Wednesday, November 25, 2015

Sebentuk Cinta untuk Sang Pelita

Selepas bekerja hari ini (25/11) saya menyempatkan diri berkunjung ke sekolah yang telah saya tinggalkan sejak 14 tahun lalu. Sekolah Menengah Kejuruan 51 Jakarta Timur lebih tepatnya. Tempat saya menuntut ilmu di zaman yang masih lucu dahulu.

Hari ini memang telah menjadi incaran saya sejak lama, terkait untuk melunasi janji dalam hati, bahwa setelah buku pertama lahir maka sekolah ini harus menjadi salah satu lokasi yang saya sambangi.

Mengapa hari ini? Jelas karena hari ini diperingati sebagai Hari Guru, dimana sebagai siswa yang pernah belajar di sana saya ingin memberikan hadiah berupa sebentuk cinta untuk sang pelita.

Pelita itu adalah Bapak/Ibu guru saya yang telah membimbing dan mengajarkan banyak hal saat di bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Atas kala itu.

Dengan memberikan sedikit buku hasil tulisan tangan sendiri yang berjudul "Berbagi Cinta Di 4 Kota", bermaksud agar teman-teman yang masih bersekolah di sana dan juga Bapak/Ibu guru yang ada, dapat menikmati sebuah kisah cerita cinta anak Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri buku tersebut lahir juga berkat didikan Bapak/Ibu guru yang telah mengajarkan budi pekerti, termasuk didalamnya tentang kehidupan sosial. Dimana kini saya aktualisasikan melalui kegiatan berbagi cinta di 4 kota.

Menyumbang sedikit buku untuk perpustakaan sekolah. Bertemu dengan Bapak/Ibu guru yang dulu mendidik saya. Kembali memasuki gedung sekolah yang sudah 14 tahun saya tinggalkan. Kembali mencium tangan para pendidik tercinta. Seketika itu pula saya merasa kembali menjadi murid di sana.

Berkat mereka sang pelita, terbentuklah pribadi saya yang sekarang ini yang selalu ingin belajar untuk menjadi manusia yang lebih berarti. Semakin mengerti bahwa berangkat dari sebuah hobi bisa melahirkan suatu karya yang mampu membuat senyum diri sendiri. Dan bisa mengerti tentang indahnya hidup ini jika selalu diisi dengan hal-hal berbagi yang penuh dengan empati.

Ini adalah hadiah kecil dari saya sebagai mantan anak murid di SMK 51 tempat saya menuntut ilmu dulu. Tepat saya serahkan pada momen hari Guru, dan ternyata mereka pun merasa ini adalah kado yang mengejutkan sekaligus membahagiakan.

Tiba-tiba air mata menetes tanpa bisa dicegah saat mata kami bertemu, saling tatap dan saling mengingat. Antara anak murid dengan Ibu guru yang sekian lama terpisah jarak, ruang dan waktu.

Mencium tangan sambil menangis. Dilanjutkan dengan berpelukan, masih sambil menangis. Melepas pelukan sambil mengusap air mata. Tak kuasa menahan haru, karuan saja adegan berpelukan itu kembali terulang.

Terima kasih pelitaku.
Terima kasih yang sungguh tak terhingga. Terima kasih telah melahirkan saya hingga bisa begini, seperti sekarang ini.

(dnu, ditulis di jalan tol yang macetnye ga ada matinye, 25 November 2015, 19.13 WIB)