Sunday, November 29, 2015

Berfoto Merusak Taman, Tanda Krisis Budi Pekerti

Informasi yang tengah marak diberitakan saat ini yakni tentang ulah para muda mudi yang berfoto bersama di sebuah taman bunga, namun tanpa mengindahkan kelangsungan hidup tanaman yang ada disekitarnya telah mampu membangkitkan emosi masyarakat luas.

Taman yang menjadi korban adalah Taman Bunga Amaryllis yang terletak di D.I. Yogyakarta.

Dalam foto yang beredar, terlihat sejumlah muda mudi sedang asyik berfoto di tengah taman bunga. Dengan suka cita mereka menduduki bunga,berdiri sambil menginjak tanaman bunga, bahkan ada yang sengaja merebahkan badan.

Mungkin hal ini lucu dan menarik bagi mereka, namun sayangnya mereka lupa ada bunga cantik yang menjadi korban kesengajaannya. Karena saya yakin hal tersebut dilakukannya dalam keadaan sadar dengan mata dan fikiran yang terbuka.

Yang membuat pemberitaan ini semakin parah dan masyarakat semakin marah adalah, muda mudi tersebut mengunggah foto-foto mereka lengkap dengan keterangan yang tidak mau mengalah. Kurang lebih seperti ini ;

"Gw foto disini, suka-suka gw, masalah buat lo?!"

Yes! Jelas bermasalah! Karena kamu telah merusak taman bungan yang telah dengan susah payah ditanam, dirawat dan ditata sedemikian cantik agar tumbuh dan berkembang. Lalu kamu datang dengan sesuka hatimu dan merusak semuanya tanpa merasa bersalah! Ini jelas masalah!

Pembaca yang budiman, apakah ini pertanda banyak muda mudi Indonesia yang usianya kekinian tengah berkekurangan dalam hal budi pekerti? Sehingga mereka tidak mengerti tentang pentingnya merawat lingkungan? Mereka tidak diminta menanam, hanya merawat saja!

Apakah ini pertanda bahwa muda mudi masa kini ada yang tak paham benar tentang falsafah budi pekerti? Sehingga mereka tak paham tentang ilmu saling menghargai atas jerih payah orang lain? Jerih payah menanam bibit bunga hingga berkembang dan indah untuk dinikmati bersama.

Dan apakah ini pertanda bahwa muda mudi tersebut sungguh tak paham benar bahwa tumbuh-tumbuhan juga memiliki hak hidup yang sama seperti mereka?!

Keterangan foto yang diunggah dalam akun instagram ybs sungguh sangat menantang. Terkesan tidak mau tahu dengan apa yang sudah dirusaknya dan tak mau ambil pusing dengan tanggapan orang lain.

Apakah benar ini sebuah krisis budi pekerti dalam diri generasi penerus bangsa??

Tanaman adalah alat penopang kehidupan. Tempat menyimpan air. Penyerap karbondioksida. Dan masih banyak manfaat tanaman lainnya khususnya tanaman bunga, yang tentunya sangat mampu menambah keindahan lingkungan sekitar.

Bagi para orang tua, sebaiknya lebih diperhatikan lagi tentang penanaman ilmu sosial dalam diri anak-anaknya. Termasuk didalamnya ilmu tentang menghargai jerih payah orang lain, dan tentang menghargai lingkungan sekitar.

Tapi tentunya pendidikan ini sudah secara baik disampaikan mulai dari level keluarga hingga tingkat sekolah. Dan jika masih belum sepenuhnya tertanam dalam diri anak bangsa, siapa yang bisa disalahkan?

Apakah ini faktor suka cita remaja saja yang merasa dirinya free bahkan totally free? Atau memang jelas tak ada yang mengajarkan?

Bagi yang membaca artikel ini, sederhananya saya hanya ingin mengajak untuk bersama-sama saling menanam ingatan dalam diri masing-masing, bahwa selain kita ada makhluk lain yang juga memiliki hak hidup yang sama dengan kita. Kita makhluk Tuhan, maka sama dengan mereka.

(dnu, ditulis di time zone yang rame pisan, 29 November 2015, 18.36 WIB)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dewinurbaiti

Wednesday, November 25, 2015

Sebentuk Cinta untuk Sang Pelita

Selepas bekerja hari ini (25/11) saya menyempatkan diri berkunjung ke sekolah yang telah saya tinggalkan sejak 14 tahun lalu. Sekolah Menengah Kejuruan 51 Jakarta Timur lebih tepatnya. Tempat saya menuntut ilmu di zaman yang masih lucu dahulu.

Hari ini memang telah menjadi incaran saya sejak lama, terkait untuk melunasi janji dalam hati, bahwa setelah buku pertama lahir maka sekolah ini harus menjadi salah satu lokasi yang saya sambangi.

Mengapa hari ini? Jelas karena hari ini diperingati sebagai Hari Guru, dimana sebagai siswa yang pernah belajar di sana saya ingin memberikan hadiah berupa sebentuk cinta untuk sang pelita.

Pelita itu adalah Bapak/Ibu guru saya yang telah membimbing dan mengajarkan banyak hal saat di bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Atas kala itu.

Dengan memberikan sedikit buku hasil tulisan tangan sendiri yang berjudul "Berbagi Cinta Di 4 Kota", bermaksud agar teman-teman yang masih bersekolah di sana dan juga Bapak/Ibu guru yang ada, dapat menikmati sebuah kisah cerita cinta anak Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri buku tersebut lahir juga berkat didikan Bapak/Ibu guru yang telah mengajarkan budi pekerti, termasuk didalamnya tentang kehidupan sosial. Dimana kini saya aktualisasikan melalui kegiatan berbagi cinta di 4 kota.

Menyumbang sedikit buku untuk perpustakaan sekolah. Bertemu dengan Bapak/Ibu guru yang dulu mendidik saya. Kembali memasuki gedung sekolah yang sudah 14 tahun saya tinggalkan. Kembali mencium tangan para pendidik tercinta. Seketika itu pula saya merasa kembali menjadi murid di sana.

Berkat mereka sang pelita, terbentuklah pribadi saya yang sekarang ini yang selalu ingin belajar untuk menjadi manusia yang lebih berarti. Semakin mengerti bahwa berangkat dari sebuah hobi bisa melahirkan suatu karya yang mampu membuat senyum diri sendiri. Dan bisa mengerti tentang indahnya hidup ini jika selalu diisi dengan hal-hal berbagi yang penuh dengan empati.

Ini adalah hadiah kecil dari saya sebagai mantan anak murid di SMK 51 tempat saya menuntut ilmu dulu. Tepat saya serahkan pada momen hari Guru, dan ternyata mereka pun merasa ini adalah kado yang mengejutkan sekaligus membahagiakan.

Tiba-tiba air mata menetes tanpa bisa dicegah saat mata kami bertemu, saling tatap dan saling mengingat. Antara anak murid dengan Ibu guru yang sekian lama terpisah jarak, ruang dan waktu.

Mencium tangan sambil menangis. Dilanjutkan dengan berpelukan, masih sambil menangis. Melepas pelukan sambil mengusap air mata. Tak kuasa menahan haru, karuan saja adegan berpelukan itu kembali terulang.

Terima kasih pelitaku.
Terima kasih yang sungguh tak terhingga. Terima kasih telah melahirkan saya hingga bisa begini, seperti sekarang ini.

(dnu, ditulis di jalan tol yang macetnye ga ada matinye, 25 November 2015, 19.13 WIB)


 

Friday, November 20, 2015

Hati Terbelah Di Langit Malam

Menerbangkanmu ke langit luas dan membiarkan semuanya pergi.
Aku berharap suatu saat nanti kamu terjatuh, namun tanpa rasa sakit, karena jatuhmu diantara bintang-bintang.
Dan aku kembali berharap, akulah bintang itu, akulah bintangmu.

Melangkah di kegelapan malam. Menanti sapaan tangan yang menggenggam, tangan kananku digenggam oleh tangan kirimu.
Tanpa saling menatap, tapi ku tahu itu kamu, dan kamu pun tahu, ini aku.

Tak berani saling melihat, tak kuasa saling melepas genggaman erat. Karena rasanya pasti akan terus melekat. Biarkan hanya dua bayangan yang kita lihat, dan benar bahwa ada aku dan kamu disitu.

Tapi ternyata malamku tanpa bintang.
Aku tak akan pernah bisa menjadi bintang.
Tapi kamu akan tetap terjatuh, and maybe you hit a star...
Tapi bintang itu bukan aku.

Karena hatiku telah terbelah di langit malam.
Dan kembali ku terbangkan kamu, lalu ku biarkan kamu terjatuh.

Hatiku, telah terbelah di langit malam.
Karena kamu.

Note : Tulisan ini hasil keisengan otak dan tangan belaka. Hanya terinspirasi dari calon film fenomenal Bulan Terbelah Di Langit Amerika.

(dnu, ditulis sambil nunggu yang dijemput hadir dan membawa minuman pake sedotan haha..., 20 November 2015, 17.18 WIB)


Jadilah Kamu Apa Adanya

Jika kamu tidak suka membaca buku, maka jangan dipaksakan.
Jika kamu tidak suka menonton film, maka jangan dipaksakan.

Pengetahuan bisa datang dari mana saja, dengan memanfaatkan kemampuan panca inderamu yang lainnya.

Masih bisa dengan mendengarkan radio atau mengutak atik dunia maya yang kini sarat dengan informasi.

Jika kamu tidak menyukai sesuatu maka bertindaklah sewajarnya. Jangan memaksakan diri hanya agar terlihat kekinian.

Tidak perlu latah dengan gaya hidup orang lain, berlakulah seperti apa adanya kamu. Karena Tuhan telah menciptakan setiap makhluknya dengan keunikan dan kemampuan yang berbeda-beda.

Mereka memasang bendera Perancis, kamu latah mengikutinya.
Ada yang berujar "kemana saja saat asap melanda Indonesia", kamu lantas turut menyebarkan informasinya.
Ada yang memasang bendera Palestina, kamu gegabah mengikutinya.
Yang entah sebenarnya semua keinginan itu apakah lahir dari lubuk hatimu yang paling dalam.
Apakah empati tersebut benar-benar kamu rasakan atau hanya sekedar ikut-ikutan.

Sekali lagi, bertingkahlah sewajarnya.
Lain ceritanya jika memang itu adalah datang dari dalam hatimu sendiri.

Lalu bagaimana jika trendsetter tak jua hadir ditengah-tengah pergulatan suatu kasus? Bisa jadi tak ada satu hal pun turut kamu lakukan. Karena apa? Tak ada poros utama yang perlu kamu tiru.

Jadilah dirimu sendiri.
Apa adanya kamu.
Berdirilah diatas kaki sendiri yang kokoh namun baik hati.
Tidak mudah terombang-ambing keadaan yang hanya mampu membuatmu layu sebelum berkembang.

Bagaimana jika tidak ada yang menyebar doa untuk Lebanon? Bisa jadi kamu pun tak turut mendoakannya.

Jangan berbuat lucu dengan selalu mengikuti yang sebenarnya tak sesuai dengan kata hatimu.

Jangan pura-pura berempati, karena belas kasih tak sesederhana itu.

(dnu, ditulis sambil menunggu hidangan makan siang datang yaitu nasi putih, sate kambing, pisang bakar coklat keju - es cincau dan es teh manis - subhanallah ya haha..., 20 November 2015, 12.17 WIB)


Thursday, November 19, 2015

Pada Akhirnya Aku Belajar

Pada akhirnya aku belajar,
bahwa hidup bukan untuk sendiri,
hidup bukan untuk bahagia sendiri,
dan hidup bukan untuk kemenangan diri sendiri.

Tapi hidup adalah untuk berbagi.

Pada akhirnya aku belajar,
bahwa hidup memang hanya tinggal menunggu mati,
bahwa semua yang hidup pasti akan mati,
maka apa yang bisa ku beri sebelum aku mati maka harus ku beri.

Karena hidup adalah untuk berbagi.

Pada akhirnya aku belajar,
bahwa hidup adalah untuk memberi jalan terang,
bahwa hidup untuk saling berbagi kasih dan sayang,

Karena hidup adalah tak melulu soal harta dan uang.

Pada akhirnya aku belajar,
Mengingat-ingat apa yang telah ku beri bagi negeri ini,
Apa yang telah ku bagi pada bangsa ini,
Dan apa yang telah kulakukan bagi orang lain yang selama ini ku anggap mereka sebagai saudara satu negeri.

Pada akhirnya aku belajar,
Tidak elok jika aku hanya terus berujar, ingin berbagi... berbagi dan berbagi. Tapi seiring bergantinya hari tak jua satu hal pun usai ku bagi.

Pada akhirnya aku belajar,
Bahwa membakar diri demi membuka jalan terang bagi orang lain adalah kebahagiaan yang tak tertuliskan.
Bahwa hanya berbuat seujung kuku namun diterima dan terus dikenang, bahkan dianggap sebagai pembuka jalan terang adalah kebahagiaan yang tak terbayarkan.

Pada akhirnya aku belajar,
Walau hanya menjadi setitik cahaya dalam kegelapan, namun jika itu berguna bagi banyak orang, maka tetap menjadi terang adalah pilihan yang indah untuk terus dilakukan.

Pada akhirnya aku belajar,
Bahwa menjadi kilatan cahaya sesaat dan begitu cepat, tapi siapa kira dari yang sesaat justru terasa bermanfaat dan juga melekat.

*Mendapat kartu sederhana dengan goresan yang luar biasa dari Panitia Pameran Kelas Inspirasi Jakarta dan Indonesia Mengajar :

"Thank you for being the light of the children's dreams"

Dan pada akhirnya aku belajar, bahwa sesungguhnya kami telah saling memberi terang.

(dnu, ditulis sambil menikmati indahnya sakit gigi, 18 November 2015, 20.57 WIB)


Cinta Dalam Diam

Aku mencintaimu dalam diam, sampai kapanpun.
Aku akan tetap menyayangimu, walau dalam diam.
Aku selalu merindumu, namun hanya diam.

Aku senantiasa menyelipkan namamu dalam setiap doaku, dalam keheningan.
Aku berserah pada semesta semoga kita kembali dipertemukan, walau serahku hanya dalam diam.

Biar debu yang mengantarkan,
Biar angin yang menyampaikan,
Dan biar taburan bintang yang mengisahkan,

Semua rasa yang selama ini hanya ku simpan diam-diam, ku jaga dalam diam.

(dnu, ditulis sambil beres-beres abis training, 18 November 2015, 16.20 WIB)


Selamat Ulang Tahun Ke 86 Mickey Mouse !!!!

Tikus paling populer di seluruh dunia, Mickey Mouse hari ini merayakan ulang tahunnya yang ke-86. Tak terasa, usia tikus ini sudah tua. Jika Mickey adalah manusia, maka pasti ia sudah berubah menjadi kakek tua. Namun, sosok Mickey masih sama seperti dulu: kecil, pendek, dan awet muda pastinya.

Lahir pada 18 November 1928, Mickey dikenal sebagai tikus paling terkenal dari Walt Disney. Meski sudah lanjut usia, namun masih banyak hal yang belum diketahui tentangnya. Dilansir dari ibtimes, yuk kenal lebih dekat kekasih si Minnie Mouse ini.

Dimulai pada 1928, sebagai film animasi hitam putih. Film ini berjudul Steamboat Willie. Maka 18 November 1928 pun ditetapkan sebagai tanggal lahirnya. Sosoknya yang lucu dan imut menjadi sosok familiar di studio Walt Disney.

Sampai saat ini, binatang pengerat yang ikonik dengan sarung tangan putih dan celana pendek merah ini sudah membintangi ribuan film kartun Disney sampai saat ini.

Berat Badan Mickey
Mickey Mouse diperkirakan memiliki tinggi badan dua kaki dan tiga inci atau sekitar 69 cm. Berat badannya diperkirakan hanya sekitar 10 kg.

Simbol Walt Disney
Selama 86 tahun, karakter tikus fiksi ini menjadi simbol ikonik dari The Walt Disney Company. Karakter sahabat Donald bebek ini ternyata juga mencerminkan karakter dari Walt Disney sendiri.
Istri Walt Disney, Lilian Disney sempat mengatakan bahwa Walt dan Mickey tumbuh bersama dan menjadi cermin kepribadian satu sama lainnya.

Hollywood Walk of Fame
Pada 18 November 1978, di ulang tahunnya yang ke-50, Mickey mendapatkan penghargaan lagi. Ia dinobatkan sebagai salah satu "artis" populer di Hollywood Walk of Fame. Ia menjadi kartun karakter pertama yang diabadikan di tempat ini.

Tikus yang Selalu Bermasalah
Mickey Mouse tak hanya dikenal lewat celana pendek merah, sarung tangan putih, dan kedua telinga bulatnya. Namun tikus ini rupanya juga terkenal karena selalu terlibat masalah karena kenakalannya. Hanya saja, semuanya berakhir dengan kelucuan yang mengundang gelak tawa anak-anak yang menontonnya.

Menyenangkan dan Penuh Petualangan
Dalam beberapa film pendeknya, Mickey sering memilih petualangan dan kehidupan yang menyenangkan dibanding bekerja. Ini adalah hal yang tidak disukai oleh kekasihnya, Minnie.
Petualangan dan kehidupan menyenangkan banyak dialami Mickey bersama dua sahabat karibnya, Donald dan Goofy. Meskipun mereka sering kali mujur, namun petualangan mereka sering berakhir dengan kegagalan.

KalimatTerkenal Mickey Mouse
Sama seperti tokoh terkenal lainnya, Mickey yang memiliki anjing peliharaan, Pluto juga dikenal karena kalimat-kalimat ikoniknya.

Beberapa kalimatnya yang terkenal antara lain:
1. To laugh at yourself is to love yourself (Menertawakan diri sendiri adalah cara untuk mencintai diri sendiri).

2. Live every moment as not to regret what you are about to do. (Nikmati setiap saat yang kamu alami saat ini sehingga tak ada penyesalan tentang apa yang harus dilakukan).

3. Arithmetic is being able to count up to twenty without taking off your shoes. (Aritmatika mudah dilakukan sampai hitungan ke-20 dengan jemari tangan, tanpa perlu jemari kaki).

4. Don't stress over anything you can't change (Jangan stres karena ada hal yang tidak bisa diubah).

(dnu, disarikan dari cnn indonesia, 18 November 2015, 13.02 WIB)


Di sini tidak boleh ada air mata, karena kita bahagia...

Sebaris kalimat yang mengalir saat sharing volunteer Indonesia Mengajar - Kelas Inspirasi berlangsung (14/11). Hal yang sama-sama kami rasakan adalah saat perpisahan dengan adik-adik terkasih yang kami inspirasi selama satu hari, dimana rasa haru mulai menghantui.

Air mata tak bisa ditahan, tapi sungguh harus ditahan. Karena perpisahan ini bukan arti yang sebenarnya. Suatu saat, semoga Tuhan kembali mempertemukan.

Tangan saling menggenggam erat, mata saling menatap, saling membisikkan sebaris kalimat "Kita memang berpisah, tapi di sini tidak boleh ada air mata, karena kita bahagia...."

*seketika air mata berjatuhan setelah semuanya balik badan.

(dnu, ditulis pagi-pagi di pinggir kali, 18 November 2015, 07.10 WIB)


Berbagi Pengalaman Di Pameran Kelas Inspirasi Jakarta

Jumat - Minggu (13-15/11) diselenggarakan sebuah acara yang bertajuk "Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 4", yang mengambil tempat di Mall Fx Sudirman, Jakarta.

Kegiatan yang digelar selama tiga hari ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada khalayak ramai tentang Kelas Inspirasi yang merupakan salah satu gerakan dari Indonesia Mengajar. Selain itu dimaksudkan juga untuk memperlihatkan dokumentasi-dokumentasi kegiatan Kelas Inspirasi di berbagai daerah.

Setelah masyarakat mengetahui apa itu Kelas Inspirasi maka diharapkan akan lebih banyak lagi pribadi-pribadi terpanggil yang bisa bergabung dan memberikan aksi nyata bagi kemajuan pendidikan anak Indonesia melalui langkah yang paling sederhana yakni menginspirasi anak Sekolah Dasar tentang sebuah cita-cita.

Dalam pergelaran ini saya berkesempatan menjadi salah satu relawan inspirator yang diminta untuk berbagi cerita tentang pengalaman menginspirasi di beberapa daerah di luar Jakarta. Kesempatan itu terjadi pada Sabtu (14/11) Pk. 17.00 - 18.00 WIB).

Bersama relawan lainnya yakni seorang Diplomat; Wisber, Pengajar Muda - Indonesia Mengajar yang baru saja selesai masa tugas mengajarnya di Pulau Rote; Virly dan juga aktris yang aktif dalam kegiatan Kelas Inspirasi; Dinda Kanya Dewi, kami berbagi cerita dan pengalaman tentang kisah kasih sebagai volunteer pendidikan yang pernah kami lakukan.

Banyak pertanyaan yang datang dari audience sore itu, diantaranya yang paling menarik adalah "hal apa saja yang perlu disiapkan untuk pergi menginspirasi ke suatu daerah dimana pasti banyak perbedaan yang terjadi di sana, mulai dari bahasa hingga kebudayaan?"

Jawabannya singkat "Saya hanya menyiapkan diri saya seutuhnya, lalu pergi dengan membawa segenap cinta dari Jakarta, dan setibanya di sana perbedaan-perbedaan itulah yang justru mampu mendekatkan diantara kita (inspirator dengan anak-anak yang diinspirasi)"

Tidak lupa dalam kesempatan kali ini disediakan buku Berbagi Cinta Di 4 Kota dan dibagikan gratis kepada audience yang memberikan pertanyaan sepanjang acara.

Berbagi pengalaman dan mengajak siapa saja untuk turut ambil bagian dalam memajukan pendidikan anak bangsa memang tidak mudah. Banyak pertimbangan bagi setiap individu yang tentu tidak bisa disamakan dengan individu lainnya.

Mungkin seseorang bisa dengan mudah turun tangan dan memberikan aksi nyata, namun bagi yang lainnya belum tentu mereka memiliki kesempatan dan kemudahan yang sama.

Untuk itu Pameran Kelas Inspirasi ini ada dan mengundang beberapa inspirator didalamnya untuk bercerita dan memberikan gambaran hal-hal apa saja yang bisa kita lakukan untuk bangsa dan negara.
Saya bersama tiga narasumber lainnya di sore itu telah bercerita tentang pengalaman yang kami punya. Semoga lebih banyak lagi yang tergerak dan menyadari bahwa kita turut bertanggungjawab atas keberlangsungan pendidikan adik-adik kita.

Sore itu saya duduk di sana dengan penuh cinta. Ya, ini cinta, bukan yang lainnya.

(dnu, ditulis sambil sarapan pagi, 15 November 2015, 06.35 WIB)

Happy reader, happy writer ^^


Tahukah Kamu?

Tahukah kamu kalau;
Orang yang kelihatan begitu tegar hatinya adalah justru yang paling rapuh dan lemah?

Tahukah kamu kalau;
Orang yang menghabiskan waktunya untuk menolong orang lain adalah justru yang sangat mendambakan bahu untuk bersandar dan menangis?

Tahukah kamu kalau;
Kita menolong orang lain maka pertolongan itu akan kembali kepada kita dua kali lipat?

Tahukah kamu kalau;
Kita menyampaikan sesuatu kepada seseorang secara lisan akan lebih bernilai dibandingkan dengan menyampaikannya dalam bentuk tulisan?

Dan tahukah kamu bahwa Tuhan tidak menciptakan gembok tanpa kuncinya? Begitu juga bahwa Tuhan tidak mengujimu dengan suatu permasalahan tanpa menyelipkan kesabaran dan menyiapkan jalan keluar.

Bersabarlah dan tetaplah menebar kebaikan smile emoticon

(dnu, ditulis sambil mengikuti seminar the dynamics of mfcg industry towards aec 2015, 11 November 2015, 20.09 WIB)

Monday, November 16, 2015

Ingat Pak Harto, Ingat Seikat Padi


Sosok yang satu ini memang "ngangeni" alias bikin kangen. Terlepas dari beberapa dugaan kasus kenegaraan yang belum tuntas hingga beliau tiada, dan kini pro kontranya tentang pemberian gelar pahlawan bagi beliau, dikatakan atau tidak tetap saja banyak yang rindu senyumnya.

Presiden Republik Indonesia ke 2 ini memang kebapakan sekali. Senyumnya yang ramah, anggukan kepalanya dan lambaian lembut tangannya terus melekat diingatan orang-orang yang hidup di zamannya.

Salah satunya saya. Entah mengapa jika melihat gambar beliau saya teringat betul akan senyum sumringahnya di tengah sawah, mengenakan caping Pak Tani, sambil mengangkat seikat padi di tangannya. Di zamannya foto ini malambangkan kesejahteraan rakyat Indonesia dan juga para petani, yang hasil buminya melimpah dan bermanfaat untuk orang banyak.

Selain itu teringat pula saat bagaimana Pak Harto memegang seekor ikan dengan kedua tangannya, atau beberapa ekor ikan dengan jala di tangan kokohnya. Hal ini juga menggambarkan betapa perikanan Indonesia bermutu baik dan mampu menghidupi rakyat di negeri ini.

Jelas zaman dahulu kala hal ini tak terkesan sebagai pencitraan. Bagaimana dengan saat ini? Sedikit saja para petinggi negeri ini berpose dihadapan kamera dengan aktifitas rakyat sipil, apa yang akan terjadi? Tudingan pencitraan akan segera datang tanpa diundang.

Pak Harto, sang Bapak Pembangunan Indonesia, suasana kala itu memang amat terasa perbedaannya dengan saat ini. Saya hanya ingin membahasnya dari sisi kesejahteraan pangan. Bagaimana Pak Harto bisa menyejahterakan para petani, hasil bumi yang melimpah, sapi tidak impor, beras hasil panen dalam negeri, cabai bawang hasil ladang sendiri dan masih banyak lagi urusan perut yang terasa baiknya saat masa kepemimpinan beliau.

Teringat juga bagaimana ramainya suasana tempat wisata Taman Mini Indonesia Indah saat peringatan Hari Anak Nasional, dimana Pak Harto dan Ibu Tien hadir disana untuk sebuah acara sambil menyapa dan bercengkrama dengan anak-anak Indonesia.

Tahun ini? Tahun lalu? Euforianya tidak terasa.

Entah kenapa saat ini sering kali masyarakat dibuat risau akibat panganan yang membingungkan. Tiba-tiba ada apel yang bisa membawa penyakit, beras yang terbuat dari plastik, sapi impor dari luar negeri, petani cabai kacau balau karena hasil panennya terus merugi sehingga para ibu rumah tangga harus membelinya dengan harga tinggi. Belum lagi masalah minyak goreng yang disinyalir mengandung zat-zat tertentu sehingga terlarang untuk dikonsumsi.

Rasanya riweuh sekali!

Jika dikaitkan dengan guyonan "Piye kabare? Enak zamanku tho?" apakah ada benarnya? Entahlah. Bisa jadi. Penilaian subyektif akan kuat bermain dalam menjawab pertanyaan ini.

Satu hal yang pasti, saat melihat patung Pak Harto yang begitu cepat melintas dibenak saya adalah kesejahteraan pangan yang begitu menyenangkan kala masa kepemimpinan beliau.

(dnu, ditulis sambil tiduran santai kaya di pantai, 15 November 2015, 19.58 WIB)

Friday, November 13, 2015

Artikel Pilihan

Ketika hasil permainan jari jemari menjadi pilihan khalayak ramai.... :p
Alhamdulillah :)

Diskusi Pelanggaran HAM 65 di Kompas TV

Kamis (12/11) saya kembali bergabung dengan Kompas TV untuk menjadi salah satu hangouter teleconference dalam program Kompasiana TV.

Topik yang dibahas malam lalu cukup berat untuk saya, yakni kami berdiskusi tentang kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi tahun 1965 di Indonesia, namun saat ini tengah dilakukan peradilan di Den Haag, Belanda.

Agak berat, bahkan sangat-sangat berat. Dunia hukum dan politik semacam ini bukan makanan saya sehari-hari, namun kali ini saya coba masuk dan menceburkan diri ke dalamnya.

Hadir sebagai narasumber pada kesempatan tersebut antara lain perwakilan sejarawan Anhar Gonggong, LBHI Alvon, komentator Sys NS, serta pengamat hukum Internasional.

Acara yang ditayangkan secara live pada Kamis (12/11) Pk. 20.00 s.d. 21.00 WIB ini juga menampilkan sesi teleconference dari Belanda oleh perwakilan WNI yang menyampaikan pendapatnya terkait soal peradilan Den Haag.

Dalam diskusi tersebut dibahas mengapa korban pelanggaran HAM 65 yang terjadi di Indonesia tetapi justru meminta bantuan ke peradilan internasional di Den Haag, Belanda. Hal ini disinyalir karena korban tersebut merasa pengaduannya tidak ditanggapi oleh pemerintah Indonesia.

Selain itu dibahas pula apakah negara perlu meminta maaf kepada keluarga korban seperti yang mereka harapkan. Dan saat diberi kesempatan menyampaikan komentar saya hanya berujar sederhana, apakah jika negara sudah meminta maaf kepada keluarga korban maka otomatis permasalahan selesai? Apakah korban menerima permohonan maaf tersebut?

Menurut saya ada hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini yaitu negara perlu memperhatikan hak dan kewajiban yang harus diterima warga negaranya, terlebih kepada yang merasa menerima ketidakadilan ataupun pelanggaran HAM. Tidak dengan mengabaikannya begitu saja tanpa memerdulikan sedikitpun apa yang dikeluhkan warganya.

Durasi tayang selama 1 jam tersebut ternyata tidak cukup mampu menarik kesimpulan apa yang sebaiknya negara lakukan menghadapi hal ini. Masing-masing pengamat memiliki pendapatnya sendiri-sendiri yang bisa saja hal ini menjadi rekomendasi bagi pemerintah Indonesia.

Membahas perihal hukum dan politik memang tidak mudah, banyak hal yang harus dipertimbangkan agar tetap menjunjung tinggi hukum di Indonesia dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Satu hal yang pasti apapun topiknya, join Kompas TV, Seru!

(dnu, ditulis sambil apa hayoooo... haha..., 13 November 2015, 11.30 WIB)

 
 

Pameran Kelas Inspirasi Jakarta - 2015

Ada saya di 14 November 2015, Pk. 17.00 - 18.00 WIB

See you there... haha.... ^^

Sunday, November 8, 2015

Karena Berbagi Tak Akan Rugi

Dongeng for Charity
"Karena Berbagi Tak Akan Rugi"

Minggu (8/11) saya kembali bergabung dengan komunitas Gerakan Berbagi, dimana kali ini saya kembali berbagi kisah kasih melalui dongeng anak atau cerita tentang budi pekerti.

Dengan mengambil tempat di RSUP Fatmawati, Jakarta, dan masih dalam semangat Sumpah Pemuda, kegiatan berbagi ini sukses diselenggarakan.

Masih ditujukan kepada adik-adik pasien yang sedang menjalani rawat inap disana, kami tak hanya berbagi cerita saja. Melainkan sebelum dongeng dimulai, para pegiat dari Komunitas Berbagi berkeliling ke beberapa kamar pasien anak untuk membagikan goddy bags dan beberapa makanan kecil.

Bertandang ke kamar perawatan, menyapa adik-adik pasien sambil memberikan semangat. Bahwa kesehatan adalah nikmat pemberian Tuhan, begitu pula dengan sakit yang juga merupakan pemberian Tuhan yang patut disyukuri.

Membisikkan seuntai kata dan doa yang tanpa sadar telah membuat saya bersedih tak karuan.

"...tetap semangat, apapun sakitmu semua pasti ada hikmah dan obatnya. Jalani semua syarat pengobatan yang harus kau tempuh, karena Tuhan amat melihat upayamu untuk menuju kesembuhan. Rambut rontok tidak masalah, segera setelah kau sehat semuanya akan kembali seperti sedia kala..."

Bisik saya pada setiap pasien cancer yang saya temui.

(dnu, ditulis sambil makan rujak bebeg yang begitu indah rasa pedesnya, 8 November 2015, 13.10 WIB)

Main Gadget ; Anak Anteng, Orang Tua Jangan Seneng

Saya lebih senang menyuruh kedua anak saya mengutak atik permainan motorik kasar atau bermain sepeda, walaupun dengan sepedaan itu mereka bisa tiba-tiba merengek karena terjatuh atau menabrak pot bunga. Ketimbang mereka anteng sunyi senyap tanpa suara sambil memegang gadget masa kini.

Anak-anak yang sejak kecil sudah terbiasa mengoperasikan gadget umum disebut dengan generasi X (Gen X). Para orang tua jangan lantas berbangga hati jika anak balitanya kini masuk dalam golongan Gen X. Karena apa? Alasannya sederhana, mereka akan terbentuk menjadi anak yang hanya asyik dengan dunianya sendiri.

Gen X adalah anak-anak masa kini yang sudah amat piawai bermain gadget. Bahkan tidak sedikit orang tua yang kalah canggih dengan anaknya saat menggunakan gadget. Hal ini disebabkan para orang tua memang sengaja menyediakan gadget tersebut untuk anaknya, yang awalnya ditujukan untuk berkomunikasi, namun berkembang ke arah internet dan games.

Kebiasaan seperti ini awalnya umum dilakukan oleh orang tua yang dua-duanya bekerja. Sehingga untuk tetap menjaga komunikasi dengan sang buah hati maka disediakanlah gadget dengan teknologi yang cukup mumpuni. Minimal ada kamera depannya sekedar untuk bisa ber-video call.

Namun apalah daya, sang anak yang sedang dalam masa keemasan tersebut memang sedang senang-senangnya mengeksplorasi hal-hal baru. Termasuk gadget, benda menarik yang setiap hari ada di dekatnya.

Setelah anak menemukan keasyikan tersendiri dari gadget tersebut, sebut saja asyik main suatu game, maka benda tersebut akan merebut seluruh perhatiannya dan menarik dunia anak tersebut agar masuk ke dalam dunia gadget.

Seiring sejalan, para orang tua yang sudah lelah bekerja memang kadang kala merasa aman dan nyaman saat anak-anak mereka tak banyak pinta dan suara. Hal ini disebabkan anak-anak tengah sibuk dengan dunianya masing-masing, yakni dunia gadgetnya sendiri-sendiri.

Jika demikian adanya, bukan tidak mungkin antar kakak adik yang duduk berdampingan tapi tak terdengar sepatah katapun untuk bercerita. Karena apa? Dunianya kini telah berbeda.

Sepakat dengan saya bahwa gadget telah meniadakan relasi nyata??

Sadarkah ayah ibu bahwa anak usia dini yang telah asyik dalam dunia maya sesungguhnya tengah masuk dalam perangkap yang amat berbahaya??

Mereka sungguh kehilangan pelatihan motorik kasarnya, karena yang dilakukannya berjam-jam hanya duduk dan menatap layar kaca.

Tubuhnya tidak bergerak! Pandangan mata terus kearah yang sama. Bagaimana dengan kesehatan matanya? Pernah terfikirkan kah? Ini bukan hal sepele yang bisa diabaikan begitu saja.

Ketika kebiasaan untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya di sekitar rumah telah tiada akibat direnggut oleh pesona seonggok gadget, ancaman berikutnya ialah kesehatan anak itu sendiri.

Anak menjadi tidak kenal apalagi akrab dengan tetangga sekampung! Jangankan sekampung tetangga seusianya yang ada di sebelah rumahpun luput dari jangkauan. Tak lagi ada budaya main sepeda bersama. Apalagi beribadah bersama yang beberapa bacaan dalam kitab suci kini sudah beralih ke era digital, sehingga bagi sebagian orang tua merasa tak perlu lagi memberangkatkan anaknya mengaji, karena sudah bisa belajar di rumah dengan gadgetnya sendiri. Glek! Era yang edan!

Masih banyak orang tua yang nampaknya merasa menemukan senjata baru untuk membuat balitanya anteng dengan cara disetelkan sebuah video melalui gadget. Lalu sang orang tua pun meneruskan kegiatan ini hingga terbentuk menjadi sebuah kebiasaan. Hingga setiap hari sang anak yang sedang menangis bisa tiba-tiba diam jika diberikan gadget atau ditontonkan sebuah video melalui gadget.

Pembatasan atas penggunaan gadget bagi anak yang masih dalam masa pertumbuhan hendaknya perlu segera dilakukan oleh para ayah bunda masa kini. Jangan malah merasa para orang tua menjadi punya "me time" dengan menggelontorkan gadget dengan teknologi tercanggih untuk buah hatinya, agar anak-anak tersebut larut dalam buaian teknologi. Lalu orang tuanya menjadi tenang aman nyaman karena istirahat ataupun aktifitasnya tak ada yang mengganggu.

Kalau sudah begini siapa yang edan? Zaman? Gadget? Atau malah orang tua sendiri?
Marilah kita mengoreksi diri masing-masing.

Entah efek negatif apa saja yang akan dialami anak-anak usia dini yang hari-harinya begitu akrab dengan gadget.

Sudah merasa asyik dengan dunianya sendiri sehingga menjadi tak peduli dengan lingkungan sekitar? Bisa jadi.
Motorik kasarnya tidak terlatih? Tentu saja.
Tidak mudah bersosialisasi dengan teman sebayanya? Mungkin saja.
Kesehatan mata terancam? Bukan tidak mungkin.
Mudah terserang sakit leher karena melihat gadget terus? Bisa saja.

Kembangkan lagi kekhawatiran para orang tua, ya kalau hanya mengutak-atik games saja, kalau sudah coba-coba berselancar di internet?? Orang tuanya lupa menonaktifkan jaringan internetnya?? Apakabar dunia?!!!

Satu lagi, kalau games yang dimainkan hanya seputar peperangan, balapan atau aktifitas perkebunan mungkin masih oke. Bagaimana kalau merambah ke jenis games lainnya yang hanya boleh dimainkan orang dewasa??

Waspadalah!

(dnu, ditulis sambil makan sate ayam haha..., 7 November 2015, 19.39)


Happy reader, happy writer ^^

Kenapa saya kecil sekali diantara dua laki-laki ini.... huhu.... hahaha....


Seandainya Bisa Berpindah Suku

Terlahir menjadi seorang Betawinese tidak membuat saya bersedih. Begitu juga terlahir dari rahim seorang Javanese jelas tidak membuat saya tak bahagia. Tapi yang membuat saya bingung mengapa saya begitu ingin menjadi bagian dari Urang Awak, alias urang minang, hahaha...

Cinta mati sama Bukittingi, semakin galau kala menatap danau maninjau, tak percaya dengan kenyataan akhirnya bisa berada di kelok sembilan. Ah terlalu banyak hal yang membuat saya susah lupa dan semakin jatuh cinta.

Berhubung sangat tidak mungkin untuk bisa berpindah suku, kalo boleh saya meminta, jangan panggil saya Sist... panggil saya Uni pliisss... hahaha....

(dnu, ditulis lagi iseng bangeeeettt nungguin jemputan yang tak kunjung kelihataaann zzzzz..., 6 November 2015, 18.15 WIB)


Happy reader, happy writer ^^


Tak Pernah Berhenti Mencintaimu

Seperti angin yang berhenti bertiup, namun sebenarnya ia tetap memberi kesejukan.
Seperti bintang yang hilang dikegelapan malam, namun sebenarnya ia tetap memancarkan cahaya keindahan.

Seperti itulah diriku yang seakan berhenti mencintaimu, namun sebenarnya aku hanya berhenti menunjukkan.

(dnu, ditulis sambil nyari parkiran di indomaret, 5 November 2015, 19.56 WIB)


Perseteruan Perempuan Masa Kini

Rasanya agak kurang elok jika kita kerap berbahagia sambil mencibir pilihan hidup orang lain. Misalnya para wanita yang tak habis-habisnya berusaha mengacungkan jempol terhadap kondisi kehidupannya.

Banyak wanita bekerja yang kerap bangga sebangga-bangganya dengan label "karyawati"-nya yang bisa menghasilkan uang sendiri dan terkesan tak lagi merepotkan suami. Punya banyak teman. Wawasan dunia perkantoran meluas, sampai pergaulan ala-ala cewek eksekutif pun muncul dari alam bawah sadarnya.
Pertanyannya; yakin bener-bener tidak pernah merepotkan suami??? Sepertinya belum pernah ditemukan sesosok wanita yang asli demikian adanya.

Sisi lainnya, tidak sedikit wanita yang full time mengurus keluarga senantiasa menunjukkan dirinya bahwa merekalah wanita seutuhnya yang paling mulia. Hidup dengan menyerahkan seluruh lahir batinnya hanya untuk suami dan anak-anak tercinta.
Pertanyannya; siapa yang bisa memutuskan seseorang adalah wanita yang paling mulia? Hanya Allah SWT, bukan diri sendiri.

Pihak lainnya; masih banyak wanita yang mengagung-agungkan dirinya sebagai super woman yang mampu bekerja dari rumah sambil mengurus keluarga. Kerap mencibir pekerja kantoran yang menghabiskan banyak waktu di luar rumah, meninggalkan anak, dll. Sementara dia merasa uang bisa didapat dari hasil kerjanya sendiri namun tanpa perlu meninggalkan keluarga. Dan merasa inilah kondisi ideal yang sesungguhnya.

Dear, hidup itu pilihan. Kenapa dia bekerja, kenapa dia memilih di rumah, kenapa dia memilih bekerja dari rumah. Semua pasti ada alasannya yang mungkin saja "ah gitu aja dijadiin alasan...". Apapun itu, semua memiliki alasan sendiri-sendiri. Karena apa? Kisah hidup orang beda-beda toh? Rejeki juga beda-beda kan? Keputusan yang ada didalam setiap benak kepala manusia adalah hak manusia itu sendiri. Dan rasanya tidak ada yang berhak menghakimi pemikiran orang lain.

Banyak juga ditemukan pernyataan-pernyataan yang mungkin sebagai lingkaran bola salju. Semakin dipikir maka egoisme para wanita akan semakin besar.

Cuma mau cari duit tambahan kan? Bisnis dari rumah kan bisa!!
Girls, buat sebagian orang maybe it's not just about the money. Bukan sekedar uang. Mungkin tentang masalah aktualisasi diri. Bisa saja kan? Lalu, sah-sah saja kan?

Saya sih memilih jadi full time mother semata-mata untuk ibadah, mengabdikan diri sepenuhnya buat keluarga.
Darling, yang kerja di luar ataupun berbisnis di dalam rumah itu juga ibadah lho. Sama-sama mengharap ridho suami dan Allah SWT tentunya. Pasti ada hal-hal yang menjadi alasan terkuatnya sehingga bentuk ibadah dalam bekerjanya harus dilakukan di luar rumah.

Bisnis saya bisa dikerjakan kapan saja, dimana saja, tak perlu berlelah-lelah setiap hari mengejar bis, bermacet-macet ria, dan lain-lain.
Wahai calon bidadari syurga, beda pekerjaan maka beda gaya melakukannya bukan? Dan kamu memiliki rejeki untuk bisa bekerja di rumah sambil mendekap bantal dan tidur-tiduran.
Maka sebaliknya, mereka juga memiliki rejekinya sendiri yakni bekerja di luar rumah. Memang rejekinya begitu. Percaya rejeki sudah ada yang mengatur kan? Bisa diakui dong seperti itulah rejekinya para perempuan pencari nafkah di luar rumah.

Tidak elok kalau masih saja para wanita beradu keunggulan akan profesinya masing-masing. Tak perlu mencibir orang lain karena kemudahan yang kamu dapati. Bagi yang mencari uang bisa hanya dari rumah pakai baju seadanya tanpa perlu berseragam kerja, syukurilah! Bukan malah mencibir yang harus bangun pagi buta dan pulang malam buta dari kantor.

Para wanita kantoranpun rasanya tidak perlu merasa anggun berlebihan karena telah mampu membuktikan bahwa bisa mencari uang sendiri sambil menyandang gelar bergengsi wanita kantoran masa kini. Sibuk bersolek. Update status meeting sana sini, sibuk kerjaan tak tertangani dan hampir modar karena harus menangani klien yang berganti-ganti.

Perlu diingat, semuanya itu mulia. Semuanya bahagia. Semuanya istimewa. Dan semuanya adalah wanita seutuhnya yang mempesona.

So, mulai dari sekarang nikmatilah apa yang menjadi profesi dan rejekimu. Tanpa perlu melecehkan profesi lainnya.

Menanjaklah tanpa harus menginjak yang lain.
Bergerak majulah tanpa harus menyikut yang lain.
Dan bersinarlah tanpa perlu meredupkan yang lain.

(dnu, ditulis sambil nemenin anak tidur, 4 November 2015, 20.45 WIB)


Bagian Tersulit Dalam Menulis

Bagian tersulit dalam menulis adalah disangka lagi curhat :p

Tak sedikit pesan yang masuk via BBM, inbox FB, WA atau yang lainnya, dan menanyakan "Hei... what happen with you?" atau "dew... are you okay?" atau "ejjiiyyee... lagi seneng nih kayanya..." atau "saya ngga yakin suamimu kaya gitu!". Ahahaha... suami tercintapun turut kena sasaran akibat tulisan-tulisan saya :p


Ndak apo... (bener ga tuh bahasa minangnya begituh? ahahaha....) setiap orang berhak berfikir dengan otaknya masing-masing toh? Dan tak seorang pun bisa mengendalikan persepsi dan imajinasi orang lain bukan?

Maka dari itulah, apapun perihalnya, kalau bisa nih selalu diingat bahwa setiap orang berhak hidup dengan gayanya masing-masing.

Gaya kepo? Sah-sah aja.
Gaya cuek? Boleh-boleh aja.
Gaya menguntit bak pengintai saras 008? Monggo aja.
Gaya sotoy? Monggo kersooo...

Sekarang apa yang harus kita lakukan kalau penilaian orang lain tak sesuai dengan yang sebenarnya terjadi dalam diri kita?

Stay cool. Keep calm. Do what your heart say. Whatever. Go ahead.

Atau dengan kata lain;
Biarkan saja orang berkata apa, yang penting aku padamu :p
Hahaha....

Maap spam pake tulisan tak penting haha!

(dnu, ditulis sambil makan kueeee enaaakkk... , 3 November 2015, 16.25 WIB)

Happy reader, happy writer ^^








Tebak-tebak Tak Berhadiah

Sudah pada tahukah kalau pemerintan Indonesia baru saja membentuk PANSUS untuk penanganan kasus kabut asap? Siapa yang membentuknya?
Jawaban : DPR

Dalam menjalankan tugasnya, PANSUS ini perlu untuk studi banding. Kemana studi bandingnya??
Jawaban : Brazil dan Amerika!

Apa tujuan dari studi banding tersebut??
Jawaban : DPR merasa perlu untuk mempelajari lebih dalam tentang "tata cara memadamkan api"!!!

Sejauh itu kah perlu studi bandingnya???
Jawaban : Entahlah....

Plesir apa studi banding???
Jawaban : Entahlah...

Segitu perlunyakah membentuk PANSUS ketimbang turun tangan langsung menciduk pelaku pembakaran hutan tersebut??
Jawaban : Entahlah...

Sang pelaku pasti ketahuan dong siapa? Perusahaan apa?
Jawaban : Pasti. Pemerintah daerahnya pasti tahu. Kepala kelurahannya juga pasti tahu...

Lalu kenapa nggak segera diciduk?
Jawaban : Entahlah....

Pemerintah tahu nggak ya kalau studi banding itu biayanya mahal bingitt?
Jawaban : Pasti tahu

Bukannya lebih elok itu biaya dikirim atau digunakan untuk penanganan korban kabut asap aja ya?
Jawaban : Entahlah... mungkin pemerintah sudah lelah.... dan lupa....

Pemerintah tahu kan kalau saudara-saudara kita yang menjadi korban kabut asap sedang meresikokan hidupnya???
Jawaban : Pasti tahu lah....

Kira-kira yang akan studi banding ke Brazil dan Amerika memikirkan adik-adik bayi yang kesulitan bernafas karena kabut asap ngga ya??
Jawaban : Entahlah.... mungkin mereka hanya asyik dengan hidupnya....

Kebayang dong yaa... mencari tahu cara memadamkan api aja harus jauuuuhhh sekali studi bandingnya dan yang pasti memerlukan biaya yang mahaaaallll sekali..... Apakabar sama para korban kabut asap yang tidurnya harus pakai masker??? Perlu oksigen tambahan..!!!

Entahlaahhh.....

Mari lakukan apa yang bisa kita lakukan, hal yang paling sederhana sekalipun untuk bisa meringankan beban saudara-saudara kita di Sumatera, Kalimantan dan daerah terdampak lainnya.

(dnu, ditulis sambil makan sendirian di siang bolong dengan menu sate kambing - roti bakar dan es cincau hijau, 30 Oktober 2015, 12.41 WIB)

Bersinarlah dengan caramu sendiri ^^

Ingin menjadi manusia yang luar biasa? Tenang saja, tidak perlu iri dengan orang lain dan tidak perlu sama dengan yang lain.

Bersinarlah dengan caramu sendiri ^^

-DNU-