Friday, December 2, 2016

Jadilah Bangsa yang Berbahagia

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, sedangkan bangsa yang berbahagia adalah bangsa yang mampu menyikapi kebhinekaan dengan sempurna. Tidakkah kita menjadi amat lelah jika setiap saat harus adu argumen hingga perang dingin? Bahkan diantara teman sendiri.

Sudah berapa banyak teman kita di media sosial yang kita putuskan hubungan pertemannya ataupun dia yang memutuskan pertemanan kepada kita hanya karena masalah ketidakcocokan status di facebook atau yang lainnya? Secara tidak sadar diantara kita sedang ada yang mengadu kekuatan batin dan emosi, siapa lagi kalau bukan setan? Jangan biarkan setan asyik main-main di di dalam hati dan ramai bertepuk tangan saat antar umat manusia sedang bertengkar.

Terkadang memang ada saja postingan yang bisa menyulut emosi kita, namun sebagai manusia biasa yang mainnya sudah sangat jauh, pola pikirnya sudah lebih terbuka, hidupnya sudah cukup bahagia, hari-harinya sudah selalu diisi dengan rasa syukur yang tiada henti, maka yuk coba menanggapinya dengan lebih santai. Tentunya dengan tidak serta merta memutuskan tali silaturahmi antar teman. Agak disayangkan ya jalinan pertemanan yang dibangun sekian lama lalu rusak seketika hanya karena PILKADA misalnya, terlalu hambar ya rasanya.

Sejak zaman dahulu kala Indonesia telah berlandaskan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, lalu mengapa dulu terasa damai namun dewasa ini perang dingin terjadi di mana-mana? Karena kemajuan teknologikah? Bisa jadi. Tapi yang perlu diingat adalah, prinsip hidup setiap manusia pasti berbeda dan merupakan hak asasi untuk memilih prinsip hingga menjadi berbeda. Hak asasi sebagai hak yang dibawa sejak lahir tersebut diberikan langsung oleh Sang Maha Segalanya yaitu Allah SWT.  Lalu patutkah perbedaan tersebut diributkan oleh segelintir umat manusia? Yang menurunkan hak itu Allah SWT, maka siapa yang boleh melawannya?

Dimaksudkan juga agar tidak semakin terjadi perpecahan, maka mari bersama saling menghormati dan jangan saling usik dengan prinsip hidup orang lain. Biarkan teman kita memilih sesuatu sesuai dengan hati nuraninya. Nah, lalu bagaimana jika kita merasa terusik dengan ulah orang lain? Dalam hal personal antar teman, mungkin perbuatan mengusik ini bisa ditempatkan dibawah hubungan pertemanan, karena nilai sebuah pertemanan tentunya lebih mahal bukan dari sekedar hal-hal yang mampu merusaknya? Bagaimana kalau kadarnya besar, sehingga mengganggu hajat hidup orang banyak? Karena Indonesia adalah negara hukum maka yang seperti ini tentunya harus diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Jadilah bangsa yang berbahagia, yang selalu mampu menyikapi berbagai permasalahan dengan mata, hati dan telinga yang terbuka.

(dnu, ditulis sambil kuliah sumpah saya bosan huhu...., 3 Desember 2016, 14.33 WIB)
 
 

Sunday, November 20, 2016

Go Glam Sopan, Saya Segan

Go Glam Sopan, Saya Segan
Sore ini lagi-lagi saya memanfatkan jasa delivery segala rupa yang disediakan oleh PT Gojek Indonesia, yaitu Go Glam. Rencana membersihkan wajah dengan tanpa harapan berlebihan justru mendapatkan kepuasan lebih dari yang diinginkan.
Sebut saja namanya Bunga hahaha.... tapi tidak, disini saya ingin menyebut jelas namanya yaitu Mawaputri. Perangai Mbak Cantik yang ingin saya angkat melalui tulisan ini adalah perihal kesopanannya. Pertemuan saya dengannya diawali atas pesanan saya di pagi hari untuk menggunakan jasa Go Glam by La Donna Aesthetic. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, gayung pun bersambut, pesanan saya diterima oleh Mbak Mawaputri ini, ia lantas menelepon saya untuk mengonfirmasi ulang atas pesanan yang saya ajukan. Selain menelepon ia juga mengirim pesan via SMS, dan dari tulisannya saya sangat terasa kesopanan dan kelembutan Mbak baik ini.
Dalam SMSnya ia meminta saya menanti kehadirannya sesuai dengan jam yang telah ditentukan. Namun dikarenakan beberapa hal saya meminta kepadanya untuk datang ke rumah 30 menit lebih lambat dari jam yang sudah disepakati. Dia pun setuju dan tetap dengan icon smile dalam setiap akhir tulisannya. Pelajaran yang bisa saya dan mungkin semua pembaca tiru di sini adalah, emoticon memang belum tentu bisa mewakili perasaan kita dalam setiap tulisan, tapi percayalah efek mendamaikan akan terasa pada orang yang menerima pesan.
Satu jam sebelum jam perjanjian Mbak Mawaputri mengirim pesan kepada saya untuk menginformasikan bahwa ia siap untuk berangkat, hal ini dikarenakan ia takut terlambat tiba di rumah saya sehingga melewati batas waktu yang saya inginkan. Padahal saya katakan bahwa saya dan keluarga masih di luar rumah, dan nice... tetap dengan bahasa yang santun ia mengatakan tidak berkeberatan untuk menunggu jika saya belum tiba di rumah.
Enak aja sih saya membaca setiap pesannya, entah kenapa ya, padahal belum bertemu dengan orangnya.
Akhirnya kami bertemu di rumah, dan benar saja Mbak Go Glam ini benar-benar sopan dan santun dalam setiap gerak geriknya. Tentu hal ini menjadi persyaratan tersendiri bagi setiap pemakai jasa yang mengundang orang lain untuk boleh masuk ke rumahnya. Dalam istilah lain, kalau tamu kan memang harus sopan ya di rumah orang lain hehe....
Selama melakukan perawatan wajah ia juga amat hati-hati, lembut, dan tetap menjaga kesopanan. Tidak seperti yang pernah saya gunakan jasanya beberapa waktu lalu, dimana dalam aktifitas perawatannya ia seringkali menelepon keluarganya di rumah membicarakan masalah cucian pakaian yang ia tinggalkan hahaha.... Saya jelas terganggu dengan yang ini hihihi.... Pdernah jua seorang petugas yang susaaahhh sekali saya hubungi, karena saya tunggu-tunggu di jam yang sudah disepakati dirinya tak juga nampak di depan rumah haha....
Di akhir perawatan Mbak Mawaputri menanyakan kepada saya apakah ada masukan untuk dirinya. Good ya, selama saya menggunakan jasa Go Massage, Go Glam, Go Food, ataupun Go Ride belum ada sih yang meminta diberi masukan. Entah standarnya seperti apa dari PT Gojek Indonesia, namun yang pasti saya puas dengan petugas Go Glam hari ini. Bisa jadi sebenarnya tidak ada standar untuk meminta masukan dari konsumen, tapi karena pribadinya saja yang selalu ingin diberi saran agar ia dan kinerjanya jadi lebih baik.
Thank you ya Mbak Mawaputri, saya jadi selalu ingat untuk selalu menjaga sopan santun dimana pun berada ^^
(dnu, ditulis sambil makan nasi Padang di Jakarta haha..., 20 November 2016, 19.51 WIB)
 
 

Monday, November 7, 2016

Setelah Lewat Tanggal Empat

Elokkah jika disebut sebagai tanggal bersejarah, di mana terjadi kumpulan massa muslim di DKI Jakarta dalam rangka ingin bertemu dengan pemimpin negara Indonesia tercinta? Tentu untuk membicarakan masalah agama yang terkait dengan orang nomor satu di kota metropolitan ini. Mengapa penulis katakan bersejarah? Karena sedikit sekali Warga Negara Indonesia (WNI) pada tanggal 4 November 2016 lalu yang tidak turut bersuara atas moment langka ini. Suaranya keluar dalam berbagai jenis, ada yang merdu, sumbang, ataupun netral. Lalu mengapa banyak yang bersuara? Tentu ada yang dalam rangka membela, menunjukkan simpatinya, hingga bahkan ada yang bersikeras menentang seakan menabuh genderang perang.

 

Penulis merasa tidak perlu membahas di sini latar belakang apa yang menyebabkan terjadinya aksi pada Jumat lalu tersebut, namun melalui artikel ini penulis hanya ingin menyampaikan harapan kepada siapapun yang membacanya. Secara garis besar hanya ingin sampaikan semoga berangkat dari aksi tersebut justru Indonesia bisa menuju kedamaian hidup dalam berkeyakinan tanpa ada apapun yang bisa memecahnya.

 

Para pahlawan yang telah gugur di medan perang sudah bersusah payah berusaha memerdekakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), namun entah apa rasanya beliau yang kini telah di alam yang berbeda melihat rakyatnya saling sikut adu argumen, saling injak untuk sebuah kekuasaan, saling debat untuk masalah yang kecil sekalipun dan semuanya akan merasa menjadi pemenang jika berhasil mengalahkan lawannya dengan kezholiman. Lalu dimana rasa syukur atas kemerdekaan bangsa yang telah kita raih sejak dulu kala? Mungkin akan sulit sekali mengisi kejayaan, karena semuanya telah sibuk untuk saling menjatuhkan.

 

Setelah lewat tanggal empat, hendaknya siapa pun yang telah turut ambil bagian pada waktu tersebut untuk turun ke jalan, mendukung dari rumah, memanjatkan berbagai macam doa sebagai wujud partisipasi dan mengakui bahwa penistaan agama sungguh tidak dapat dibenarkan. Maka alangkah indahnya jika rasa sayang terhadap agamanya terus diwujudkan dalam berbagai bentuk, dengan catatan walau kini sudah bukan tanggal 4 November 2016. Menyatakan dirinya sebagai seorang muslim, mukmin yang baik, mukmin yang menjunjung tinggi agama islam, membela Al Quran, hendaknya terus diwujudkan.

 

Semoga kita semua terus dan terus memuliakan Al Quran, dengan senantiasa menyisihkan waktu untuk membacanya, mengkajinya, mengamalkannya hingga menghafalnya. Lagi-lagi walau sudah bukan tanggal empat. Semoga shalatnya tambah rajin, ibadahnya tambah banyak, sodaqohnya tambah luas, senantiasa menjadi pribadi yang penuh maaf, senantiasa ikhlas, menjaga tali silaturahmi, serta menunaikan berbagai amalan sunnah yang kadang kita lupa, sekali lagi walau kini sudah bukan tanggal empat.

 

Membela islam bukan hanya di tanggal 4 November 2016, menunjukkan bahwa kita adalah individu beragama baik, mengamalkan seluruh ajaran islam dengan baik hendaknya terus kita lakukan walau sudah bukan tanggal empat. Menjadi manusia yang cinta damai dan cinta kebersihan semoga bukan hanya ada di tanggal empat.

 

Berangkat dari kasus yang melatarbelakangi kejadian di tanggal 4 November 2016, kita sebagai manusia yang beragama marilah untuk saling menghormati, tidak perlu memasuki ranah yang bukan menjadi wewenang kita. Semoga seluruh rakyat Indonesia semakin yakin bahwa kita perlu untuk bergandengan erat demi menjaga keutuhan tanah air kita, walau berbeda suku, agama, ras maupun antar golongan. Tidak perlu lagi ada perpecahan karena kita sudah bisa berkaca pada kejadian tanggal empat.

 

Peristiwa tanggal empat hendaknya mampu membuat kita seluruh WNI agar semakin kuat, semakin erat dan semakin hangat atas kekeluargaan dan persaudaraannya. Semakin paham bahwa terus menerus bertikai sungguh hanya akan membuka lapangan kerja bagi provokator dan bagi orang-orang yang tidak cinta damai.

 

Aksi tanggal empat semoga dapat menjadi cermin tidak hanya bagi umat muslim tapi bagi umat lainnya, bahwa tidak perlu ada pertikaian jika kita amat menjaga batas kesopanan dan toleransi beragama. Karena tentu kita semua sepakat bahwa agama adalah keyakinan yang tidak boleh diusik oleh siapa pun. Hiduplah dengan agama kita masing-masing namun kita tetap bergembira dalam genggaman tangan yang kian hari semakin kuat.

 

(dnu, ditulis sambil nungguin anak-anak SD pada dateng untuk bermain sambil belajar, 7 November 2016, 11.06 WIB)

Friday, October 28, 2016

Belajar Ketulusan Hati dari Dahlan Iskan

"Biarlah sekali-kali terjadi seorang yang mengabdi setulus hati, mengabdi sebagai dirut utama daerah tanpa digaji selama 10 tahun, tanpa menerima fasilitas apa pun, harus menjadi tersangka yang bukan karena makan uang, bukan menerima sogokan, bukan karena menerima aliran dana, tetapi karena harus tanda tangan dokumen yang disiapkan anak buah,"

Kalimat diatas adalah komentar Dahlan Iskan yang penulis kutip dari http://regional.kompas.com/read/2016/10/27/19524571/jadi.tersangka.dahlan.iskan.ditahan yang cukup membuat miris siapapun yang membacanya. Kalimat tersebut beliau ungkapkan terkait kasus penandatangan dokumen penjualan aset perusahan BUMD yang pernah ia pimpin di Jawa Timur.

Teori ilmu ikhlas yang kerap kali kita dengan dalam kehidupan kadang tidak mudah diaplikasikan oleh setiap orang. Namun nampaknya ilmu ikhlas yang sudah dipelajari oleh mantan menteri BUMN ini jelas mampu ia aplikasikan dalam hidupnya. Perhatikan baik-baik sekali lagi kalimatnya.

Apakah benar bahwa orang yang terlalu baik kadang tidak hanya dimanfaatkan namun kerap dijerumuskan? Ya, mungkin saja.

Menjadi pribadi yang bisa mengabdi setulus hati pada suatu perusahaan tempat kita bekerja memang tidak mudah. Apa lagi jika kehidupan sehari-hari dalam pekerjaan kerap dilengkapi dengan intrik-intrik yang semakin membuat waktu-waktu menyelesaikan pekerjaan menjadi tak asyik.
 
Mungkin bisa dikatakan mencurahkan segenap hati dan jiwa untuk sebuah pekerjaan hinga berujung pada pengabdian yang setulus hati hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang percaya bahwa rezeki tidak melulu soal materi. Bisa jadi Dahlan Iskan adalah salah satu orangnya. Mungkin terdengar idealis, tapi inilah nyatanya bahwa setiap kita bekerja sebisa mungkin harus dengan cinta, sertakan hati di dalamnya dan sertakan semangat berkarya dalam setiap aktifitasnya.

Kadang banyak penulis dengar pendapat “jadi orang yang realistis aja, kita kerja kan nyari duit buat istri sama anak, kalo nyari pahala ya banyak-banyak aja sholat”. Gengs..... bukankah indah jika setiap pagi saat akan melangkahkan kaki ke luar rumah untuk bekerja selalu diniatkan ibadah? Jika demikian semuanya akan mengerucut ke arah pengalaman Dahlan Iskan diatas, tentang pengabdian setulus hati walau senantiasa ada kekurangan di sana sini. Karena apa? Beliau yakin, rezeki sudah ada yang mengatur dan semua yang dilakukannya diniatkan ibadah demi kemajuan perusahaan. Hal penting lainnya adalah tentu banyak pelajaran yang bisa diambil dari setiap kejadian di perusahaan, apapun kondisinya.

Hal lainnya adalah masalah kepercayaan, terlihat jelas dalam kasus ini betapa Dahlan Iskan sangat percaya kepada anak buahnya yang telah menyiapkan dokumen-dokumen penjualan aset dan harus ia tanda tangani. Tanpa banyak pemeriksaan Dahlan Iskan lantas menandatanganinya, namun ternyata ada kasus negatif yang terselubung didalamnya. Tak pelak mantan menteri BUMN ini lantas terseret dalam kasus tersebut karena tanda tanganya tertera jelas di sana.

Melalui artikel ini penulis ingin bersaran, sebagai atasan sebisa mungkin tetap memiliki sistem kontrol yang baik terhadap seluruh pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk kepada anak buah yang sangat dipercaya sekalipun. Lalu sebaliknya, sebagai anak buah yang telah dipercaya oleh atasan maka tidak disarankan untuk sekali-kali merusak kepercayaan tersebut.

(dnu, ditulis sambil sandaran pusiiing..., 29 Oktober 2016, 13.34 WIB)

Saturday, October 22, 2016

Karena Rezeki Tak Melulu Soal Materi


Teman yang baik, itu juga rezeki,

Badan yang sehat, itu juga rezeki

Keluarga yang happy, itu juga rezeki

Tempat tinggal yang nyaman, itu juga rezeki

Tempat aktivitas yang menyenangkan, itu juga rezeki

Pekerjaan yang lancar, itu juga rezeki

Bisa disenyumin sama setiap orang yang kita temui, itu juga rezeki

Bisnis yang selalu ada pembeli, itu juga rezeki

Masih bisa membuka mata setiap bangun pagi, itu juga rezeki

Masih bisa tidur nyenyak, itu juga rezeki

Masih bisa ketawa ketiwi, itu juga rezeki

Masih punya waktu untuk mengerjakan hobi, itu juga rezeki

Masih bisa menemui jalan kelauar untuk sebuah masalah, itu juga rezeki

Menjadi pribadi yang kehadirannya selalu dinanti-nanti, itu juga rezeki

Menjadi pribadi yang masih bisa berbagi, itu juga rezeki

Menjadi pribadi yang selalu dicintai keluarga dan sahabat, itu juga rezeki

Menjadi pribadi yang selalu mampu bersyukur, itu juga rezeki

 

Rezeki bisa datang dari mana saja dan berupa apa saja, dari berbagai pintu yang tak pernah kita duga-duga.

Yang Maha Baik Allah SWT selalu punya caraNya sendiri, karena rezeki memang tak melulu soal materi ^^

 

#DNU

Saturday, October 8, 2016

Elektabilitas Menurun Gara-gara Salah Ngomong



Hati-hati, gara-gara nila setitik maka rusak susu sebelanga. Seseorang berbuat baik sebanyak apapun lalu khilaf melakukan kesalahan sekali saja, maka kebanyakan seluruh kebaikannya terlupakan begitu saja. Lalu apa yang teringat? Jelas hanya kesalahan yang pernah dilakukannya. Mengapa demikian? ini yang namanya kehidupan. Mau sebanyak apapun tabungan kebaikanmu, jika sekali saja melakukan kealpaan maka di mata manusia kita hanya tinggal kenangan hahaha… Alias dilupakan dan diacukan begitu saja. Tapi jangan pernah lupa, Allah SWT senantiasa melihat, dan selanjutnya biarkan Dia yang membalasnya.

Hal ini nampaknya senada dengan kekeliruan yang belum lama ini dilakukan oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta, sang petahana dalam Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) DKI Jakarta yang rencananya akan dilaksanakan pada awal tahun 2017 mendatang. Masyarakat tentu tahu tentang berbagai macam hal perbaikan yang telah dilakukan Ahok terhadap Jakarta tercinta, namun tidak bisa dipungkiri kejadian beberapa waktu lalu yang terkait dengan suatu agama bisa jadi menjadi akumulasi yang hebat bagi warga yang memang tidak pro Ahok sebelumnya.

Kejadian ini juga sangat perlu diperhatikan oleh tim sukses Ahok – Djarot karena bisa jadi yang semakin pergi meninggalkan pasangan tersebut bukan hanya pendukung lawan politiknya tetapi juga orang-orang yang sebelumnya menjadi teman setia bisa berpaling ke lain pasangan. Masalah yang prinsip ini yakni agama memang tidak patut dipermainkan, sesederhana apapun, karena permintaan maaf dan klarifikasi seheboh apapun akan sulit diterima karena prinsip hidupnya telah dicela.

Kesiapan menghadapi turunnya popularitas, berkurangnya pendukung, hingga perginya teman setia Pak Ahok nampaknya perlu ditangani dengan serius, karena sehebat apapun keberhasilan yang pernah kita lakukan akan mudah sekali musnah karena satu kali kesalahan. Terlebih lagi jika kekeliruannya bukan hanya satu kali, melainkan banyak tindak tanduk yang kerap mengundang decak nyinyir orang lain, hal ini bisa semakin membulatkan tekad warga DKI untuk mencoba mendalami dan menjatuhkan pilihan pada pasangan yang lain; Anies – Sandiaga ataupun Agus – Sylviana.

(dnu, ditulis sambil dipijitin hahaha…., 8 Oktober 2016, 22.16 WIB)

Thursday, October 6, 2016

Ini Masalah Etika Pegawai Mini Market Kenamaan



Seorang kasir mengucapkan nominal belanja yang harus saya bayar adalah senilai  Rp 155.300,- (seratus lima puluh lima ribu tiga ratus rupiah). Hanya bermaksud memperhatikan deretan angka hasil berbelanja, saya melihat dengan seksama layar monitor komputer kasir tersebut, dan di sana tertera total biaya adalah senilai Rp 155.250,- (seratus lima puluh lima ribu dua ratus lima puluh rupiah). Hm… angka yang berbeda antara yang diucapkan dengan yang tertera di layar.

Saya diam, hanya bergerak menyerahkan kertu ATM sebagai alat pembayaran, lalu sang kasir memprosesnya dengan memotong uang dalam ATM saya senilai Rp 15.250,-. Ya, angka yang benar, yang memang seharusnya saya bayarkan. Tapi mengapa saat menyampaikan total pembayaran secara lisan ia melebihkan Rp 50,- (lima puluh rupiah)? Pembulatankah? Jika ya, saya ingin bertanya lagi, pembulatan macam apa ini?

Gaess… hati-hati… hal seperti ini sungguh bukan tindakan terpuji, melainkan sangat dekat dengan dosa. Ini pembohongan lho! Mengapa ia bisa menyebutkan angka yang berbeda dengan yang ia sendiri lihat? Salah lihat atau bagaimana? Boleh saya katakan saya untung karena membayar dengan debit ATM sehingga yang dipotong nominalnya tepat dengan yang seharusnya. Lantas bagaimana jika membayar dengan uang tunai? Apa yang akan ia lakukan?

Hal seperti ini kadang terkesan kecil sekali untuk dipermasalahkan, tapi balasannya bisa menjadi amat sangat besar jika dibiarkan. Adalah hal yang tidak dapat dibenarkan jika melakukan pembulatan ke atas atas suatu biaya jual beli tanpa ada persetujuan dari konsumen. Bagi sebagian konsumen bisa jadi angka Rp 50,- bukan nominal yang besar sehingga cukup tidak berarti jika kehilangannya, tapi yang perlu digaris bawahi adalah masalah etika pegawai.

Kuat saya tekankan sekali lagi disini masalah etika, hal paling mendasar yang harus diperhatikan oleh setiap orang. Adakah informasi kepada konsumen atas suatu pembulatan nominal total belanja di suatu toko atau pusat perbelanjaan? Pembulatan ke atas maupun ke bawah harus tetap diinformasikan kepada konsumen, tanpa terkecuali. Lima puluh rupiahnya akan disumbangkan? Ya sampaikanlah hal tersebut, bukan lantas sesuka hati menyebutkan total yang sudah dibulatkan.

Hal sepele nan remeh ini sesungguhnya adahal hal besar yang menyangkut dunia perdagangan. Akifitas jual beli hendaknya dilakukan menganut tuntunan yang baik, yang syariah misalnya, yang salah satunya adalah tidak mengambil hak orang lain tanpa pernah terlebih dahulu meminta persetujuannya.

Bukan masalah akumulasi berapa kali dari lima puluh rupiah yang akan pedagang tersebut dapatkan secara cuma-cuma, tapi sekali lagi ini masalah etika berdagang yang sungguh sangat tidak bisa dibenarkan.

(dnu, ditulis sambil bbman sama calon pembeli cake haha…, 6 Oktober 2016, 20.13 WIB)

Sunday, October 2, 2016

Aa Gatot Masih Panas, Lanjut Disusul Kanjeng Dimas



Ini momok sekali ya bagi umat muslim… Bagaimana tidak, dua orang yang mengatakan dirinya sebagai ulama yang paham benar dengan ajaran agama islam, kini tengah jadi perbincangan banyak orang untuk hal yang sungguh tidak bisa dibenarkan.

Mereka berdua juga sedang menjadi objek bagi pihak kepolisian untuk terus diperiksa dan diberi hukuman sesuai dengan tindakan tidak terpuji yang telah dilakukannya. Aa Gatot Brajamusti yang dikabarkan sebagai guru spiritual artis penyanyi Reza Arthamevia beberapa waktu lalu ditangkap pihak berwajib saat berpesta narkoba di sebuah hotel kawasan Nusa Tenggara Barat. Sedangkan laki-laki yang akrab disapa Kanjeng Dimas baru saja diamankan polisi karena dikabarkan menggelar aliran sesat yang dikatakannya bisa menggandakan uang melalui ritual tertentu.

Tidak ingin mengangkat urusan SARA dalam artikel ini tapi hanya ingin menyampaikan pemikiran tentang betapa perbuatan seseorang yang menyebut dirinya yang mengerti agama namun justru kedapatan melakukan hal-hal yang sama sekali tidak sejalan.

Bagi yang berifikiran singkat bisa saja berpendapat ahli agamanya saja seperti itu lalu bagaimana yang belum ahli? Terkait hal ini perlu digaris bawahi tentang adanya profesionalisme analisa terhadap suatu kerjadian, antara pelaku dengan hal yang diperbuatnya.

Dalam kasus ini hendaknya public melihat sosok pribadi Gatot Brajamusti dan Kanjeng Dimas, tidak dikaitkan sama sekali dengan agama apa yang mereka anut. Sebagai umat islam tentu penulis ada kekhawatiran tersendiri terkait hal ini. Bagaimana masyarakat akan menilai dimana kadang pemikiran yang lebih mendalam enggan untuk dilakukannya.

Pribadi seseorang memang tidak bisa dikendalikan dengan apapun yang melekat dengan dirinya, semua memiliki pengaruh yang amat berat dari hati dan pemikirannya. Begitu juga dengan dua pria ini, dimana semua hal negatif yang dilakukannya tersebut benar-benar karena buruknya isi hati dan kepala, bukan karena ajaran suatu agama. Walau memang bisa dikatakan bahwa ajaran agama hendaknya menjadi salah satu alat pengendali seseorang agar berbuat sesuai norma-norma dan nilai-nilai hidup yang penuh dengan kebaikan.

Bagaimana jika terjadi kealpaan? Inilah yang disebut dengan profesionalisme analisa terhadap suatu kejadian. Adalah pribadinya yang lalai, bukan agama yang dianutnya yang tidak mengajarkan kebaikan.

Belum usai urusan Aa Gatot, kini sudah mencuat lagi masalah Kanjeng Dimas, semoga tidak mengacaukan pemikiran publik, terlebih lagi tentang sudut pandang terhadap suatu agama tertentu.

(dnu, ditulis sambil makan roti kering yang kerasnya ndak ketulungan, 2 Oktober 2016, 22.18 WIB)

Saturday, September 24, 2016

PILKADA DKI : Adu Kilau di Tanah Jakarta



Jakarta sedang jadi idola bagi penyuka politik dimana-mana, terkait dengan akan diselenggarakannya Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) DKI Jakarta pada Februari 2017 mendatang. Beberapa hari terakhir ini ramai dibicarakan tentang pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang ternyata mengagetkan banyak mata.

Dari pasangan-pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini mereka mengusung program dan rencana masing-masing jika nanti berhasil memenangkan pertarungan sengit ini. Mengapa dikatakan sengit? Bagaimana tidak, beberapa orang kuat dan memiliki kharisma resmi mendeklarasikan dirinya dan maju dalam bursa pemilihan kursi nomor satu dan dua di ibukota Negara Indonesia.

Sebut saja ada 3 pasangan yang memiliki nilai “ekonomis” masing-masing laksana emas atau sejenisnya yang sudah pasti diperebutkan orang atas kehadiran dirinya. Itulah mengapa artikel ini penulis beri judul Adu Kilau di Tanah Jakarta, karena setiap pasangan bakal calon memiliki kilauan masing-masing yang kini tengah mereka tunjukkan kepada seluruh rakyat Jakarta agar mayoritas penduduk memilih mereka.

Tidak hanya adu kuat dan kharisma, tapi mereka benar-benar adu kilau di tanah Jakarta. Apa dan bagaimana mereka dengan kilauannya masing-masing? Artikel ini tidak akan membahas sisi negatif atau kekurangan masing-masing pasangan, karena apa? Judulnya saja “kilau”, tentu yang bagus-bagusnya saja yang dibahas, karena setiap orang pasti mempunyai kekurangan bukan? Maka, tidak perlu dibahas disini ^^

Pasangan Petahana Ahok – Djarot
Siapa yang tidak kenal pasangan fenomenal ini? Pasangan yang kini masih resmi memimpin DKI Jakarta. Telah banyak hal-hal yang berubah menjadi lebih baik atas kerja keras dan kerja cerdas dua Bapak yang tegas dan kalem ini. Sebut saja beberapa sungai di Jakarta yang sebelumnya kotor kini disulap menjadi bersih, banyaknya pasukan orange di jalan-jalan yang selalu sibuk membersihkan area Jakarta, penggusuran Kali Jodo, dan beberapa hasil kerja lainnya yang memang boleh diacungi jempol.

Basuki Tjahaja Purnama juga terkenal sebagai pemimpin yang tegas dan tidak pandang bulu dalam menegakkan peraturan. Lihat saja ada beberapa titik pemukiman kumuh yang berhasil disulapnya menjadi taman kota dengan tanpa banyak basa basi.

Sosok Djarot yang boleh dikatakan tidak terlalu familiar diam-diam telah mampu menjadi pendamping Ahok yang setia. Terbukti pada kali ini kembali Djarot menjadi pendamping Ahok untuk kembali maju pada PILKADA 2017. Dua lekali ini berdiri berdampingan dengan tentu saling melengkapi satu sama lain, saling menutupi kekurangan untuk kembali jalan beriringan paling tidak 5 tahun ke depan.

Pasangan Kalem Anies Baswedan – Sandiaga Uno
Lain halnya dengan dua ayah ganteng nan kalem-kalem bersahaja ini, sepeerti yang saya baca di beberapa media online dikatakan bahwa Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno tidak akan banyak mengusung banyak program. Titik andalan mereka adalah ingin membuat rakyat Jakarta menjadi bahagia alias happy dengan gaya keepmimpinan mereka.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan memang terlihat sebagai sosok pria yang santai, santun, lembut dan bersahaja. Tak beda dengan Sandiaga Uno yang merupakan pebisnis besar yang memiliki kriteria nyaris sama dengan pasangannya tersebut.

Selama menjadi Mendikbud Republik Indonesia maupun sebelum menjabat, Anies Baswedan telah banyak memberikan kontribusi positif untuk dunia pendidikan Indonesia, karena ia berpendapat bahwa pendidikan adalah hal yang amat mendasar untuk kelangsungan hidup suatu bangsa. Ia melakukannya dengan kelembutan dan peraturan-peraturan yang dibuatnya dengan penuh keteduhan sehingga menetramkan. Ya inilah gaya beliau, seorang ayah yang begitu lembut, dan kini memiliki mimpi untuk bisa membuat penduduk Jakarta hidup bahagia jika ia terpilih menjadi pemimpinnya.

Sandiaga Uno juga begitu lembut, seorang pebisnis yang terlihat santai dan menyerahkan semua keberhasilan bisnisnya pada kemurahan Allah SWT. Terlihat tidak ngoyo dalam bekerja namun nampak pasti dalam setiap gerak langkahnya. Inilah yang akan Sandiaga Uno bawa jika menjadi wakil orang nomor satu di Jakarta.

Sempat juga saya baca di sebuah media online dimana Sandiaga Uno ingin mengajak penduduk Jakarta untuk menggiatkan aktifitas jalan kaki baik dalam kehidupan sehari-hari maupun aktifitas bekerja. Adalah salah satu contoh wacana yang ia usung untuk membuat orang-orang Jakarta lebih sehat jiwa raga sehingga dapat mencapai tingkat hidup yang lebih bahagia. Orang yang sehat jiwa raga tidak mudah stress bukan? Tidak stress maka ia dekat dengan kebahagiaan bukan? Ya itulah mereka, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang ingin membuat Jakarta sebagai kota metropolitan yang penduduknya happy tak tertahankan.

Pasangan Muda Agus – Sylviana
Siapa tak kenal dengan Agus Hari Murti? Ayahnya begitu terkenal karena pernah mejadi Presiden Republik Indonesia sebelum era Jokowi naik panggung kenegaraan, dia adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ya, Agus adalah anak SBY.

Kabar Agus naik menjadi Bakal Calon Gubernur Jakarta dengan menggandeng Sylviana sebagai Bakal Calon Wakil Gubernur Jakarta cukup mengejutkan banyak pihak. Agus adalah seorang TNI yang kini banyak dibilang karirnya cukup baik namun dengan rela hati untuk berganti seragam dari tentara nasional menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Setiap orang memiliki penilaian yang berbeda terhadap Agus ini. Begitu juga dengan tim sukses pasangan Agus – Sylviana yang cukup percaya diri kehadiran pasangan ini mampu menarik banyak suara dari kalangan anak muda. Tim sukses pasangan ini menganggap Jakarta butuh digerakkan oleh anak-anak muda untuk bisa melaju menjadi Ibu Kota Negara yang lebih baik, untuk itu dihadirkanlah sosok bakal calon pemimpin yang masih dalam usia muda dibandingkan dengan dua pasangan yang menjadi lawannya.

Seorang TNI sudah pasti memiliki jiwa yang tegas dan penuh kedisiplinan, maka hal ini tidak perlu diragukan lagi dari diri seorang Agus Hari Murti. Bisa jadi Jakarta akan menjadi kota yang lebih tertib disegala bidangnya, baik bidang transportasi maupun bidang-bidang lainnya.

Lalu bagaimana dengan Sylviana? Seorang wanita cantik berhijab yang merupakan None Jakarta pada tahun 1981. Ia juga seorang birokrat berpegalaman di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang bisa membuat orang-orang yang ingin memilihnya tak perlu ragu dengan kiprahnya yang tak perlu diragukan lagi.

Ibu yang masih tampak muda ini dipasangkan dengan Agus Hari Murti dengan tujuan untuk merangkul anak muda Jakarta. Mereka juga telah menyiapkan banyak program yang diperuntukkan bagi pemuda Jakarta agar bisa membuat tanah yang ditinggalinya tumbuh menjadi kota metropolitan yang menguntungkan bagi siapa saja. Menjadikan kota Jakarta sebagai salah satu kota yang maju di Indonesia juga menjadi mimpi bagi Agus dan Sylviana. Mereka berharap banyak warga Jakarta memiliki mimpi yang sama dan ingin bersama-sama mewujudkan mimpi tersebut.

Jakarta mungkin bisa dikatakan sebagai kota yang begitu fenomenal, apa saja ada disini, apa yang terjadi disini bisa menjadi pemberitaan besar dan menarik perhatian banyak mata. So, kita sebagai pemilih sebentar lagi akan dihadapkan pada calon-calon pemimpin Jakarta. Jika ketiga pasangan ini lolos segala persayaratan dari Komisi Pemilihan Umum, itu berarti pasangan-pasangan tersebut telah siap dipilih oleh seluruh warga Jakarta dengan berbagai kelebihan masing-masing.

Mari bersama-sama kita menjadi pemilih cerdas yang mampu memilih dengan hati, hanya semata-mata demi kelangsungan hidup kota Jakarta yang kita sayangi.

(dnu, ditulis sambil kuliah sambil nungguin giliran maju presentasi, 24 September 2016, 15.07 WIB).