Sunday, November 8, 2015

Perseteruan Perempuan Masa Kini

Rasanya agak kurang elok jika kita kerap berbahagia sambil mencibir pilihan hidup orang lain. Misalnya para wanita yang tak habis-habisnya berusaha mengacungkan jempol terhadap kondisi kehidupannya.

Banyak wanita bekerja yang kerap bangga sebangga-bangganya dengan label "karyawati"-nya yang bisa menghasilkan uang sendiri dan terkesan tak lagi merepotkan suami. Punya banyak teman. Wawasan dunia perkantoran meluas, sampai pergaulan ala-ala cewek eksekutif pun muncul dari alam bawah sadarnya.
Pertanyannya; yakin bener-bener tidak pernah merepotkan suami??? Sepertinya belum pernah ditemukan sesosok wanita yang asli demikian adanya.

Sisi lainnya, tidak sedikit wanita yang full time mengurus keluarga senantiasa menunjukkan dirinya bahwa merekalah wanita seutuhnya yang paling mulia. Hidup dengan menyerahkan seluruh lahir batinnya hanya untuk suami dan anak-anak tercinta.
Pertanyannya; siapa yang bisa memutuskan seseorang adalah wanita yang paling mulia? Hanya Allah SWT, bukan diri sendiri.

Pihak lainnya; masih banyak wanita yang mengagung-agungkan dirinya sebagai super woman yang mampu bekerja dari rumah sambil mengurus keluarga. Kerap mencibir pekerja kantoran yang menghabiskan banyak waktu di luar rumah, meninggalkan anak, dll. Sementara dia merasa uang bisa didapat dari hasil kerjanya sendiri namun tanpa perlu meninggalkan keluarga. Dan merasa inilah kondisi ideal yang sesungguhnya.

Dear, hidup itu pilihan. Kenapa dia bekerja, kenapa dia memilih di rumah, kenapa dia memilih bekerja dari rumah. Semua pasti ada alasannya yang mungkin saja "ah gitu aja dijadiin alasan...". Apapun itu, semua memiliki alasan sendiri-sendiri. Karena apa? Kisah hidup orang beda-beda toh? Rejeki juga beda-beda kan? Keputusan yang ada didalam setiap benak kepala manusia adalah hak manusia itu sendiri. Dan rasanya tidak ada yang berhak menghakimi pemikiran orang lain.

Banyak juga ditemukan pernyataan-pernyataan yang mungkin sebagai lingkaran bola salju. Semakin dipikir maka egoisme para wanita akan semakin besar.

Cuma mau cari duit tambahan kan? Bisnis dari rumah kan bisa!!
Girls, buat sebagian orang maybe it's not just about the money. Bukan sekedar uang. Mungkin tentang masalah aktualisasi diri. Bisa saja kan? Lalu, sah-sah saja kan?

Saya sih memilih jadi full time mother semata-mata untuk ibadah, mengabdikan diri sepenuhnya buat keluarga.
Darling, yang kerja di luar ataupun berbisnis di dalam rumah itu juga ibadah lho. Sama-sama mengharap ridho suami dan Allah SWT tentunya. Pasti ada hal-hal yang menjadi alasan terkuatnya sehingga bentuk ibadah dalam bekerjanya harus dilakukan di luar rumah.

Bisnis saya bisa dikerjakan kapan saja, dimana saja, tak perlu berlelah-lelah setiap hari mengejar bis, bermacet-macet ria, dan lain-lain.
Wahai calon bidadari syurga, beda pekerjaan maka beda gaya melakukannya bukan? Dan kamu memiliki rejeki untuk bisa bekerja di rumah sambil mendekap bantal dan tidur-tiduran.
Maka sebaliknya, mereka juga memiliki rejekinya sendiri yakni bekerja di luar rumah. Memang rejekinya begitu. Percaya rejeki sudah ada yang mengatur kan? Bisa diakui dong seperti itulah rejekinya para perempuan pencari nafkah di luar rumah.

Tidak elok kalau masih saja para wanita beradu keunggulan akan profesinya masing-masing. Tak perlu mencibir orang lain karena kemudahan yang kamu dapati. Bagi yang mencari uang bisa hanya dari rumah pakai baju seadanya tanpa perlu berseragam kerja, syukurilah! Bukan malah mencibir yang harus bangun pagi buta dan pulang malam buta dari kantor.

Para wanita kantoranpun rasanya tidak perlu merasa anggun berlebihan karena telah mampu membuktikan bahwa bisa mencari uang sendiri sambil menyandang gelar bergengsi wanita kantoran masa kini. Sibuk bersolek. Update status meeting sana sini, sibuk kerjaan tak tertangani dan hampir modar karena harus menangani klien yang berganti-ganti.

Perlu diingat, semuanya itu mulia. Semuanya bahagia. Semuanya istimewa. Dan semuanya adalah wanita seutuhnya yang mempesona.

So, mulai dari sekarang nikmatilah apa yang menjadi profesi dan rejekimu. Tanpa perlu melecehkan profesi lainnya.

Menanjaklah tanpa harus menginjak yang lain.
Bergerak majulah tanpa harus menyikut yang lain.
Dan bersinarlah tanpa perlu meredupkan yang lain.

(dnu, ditulis sambil nemenin anak tidur, 4 November 2015, 20.45 WIB)