Saturday, October 10, 2015

Terima Kasih dan Selamat Tinggal

Kepadanya yang hadir diantara kalian, yang telah mampu merebut hatimu dan merebut semua perhatianmu...

Kepadanya yang telah mampu mengacaukan semua tentang logika dan penalaranmu, kamu tahu itu tidak benar, tapi hatimu tak mampu pergi dan menghindar.

Kadang semuanya pun berhasil membuat hari-harimu yang awalnya ceria lalu mendadak amat sangat ceria, namun secara mendadak pula bisa membuat kamu murung dan bermuram durja. Harimu layu, semua sendu, dan matamu begitu sayu...

Kita sepaham bahwa ini tak benar. Maka jika boleh kusampaikan... pergilah, menghilang dan tenggelam, sekalipun harus bersama sejuta tangisan...

Ajak semuanya pergi. Tanganmu, kakimu, matamu, jari-jari manismu, otakmu, hingga hatimu...

Pergi yang sebenar-benarnya pergi. Jika perlu menyendiri, maka lakukanlah. Karena memang kadang seseorang butuh untuk sendiri dan hanya bersama angin, untuk menceritakan semua rahasia lalu meneteskan air mata.

Aku tahu ini tidak mudah. Tapi kita sama-sama tahu bahwa ini hanyalah sesaat walaupun tampak indah.

Pergilah, lalu berdoalah. Minta pada Yang Kuasa agar saat ini kalian dipisahkan melalui cara yang paling baik. Paling baik buat kalian dan paling baik menurut Sang Pemilik Alam.

Mintalah tanpa pernah merasa pasrah. Mintalah agar kalian suatu saat nanti dipertemukan kembali di waktu yang paling berkah. Saat yang indah. Suasana yang megah, dan keadaan lahir batin kalian yang penuh dengan anugerah.

Pagimu tentu akan menjadi hambar. Siangmu tentu akan menjadi tawar, dan malammu tentu akan menjadi amat sangat datar. Karena tiada lagi sapaan lembut darinya, dan tiada lagi kiriman senyum manisnya melalui pesan dunia maya. Dimana hal itu telah terbukti mampu membuatmu terpana lalu terlena.

Hari-harimu pasti akan menjadi amat sangat mengandung bencana saat tak ada lagi pesan darinya. Satu hari... dua hari... satu bulan... dua bulan... semua rasa sakitnya akan kuat terasa.

Membuncah!
Merusak seluruh pikiran, jiwa dan ragamu!
Menghancurkan seluruh rasa di hatimu!
Hingga mengacaukan seluruh energi positifmu!

Semuanya hilang!
Kebaikanmu hilang!
Senyum manismu hilang!
Langkah cantikmu hilang!
Indah ayunan lenganmu saat berjalanpun hilang!

Seiring dengan hilangnya sapaan lembutnya di pagi, siang dan malammu...

Harimu menjadi kelabu...

Dan aku, sangat paham itu.

Tapi percayalah, itu adalah proses yang memang harus kamu jalani, karena deretan hal itu memang harus terjadi.

Kamu harus sakit. Kamu harus bersedih. Kamu harus menggila. Kamu harus merana. Dan kamu nyaris merasa menjadi orang yang paling menderita.

Karena keputusan terbaikmu untuk segera pergi dari cintanya...

Ucapkan terima kasih padanya yang telah hadir diantara kalian...

Terima kasih atas kehadirannya yang telah membawa begitu banyak pembelajaran.
Tentang teori cinta yang nyatanya tak melulu berisi keindahan.
Tentang percobaan penghianatan yang telah mampu kamu menangkan.
Tentang indahnya menahan rasa sakit.
Tentang penguatan diri untuk bangkit dari keterpurukan, 'cause life must go on...

Terima kasih atas pembelajarannya...

Tentang cinta yang memang benar tak harus memiliki.
Tentang cinta yang sebenarnya bisa diwujudkan dalam bentuk apa saja. Dari yang paling nyata dengan memujanya, hingga yang paling rahasia yakni tak pernah lupa untuk menyebutkan namanya dalam setiap untaian doa.

Terima kasih atas pembelajarannya...

Tentang indahnya menjaga kasih diantara dua hati.
Tentang indahnya berjuang untuk menyatukan cinta yang memang sulit untuk bersatu.
Tentang sedihnya menahan gumulan rasa di hati yang harus dijaga, dijaga dan terus dijaga agar tak memancar ke arah yang tidak semestinya.

Ucapkan terima kasih padanya atas semua pembelajaran yang telah dibawanya...

Pembelajaran tentang ditinggalkan dan meninggalkan itu sesungguhnya amat sakit nan menyedihkan.
Pembelajaran tentang tidak adanya jalan pintas menuju kebahagiaan.
Pembelajaran tentang sakitnya menahan agar air mata tak keluar.
Pembelajaran tentang sakitnya membela hati ditengah cinta yang penuh dengan ketidakmungkinan...

Tapi semuanya hanya untuk sebuah kebaikan... baginya, pun bagimu.

Selanjutnya, ucapkan selamat tinggal padanya. Pada raganya. Pada sapaannya. Pada senyumnya. Pada hatinya, dan pada semua tentangnya.

Selamat tinggal untuk semuanya.

Dan aku akan selalu siap jika kamu butuh untuk ku rangkul dengan sepenuh cinta, karena ku tahu semua upaya yang kamu lakukan adalah penuh dengan air mata.

Selanjutnya, jika kamu masih ingin menjaga dirinya beserta cintanya, jagalah di taman hatimu sendiri, tanpa perlu diwujudkan dalam bentuk yang teramat nyata.

(dnu, ditulis di time zone, 10 Oktober 2015, 18.59 WIB)