Monday, November 16, 2015

Ingat Pak Harto, Ingat Seikat Padi


Sosok yang satu ini memang "ngangeni" alias bikin kangen. Terlepas dari beberapa dugaan kasus kenegaraan yang belum tuntas hingga beliau tiada, dan kini pro kontranya tentang pemberian gelar pahlawan bagi beliau, dikatakan atau tidak tetap saja banyak yang rindu senyumnya.

Presiden Republik Indonesia ke 2 ini memang kebapakan sekali. Senyumnya yang ramah, anggukan kepalanya dan lambaian lembut tangannya terus melekat diingatan orang-orang yang hidup di zamannya.

Salah satunya saya. Entah mengapa jika melihat gambar beliau saya teringat betul akan senyum sumringahnya di tengah sawah, mengenakan caping Pak Tani, sambil mengangkat seikat padi di tangannya. Di zamannya foto ini malambangkan kesejahteraan rakyat Indonesia dan juga para petani, yang hasil buminya melimpah dan bermanfaat untuk orang banyak.

Selain itu teringat pula saat bagaimana Pak Harto memegang seekor ikan dengan kedua tangannya, atau beberapa ekor ikan dengan jala di tangan kokohnya. Hal ini juga menggambarkan betapa perikanan Indonesia bermutu baik dan mampu menghidupi rakyat di negeri ini.

Jelas zaman dahulu kala hal ini tak terkesan sebagai pencitraan. Bagaimana dengan saat ini? Sedikit saja para petinggi negeri ini berpose dihadapan kamera dengan aktifitas rakyat sipil, apa yang akan terjadi? Tudingan pencitraan akan segera datang tanpa diundang.

Pak Harto, sang Bapak Pembangunan Indonesia, suasana kala itu memang amat terasa perbedaannya dengan saat ini. Saya hanya ingin membahasnya dari sisi kesejahteraan pangan. Bagaimana Pak Harto bisa menyejahterakan para petani, hasil bumi yang melimpah, sapi tidak impor, beras hasil panen dalam negeri, cabai bawang hasil ladang sendiri dan masih banyak lagi urusan perut yang terasa baiknya saat masa kepemimpinan beliau.

Teringat juga bagaimana ramainya suasana tempat wisata Taman Mini Indonesia Indah saat peringatan Hari Anak Nasional, dimana Pak Harto dan Ibu Tien hadir disana untuk sebuah acara sambil menyapa dan bercengkrama dengan anak-anak Indonesia.

Tahun ini? Tahun lalu? Euforianya tidak terasa.

Entah kenapa saat ini sering kali masyarakat dibuat risau akibat panganan yang membingungkan. Tiba-tiba ada apel yang bisa membawa penyakit, beras yang terbuat dari plastik, sapi impor dari luar negeri, petani cabai kacau balau karena hasil panennya terus merugi sehingga para ibu rumah tangga harus membelinya dengan harga tinggi. Belum lagi masalah minyak goreng yang disinyalir mengandung zat-zat tertentu sehingga terlarang untuk dikonsumsi.

Rasanya riweuh sekali!

Jika dikaitkan dengan guyonan "Piye kabare? Enak zamanku tho?" apakah ada benarnya? Entahlah. Bisa jadi. Penilaian subyektif akan kuat bermain dalam menjawab pertanyaan ini.

Satu hal yang pasti, saat melihat patung Pak Harto yang begitu cepat melintas dibenak saya adalah kesejahteraan pangan yang begitu menyenangkan kala masa kepemimpinan beliau.

(dnu, ditulis sambil tiduran santai kaya di pantai, 15 November 2015, 19.58 WIB)