Wednesday, October 21, 2015

Siapa Berhak Menilai Kinerja Presiden?


Tepat 1 tahun masa pemerintahan Joko Widodo selaku Presiden Indonesia saat ini, banyak yang mengulas keberhasilan maupun yang dianggap kekurangan kinerjanya. Salanjutnya banyak yang berbondong-bondong mempreteli satu persatu kinerja beliau.

Me-review adalah melakukan evaluasi, dan mirip dengan menilai. Jika sudah menilai dan bila ditemukan kekeliruan maka hendaknya diberi masukan untuk perbaikan. Lalu apakah setelah kita mereview hasil kerja Pak Presiden lantas kita memberikan masukan kepada beliau untuk memperbaiki yang kurang? Tidak banyak yang melakukan hal ini.

Bisakah hal-hal tersebut tidak dikatakan sebagai kegagalan, namun dianggap sebagai proses menuju keberhasilan?? Artikel Ini bukan sebuah bentuk kampanye pembelaan presiden, tapi hanya opini dari saya yang juga bukan seorang Jokowers. Namun saya hanya berusaha melihat semuanya secara sederhana, dari kacamata saya yang juga amat sederhana.

Ibaratnya mobil mogok, penumpang didalamnya hanya bisa berteriak, bergumam, mengumpat dan berseloroh “bagaimana ini, kok mogok? Dorong yang bener dong! Bisa ndorong gak sih, kok gak jalan-jalan? Mesinnya rusak ya? Benerin dong sebelum jalan? Nasib kita gimana nih?? Panas nih didalem mobil mogok begini! Buruan dong....!” Sementara yang mendorong mobil mogok tersebut hanya dua orang saja, yakni supir dan keneknya. Mendorong sekuat tenaga, sambil diiringi suara-suara sumbang yang tak jua memberikan solusi atas kekurangan.

Apakah penumpang yang demikian telah membantu Pemerintah? Tidak sama sekali. Mereka hanya bisa mencaci tanpa memberikan bantuan dan solusi untuk pemecahan.

Bagaimana bisa kita hanya berkomentar sana sini, presiden gagal di sini, presiden gagal di situ, presiden salah di sini, presiden salah di situ, presiden tak becus mengurus ini, presiden tak becus mengurus itu, dan lain sebagainya yang bentuknya sama. Mengkritik tanpa memberi solusi.

Kembalikan semua kritikan tersebut kepada diri kita masing-masing yang kini hanya menjadi penonton kinerja pemerintah, dimana tanpa sadar kita juga sebagai penikmat hasil kerja mereka. Can you??? Bisakah kamu menyelesaikan semua urusan yang kini belum mampu diselesaikan Sang Presiden beserta jajarannya???

Kita adalah kritikus unggul yang hanya mampu berceloteh tanpa mampu berbuat banyak. Lalu bagimana jika kita tidak mampu berbuat banyak namun kita merasa banyak hal yang perlu diperbaiki di negara ini? Lakukan apa yang kita bisa. Misalnya kita merasa terlalu banyak koruptor di negara ini, tapi semuanya lolos dan bebas melenggang kesana kemari, maka hal paling sederhana yang bisa kita lakukan terhadap hal ini adalah berikan opini kita, bentuknya masukan, bukan kritikan apalagi menjatuhkan. Opini tersebut bisa dipublikasikan melalui apapun, dengan maksud agar banyak yang mengetahui sehingga suara yang kita sampaikan mendarat tepat ke lembaga yang bersangkutan.

Penyampaian opini tidak harus dalam bentuk tulisan. Saat ini banyak sekali program-program di televisi maupun radio yang sifatnya berdiskusi terkait kondisi kekinian negara Indonesia. Wadah yang seperti ini juga bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan opini dan masukan bagi kemajuan bangsa dan negara. Satu lagi terkait korupsi, hal terkecil yang juga bisa kita lakukan adalah perbaiki diri, tidak ikut-ikutan korupsi dalam bentuk apapun.

Kesimpulannya, jika kita berada dalam satu kapal laut yang sama, memiliki tujuan berlayar yang juga sama, maka sudah sepatutnya kita tidak serta merta mencaci sang nakhoda saat kapal tiba-tiba berhenti. Lihat dulu apa penyebabnya, apakah ada badai angin atau hujan yang teramat kencang, dimana semuanya diluar kuasa nakhoda tersebut. Yang perlu penumpangnya lakukan adalah memberikan bantuan bagaimana caranya agar kapal dapat terus berjalan dengan baik walau ditengah kepungan badai. 

Berikan bantuan sekecil apapun yang kita bisa, agar kapal dapat terus berjalan, layar tetap terkembang dan tujuan bisa tercapai.

(dnu, ditulis sambil ngemil kacang Bogor di Jakarta, 20 Oktober 2015, 16.02 WIB)