Sunday, October 4, 2015

Dongeng for Charity di RSUP Fatmawati

Hari ini, Sabtu (26/9) saya berkesempatan untuk berbagi dengan anak-anak pasien RSUP Fatmawati melalui suatu acara yang bertajuk "Ayo Dongeng".

Beberapa hari sebelumnya saat melihat pemberitahuan acara ini saya langsung mengambil kesempatan untuk bergabung dan berjanji tidak akan melewatinya untuk menjadi relawan pendongeng.
Hanya dengan berbekal sebentuk cinta, dan tanpa bekal kemampuan bercerita, saya beranikan diri untuk ada diantara mereka.

Acara dongeng for charity yang digagas oleh komunitas Gerakan Berbagi, komunitas Ayo Dongeng Indonesia dan komunitas Sejuta Buku Untuk Sahabat, kali ini memang secara khusus diperuntukkan bagi anak-anak yang menjadi pasien di RSUP Fatmawati, yang menderita sakit non infeksi.

Ketika turut ambil bagian menjadi relawan pendongeng, seketika itu pula saya merasakan kebahagiaan bercampur haru yang bukan kepalang saat bertatap muka dengan anak-anak yang sedang sakit tersebut.

Dengan mengambil tempat di aula Rumah Sakit (RS) dan telah bekerjasama dengan manajemen RS tersebut, selama kurang lebih 90 menit kami menghibur anak-anak yang sedang menjalani perawatan disana.

Mendongeng. Ya, inti acaranya adalah para relawan menyampaikan sebuah cerita tentang kehidupan hewan melalui aksi story telling.

Berbagai pemandangan yang mengharukan saya dapatkan disana. Mulai dari adik bayi yang digendong orang tuanya dengan keadaan tangannya terpasang selang infus. Ada juga seorang anak yang mengenakan kursi roda namun sangat antusias menyaksikan pertunjukkan singkat itu. Dan berbagai pasien lainnya yang dari binar matanya amat menikmati kehadiran kami ditengah ujian sakit yang sedang mereka alami.

Bersiap mengenakan kostum bermotif harimau, scraft yang juga bermotif harimau, dan bando alakadarnya yang saya umpamakan adalah telinga harimau, dilengkapi boneka tangan yang menyerupai hewan harimau, saya beranikan diri untuk beraksi.

Mencoba masuk dan menyelami penderitaan anak-anak tersebut, berdiri lalu duduk dan mengucapkan kalimat sayang sebagai pembuka, lantas saya mulai bercerita tentang "Hewan sebagai Teman Setia".
Dimana inti cerita yang saya bawakan adalah kita tidak hanya bisa bersahabat dengan sesama manusia, tetapi hewan-hewan pun bisa dijadikan sahabat. Dengan catatan kita harus menyayanginya, merawatnya dan melindunginya dengan penuh kasih dan cinta.

Disela-sela mendongeng saya ajak mereka bernyanyi lagu "Heli" dimana saat itu saya tengah menceritakan sahabat hewani yakni binatang Anjing. Tidak disangka, dalam keadaan yang kurang sehatpun mereka antusias bernyanyi dan larut dalam kegembiraan.

Diakhir cerita, saat saya berkisah tentang Burung Hantu, saya pun kembali mengajak mereka menyanyikan sebuah lagu dengan tema yang sama. Semua bernyanyi sambil bertepuk tangan "matahari terbenam hari mulai malam... terdengar burung hantu suaranya merdu...".

Ya, saya bahagia dan semoga mereka pun juga. Minimal bisa sejenak melupakan rasa sakitnya.

Dengan diiringi alunan gitar dari Chikita Fawzi, suasana mendongeng pagi itu terasa amat meriah. Kepandaiannya bermain alat musik mungkin memang bakat tersendiri atas keturunan sang ayah yang juga seorang musisi ternama yakni Ikang Fawzi.

Tak ayal pemain sinetron Dinda Kanya Dewi pun semangat berbagi melalui aksi dongeng pagi tadi. Entahlah, mungkin ini yang dinamakan virus cinta yang bisa menyerang siapa saja. Mulai dari artis ternama hingga orang biasa seperti saya.

Sungguh tak bisa diungkapkan dengan segala macam aksara saat bisa berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang sedang menderita sakit, dan kita hadir ditengah-tengah mereka lalu berupaya menghadirkan sedikit canda tawa.

Apa sih yang bisa kita lakukan jika menghadapi orang yang sedang sakit selain mendoakannya agar lekas sembuh? Menghilangkan penyakitnya? Tentu itu diluar kuasa umat manusia. Maka lakukanlah hal sekecil apapun yang kita bisa. Walaupun taruhannya mungkin hanya membuat mereka tersenyum simpul saja. Tapi jangan pernah tanyakan apa rasanya saat kita mampu berbagi bersama dan berupaya membuat orang lain bahagia.

Tak ada lagi rasa di dada, yang ada hanya tatapan sepasang mata bola penuh bahagia.

(dnu, ditulis sambil selonjoran santai tak terkira dan menanti kapan hujan akan tiba, 26 September 2015, 19.14 WIB)