Saturday, December 19, 2015

Resolusi Tak Harus Tinggi



Umum terjadi pada diri kebanyakan orang untuk menyusun sebuah target kehidupannya yang baru saat tahun baru dijelang. Ada yang menginginkan kelahiran seorang anak, memiliki rumah atau mobil baru dan lain sebagainya yang tak sedikit target-target tersebut terasa begitu tinggi nan muluk. Target-target tersebut biasa disebut dengan resolusi, yakni sebuah pengharapan hidup yang berlum terjadi di tahun berjalan lalu diharapkan bisa mencapainya agar terjadi di tahun depan.

Kekeliruan yang banyak terjadi adalah penyusunan resolusi tahun depan yang begitu tinggi, bahkan hampir-hampir mustahil bisa digapai. Hanya mengarapkan keajaiban ilahi resolusi tersebut bisa terjadi. Pada hakekatnya resolusi adalah sebuah pengharapan diri yang seyogyanya masuk akal dan mudah dicapai.

Masih masuk akal berarti sesuatu yang masih sangat mungkin untuk dilakukan. Bagaimana bisa seseorang memiliki resolusi “tahun depan saya harus bisa memiliki rumah kontrakan 5 pintu…”, sedangkan saat ini ia belum memiliki pekerjaan tetap yang mampu menghasilkan uang yang cukup untuk membangun sebuah rumah kontrakan.

Hal seperti tersebut diatas yang saya sebut dengan resolusi terlalu tinggi. Hampir tak masuk diakal, dan cukup membingungkan bagaimana cara menggapainya. Mungkin bisa lebih santai jika resolusinya diubah menjadi “tahun depan saya harus memiliki pekerjaan yang tetap…”, sehingga di tahun berikutnya bisa dibuat sebuah resolusi untuk memiliki deretan rumah kontrakan. Yang seperti ini menurut saya lebih masuk akal.

Selanjutnya resolusi sejatinya mudah dilakukan sehingga mudah untuk dicapai. Disini ditekankan resolusi eloknya adalah pengharapan yang cukup sederhana dan tidak memiliki peluang yang besar untuk tidak bisa kita lakukan.

Hal ini terkait dengan sebuah rantai kehidupan dimana setiap keberhasilan selalu memiliki proses pergerakan yang harus dilakukan. Maksudnya adalah, susunlah sebuah resolusi hidup yang sederhana namun memiliki efek yang luar biasa terhadap kehidupan kita.

Misalnya bagi seorang perempuan muslim, mungkin bisa disusun resolusi pertama adalah “tahun depan saya ingin bisa mengenakan hijab syar’i dalam setiap aktifitas saya….”. Lalu yang terjadi pada tahun yang diharapkan, wanita tersebut belum mampu mengenakan hijab syar’i dengan berbagai alasan yang mengkibatkan ia masih buka tutup dalam menunaikan kewajibannya itu. Nah yang seperti ini adalah contoh resolusi yang terlalu tinggi karena tidak sesuai dengan kemampuan diri.

Berkaca pada contoh kasus diatas, mungkin bisa resolusinya diturunkan kadarnya, misalnya berjanji untuk mengenakan hijab dengan baik di tahun depan. Seiring dengan berjalannya waktu, tanpa harusdijadikan resolusi maka santai saja para perempuan hendaknya bisa sambil belajar mengenakan hijab sayar’i. Hal inilah yang saya sebut diawal, susunlah sebuah resolusi yang sederhana namun memiliki efek luar biasa terhadap nilai-nilai kehidupan kita.

Resolusi tak harus tinggi. Karena resolusi adalah cita-cita jangka pendek yang kita susun sendiri dan kita harapkan mempu kita capai di tahun depan. Bagaimana jadinya bila seseorang keliru dalam menyusun sebuah resolusi? Terlalu tinggi dan nyaris tak masuk akal misalnya. Bisa jadi sepanjang hidupnya ia hanya melakukan apa yang ada di depan mata, tanpa memiliki mimpi, harapan maupun cita-cita sebagai penyemangat dan penyeimbang hidup.

Untuk itu patahkan saja pertanyaan ini “seberapa penting sih resolusi dalam kehidupan kita?”, karena jawabannya adalah sangat penting. Maka terhadap hal yang amat penting ini sebisa mungkin jangan sampai salah dalam menyusunnya.

Sebuah resolusi yang sederhana namun konsisten kita melakukannya maka akan lebih bermanfaat dan berdampak baik jika dibandingkan dengan resolusi yang kedengarannya begitu mewah, namun sesungguhnya kita sulit mencapainya apalagi jika harus konsisten melakukannya.

Rasanya resolusi “rutin berolahraga seminggu sekali” lebih mudah dan konsisten bisa dilaksanakan dibandingkan dengan “rutin berolahraga 15 menit setiap hari”. Karena pada kenyataannya janji 15 menit setiap hari terasa jauh lebih berat dibandingkan dengan janji satu seminggu sekali.

Memasuki tahun 2016 segeralah susun resolusi terbaikmu dengan tetap menjunjung tinggi komitmen untuk bisa mencapainya. Jangan biarkan resolusi tinggal resolusi. Karena resolusi adalah janji, maka jangan biarkan janji tinggal janji.

(dnu, ditulis sambil makan mangga Indramayu di Jakartaku, 19 Desember 2015, 22.49 WIB)

Monday, December 14, 2015

Demi Rupiah Ibu Rela Korbankan Anaknya

Minggu (13/12) saya melintasi jalur Jakarta Selatan yang saat itu cukup macet karena adanya proyek pembangunan MRT.

Sore hari tersebut juga tangah diguyur gerimis dengan intensitas sedang. Saat asyik menikmati pemandangan deretan mobil di kanan kiri, tiba-tiba saya melihat seorang Ibu yang sedang mengamen sambil menggendong anak balita dengan menggunakan selembar kain.

Sekali lagi, kondisinya tengah gerimis yang tak hanya mampu membasahi tubuh, namun juga bisa menyebabkan kesehatan terganggu jika bermain-main dibawah guyurannya.

Ibu tersebut menghampiri tiap mobil yang ada di dekatnya. Sambil bernyanyi seadanya ia meminta uang sekedarnya kepada siapa saja yang ada di dalam kendaraan.

Tangan kanannya membunyikan alat musik jadi-jadian yang terbuat dari kayu dan tutup botol. Sedangkan tangan kirinya menyangga leher balita yang ia gendong sambil menikmati tetes demi tetes air gerimis.

Kondisi seperti ini bisa disebut dengan eksploitasi anak dibawah umur. Bukan saja dilarang meminta-minta di jalan dengan upaya apapun, tapi juga tidak bisa dibenarkan memperalat anak dibawah umur sebagai alat belas kasihan.

Mungkin Ibu tersebut hanya memikirkan bagaimana caranya bisa mendapatkan uang, namun lupa bagaimana dengan kondisi balita yang digendongnya tersebut.

Ini masalah kelalaian orang tua dan hilangnya kemerdekaan anak.

Jika balita tersebit memang benar anaknya maka perlu diluruskan pemikirannya tidak hanya bagi dia tapi juga bagi para Ibu lainnya.

Upaya-upaya pemenuhan kebutuhan hidup memang menjadi tanggung jawab orang tua, namun upaya pemenuhannya tidak bisa dilakukan dengan segala cara.

Tidak dapat dibenarkan suatu ekeploitasi anak untuk kebutuhan dan alasan apapun. Dalam kasus ini apakah hal ini suatu bukti rasa sayang Ibu terhadap anaknya, yang sekuat tenaga mencari biaya hidup namun dengan mengorbankan anaknya sendiri?

Apakah ia memikirkan kesehatan anaknya yang diguyur gerimis tersebut?

Lalu bagaimana jika anak yang digendongnya adalah bukan darah dagingnya? Alias anak orang lain yang dititipkan padanya untuk dijaga namun diperlakukan demikian? Entah perlakuan macama apa yang layak disebutkan.

Saya sebagai seorang Ibu dari dua anak, melihat kejadian yang demikian teganya tentu tidak bisa tinggal diam.

Banyak pertanyaan muncul dibenak saya kala siaran langsung tersebut terjadi di depan mata. Dia perempuan, dewasa, seperti seorang Ibu, kok tega berbuat demikian? Mengamen dijalanan, sambil menggendong anak balita tanpa payung atau penghalau air gerimis apapun.

Kok bisa ya?
Kok tega ya?

Dapat uangnya berapa sih sampai tega menghujan-hujankan anaknya seperti itu? Dibandingkan dengan kesehatan anak yang menjadi taruhannya apakan pendapatannya tersebut sebanding?

Sedianya masih banyak cara yang bisa dilakukan para orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa harus mengorbankan sang buah hati.

Tidak harus mengamen.
Seorang Ibu bisa menjadi buruh cuci.
Tidak harus mengamen.
Seorang Ibu bisa menjadi pembantu rumah tangga.

Dan masih banyak cara lainnya yang bisa dilakukan untuk kesejahteraan keluarga. Biarkan anak-anak tetap pada dunianya yang penuh dengan kegiatan berputar, berlari dan menari.

(dnu, ditulis sambil nahan laper, 14 Desember 2015, 10.45 WIB)

Sunday, December 13, 2015

Berbagi Cinta Hingga Ke Istana Negara


Makan Siang Bersama Pak Jokowi

Alhamdulillah...

Berkat hobi menulis yang disalurkan ke Kompasiana, siang ini (12/12) 100 orang blogger dari web peranakan Kompas.com tersebut menerima undangan makan siang bersama dengan Presiden Joko Widodo, yang bertempat di Istana Negara.

Dan saya termasuk dalam yang 100 orang tersebut. Subhanallah ya :)
Makan siang bersama, lalu berdialog dengan Pak Presiden benar-benar menjadi pengalaman yang amat berbeda sepanjang masa.

Ditambah lagi suasana sendunya Istana Negara, lemah lembut protokolernya, senyum ramah Sang Presiden, hingga merasakan benar kikuknya menikmati hidangan yang khusus disajikan untuk level kenegaraan, sukses kuat nan membulat sebagai pengalaman yang tak ternilai harganya.

Menunaikan segenap hobi atau kesukaan, lalu dirawat hingga tumbuh dan berkembang ternyata mampu membawa dampak-dampak positif yang tak terduga.

Seperti yang baru saja saya alami. Tiba-tiba pada suatu siang, ditengah kemacetan Jakarta, dering telepon itu telah mampu membuat saya tersenyum tiada henti.

"Mbak Dewi, kami memilih 100 orang Kompasianer aktif untuk menghadiri undangan dari Presiden Jokowi, makan siang bersama beliau di Istana Negara, Sabtu besok tanggal 12 Desember... dan Mbak Dewi adalah salah satunya yang terpilih. Bisa hadirkah Mbak?...."

Wooowwww...!!!!!!!

InsyaAllah.
Bisa!!!
Kalaupun tak bisa, pasti akan dibisakan!!!

Kontan saja lalu lintas yang tadinya macet menjadi terasa lancar selancar-lancarnya! Jalanan terasa kosong! Bahagia! Senang! Tak percaya! Yang padahal kecepatan kendaraan masih tetap 20KM/Jam.

Dan hari ini sudah terlewati.
Sudah menikmati santap siang dengan RI 1.
Sudah berdialog dengan RI 1.
Dan sudah sukses menikmati es buah segar ala Istana Negara.

Selain cerita, ada satu hal yang masih tersisa, yakni aroma harum pekarangan Istana masih tercium kuat di hidung saya.

Terima kasih Pak Presiden ^^

(dnu, ditulis sambil makan mangga harum manis yang tak terlalu harum dan tak terlalu manis, 12 Desember 2015, 20.01 WIB)

Thursday, December 10, 2015

Sulitnya Menjadi Teman Terbaik ala Supir Taksi


Pak supir taksi yang namanya saya rahasiakan ini telah sukses mengantar perjalanan siang saya (10/12) dari Jakarta Utara menuju Jakarta Selatan, dan kembali ke Jakarta Utara.

Seperti biasa, saya tertarik untuk berbincang tentang hal apa saja kepada supir yang mengantar saya pergi. Supir apapun itu. Kecuali ojek, karena agak susah ngajak ngobrolnya dan bedanya pandangan antara saya dengan dia. Dimana kalau naik ojek saya menatap ke depan, kadang ke kanan dan ke kiri, namun sang supir hanya menatap ke depan saja, tak pernah mencoba menatap saya yang setia duduk di belakangnya hahaha...

Seperti biasa saya menumpang taksi berwarna biru. Duduk di samping pak supir yang sedang bekerja, dan saya tertarik untuk bertanya tentang pekerjaannya sebelum ia bergabung dengan armada taksi ini.

Berdasarkan pengakuannya, ia bergabung dengan grup perusahaan sedan biru ini baru dua tahun. Sebelumnya ia lebih banyak menjadi supir pribadi sebuah keluarga, baik pejabat maupun pengusaha.

Baginya menjadi supir taksi lebih menyenangkan dan menenangkan dibandingkan menjadi supir pribadi. Karena jika menjadi supir pribadi menurutnya terlalu banyak hal-hal antar personal yang harus ia kompromikan.

Misalnya banyak peraturan yang dibuat sepihak oleh sang keluarga tanpa memikirkan hak sang supir, hingga sulitnya memahami karakter para majikan tempatnya bekerja.

Konflik pribadi justru sering terjadi kala menjadi supir pribadi. Ia harus banyak menahan perasaan, harus bisa menerima bagaimana pola pelampiasan kemarahan sang majikan, dan lain-lain.

Sebenarnya ia mengidamkan bisa menjadi seorang supir di sebuah perusahaan. Karena baginya suatu perusahaan memiliki aturan yang jelas dalam memperlakukan karyawannya, termasuk supir.

Namun apa daya, rezekinya malah berada di sebuah armada taksi berlogo burung biru ini. Jadilah sudah dua tahun ia amat menikmati profesinya sebagai supir taksi.

Membawa penumpang dengan berbagai tujuan telah membuatnya bahagia, karena ia merasa telah bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain dengan cara yang tidak terlalu sulit.

"Apalagi kalau saya berhasil cari jalan tikus mbak, dan bikin perjalanan tamu yang saya bawa jadi lancar, dia seneng, ga kena macet, cepet nyampenya dan dia puas... saya seneng banget tuh mbak..."

Ternyata banyak hal sederhana yang bisa kita tempuh untuk membahagiakan orang lain. Namun tetap saja saya sepakat bahwa ;

~ Menjadi teman terbaik itu tidak mudah, karena memahami perasaan orang lain juga tidak mudah ~

Sekuat tenaga kita berusaha mengerti akan kondisi orang lain, tapi belum tentu upaya kita tersebut diakuinya sebagai cara untuk menyenangkan hatinya.

Untuk itu, buatlah orang lain bahagia melalui cara-cara yang paling sederhana, dengan tanpa mengorbankan kebahagiaanmu juga ^^

(dnu, ditulis sambil nungguin pesenan pecel lele dan martabak keju, 10 Desember 2015, 18.47 WIB)



Guru Kecil Tersayang


Yang mengenakan hijab merah dan menatap kamera adalah anak sulung saya. Atau dalam bahasa Jawa disebut dengan "mbarep", atau bahasa sederhananya adalah anak yang paling gede :)

Dia adalah guru kecil saya yang pikirannya tak sekecil tubuhnya. Banyak pelajaran yang saya dapat darinya, yang mampu membuat saya bangga sekaligus terharu.

Inilah beberapa diantaranya ;

» Mami kok minumnya sambil berdiri?
- Oke, buru-buru cari tempat duduk atau bablas duduk di lantai.

» Mami, nanti beliin kakak permen Yupi ya yang bungkus besar, karena besok mau kakak bawa ke sekolah, trus bagi-bagi sama temen-temen...
- Wow! Luar biasa! Kecil-kecil sudah punya hati yang mulia, ingin berbagi walau hanya membagikan sebuah permen.

» Mami kok pulang kerja ngga beliin kakak es krim? Mami lupa ya...?
- Wohooo... dia ngga pernah marah sodara-sodaraaa... Justru dia menghakimi saya dengan anggapan saya lupa! Positif sekali fikirannya... bukannya marah seperti yang kadang dilakukan anak seusianya jika orang tuanya lalai tak memenuhi janjinya.

» Mami, jilbabnya benerin, rambutnya kelihatan tuh...
- Hmm.... kadang jilbab saya memang suka miring-miring, bukan otak saya saja, tapi jilbabnya juga haha...

» Adek, lagi adzan... ga boleh nakal!
- Kalimat tersebut biasa terdengar darinya saat suara adzan berkumandang. Maksudnya adalah dia meminta agar adiknya duduk dulu sebentar, tidak gaduh, tidak lompat sana sini maupun teriak-teriak... karena kita harus menghormati adzan...

Dan masih banyak lagi pelajaran-pelajaran sederhana yang kadang sayapun lupa untuk menerapkannya...

Dia guru saya. Yang lagi duduk bersama teman-temannya. Yang menatap kamera. Yang berhijab merah.

Rindu, nama gadis kecil itu.

Anaknya Pak Edwin Sholeh ^^

(dnu, ditulis sambil dipijitin kaki, tangan dan punggungnya sama seseorang di sebuah tempat haha..., 9 Desember 2015, 17.22 WIB)



Berlayarlah

Berlayarlah ke ujung laut yang paling jauh dan paling dalam, sekalipun itu sangat mengerikan.

Karena dalam perjalanan itulah kamu akan ditempa menjadi pribadi yang lebih kuat, dan mampu hidup dalam berbagai keadaan.

#DNU




Happy reader, happy writer ^^

Namanya Pak Tanadi Santoso, namun saya memanggilnya Oom San. Beliau adalah seorang enterpreneur ternama di Indonesia, yang tidak pernah bekerja di perusahaan manapun. Usai menyelesaikan pendidikannya di luar negeri, ia kembali ke Indonesia dan memulai bisnis hebatnya.

Kekaguman saya bertambah, diantara bisnis-bisnisnya yang mencakup bidang properti dan lain-lain, terdapat diantaranya 5 sekolah miliknya.

Hebat! Tidak semata-mata mencari uang, tetapi juga ingat dengan pendidikan anak bangsa.



#DNU



Dongeng Ikan Sakit Gigi untuk Anak Jendela Mimpi

Siang hingga sore di Sabtu ini (5/12) saya membagi kasih bagi anak-anak Jendela Mimpi. Melalui dongeng anak tentang Bebek yang Malas Mandi dan Ikan Piranha yang Sakit Gigi, saya bawa mereka sejenak ke alam mimpi.

Mereka adalah anak-anak usia SD dan SMP yang tinggal di sebuah Gang padat penduduk, di kawasan Palmerah, Jakarta Pusat.

Melalui seorang teman yang menjadi penggerak komunitas anak yang diberi nama Jendela Mimpi, saya dan suami bergabung hari ini hanya sekedar untuk menyampaikan sedikit cerita dan pelajaran Matematika.

Ya, cerita pendek dari saya dan bantuan mengerjakan soal-soal matematika dari suami tercinta :p

Tidak lupa, dua anak kesayangan Rindu & Arjuna ikut serta. Sekaligus mengajarkan pada mereka, bahwa masih banyak teman-teman yang berkekurangan, tapi semangatnya belajar dan meraih cita-cita sungguh tak terkalahkan.

Mereka anak-anak hebat. Setiap hari Sabtu belajar bersama di Mushola yang letaknya tidak jauh dari pemukiman mereka. Ba'da Dzuhur mereka memulai kegiatan, usai menunaikan ibadah sholat, dan ditutup jam 3 sore, persis sebelum adzan ashar berkumandang.

Kehebatannya yang saya tak habis fikir adalah, mereka tak tergoda untuk main di jalanan, di luar gang, sambil panas-panasan ataupun hujan-hujanan. Kurang lebih 20 anak tersebut lebih memilih menghabiskan waktu siang mereka di Mushola itu, sambil bermain dan belajar bersama.

Proud of you kids...

Missed, love and hugs just for you :)

(dnu, ditulis sambil jalan menuju toilet di sebuah mall dan sambil kembali dari toilet yang masih di sebuah mall hahah..., 5 Desember 2015, 16.47 WIB)


Belajar Dari Supir Taksi

Dia supir taksi yang sudah dua kali berhaji.
Dia supir taksi yang dalam setiap injakan gas kendaraannya selalu mengucap asma Allah.
Dia supir taksi yang tak sekalipun saya dapati mengumpat kala jalanan mulai tersendat. Melainkan selalu mengucap ungkapan kesyukuran dan keikhlasan.

Dia supir taksi yang membuat saya nyaman sepanjang perjalanan.
Dia supir taksi yang katanya bekerja hanya untuk menyenangkan keluarganya, sekalipun dirinya mengaku amat lelah bertarung dengan kemacetan di jalanan setiap waktu.

Dan dia supir taksi yang amat berserah, keluarganya harus bahagia, dan kebahagiaan dirinya hanya dipasrahkan kepada Allah SWT.

Dan kata Pak Supir taksi ini ;
"Kalau kita sudah berbuat baik Neng, jangan diinget-inget... lupain aja, yang penting kita udah bikin orang seneng... selebihnya biar Allah SWT yang bales..."

Ini pelajaran yang tidak ada habisnya dimakan waktu.
Pelajaran bisa didapat dari siapa saja, supir taksi sekalipun. Jangan dilihat siapa dia, tapi lihatlah apa yang dia katakan.

(dnu, ditulis sambil nungguin seseorang pesen Cha Time, 4 Desember 2015, 12. 45 WIB)


Thursday, December 3, 2015

Tentang Piknik Seorang Ibu


Ibu rumah tangga butuh piknik 10x lipat dibandingkan ibu yang bekerja?
» Apakah ini berdasarkan penelitian? Jika tidak, angka 10 dapat dari mana?

Ibu rumah tangga setiap hari menghadapi kekacauan dan cobaan dari anak kecil yang diam hanya pada saat tidur.
» Kekacauan? Ulah anak sendiri dikatakan sebagai kekacauan? Anak yang dikandung diperut sendiri? Dilahirkan dengan taruhan nyawa sendiri?? Berantakannya rumah karena dunia bermain dan belajar anak dikatakan sebagai kekacauan?? Omaygot!!! Saya belum menemukan bagaimana logika berfikirnya. Sedih.

Kewarasan pasti tinggal beberapa persen saja.
» Menjadi istri yang menuruti perintah suami untuk mengurus rumah tangga itu menimbulkan ketidakwarasan ya?? Menjadi wanita mulia, diam di rumah, mengurus anak dan semuanya menyebabkan seseorang tidak waras??? Benar begitu???

Ibu bekerja masih bertemu dengan teman.
» Ibu yang di rumah tidak bisa kah?? Terkungkung berjam-jam sepenuh hari di dalam rumah kah?? Omaygot! Mestinya bisa dong... saat mengantar anak ke sekolah mislanya...

Ibu bekerja masih bisa menghirup udara bebas.
» Ibu yang di rumah tidak bisa kah?? Yang bener??

Jangan terlalu mendramatisir keadaan. Yang tidak rumit jangan terlalu dibuat tampak amat sangat rumit. Dan harus selalu diingat bahwa, apapun itu tentu memiliki resiko masing-masing. Semua ada tanggung jawab yang harus ditempuh dan dipenuhi.

(dnu, ditulis sambil tiup-tiup tangan kiri yang terluka hahay..., 3 Desember 2015, 20.10 WIB)

Tuesday, December 1, 2015

Tentang krisisnya budi pekerti

Tentang krisisnya budi pekerti para pemburu selfie di taman bunga Amarillys, Yogyakarta, sampai dengan malam ini (1/12) telah di-share sebanyak 340 kali dari Kompasiana ke FB.

Ini berarti akan semakin banyak yang memahami tentang pentingnya penanaman nilai-nilai sosial, menghargai orang lain, menghargai sesama makhluk hidup dan perlunya menyayangi tumbuh-tumbuhan.

Salah satu komentar yang masuk dalam artikel tersebut, yang saya unggah di anak situs berita online Kompas, kurang lebih berbunyi seperti ini :

"Suruh ke tanaman kaktus aja, suruh tiduran diatasnya, lalu selfieee...!!!"

Hohoho... kejamnya dunia...

Hal ini juga berarti, semakin banyak tulisan ini di-share maka akan semakin banyak pula sumpah serapah berdatangan dari berbagai sumber.

Kasihan sih sama orang-orang yang dihujat itu,... tapiii... gimana ya.... ini memang pertanda krisis budi pekerti siih.....

‪#‎DNU‬

Do What You Love, and Love What You Do

Adalah buku seru yang baru saja saya babat habis Minggu kemarin (29/11) sambil menemani anak-anak bermain di sebuah pusat perbelanjaan.

Banyak point menarik yang nampaknya baik jika saya bagikan kepada teman-teman sekalian. Berikut ini sedikit yang mampu saya sarikan, dan semoga nilai-nilai postifnya bisa diadopsi oleh siapa saja yang membacanya.

- Seorang pendidik sejati memahami bahwa tugas "mendidik" bukan saja untuk untuk menyentuh logika, tapi juga menyentuh hati seseorang. Karena hati yang tersentuh pengaruhnya akan bertahan abadi.

- Choose to be happy. Bahagia itu sudah ada di dalam dirimu jika saja kamu mau menghargai setiap hal kecil dalam perjalanan hidupmu.

- Impian itu penting untuk hidup, tapi jangan jadikan impian sebagai tujuan hidup. Yang paling penting nikmati saja perjalanannya.

- Life is simple. If you're happy, then keep going. If not, then change it.

- Jangan kerja setengah mati untuk mengejar uang. Kalaupun uang sudah menumpuk, mungkin bahagia tak kamu dapatkan. Kejarlah apa yang membuatmu bahagia, maka uang pasti akan mengikuti.

- Love your life, and it will love you back, and even more.

- The best job in the world is that when you're doing it, you feel happy and always want to share your happiness to people around you.

- Bahagia itu pilihan, dan bahagia itu butuh keberanian. Hidup ini cuma sekali, make it worth! Don't live your life in someone else's dream.

- Life is always a choice. Doesn't matter where you come from, as long as you know where you're going.

- Orang yang "menghidupi" kata hatinya tidak akan menyia-nyiakan bakat yang dimilikinya. Mereka memaksimalkan potensi terbaik yang diberikan Tuhan kepadanya, karena itu hidup yang mereka jalani penuh dengan kegairahan dan kegembiraan.

Renungan...

Bayangkan, kapan terakhir kali kita meluangkan waktu dengan sengaja berkirim surat dibanding e-mail? Atau lebih memilih bepergian menggunakan kapal laut dibandingkan terbang dengan pesawat?

Saya berfikir mengapa ada orang yang mau repot-repot melakukan semua hal diatas, jawabannya adalah "hanya karena mereka tidak merasa harus berkejaran dengan waktu".

Hmmm... benar juga, perkembangan zaman mungkin menjadikan kita manusia yang selalu terburu-buru, ingin serba cepat dalam segala hal, lupa beromantisme dengan hal-hal sederhana tanpa harus berkejaran dengan waktu.


(dnu, ditulis sambil makan makanan mahal haha..., 1 Desember 2015, 16.15 WIB)

This blog is mirroring to www.kompasiana.com/dewinurbaiti