Saturday, December 19, 2015

Resolusi Tak Harus Tinggi



Umum terjadi pada diri kebanyakan orang untuk menyusun sebuah target kehidupannya yang baru saat tahun baru dijelang. Ada yang menginginkan kelahiran seorang anak, memiliki rumah atau mobil baru dan lain sebagainya yang tak sedikit target-target tersebut terasa begitu tinggi nan muluk. Target-target tersebut biasa disebut dengan resolusi, yakni sebuah pengharapan hidup yang berlum terjadi di tahun berjalan lalu diharapkan bisa mencapainya agar terjadi di tahun depan.

Kekeliruan yang banyak terjadi adalah penyusunan resolusi tahun depan yang begitu tinggi, bahkan hampir-hampir mustahil bisa digapai. Hanya mengarapkan keajaiban ilahi resolusi tersebut bisa terjadi. Pada hakekatnya resolusi adalah sebuah pengharapan diri yang seyogyanya masuk akal dan mudah dicapai.

Masih masuk akal berarti sesuatu yang masih sangat mungkin untuk dilakukan. Bagaimana bisa seseorang memiliki resolusi “tahun depan saya harus bisa memiliki rumah kontrakan 5 pintu…”, sedangkan saat ini ia belum memiliki pekerjaan tetap yang mampu menghasilkan uang yang cukup untuk membangun sebuah rumah kontrakan.

Hal seperti tersebut diatas yang saya sebut dengan resolusi terlalu tinggi. Hampir tak masuk diakal, dan cukup membingungkan bagaimana cara menggapainya. Mungkin bisa lebih santai jika resolusinya diubah menjadi “tahun depan saya harus memiliki pekerjaan yang tetap…”, sehingga di tahun berikutnya bisa dibuat sebuah resolusi untuk memiliki deretan rumah kontrakan. Yang seperti ini menurut saya lebih masuk akal.

Selanjutnya resolusi sejatinya mudah dilakukan sehingga mudah untuk dicapai. Disini ditekankan resolusi eloknya adalah pengharapan yang cukup sederhana dan tidak memiliki peluang yang besar untuk tidak bisa kita lakukan.

Hal ini terkait dengan sebuah rantai kehidupan dimana setiap keberhasilan selalu memiliki proses pergerakan yang harus dilakukan. Maksudnya adalah, susunlah sebuah resolusi hidup yang sederhana namun memiliki efek yang luar biasa terhadap kehidupan kita.

Misalnya bagi seorang perempuan muslim, mungkin bisa disusun resolusi pertama adalah “tahun depan saya ingin bisa mengenakan hijab syar’i dalam setiap aktifitas saya….”. Lalu yang terjadi pada tahun yang diharapkan, wanita tersebut belum mampu mengenakan hijab syar’i dengan berbagai alasan yang mengkibatkan ia masih buka tutup dalam menunaikan kewajibannya itu. Nah yang seperti ini adalah contoh resolusi yang terlalu tinggi karena tidak sesuai dengan kemampuan diri.

Berkaca pada contoh kasus diatas, mungkin bisa resolusinya diturunkan kadarnya, misalnya berjanji untuk mengenakan hijab dengan baik di tahun depan. Seiring dengan berjalannya waktu, tanpa harusdijadikan resolusi maka santai saja para perempuan hendaknya bisa sambil belajar mengenakan hijab sayar’i. Hal inilah yang saya sebut diawal, susunlah sebuah resolusi yang sederhana namun memiliki efek luar biasa terhadap nilai-nilai kehidupan kita.

Resolusi tak harus tinggi. Karena resolusi adalah cita-cita jangka pendek yang kita susun sendiri dan kita harapkan mempu kita capai di tahun depan. Bagaimana jadinya bila seseorang keliru dalam menyusun sebuah resolusi? Terlalu tinggi dan nyaris tak masuk akal misalnya. Bisa jadi sepanjang hidupnya ia hanya melakukan apa yang ada di depan mata, tanpa memiliki mimpi, harapan maupun cita-cita sebagai penyemangat dan penyeimbang hidup.

Untuk itu patahkan saja pertanyaan ini “seberapa penting sih resolusi dalam kehidupan kita?”, karena jawabannya adalah sangat penting. Maka terhadap hal yang amat penting ini sebisa mungkin jangan sampai salah dalam menyusunnya.

Sebuah resolusi yang sederhana namun konsisten kita melakukannya maka akan lebih bermanfaat dan berdampak baik jika dibandingkan dengan resolusi yang kedengarannya begitu mewah, namun sesungguhnya kita sulit mencapainya apalagi jika harus konsisten melakukannya.

Rasanya resolusi “rutin berolahraga seminggu sekali” lebih mudah dan konsisten bisa dilaksanakan dibandingkan dengan “rutin berolahraga 15 menit setiap hari”. Karena pada kenyataannya janji 15 menit setiap hari terasa jauh lebih berat dibandingkan dengan janji satu seminggu sekali.

Memasuki tahun 2016 segeralah susun resolusi terbaikmu dengan tetap menjunjung tinggi komitmen untuk bisa mencapainya. Jangan biarkan resolusi tinggal resolusi. Karena resolusi adalah janji, maka jangan biarkan janji tinggal janji.

(dnu, ditulis sambil makan mangga Indramayu di Jakartaku, 19 Desember 2015, 22.49 WIB)