Saturday, October 10, 2015

Dari sini, aku turut berduka untuk kalian...

Wahai saudaraku, sungguh aku tak terbayang bagaimana rasanya berbulan-bulan kamu bernafas dalam gumulan kabut asap. Aku pun tak paham benar rasanya, bagaimana derita anak-anak kecil dan para adik bayi yang sedang dalam masa pertumbuhan, namun mereka harus tumbuh di tengah kabut asap.

Aku coba membayangkan berbulan-bulan kalian beraktifitas sambil menggunakan masker dan bernafas dengan tabung oksigen kecil di depan mulutmu.

Bagaimana caramu berbiacara? Bagaimana caramu makan? Minum?

Aku pun selalu terbayang bagaimana dengan makanan kalian? Apa yang dimasak? Tentu sulit mendapatkan bahan makanan? Jika ada, tentu makanan tersebut terpapar kabut asap kan? Lalu, bagaimana dengan makanannya para adik bayi???

Lagi-lagi aku mencoba memahami harapan kalian para saudaraku. Tentu kalian kini telah menyerah jika harus terus menerus mengiba pada pemerintah untuk menuntaskan musibah ini. Yang kita bisa sama-sama lihat sampai dengan hari ini, belum ada efek signifikan yang bisa mengembalikan kecerahan kehidupan kalian, berkat upaya pemerintah.

Semuanya masih sama. Kelabu... berkabut... berasap... merusak semua sisi hidupmu.
Dan aku, bisa lihat itu dari tempat tinggalku.

Mungkin kalian telah angkat tangan. Tak ingin lagi meminta kepada pemerintah.

Ya, aku setuju.

Lupakanlah berharap pada manusia. Mintalah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mintalah kepada Tuhan kalian masing-masing. Agar diturunkan hujan olehNya. Agar diberikan kekuatan yang lebih pada tubuh kalian dalam musibah ini. Agar diberikan kesehatan lahir dan batin bagi kalian. Dan agar kalian diberikan kesabaran yang tiada putusnya dalam menghadapi musibah ini.

Sekali lagi aku setuju.

Lupakanlah siapa sebenarnya pelaku pembalakan hutan yang akhirnya menghasilkan musibah kabut asap ini.
Lupakanlah kerepotan kalian untuk meminta pertanggung jawaban mereka.
Dan lupakanlah tentang tak habis pikirnya siapapun juga, tentang mengapa tak segera ditindak kelalaian mereka ini. Hingga kalian yang harus menanggung akibatnya.

Lupakanlah orang-orang tinggi di gedung-gedung bergengsi sana yang nampaknya layak untuk kalian mintakan bantuan. Karena apa? Lihat saja hingga kini, hidup kalian masih amat akrab dengan gumulan kabut asap.

Masih banyak saudara-saudara di pulau-pulau lainnya yang sudi memberikan bantuan dan aksi nyata bagi keceriaan kalian dan anak-anak kalian. Serta keceriaan orang tua kalian.

Entah apakah di luar sana, di gedung pemerintahan sana, pernah terbesit tentang musibah ini, musibah yang menimpa kalian, bahwa kalian tengah meresikokan hidup kalian semua.

Kalian tengah bergulat dengan resiko kesehatan diri, anak, orang tua dan semua orang yang kalian kasihi. Sekali lagi kukatakan, bahwa aku percaya kalian tengah meresikokan hidup kalian semua.
Dan ini bukan senda gurau, ini bukan permainan, bahkan ini bukan ujian yang ringan. Tapi ini adalah masalah kehidupan. Tentang kelangsungan hidup seluruh umat manusia yang ada di Sumatera dan Kalimantan.

Dari rumahku, dari tempat tinggalku, dan dari hatiku yang paling dalam, ku coba memahami penderitaan kalian. Doaku, semoga hujan segera mengguyur tanah kalian, mematikan api yang menghasilkan asap dan membuat tumbuh-tumbuhan kembali berwarna hijau.

Semoga selepas hujan, matahari segera terbit, semuanya bersinar lagi, cerah kembali dan jarak pandang tak ada yang menghalangi lagi.

Dari sini, aku turut berduka untuk kalian...

(dnu, ditulis sambil nungguin nyuci mobil, 8 Oktober 2015, 12.30 WIB)