kesimpulannya, jika kita berada dalam satu kapal laut yang sama, memiliki tujuan berlayar yang juga sama, maka sudah sepatutnya kita tidak serta merta mencaci sang nakhoda saat kapal tiba-tiba berhenti. Lihat dulu apa penyebabnya, apakah ada badai angin atau hujan yang teramat kencang, dimana semuanya diluar kuasa nakhoda tersebut. Yang perlu penumpangnya lakukan adalah memberikan bantuan bagaimana caranya agar kapal dapat terus berjalan dengan baik walau ditengah kepungan badai. 

Berikan bantuan sekecil apapun yang kita bisa, agar kapal dapat terus berjalan, layar tetap terkembang dan tujuan bisa tercapai.

(dnu, ditulis sambil ngemil kacang Bogor di Jakarta, 20 Oktober 2015, 16.02 WIB)

Kangen Anak Bunda

Adek bayi lagi apa?

Miss you so much..... :(

Tuesday, October 13, 2015

Hijrah Menjadi Muslim yang Bermanfaat untuk Bangsa



Dari waktu ke waktu pemerintah negara Indonesia terus bergerak dan bergulir memajukan peradaban bangsanya agar lebih baik di segala bidang. Tapi sadarkah kita apakah seluruh rakyat yang katanya di Kartu Tanda Penduduk-nya tertulis WNI alias Warga Negera Indonesia telah turut memajukan bangsa? Belum tentu. Masih banyak orang-orang yang dalam kesehariannya lebih senang melihat kesalahan dari orang lain, dan terus saja mengulik apa yang kira-kira bisa dijadikan bahan celaan atau lucu-lucuan yang terasa amat menyenangkan bila dikonsumsi bersama-sama (publik).

Salah satu contohnya ialah, betapa kita amat senang menyebut pemerintah tidak bisa bekerja karena ada satu masalah Negara yang belum terselesaikan. Kita juga amat gembira menertawakan pemerintah dan mengatakannya lambat beraksi terkait masalah banjir yang setiap tahunnya terus terulang. Belum lagi kita amat bahagia menghujat pemerintah yang terus menerus kelolosan seorang koruptor yang padahal sudah ada KPK. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya yang kita dengan amat bebasnya menghujat dan menghakimi pemerintah tanpa pernah berfikir bagaimana jika kita yang memimpin kota atau Negara ini. Akankah lebih baik? Belum tentu.

Bagi seorang muslim, pribadi yang seperti ini adalah ciri-ciri orang yang belum bisa berubah dan memperbaiki diri, serta belum sepenuhnya memahami makna berhijrah terkait dengan peringatan 1 Muharam setiap tahunnya.

Sebagai seorang rakyat Indonesia dan seorang muslim/muslimah yang sudah selayaknya mampu menjadi contoh bagi yang lain, melalui peringatan 1 Muharram ini marilah kita bersama-bersama memasuki jalan perubahan ke arah yang lebih baik. Bagi diri sendiri dan tentunya bagi bangsa dan Negara.


  • ·Jadilah seorang muslim yang tidak hanya bisa mencela, tetapi jadilah muslim yang mampu mencontohkan yang baik itu bagaimana.

  • ·Jadilah seorang muslim yang tidak hanya mampu mengkritik, tetapi jadilah muslim yang juga mampu memberikan alternatif solusi.

  • ·  Jadilah seorang muslim yang tidak hanya mampu menilai orang lain, tapi jadilah muslim yang juga mampu memperlihatkan kemampuan diri.

  • ·  Jadilah seorang muslim yang tidak hanya mampu menertawakan pemerintah saja, tetapi jadilah muslim yang juga harus siap jika dirinya perlu ditertawakan.

  • · Jadilah seorang muslim yang tidak hanya mampu mengatakan “ia tidak bisa bekerja!”, tetapi jadilah muslim yang juga siap dan mampu memperlihatkan hasil kerjanya.

  • ·  Jadilah seorang muslim yang tidak hanya mampu berkata “mestinya begini…. mestinya begitu…”, tetapi jadilah muslim yang mampu menunaikan pekerjaannya dengan baik.

  • ·  Jadilah seorang muslim yang tidak hanya mampu menjadi mandor bagi orang lain, tetapi jadilah muslim yang merupakan bagian dari kerjasama itu.


Intinya mari kita sama-sama berubah menjadi warga Negara yang lebih baik jika memang kita menginginkan perubahan yang lebih baik dari negeri ini.

(dnu, self reminder ini ditulis sambil makan bubur ayam yang ayamnya ndak nampak sedikitpun haha…., 14 Oktober 2015, 09.34 WIB)

Saturday, October 10, 2015

Dari sini, aku turut berduka untuk kalian...

Wahai saudaraku, sungguh aku tak terbayang bagaimana rasanya berbulan-bulan kamu bernafas dalam gumulan kabut asap. Aku pun tak paham benar rasanya, bagaimana derita anak-anak kecil dan para adik bayi yang sedang dalam masa pertumbuhan, namun mereka harus tumbuh di tengah kabut asap.

Aku coba membayangkan berbulan-bulan kalian beraktifitas sambil menggunakan masker dan bernafas dengan tabung oksigen kecil di depan mulutmu.

Bagaimana caramu berbiacara? Bagaimana caramu makan? Minum?

Aku pun selalu terbayang bagaimana dengan makanan kalian? Apa yang dimasak? Tentu sulit mendapatkan bahan makanan? Jika ada, tentu makanan tersebut terpapar kabut asap kan? Lalu, bagaimana dengan makanannya para adik bayi???

Lagi-lagi aku mencoba memahami harapan kalian para saudaraku. Tentu kalian kini telah menyerah jika harus terus menerus mengiba pada pemerintah untuk menuntaskan musibah ini. Yang kita bisa sama-sama lihat sampai dengan hari ini, belum ada efek signifikan yang bisa mengembalikan kecerahan kehidupan kalian, berkat upaya pemerintah.

Semuanya masih sama. Kelabu... berkabut... berasap... merusak semua sisi hidupmu.
Dan aku, bisa lihat itu dari tempat tinggalku.

Mungkin kalian telah angkat tangan. Tak ingin lagi meminta kepada pemerintah.

Ya, aku setuju.

Lupakanlah berharap pada manusia. Mintalah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mintalah kepada Tuhan kalian masing-masing. Agar diturunkan hujan olehNya. Agar diberikan kekuatan yang lebih pada tubuh kalian dalam musibah ini. Agar diberikan kesehatan lahir dan batin bagi kalian. Dan agar kalian diberikan kesabaran yang tiada putusnya dalam menghadapi musibah ini.

Sekali lagi aku setuju.

Lupakanlah siapa sebenarnya pelaku pembalakan hutan yang akhirnya menghasilkan musibah kabut asap ini.
Lupakanlah kerepotan kalian untuk meminta pertanggung jawaban mereka.
Dan lupakanlah tentang tak habis pikirnya siapapun juga, tentang mengapa tak segera ditindak kelalaian mereka ini. Hingga kalian yang harus menanggung akibatnya.

Lupakanlah orang-orang tinggi di gedung-gedung bergengsi sana yang nampaknya layak untuk kalian mintakan bantuan. Karena apa? Lihat saja hingga kini, hidup kalian masih amat akrab dengan gumulan kabut asap.

Masih banyak saudara-saudara di pulau-pulau lainnya yang sudi memberikan bantuan dan aksi nyata bagi keceriaan kalian dan anak-anak kalian. Serta keceriaan orang tua kalian.

Entah apakah di luar sana, di gedung pemerintahan sana, pernah terbesit tentang musibah ini, musibah yang menimpa kalian, bahwa kalian tengah meresikokan hidup kalian semua.

Kalian tengah bergulat dengan resiko kesehatan diri, anak, orang tua dan semua orang yang kalian kasihi. Sekali lagi kukatakan, bahwa aku percaya kalian tengah meresikokan hidup kalian semua.
Dan ini bukan senda gurau, ini bukan permainan, bahkan ini bukan ujian yang ringan. Tapi ini adalah masalah kehidupan. Tentang kelangsungan hidup seluruh umat manusia yang ada di Sumatera dan Kalimantan.

Dari rumahku, dari tempat tinggalku, dan dari hatiku yang paling dalam, ku coba memahami penderitaan kalian. Doaku, semoga hujan segera mengguyur tanah kalian, mematikan api yang menghasilkan asap dan membuat tumbuh-tumbuhan kembali berwarna hijau.

Semoga selepas hujan, matahari segera terbit, semuanya bersinar lagi, cerah kembali dan jarak pandang tak ada yang menghalangi lagi.

Dari sini, aku turut berduka untuk kalian...

(dnu, ditulis sambil nungguin nyuci mobil, 8 Oktober 2015, 12.30 WIB)

Terima Kasih dan Selamat Tinggal

Kepadanya yang hadir diantara kalian, yang telah mampu merebut hatimu dan merebut semua perhatianmu...

Kepadanya yang telah mampu mengacaukan semua tentang logika dan penalaranmu, kamu tahu itu tidak benar, tapi hatimu tak mampu pergi dan menghindar.

Kadang semuanya pun berhasil membuat hari-harimu yang awalnya ceria lalu mendadak amat sangat ceria, namun secara mendadak pula bisa membuat kamu murung dan bermuram durja. Harimu layu, semua sendu, dan matamu begitu sayu...

Kita sepaham bahwa ini tak benar. Maka jika boleh kusampaikan... pergilah, menghilang dan tenggelam, sekalipun harus bersama sejuta tangisan...

Ajak semuanya pergi. Tanganmu, kakimu, matamu, jari-jari manismu, otakmu, hingga hatimu...

Pergi yang sebenar-benarnya pergi. Jika perlu menyendiri, maka lakukanlah. Karena memang kadang seseorang butuh untuk sendiri dan hanya bersama angin, untuk menceritakan semua rahasia lalu meneteskan air mata.

Aku tahu ini tidak mudah. Tapi kita sama-sama tahu bahwa ini hanyalah sesaat walaupun tampak indah.

Pergilah, lalu berdoalah. Minta pada Yang Kuasa agar saat ini kalian dipisahkan melalui cara yang paling baik. Paling baik buat kalian dan paling baik menurut Sang Pemilik Alam.

Mintalah tanpa pernah merasa pasrah. Mintalah agar kalian suatu saat nanti dipertemukan kembali di waktu yang paling berkah. Saat yang indah. Suasana yang megah, dan keadaan lahir batin kalian yang penuh dengan anugerah.

Pagimu tentu akan menjadi hambar. Siangmu tentu akan menjadi tawar, dan malammu tentu akan menjadi amat sangat datar. Karena tiada lagi sapaan lembut darinya, dan tiada lagi kiriman senyum manisnya melalui pesan dunia maya. Dimana hal itu telah terbukti mampu membuatmu terpana lalu terlena.

Hari-harimu pasti akan menjadi amat sangat mengandung bencana saat tak ada lagi pesan darinya. Satu hari... dua hari... satu bulan... dua bulan... semua rasa sakitnya akan kuat terasa.

Membuncah!
Merusak seluruh pikiran, jiwa dan ragamu!
Menghancurkan seluruh rasa di hatimu!
Hingga mengacaukan seluruh energi positifmu!

Semuanya hilang!
Kebaikanmu hilang!
Senyum manismu hilang!
Langkah cantikmu hilang!
Indah ayunan lenganmu saat berjalanpun hilang!

Seiring dengan hilangnya sapaan lembutnya di pagi, siang dan malammu...

Harimu menjadi kelabu...

Dan aku, sangat paham itu.

Tapi percayalah, itu adalah proses yang memang harus kamu jalani, karena deretan hal itu memang harus terjadi.

Kamu harus sakit. Kamu harus bersedih. Kamu harus menggila. Kamu harus merana. Dan kamu nyaris merasa menjadi orang yang paling menderita.

Karena keputusan terbaikmu untuk segera pergi dari cintanya...

Ucapkan terima kasih padanya yang telah hadir diantara kalian...

Terima kasih atas kehadirannya yang telah membawa begitu banyak pembelajaran.
Tentang teori cinta yang nyatanya tak melulu berisi keindahan.
Tentang percobaan penghianatan yang telah mampu kamu menangkan.
Tentang indahnya menahan rasa sakit.
Tentang penguatan diri untuk bangkit dari keterpurukan, 'cause life must go on...

Terima kasih atas pembelajarannya...

Tentang cinta yang memang benar tak harus memiliki.
Tentang cinta yang sebenarnya bisa diwujudkan dalam bentuk apa saja. Dari yang paling nyata dengan memujanya, hingga yang paling rahasia yakni tak pernah lupa untuk menyebutkan namanya dalam setiap untaian doa.

Terima kasih atas pembelajarannya...

Tentang indahnya menjaga kasih diantara dua hati.
Tentang indahnya berjuang untuk menyatukan cinta yang memang sulit untuk bersatu.
Tentang sedihnya menahan gumulan rasa di hati yang harus dijaga, dijaga dan terus dijaga agar tak memancar ke arah yang tidak semestinya.

Ucapkan terima kasih padanya atas semua pembelajaran yang telah dibawanya...

Pembelajaran tentang ditinggalkan dan meninggalkan itu sesungguhnya amat sakit nan menyedihkan.
Pembelajaran tentang tidak adanya jalan pintas menuju kebahagiaan.
Pembelajaran tentang sakitnya menahan agar air mata tak keluar.
Pembelajaran tentang sakitnya membela hati ditengah cinta yang penuh dengan ketidakmungkinan...

Tapi semuanya hanya untuk sebuah kebaikan... baginya, pun bagimu.

Selanjutnya, ucapkan selamat tinggal padanya. Pada raganya. Pada sapaannya. Pada senyumnya. Pada hatinya, dan pada semua tentangnya.

Selamat tinggal untuk semuanya.

Dan aku akan selalu siap jika kamu butuh untuk ku rangkul dengan sepenuh cinta, karena ku tahu semua upaya yang kamu lakukan adalah penuh dengan air mata.

Selanjutnya, jika kamu masih ingin menjaga dirinya beserta cintanya, jagalah di taman hatimu sendiri, tanpa perlu diwujudkan dalam bentuk yang teramat nyata.

(dnu, ditulis di time zone, 10 Oktober 2015, 18.59 WIB)

Sunday, October 4, 2015

Jika...

Jika kamu membaca ini dari kejauhan, percayalah bahwa aku merindu sapaan pagimu,
Aku merindu teguran siangmu,
Dan aku merindu ucapan selamat malam darimu.

Jika kamu membaca ini dari kejauhan, percayalah bahwa aku merindu saat-saat yang dulu pernah ada,
Aku merindu saat ada canda tawa kita,
Dan aku merindu saat ada amarah diantara kita yang berbuah air mata.

Jika kamu membaca ini dari kejauhan, dan kamu ingat saat dulu ku katakan aku tak suka, percayalah bahwa aku benar-benar tidak suka.

Namun sekarang, aku juga ingin kamu percaya, bahwa sesungguhnya kini ku merindu saat-saat yang dulu pernah ada.

(dnu, skenario voice over sebuah FTV - ditulis di rumah sakit sambil mabok karena nahan ngantuk, 3 Oktober 2015, 13.20 WIB)


Sibuk Sendiri

Sibuk sendiri itu bukan sejenis penyakit, suatu kelainan, ataupun gangguan kejiwaan.
Melainkan hanya sebuah pelampiasan bathin yang merasa tenteram jika berada di dunianya sendiri, hanya sendiri dan seorang diri, saja :p



So enjoy being alone ^^



Ketika

Ketika yang lain memilih untuk menatap alam dengan tatapan mata kosong di warung kopi, kamu bisa mempersilahkan dirimu untuk pergi ke mall lalu belok ke tukang koran lalu mencari tahu bagaimana perkembangan bencana kabut asap hari ini.

Ketika yang lain memilih untuk sibuk menghakimi aparat negara yang dianggap tak gerak cepat dalam menangangi bencana kabut asap di Sumatera dan Kalimantan, kamu bisa mempersilahkan dirimu untuk mulai memikirkan hal apa yang bisa kamu lakukan untuk meringankan beban mereka para korban bencana. Walaupun itu hanya sebuah doa.

Ketika yang lain memilih sibuk untuk bergembira dan berhura-hura sambil menghabiskan uangnya, kamu bisa mempersilahkan dirimu untuk mengambil keputusan bergabung dengan komunitas apa untuk bisa membantu memberikan barang-barang sederhana sebagai pertolongan sementara bagi para korban bencana kabut asap.

Ketika yang lain memilih untuk menarik diri dari penderitaan orang lain, kamu bisa mempersilahkan dirimu untuk mulai memberikan empati kepada siapapun yang hidupnya tak seberuntung dirimu.

Hidup itu singkat, dan kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan meninggalkan dunia yang gegap gempita ini. Maka berbagilah selagi ada, selagi sempat, selagi kepikiran dan selagi diberi kesempatan.

Mata boleh terbuka, telinga boleh mendengar, tangan bisa bertepuk dan kaki bisa menari, maka diantara semua yang baik itu jangan sampai ada hati yang tertutup.

Jangan lupa berbagi, karena kasihmu begitu berarti ^^

(dnu, ditulis di rumah sakit, 1 Oktober 2015, 16.26 WIB)
----------
"Berbagi Cinta Di 4 Kota"

Rp. 35.000,-

Silakan dibeli ^^

100% keuntungan penjualan buku ini akan disumbangkan ke gerakan Indonesia Mengajar.

Dengan membeli berarti Anda telah turut berbagi dan memberikan aksi nyata untuk kemajuan pendidikan anak Indonesia.

Happy writer, happy reader ^^

-DNU-

Siswa Tewas Di Kelas, Pelajaran untuk Para Guru

Berita menghebohkan tentang tewasnya seorang siswa Sekolah Dasar akibat berkelahi dengan temannya di kelas menjadi momok tersendiri bagi jajaran guru di sekolah terkait.

Dalam perbincangan di sebuat stasiun radio pagi ini (28/9), penyiar radio tersebut yang tengah membahas kasus ini menyatakan keheranannya mengapa hal tersebut bisa terjadi. Padahal ketika anak-anak berkelahi di dalam kelas tersebut ada seorang guru, "gurunya ngapain aja kok bisa sampe ada murid y ang berantem sampe meninggal?" kurang lebih demikian.

Bisa jadi para guru yang telah terbiasa mengajar, memperhatikan tingkah polah anak muridnya dan amat terbiasa melihat mereka bersenda gurau dengan teman-temannya, menyangka perkelahian yang saat itu terjadi adalah juga hal yang biasa.

Sudah biasa bercanda, biasa dorong-dorongan atau biasa pukul-pukulan. Pokoknya semua dianggapnya biasa. Tapi ternyata apa yang terjadi kali ini? Adalah bukan hal yang biasa.

Terkait kejadian ini ada pelajaran yang mungkin bisa diambil oleh jajaran dewan guru dan pendidik dimana pun berada. Jika melihat anak muridnya mulai bercanda yang sekiranya melwati batas, ada baiknya untuk dilerai dan dipisahkan.

Jangan lagi beranggapan "paling becanda biasa...", tapi kita tidak tahu ternyata yang terjadi adalah hal yang serius. Jangan selalu berfikiran "biasa, biasa, biasa...." karena sudah menjadi tanggung jawab pihak sekolah jika terjadi sesuatu dengan anak muridnya di lingkungan sekolah.

Segala gerak gerik yang dilakukan oleh siswa di sekolah sudah sepatutnya mendapat pengawasan dari perangkat sekolah.

Kejadian ini adalah pelajaran yang amat berharga bagi para guru di manapun berada, tentang perlunya kepedulian yang lebih baik lagi terhadap seluruh siswa. Selain itu juga tentang dibutuhkannya penanaman sikap saling menyayangi antar sesama teman, yang diterapkan dari seorang guru kepada semua anak muridnya.

(dnu, ditulis sambil makan di warteg di pinggir sungai, 28 September 2015, 13.05 WIB)

Dongeng for Charity di RSUP Fatmawati

Hari ini, Sabtu (26/9) saya berkesempatan untuk berbagi dengan anak-anak pasien RSUP Fatmawati melalui suatu acara yang bertajuk "Ayo Dongeng".

Beberapa hari sebelumnya saat melihat pemberitahuan acara ini saya langsung mengambil kesempatan untuk bergabung dan berjanji tidak akan melewatinya untuk menjadi relawan pendongeng.
Hanya dengan berbekal sebentuk cinta, dan tanpa bekal kemampuan bercerita, saya beranikan diri untuk ada diantara mereka.

Acara dongeng for charity yang digagas oleh komunitas Gerakan Berbagi, komunitas Ayo Dongeng Indonesia dan komunitas Sejuta Buku Untuk Sahabat, kali ini memang secara khusus diperuntukkan bagi anak-anak yang menjadi pasien di RSUP Fatmawati, yang menderita sakit non infeksi.

Ketika turut ambil bagian menjadi relawan pendongeng, seketika itu pula saya merasakan kebahagiaan bercampur haru yang bukan kepalang saat bertatap muka dengan anak-anak yang sedang sakit tersebut.

Dengan mengambil tempat di aula Rumah Sakit (RS) dan telah bekerjasama dengan manajemen RS tersebut, selama kurang lebih 90 menit kami menghibur anak-anak yang sedang menjalani perawatan disana.

Mendongeng. Ya, inti acaranya adalah para relawan menyampaikan sebuah cerita tentang kehidupan hewan melalui aksi story telling.

Berbagai pemandangan yang mengharukan saya dapatkan disana. Mulai dari adik bayi yang digendong orang tuanya dengan keadaan tangannya terpasang selang infus. Ada juga seorang anak yang mengenakan kursi roda namun sangat antusias menyaksikan pertunjukkan singkat itu. Dan berbagai pasien lainnya yang dari binar matanya amat menikmati kehadiran kami ditengah ujian sakit yang sedang mereka alami.

Bersiap mengenakan kostum bermotif harimau, scraft yang juga bermotif harimau, dan bando alakadarnya yang saya umpamakan adalah telinga harimau, dilengkapi boneka tangan yang menyerupai hewan harimau, saya beranikan diri untuk beraksi.

Mencoba masuk dan menyelami penderitaan anak-anak tersebut, berdiri lalu duduk dan mengucapkan kalimat sayang sebagai pembuka, lantas saya mulai bercerita tentang "Hewan sebagai Teman Setia".
Dimana inti cerita yang saya bawakan adalah kita tidak hanya bisa bersahabat dengan sesama manusia, tetapi hewan-hewan pun bisa dijadikan sahabat. Dengan catatan kita harus menyayanginya, merawatnya dan melindunginya dengan penuh kasih dan cinta.

Disela-sela mendongeng saya ajak mereka bernyanyi lagu "Heli" dimana saat itu saya tengah menceritakan sahabat hewani yakni binatang Anjing. Tidak disangka, dalam keadaan yang kurang sehatpun mereka antusias bernyanyi dan larut dalam kegembiraan.

Diakhir cerita, saat saya berkisah tentang Burung Hantu, saya pun kembali mengajak mereka menyanyikan sebuah lagu dengan tema yang sama. Semua bernyanyi sambil bertepuk tangan "matahari terbenam hari mulai malam... terdengar burung hantu suaranya merdu...".

Ya, saya bahagia dan semoga mereka pun juga. Minimal bisa sejenak melupakan rasa sakitnya.

Dengan diiringi alunan gitar dari Chikita Fawzi, suasana mendongeng pagi itu terasa amat meriah. Kepandaiannya bermain alat musik mungkin memang bakat tersendiri atas keturunan sang ayah yang juga seorang musisi ternama yakni Ikang Fawzi.

Tak ayal pemain sinetron Dinda Kanya Dewi pun semangat berbagi melalui aksi dongeng pagi tadi. Entahlah, mungkin ini yang dinamakan virus cinta yang bisa menyerang siapa saja. Mulai dari artis ternama hingga orang biasa seperti saya.

Sungguh tak bisa diungkapkan dengan segala macam aksara saat bisa berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang sedang menderita sakit, dan kita hadir ditengah-tengah mereka lalu berupaya menghadirkan sedikit canda tawa.

Apa sih yang bisa kita lakukan jika menghadapi orang yang sedang sakit selain mendoakannya agar lekas sembuh? Menghilangkan penyakitnya? Tentu itu diluar kuasa umat manusia. Maka lakukanlah hal sekecil apapun yang kita bisa. Walaupun taruhannya mungkin hanya membuat mereka tersenyum simpul saja. Tapi jangan pernah tanyakan apa rasanya saat kita mampu berbagi bersama dan berupaya membuat orang lain bahagia.

Tak ada lagi rasa di dada, yang ada hanya tatapan sepasang mata bola penuh bahagia.

(dnu, ditulis sambil selonjoran santai tak terkira dan menanti kapan hujan akan tiba, 26 September 2015, 19.14 WIB)




Kadang-kadang...

Kadang-kadang...

Kadang-kadang kita perlu mengikuti kata hati, tanpa peduli dengan konsekuensi.

Kadang-kadang kita boleh berbangga hati, karena kalau bukan kita siapa lagi?.

Kadang-kadang kita perlu tak peduli dengan orang lain, karena dengan begini justru bisa bikin kita happy.

Kadang-kadang kita perlu hanya melakukan apa yang hati kita katakan. Lupakan segala tentang logika maupun penalaran.

Kadang-kadang kita suka membuat hidup kita rumit sendiri, suka ngiri sama keberhasilan orang lain, kekayaan, maupun kecantikan/ketampanan. Satu hal yang perlu diingat, Tuhan telah menciptakan makhluknya dengan keunikannya sendiri-sendiri. So, be your self darling!

Kadang-kadang kita suka usik sama kehidupan orang lain, suka ada pertanyaan dalam hati kenapa dia begini kenapa dia begitu. Sekarang tanya balik ke hatimu yang paling dalam "apa untungnya usik sama kehidupan orang lain??". Apakah kamu merugi jika dia lebih beruntung darimu? Atau kamu merasa diuntungkan kalau dia tidak seberuntung hidupmu? Please, mulai sekarang jalani hidup dengan lebih bijak.

Kadang-kadang ada orang yang usik sama hidup kita. Cara ngadepinnya? Berikan sikap kita yang paling baik kepadanya. Lakukan yang terbaik, amat baik bahkan super baik. Dengan demikian dijamin dia akan semakin usik hahaha...
Jika benar demikian adanya, yang perlu kamu lakukan selain tetap berbuat baik hanyalah terus berbuat baik. Selanjutnya kamu akan terlihat bak ibu peri atau pangeran ksatria yang sukses namun tetap rendah hati.

Kalau sudah menjadi ibu peri atau pangeran ksatria yg baik hati tapi masih saja ada yang usik, maka kembalilah ke point pertama;

"Kadang-kadang kita perlu mengikuti kata hati, tanpa peduli dengan konsekuensi".

(dnu, ditulis sambil ngantri medical check up, 25 September 2015, 14.03 WIB


Love You

Tuhanku merestui itu, dijadikan kalian adik-adikku...